Rabu, 31 Oktober 2012

Hari Terakhirku; Hari Jadi Kita..

Langit tidak lagi biru. Kini sang gulita tengah sibuk menyelimutinya. Sudah larut memang. Tapi Ia tetap berdiri di bawah lampu taman di  pinggir jalan itu. Berkali-kali Ia menengok jam tangan merah muda yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.35 malam. Waktu yang tidak lazim bagi seorang mahasiswi sepertinya berdiri di pinggir jalan sendirian. Angin malam berhembus dengan pelannya. Pelan, namun cukup membuat Ia kedinginan. Malam ini, Ia memang tidak mengenakan pakaian tebal. Hanya jeans hitam dan kemeja biru ber-papan-nama-kan Dwita Putri yang Ia kenakan.Tak lama heningpun terpecah oleh dering ponsel.'♥' bertuliskan di layar ponselnya. Panggilan dari sang pacar rupanya -sebut saja Dani- Dwita dengan bermimik girang segera menjawab panggilan tersebut.

"Halo? Sayang? Kamu dimana? Aku sudah di tempat biasa, kamu jadi jemput aku kan?"
"Sekarang? Kenapa cepat sekali? Kamu pulang mendadak?"
"Iya.. Jemput aku yaa!"
"Apa harus aku? Acaranya selesai pukul 10 nanti. Tunggu aku 30menit lagi ya!"
"Tapi sayang, apa itu tidak terlalu la.....halo? Sayang? Halo?!"
Keluhan Dwita terpotong karena matinya penggilan. Dwita pun mencoba menelepon balik Dani. Berkali-kali Ia mencoba namun tak ada jawaban; Dani mematikan ponselnya. Dwita hanya bisa menghela nafas perlahan. Lagi-lagi seperti ini. Dan lagi-lagi Ia memilih untuk memendam amarahnya; karena cinta mungkin. Entahlah, hasratnya untuk bertemu Dani sangat besar rupanya, hingga Ia enggan untuk pulang sendirian.

***

Jam dinding menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat. Acara yang dihadairi Dani sudah selesai. Dani pun langsung menghidupkan kembali ponselnya yang tadi Ia matikan untuk menghindari Dwita. Ternyata ada lima pesan yang dari Dwita yang diabaikan olehnya. Namun Dani tak kunjung mebacanya, malah bergegas pergi ke taman tempat Dwita menunggu.

Sesampainya disana, Dani bermimik bingung. Tak ada sosok cantik yang berdiri di bawah lampu taman seperti biasanya. Dwita sudah tak lagi disana; Dwita pulang; Dani telat. Ia cepat-cepat mengambil ponsel dari dalam ranselnya, dan mengeluarkan panggilan untuk Dwita. Tapi, malah mesin yang menjawab; nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
"Kalau hanya karena aku telat jemput kenapa pergi, sampai mematikan ponsel, hih!"
Rupanya Dani telah dibuat kesal oleh Dwita. Dengan masih bernafaskan kesal, ia menghidupkan mesin sepeda motornya dan bergegas pergi menuju rumah Dwita.

Tapi lagi-lagi Dani bermimik bingung. Ia berdiri di depan gerbang rumah Dwita sembari terus menekan bel. Tak ada jawaban; tak ada orang; rumah Dwita kosong. Ini tak lagi membuat Dani kesal, justru Ia jadi heran. Dengan keheranan yang penuh seluruh, Dani memutuskan untuk pulang ke rumah. Namun langkah kakinya terhenti oleh suara sirene ambulance yang terngiang di telinganya. Tak lama kemudian, datang seorang lelaki separuh baya dengan banjir di matanya; ayahnya Dwita. Ia mencaci maki Dani.
"Bajingan kamu! Kemana saja?! Dwita dari tadi menunggumu! Ia bersikeras untuk menunggumu! Lalu? Ia dirampok! Ia celaka! Harusnya Ia menunggu kamu, bukan kematian!!!!!"
Dani terpatung. Tak bersuara; hatinya menjerit. Kalimat yang dilontarkan lelaki tadi rupanya mebuat Dani benar-benar sesak; seolah nafasnya juga berhenti disini. Dengan lemas Dani meninggalkan lelaki itu. Melaju kencang menggunakan sepada motornya, menuju taman tempat Dwita menunggu. 

Disana, Ia masih tak kunjung bersuara; tak berekspresi lain; wajahnya kosong. Gemetar jemarinya mengecek ponsel. Membuka satu-persatu pesan terakhir dari Dwita.

- "sayang?"
- "kamu dimana? aku masih disini."
- "sayang, ada yang memperhatikan aku."
- "aku takut, kamu dimana?"
- "baiklah, aku pulang sendiri saja, sekarang. Sebenarnya aku sangat ingin bertemu denganmu . Dan aku hanya ingin mengucapkan Happy Anniversary untuk kita berdua. Selamat hari jadi, sayang. Terimakasih mau menemaniku 2tahun ini. Aku sayang kamu. Aku pulang yaa..."

Tanpa sadar, airmata deras terjatuh dari pelupuk mata Dani. Bibirnya menggigil seperti kedinginan; kedinginan airmata; airmata dingin. Benar-benar seolah waktu berhenti. Dani menangis tiada tanding. Mengingat Dwita, kekasih yang selalu diabaikan olehnya, tak pernah diperhatikan. Dan Dwita kini, sudah pulang. Benar-benar pulang. Bukan pulang ke rumah, melainkan ke tangan Tuhan; pulang sungguhan.






Temani kekasihmu, selagi Ia belum ditemani Sang Pencabut Nyawa.

Selasa, 30 Oktober 2012

Aku Ingin Beda, Sayang...

kumohon,
buka matamu
lihat apa yang tak pernah kau lihat
kasat mata; airmata hatiku

kumohon,
pasang telingamu
dengar apa yang tak pernah kau dengar
kedap suara; tangisan hatiku

kerap kali kau tak perduli
malah menangis seolah tersakiti
tak taukah bagaimana hatiku?
menjerit; tak kau mengerti

sayang rasanya
jika otak cerdasmu tak kau pakai untuk mengerti
mangerti keberadaanku
kekasihmu; diantara satu milyar manusia di jagat ini


mengertilah
aku,
ingin jadi sosok satu-satunya untukmu

jadi satu-satunya yang diam
ketika dunia tertawa bahak
aku ingin jadi satu-satunya yang tidak mengerti
ketika dunia menyimak tak berkedip
aku ingin jadi satu-satunya yang marah
ketika dunia membalas hangat

mengertilah
bukan karena aku benci
bukan karena aku tak suka
aku hanya ingin jadi setitik beda
diantara satu milyar orang yang sama

karena aku bukan orang lain; kekasihmu
tak ingin disamakan dengan mereka
mereka bukan kekasihmu!

mengertilah
aku hanya ingin jadi satu-satunya beda untukmu
satu-satunya!
hanya satu!
bukan seribu!

Hujan Rindu

aku terbawa langkah di jalan setapak itu
masih di jalan yang sama
di hari yang sama
di bawah langit yang sama; langit mendung

tapi ada satu beda disini
langkahku, tak ditemani siapapun
tak juga kau!
ya, aku sendiri

angin bertiup mesra
membikin bulu roma menari-nari
dan melemas kembali,
tatkala tertetesi air yang dibawa sang angin
turun hujan rupanya

kenapa hujan?
aku, enggan bersentuhan dengan hujan
tapi sekarang,
aku harus berjabat tangan
berkenalan dengannya
hujan membikin telapak tanganku basah

terlihat pasti
tetes air jatuh ditelapak tangan
tapi ada beda kurasa
hujan ini...
tetes demi tetesnya panjatkan rindu!
ya, ini hujan rindu
rindu dirimu

renyah tawa dari mulutku
hih! sang langit sedang mengejekku
ia tahu kalau langkahku tengah sendiri
tak ditemani siapapun
tak juga oleh sosok nan jauh disana; sosok buatku jadi perindu; kau.

Minggu, 28 Oktober 2012

Malam, Aku Benci...

tepat malam hari
malam
waktu paling kubenci dalam kurunan waktu di negeri ini
malam menyiksaku
ah tidak,
kau menyiksaku kala malam
ah, itu tidak juga
bayangmu yang menyiksa pikiranku kala malam

tak jarang telinga ikut tersiksa
dalam sayup suara malam
redup mendengar suaramu
entahkah halusinasi
yang aku tahu
suara mungilmu menari-nari lewati pekatnya gulita
sampai ke gendang telinga

ini bukan salahmu
tapi salahku
enggan mengusirmu dari lamunan
lantas,
apa kau ini?
zat apa yang membentukmu?
nyatanya aku candu
candu disiksa olehmu

dan tersebutlah
kau; penyiksaku kala sang gulita selimuti langit.

Jumat, 12 Oktober 2012

Aku Enggan Berpisah Dengan Waktu

Hidup memang pertarungan dengan sang waktu
Andai kita lengah,
Waktu kan berlarihebat
Guna kalahkan kita


Tapi,
Pernahkah kau bayangkan jika pertarungan berhenti?

Ketika itu,
Semua terasa beda
Telingamu, tak lagi dengar titik-titik bunyi diluar
Mulutmu hanya terkaku diam
Dipaksapun kau tak akan bersuara
Kulitmu pastilah dingin
Dingin, saat teman menyentuh
Matamu tak kuasa bergerak
Untuk menutupnya saja,
Kau butuhkan jemari lain

Ketika nafasmu....
Tunggu dulu, nafas?
Tidak!
Tiada bernafas kala itu
Kau tak lagi bisa menghirup
Keluarkan udara

Tidakkah menyedihkan?
Jika berhenti hanya mengundangnya
Rasanya aku tiada niat
Untuk berhenti bertarung dengan sang waktu

Aku dan Kesederhanaanku

Aku ingin mencintaimu dengan cara sederhana; dengan doa
Sedia kupanjatkan kapanpun
Bahkan ketika aku tak lagi kuasa untuk mengangkat 
Dan melipat tangan untuk berdoa

Aku ingin mencintaimu dengan kalimat sederhana
Tak berbelit
Tak perlu kaya kiasan
Dan tak dilebihkan
Aku cukup mencintaimu dengan kalimat "aku mencintaimu.."

Dan aku,
Aku ingin mencintaimu dengan takaran cinta sederhana
Ya, sederhana
Karena jujur, 
Aku tak kuasa persembahkan cinta seluas samudera
Cinta setinggi angkasa
Aku hanya mampu mencintaimu, 
Seluas,
 dan setinggi yang mampu jemariku sentuh