Langit tidak lagi biru. Kini sang gulita tengah sibuk menyelimutinya. Sudah larut memang. Tapi Ia tetap berdiri di bawah lampu taman di pinggir jalan itu. Berkali-kali Ia menengok jam tangan merah muda yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.35 malam. Waktu yang tidak lazim bagi seorang mahasiswi sepertinya berdiri di pinggir jalan sendirian. Angin malam berhembus dengan pelannya. Pelan, namun cukup membuat Ia kedinginan. Malam ini, Ia memang tidak mengenakan pakaian tebal. Hanya jeans hitam dan kemeja biru ber-papan-nama-kan Dwita Putri yang Ia kenakan.Tak lama heningpun terpecah oleh dering ponsel.'♥' bertuliskan di layar ponselnya. Panggilan dari sang pacar rupanya -sebut saja Dani- Dwita dengan bermimik girang segera menjawab panggilan tersebut.
"Halo? Sayang? Kamu dimana? Aku sudah di tempat biasa, kamu jadi jemput aku kan?"
"Sekarang? Kenapa cepat sekali? Kamu pulang mendadak?"
"Iya.. Jemput aku yaa!"
"Apa harus aku? Acaranya selesai pukul 10 nanti. Tunggu aku 30menit lagi ya!"
"Tapi sayang, apa itu tidak terlalu la.....halo? Sayang? Halo?!"
Keluhan Dwita terpotong karena matinya penggilan. Dwita pun mencoba menelepon balik Dani. Berkali-kali Ia mencoba namun tak ada jawaban; Dani mematikan ponselnya. Dwita hanya bisa menghela nafas perlahan. Lagi-lagi seperti ini. Dan lagi-lagi Ia memilih untuk memendam amarahnya; karena cinta mungkin. Entahlah, hasratnya untuk bertemu Dani sangat besar rupanya, hingga Ia enggan untuk pulang sendirian.
***
Jam dinding menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat. Acara yang dihadairi Dani sudah selesai. Dani pun langsung menghidupkan kembali ponselnya yang tadi Ia matikan untuk menghindari Dwita. Ternyata ada lima pesan yang dari Dwita yang diabaikan olehnya. Namun Dani tak kunjung mebacanya, malah bergegas pergi ke taman tempat Dwita menunggu.
Sesampainya disana, Dani bermimik bingung. Tak ada sosok cantik yang berdiri di bawah lampu taman seperti biasanya. Dwita sudah tak lagi disana; Dwita pulang; Dani telat. Ia cepat-cepat mengambil ponsel dari dalam ranselnya, dan mengeluarkan panggilan untuk Dwita. Tapi, malah mesin yang menjawab; nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
"Kalau hanya karena aku telat jemput kenapa pergi, sampai mematikan ponsel, hih!"
Rupanya Dani telah dibuat kesal oleh Dwita. Dengan masih bernafaskan kesal, ia menghidupkan mesin sepeda motornya dan bergegas pergi menuju rumah Dwita.
Tapi lagi-lagi Dani bermimik bingung. Ia berdiri di depan gerbang rumah Dwita sembari terus menekan bel. Tak ada jawaban; tak ada orang; rumah Dwita kosong. Ini tak lagi membuat Dani kesal, justru Ia jadi heran. Dengan keheranan yang penuh seluruh, Dani memutuskan untuk pulang ke rumah. Namun langkah kakinya terhenti oleh suara sirene ambulance yang terngiang di telinganya. Tak lama kemudian, datang seorang lelaki separuh baya dengan banjir di matanya; ayahnya Dwita. Ia mencaci maki Dani.
"Bajingan kamu! Kemana saja?! Dwita dari tadi menunggumu! Ia bersikeras untuk menunggumu! Lalu? Ia dirampok! Ia celaka! Harusnya Ia menunggu kamu, bukan kematian!!!!!"
Dani terpatung. Tak bersuara; hatinya menjerit. Kalimat yang dilontarkan lelaki tadi rupanya mebuat Dani benar-benar sesak; seolah nafasnya juga berhenti disini. Dengan lemas Dani meninggalkan lelaki itu. Melaju kencang menggunakan sepada motornya, menuju taman tempat Dwita menunggu.
Disana, Ia masih tak kunjung bersuara; tak berekspresi lain; wajahnya kosong. Gemetar jemarinya mengecek ponsel. Membuka satu-persatu pesan terakhir dari Dwita.
- "sayang?"
- "kamu dimana? aku masih disini."
- "sayang, ada yang memperhatikan aku."
- "aku takut, kamu dimana?"
- "baiklah, aku pulang sendiri saja, sekarang. Sebenarnya aku sangat ingin bertemu denganmu . Dan aku hanya ingin mengucapkan Happy Anniversary untuk kita berdua. Selamat hari jadi, sayang. Terimakasih mau menemaniku 2tahun ini. Aku sayang kamu. Aku pulang yaa..."
Tanpa sadar, airmata deras terjatuh dari pelupuk mata Dani. Bibirnya menggigil seperti kedinginan; kedinginan airmata; airmata dingin. Benar-benar seolah waktu berhenti. Dani menangis tiada tanding. Mengingat Dwita, kekasih yang selalu diabaikan olehnya, tak pernah diperhatikan. Dan Dwita kini, sudah pulang. Benar-benar pulang. Bukan pulang ke rumah, melainkan ke tangan Tuhan; pulang sungguhan.
Temani kekasihmu, selagi Ia belum ditemani Sang Pencabut Nyawa.