Minggu, 29 Desember 2013

Pernah Pada Suatu Ketika


Pernah pada suatu ketika, aku merenung mencoba menenung. Tentang bagaimana jejak-jejak hangat akan menjadi usang, juga tentang bagaimana jejak-jejak usang akan menjadi hangat.

Pernah pada suatu ketika, aku menanam rindu pada segunduk tanah basah. Hanya benih, tak pernah berbunga. Sebab basah bukanlah menyuburkan. Sebab basah adalah air kesedihan.

Pernah pada suatu ketika, aku membangun benteng-benteng luka. Yang tak sampai selaksa hari, kau buat ia rentan retak-retak.

Pernah pada suatu ketika, aku kembali menelah, menilik, meramal. Tentang jejak, rindu, dan luka pada esok hari.

Jumat, 13 Desember 2013

Sepenggal Kisah Tak Penting


Aku bingung harus memulai cerita ini dari mana. Hmm.. mungkin bisa kumulai dengan sebuah pertanyaan. Baiklah, bahagia itu seperti apa? Ha ha ha, pertanyaan yang konyol.

Benar, konyol, seperti apa-apa yang membuat kita tak pernah saling menjadi siapa-siapa. Disadari atau tidak, sengaja atau tidak, kini kamu menjelma menjadi bongkahan es yang biasanya ada di sudut-sudut lemari pendingin yang sangat sukar untuk dikorek-korek. Haaa, intinya, kamu dingin sekarang. Kalau aku menyebut dinginnya kamu adalah kepribadianmu, kurasa itu salah. Karena kepada selainku, kamu sehangat teman, sehangat seorang konyol yang bicara dan tertawa tanpa membawa perasaan yang neko-neko. Kepadaku? Aah, like a stranger. Terbukti, dinginmu bukan tanpa alasan. Tapi apa alasannya? Alasan konyol yang kamu pegang tiga bulan yang lalu? Masih alasan yang sama? Kalau iya, boleh aku tertawa sekarang? Ha ha ha, menjalani waktu sekarang sepertinya bukan hal yang mudah. Maka dari itu, kilas-balik selalu aku lakukan. Paling tidak, itu membuatku ingat kalau kamu juga pernah menjadi seorang hangat yang selalu pandai membuatku tertawa tergeli-geli.

Kamu ingat tidak? Sekitar satu bulan yang lalu, di sebuah tempat yang penuh dengan air, hari sudah mulai gelap, hujan turun deras dan deras, lebih dan lebih, kamu menjelma menjadi seorang kamu yang, katakanlah, sangat peduli tentangku. Kuulangi, saat itu hujan turun sangat deras. Kita, bersama satu, dua, tiga, empat, ah... teman-teman yang lain ingin pulang sehabis praktik renang. Tapi nahasnya tak ada satu pun angkot yang sudi membawa kita (kalau inget ini Mawar jadi miris sendiri-_-). 

Saat itu perasaanku sudah tak keruan. Lebaynya, sudah pusing-pusing unyu. Entah apalagi yang terjadi, aku tak ingat pasti, karena saat itu aku memang sempat jatuh tak sadarkan diri (ini nyebelin tau gak). Yang aku ingat, saat aku bangun, di tempat yang saaangat gelap, ada sepasang mata yang menatap cemas. Benar, itu mata milikmu. Beberapa pertanyaan langsung menyerangku saat itu. Simply like, "Mawar gak apa-apa, kan?"; "Masih pusing gak?"; "Mau minum?". Ha ha ha, lucu sekali. Lebih lucu lagi, kalau aku ingat saat kamu rela menembus hujan hanya untuk membelikanku minyak angin. Setelahnya kamu duduk di depanku. Lantas bertanya, "Udah kuat belum?" Dengan lucu aku menjawab, "Mawar, mah, selalu kuat. Kan sailor moon..." Kamu hanya tertawa saat itu. Tawa yang benar-benar membuatku merasa tenang. Merasa kalau kamu sudah kembali menjadi kamu yang dulu. Karena sebelum-sebelumnya, ingat atau tidak, kamu belajar untuk menjauhiku.

Hingga sampailah kita semua pada situasi yang sangat bingung. Bingung, bagaimana cara aku pulang. Langit sudah gelap, hujan masih turun, dan tak ada satu pun di antara kalian yang searah jalan pulang denganku. Awalnya teman-teman yang lain meminta kamu yang mengantarkanku pulang. Tapi aku merasa tidak enak. Bayangkan, kamu mengantarku pulang dengan menaiki angkot, lantas sesudahnya kamu masih harus mengejar angkot ke rumahmu. Dan akhirnya, keputusannya, kalian semua yang mengantarku pulang (Aaak so sweet...).

Singkat cerita, kita semua sudah berjalan di jalanan komplek rumahku. Aku yang berpayung kuning keemasan berjalan di sebelahmu yang menutupi kepala dengan almamater sekolah. Hujan masih turun. Dan seharusnya aku membencinya. Tapi malam itu, aku seolah tak ingin hujan berhenti. Hujan telah menahanmu untukku.

 Aku jadi ingat sepenggal percakapan kita malam itu. 
"Kok hujannya gak berhenti-berhenti, sih?" katamu.
"Kenapa coba gak berhenti?"
"Umm aku tahu kenapa. Soalnya kamu pingsan. Kalau kamu gak pingsan, kamu kan ada di atas nerangin semuanya biar gak ujan."

(Oh, Tuhaaan... bangunin Mawar! I just melted with rains!)


Begitulah, cerita konyol yang mungkin tak pernah kamu anggap penting. Tapi itu cerita satu bulan yang lalu. Hah, sekarang, bisakah kamu kembali menjadi kamu dalam cerita itu? Kak?

Minggu, 08 Desember 2013

Aku Milikku


Aku. Bukan barang yang bisa dengan mudah dibeli di toko-toko pinggiran. Bukan boneka yang bisa kausebut 'milikmu' hanya dengan kau menyanggupi sebuah label harga.

Kau. Bukan Tuhan yang bisa menyandang gelar sebagai pemilikku. Bukan kematian yang pada akhirnya akan menjadi kekasih kekalku. 

Sebelum tangan Tuhan berkehendak, aku bukan milik siapa pun, termasuk dia yang sekarang kujatuhi cinta.

Tapi tunggu, apakah Tuhan mempunyai tangan?

Kusebut Ini Kita


Kita, sepasang sayap yang tercipta bukan untuk terbang melayang. Melainkan untuk merangkak, sampai menangis.

Manis.

Rindu?


Rindu itu seperti menanti sebuah jawaban, dari pertanyaan yang tak pernah ada jawabnya, tak pernah ada yang akan menjawab. Bahkan sampai semua persendian melemas, meremuk, lalu menangis. 

Rindu itu pegal.

Kamis, 07 November 2013

Sepotong Percakapan Di Atas Jembatan


Mereka berdiri di sana. Di sebuah jembatan kecil di taman itu. Seorang perempuan berambut sebahu dan berkaca mata, dengan seorang laki-laki berambut short spike style. Mereka, Aldea dan Bari, dua manusia yang mengaku sebagai sahabat. Dua manusia, yang katakanlah, paling pandai menyembunyikan rasa.

"Kenapa matahari hanya ada saat siang?" Aldea membuka mulut. Membuat Bari sedikit tersedak saat meneguk air mineralnya.

"Mungkin dia lelah,"

"Jawabanmu basi."

"Ha ha ha, lantas harus jawab apa?"

"Tidak adakah jawaban yang sedikit cerdas?"

Bari memalingkan wajahnya ke langit. Sembari memicingkan mata melawan silaunya sang surya. Perlahan, ia menghela napas putus-putus.

"Karena di langit malam, sudah ada bulan."

Kemudian, Aldea melakukan hal yang sama seperti Bari. Memandang matahari dengan mata telanjang. Lalu ia berkata, "kalau bulan tak pernah diciptakan, apa matahari mau untuk berpindah dari siang ke malam?" Bari tertegun. Ia memindahkan pandangannya menuju Aldea yang masih asyik bermain silau.

"Mungkin ia tak akan segan. Mungkin ia benar-benar ingin. Tapi seperti yang kamu tahu, bulan ada dan akan tetap ada."

"Kenapa begitu?"

"Tentu karena permainan Tuhan."

"Kalau Tuhan tak pernah campur tangan, bagaimana? Kalau bulan tak pernah benar-benar ada, bagaimana?" Kini nada bicara Aldea sedikit meninggi. Seperti benar-benar ingin mendapat jawaban kalau sang surya, juga akan mencintai malam.

"Sudah kubilang, mungkin matahari tak akan menolak. Tapi seperti yang sudah kubilang, Tuhan tak akan tak pernah campur tangan."

Aldea memalingkan wajah, menuju air yang mengalir di bawah jembatan. Ia perhatikan ikan-ikan kecil yang bergumul di bawah sana. Aldea diam. Seperti ingin menjadi ikan-ikan itu, seperti ingin tak memedulikan siang dan malam.

"Jadi?" Aldea melanjutkan.

"Jadi, matahari dan malam tidak akan pernah bersama."

"Tidak akan?"

"Ya, Aldea."

"Kalau pada kenyataannya bukan hanya siang yang membutuhkan matahari, bagaimana? Kalau malam juga menginginkan matahari, bagaimana?" 

"Jawabanku tetap tidak." Bari tersenyum. Sembari mengusap-usap kepala Aldea, yang mungkin, sudah mulai memanas.

"Jadi, mereka tidak akan bersama?" Aldea kembali bertanya, dan Bari hanya mengangguk manis.

"Lalu kita...." Aldea melirih, namun terpotong oleh dering ponsel milik Bari. Satu panggilan masuk. Dari kekasihnya.

"Halo, Sayang?"

Sementara Bari asyik memanjakan kekasihnya via telepon, Aldea masih menggerutu kesal. Mengetuk-ngetukkan kakinya ke tanah. Lagi dan lagi. Semakin keras, dan semakin keras. Hingga suara itu memecah keadaan.

"Dea!"

Seorang lelaki berkaos merah berlari menghampiri Aldea dan Bari. Bersamaan dengan itu, Bari menutup teleponnya.

"Kamu sudah lama menunggu?" tanyanya, dengan napas yang terpogoh-pogoh. 

"Ah, tidak. Mau berangkat sekarang? Yuk! Bar, aku duluan, ya!" seru Aldea sembari berlalu. Berjalan pergi dengan tangan yang digenggam erat oleh lelaki berkaos merah itu. Bari hanya bergeming. Tersenyum menatap punggung Aldea dari kejauhan. Punggung yang ia cintai.

Dering ponsel kembali memecah sunyi. Lagi, satu panggilan telepon dari kekasihnya.

"Kenapa teleponnya ditutup? Kamu bahkan belum bilang i love you."

"Ok, I love you, Aldea."

Tanpa aba-aba, Bari menutup teleponnya. Dengan penuh sadar, ia tahu, ia baru saja salah menyebut nama. Namun untuk kesekian kalinya, ia tak menyesal.

Rabu, 06 November 2013

Kepadamu, Semesta Laluku


Kepadamu, semesta laluku. Aku masih menjadikanmu bagian dari kalimat yang kurapal dalam doa. Walau bibir tak ada ucap, walau mata tak berani menatap. Kuingatkan, jalanku, juga milikmu masih panjang. Maka jangan terlalu takut kehilangan. 

Hiduplah dengan bahagia, maka kau tak akan terluka.

Ketahuilah


Kepadamu, Tuan. Aku tak mau banyak berbasa-basi. Aku hanya ingin menegaskan kembali tentang segala rindu yang menjadikanku sebagai tawanannya. 

Tentang aku, yang menjadi lemah di hadapan perasaan, yang entah harus kuartikan sebagai apa. Dan tentang kau, yang kemudian menjelma menjadi bongkahan es yang tak kunjung sudi untuk mencair.

Kamu mungkin belum tahu kalau aku tak suka dingin. Aku benci dingin. Dan ketahuilah, kaumasuk ke dalam daftar apa-apa yang tak ingin aku benci. Maka, dengarlah, aku tak banyak menuntut. Hanya meminta kau sedikit saja sudi untuk berjemur; agar bukan lagi bongkahan es yang kulihat saat menatapmu.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Kepadamu, Wahai Gadis


Di sudut kamar, di cermin terujung, tempat segala haru menghitam. Menyeruak di antara butir kerikil pedih yang mengudara. Sang gadis terduduk, menggigit gigi sendiri. Dengan kedua mata tanpa bolanya, ia menatapku yang juga tak lepas mata, dari duri kasih yang patahkan bulir-bulir harap.

Seperti menahan napas, kupilih 'tuk mengubur segala asa. Yang setia mengalunkan dentum-dentum rindu, dalam dada. 

Kepada gadis tak berbola mata, aku bertanya, "Bila tak mau jatuh, mengapa pilih 'tuk jatuh?" Aku menggeram. Senandung perih ia gumamkan.

Kepada gadis tak berlidah, aku kembali menggurat tanya. "Masih sudi menyebut namanya?" Lantas jarum jam berhenti berdetak. Segala bergeming. Pun tetes hujan yang menggantung kian mematung di tengah mega. 

Kepada gadis tak bernyawa, kusalahkan ia atas segala. Kurangkul bahu yang menopang selaksa beban. Maka dengarlah, wahai Gadis: jangan sudi menatap, kalau mau tak hilang kedua bola mata; jangan sudi menyebut namanya, kalau mau tak putus lidah; jangan mau menjatuhkan cinta, kalau takut kehilangan diri sendiri.

Kepadamu, gadis dalam cermin.

Minggu, 29 September 2013

Terkubur

Semua gelap. Kemudian, perlahan kubuka kedua mata. Sedikit demi sedikit cahaya menyerbu retinaku. Rasanya berat, seperti ada batu besar menindih mata. Hingga hitungan ke dua puluh satu, langit-langit ruangan berukuran 3 x 3 meter memenuhi pandanganku.
“Kamu udah bangun?”
Sebuah suara lembut namun dingin mengisi gendang telingaku yang sebelumnya kosong.
“Aku di mana?” tanyaku lemah.
“UKS, tadi kamu pingsan.”
Aku cepat-cepat bangun, menyadari suara itu adalah suara Adnar. Lelaki yang belakangan ini membuat jantungku terpompa lebih cepat.  Mataku langsung tajam menujunya. Kuperhatikan Adnar lekat-lekat. Ia duduk dengan earphone yang menggantung di telinga. Matanya fokus tertuju pada playlist di MP3-nya. Ia diam. Benar-benar diam.
“Ini, apel buatmu.”
Akhirnya ia membuka mulut.
“Darimu?”
“Bukan, dari Fakih.”
“Kupikir darimu….” lirihku kecewa.
“Hm, kamu pikir buat apa aku ngasih apel kepada perempuan yang dengan entengnya nyatain perasaan duluan? So funny.”  katanya, dengan mata yang masih menatap lekat MP3-nya.
I don’t think so. Aku pikir, kamu peduli.”
“Lucu,”
“Tapi kamu ada di sini. Nemenin aku.”
“Aku belum siap ikut ulangan ekonomi. Jadi terpaksa, aku temenin kamu di sini, dan sebentar lagi, bel berbunyi.”
Aku bergeming. Napasku sedikit memberat. Kemudian kualihkan pandanganku pada dinding UKS. Seorang perempuan yang menyatakan perasaannya. Ya, itu aku.
“Lepas earphone-mu. Kamu bahkan nggak memutar lagunya.” kataku, dengan tatapan yang sama dingin dengan sikapnya. Tapi ia tetap diam, tak mendengar suaraku. Lebih tepatnya, pura-pura tak mendengar.
Kuhela napas perlahan. “Kamu keluar aja, aku mau istirahat.”
Tak butuh waktu lama hingga ia meninggalkan kursi yang ia duduki. Ia berjalan keluar, tanpa ada suaranya yang membekas di gendang telingaku.
Niiit… Niiit…. Ponselku bergetar. Satu pesan masuk.
           
      From: Fakih
    27/09/2013 09.50
   
    Udah mendingan? Apelnya makan, ya! :D

Sekali lagi, napasku memberat. Tuhan, andai aku tak jatuh cinta….

***
“Hey, Bro! Ngelamun aja.” Fakih menepuk pundak Adnar yang sedang melamun sembari terus mengunyah batagor.
“Alila gimana? Udah sehat belum dia?”
“Gak tahu, gak ngurusin.”
“Yah, lo gimana, sih, temen sekelasnya juga.”
Tak ada tanggapan apa pun dari Adnar. Masih dengan wajah yang tak ada warna. Datar sekali.
“Gue nitip apel lagi, ya, buat Alila.” kata Fakih sembari memberikan bungkusan plastik berisi beberapa buah apel.
“Kenapa gak lo kasih sendiri aja?”
“Ogah, malu, ha ha.”
“Kalau gitu gue juga ogah.”
“Yah. Kok, lo gitu banget sama sahabat sendiri. Bantuin guelah.”
Adnar menoleh sejenak ke arah Fakih. Ia diam. Seperti menemukan kalimat yang salah dari ucapan Fakih tadi.
“Ya, ntar gue kasih.”
“Nah, gitu, dong! Gue duluan, ya. Tugas biologi belum kelar.”
Secepat kilat Fakih berlalu dari pandangan Adnar. Meninggalkan Adnar sendiri di bangku memanjang yang ada di kantin itu. Pelan-pelan, Adnar sedikit menenggakkan wajahnya. Menghela napas berat-berat, dengan wajah yang penuh dengan kegundahan.
“Maaf, Alila. Kamu jangan lupa, bahwa aku adalah sahabat dari orang yang menganggapmnu segalanya.”
***


Senin, 09 September 2013

Bacalah, Saat Kau Redup


Begini, bayangkan ada satu bintang redup di langit malam. Redup, namun damai, dan semua bintang peduli akan redupnya. 

Tapi tak berapa lama, bintang itu semakin diredupkan oleh bintang yang lebih redup darinya; yang paling redup. Nahasnya, semua bintang beralih kepada bintang yang paling redup itu. Semua, bahkan sang bulan. 

Tahu rasanya menjadi si bintang redup yang pertama itu? Rasa sakitnya dilupakan. Cahaya redupnya dilupakan. Dilupakan oleh semua bintang yang kini hanya peduli pada redupnya bintang yang kedua; yang paling redup.

Bintang redup yang pertama lelah. Menjadi terang bukanlah kemampuannya. Pun menjadi redup rupanya, jugalah bukan takdirnya. Ia hanya ingin menjadi bintang yang cahayanya mampu membuat bintang lain tak kalah berpendar, dan menjadi bintang yang redupnya mampu meredupkan segala bintang, bahkan sang bulan. 

Ialah aku.

Senin, 02 September 2013

Di Antara Dara



Seperti aku yang menikmati sekelabat tatapmu
Di antara tatap dara-dara itu

Seperti kamu yang mengilatakan senyumku
Di antara senyum dara-dara itu

Seperti kita yang saling menyembunyikan tatap dan senyum
Benar, di antara dara-dara itu

Seperti semesta yang kial menertawakan sang tatap dan sang senyum
Yang tak pernah benar-benar nyata
Benar, itu kita
Di antara dara-dara itu

Minggu, 01 September 2013

Kaulah, Matilah


“Kaulah mataku, bekalku untuk melihat, ”
Kalimat semumu yang membuatku berdecak geram
Tatkala mereka benar membuatku menjadi matamu
Tatkala senyummu menuntunku
‘tuk bertemu sang pelupuk yang kurindu

“Kaulah kakiku, senjataku ‘tuk berlari,”
Lagi, kau mencaduiku dengan mantramu
Tak butuh lama
Sampai tubuhku kehilangan kedua kaki
Lalu meringis melihat mereka lari menuju tubuhmu

“Kaulah lenganku, hangatku untuk dekap,”
Segala klausamu,
Kembali menyeringai di gendang telinga
Kutahu kau elok
Bahkan hingga tanganku melengkapi elokmu

“Kaulah jemariku, belatiku ‘tuk bahagia. Dengannya.”
Mati!
Kugulung lidahmu lalu kucabut
Kau elok, keledai

Menyuruhku memberi segalanya
Mata ‘tuk menatap dalam matanya
Kaki ‘tuk berlari hanya menujunya
Lengan ‘tuk hangat mendekapnya
Lalu jemari ‘tuk melingkarkan cinta di antara jemari kau, dan dia

Kaulah elok,

Maka matilah

Senin, 19 Agustus 2013

Rindu, Kataku.


Rindu adalah embus-embus napas yang meraung minta secuil acuhmu, kataku.
Ialah aku, yang meneguk tiada di tiap adamu.


Bogor, 19 Agustus
Di tengah keramaian acara Co-reaction Korean-Indonesian Culture

Jentikan Jemari-Nya


Maka ketika Tuhan menyentikkan jemari-Nya, seluruh hirup dan asa 'kan tandas, menjadi angin kesepian yang menanti kematian. Gemuruh-gemuruh jentikan itu 'kan sanggup meniadakan segala ada. Meniadakan hingar-bingar yang mendusta pada Ayat Suci. Meniadakan iman yang setia pada terbit-tenggelamnya. Meniadakan lenguhan serta peluh yang mengguyur seprai dosa.

Maka ketika jentikan jemari-Nya menyeruak di lubang-lubang telingamu, tiada lagi detak jarum jam, tempat kau meminta kesempatan. Kesempatan yang kaubilang 'tuk pulang ke jalan-Nya, malah kau khianat lewat darah-darah yang kau persembahkan untuk sang kenyang. Embusan-embusan dari mulutmu, hanya akan menjadi hawa dingin-dingin yang diseret kematian. Kehancuran. Derup-derup kakimu hanya 'kan menjelma menjadi bayang sembiluan yang tak tertangkap retina. Lalu kaulesap, dalam adamu yang ditiadakan.

Maka ketika Tuhan menyentikkan jemari-Nya, kita hanya mampu berlari. Menuju kematian. 

Jumat, 09 Agustus 2013

Kembali Untuk Kupinta Pergi Lagi


Langit menggulung baskara
Gemawan menyeret ratu malam
Kala itu kau kembali,
Dengan segala klausa yang lidahmu tulis
Kau masih sama,
Masih berlagak paling mengenal daku



9 Agustus 2013,
Di tengah gelumat senandung raja malam

Selasa, 06 Agustus 2013

Hari Kesepuluh




Satu... Dua... Kita masih berupa surya kala fajar. 
Hangat, 
namun hanya sebatas fajar.

Tiga... Empat... Lima... Kau mengajakku beranjak terbang. Melayang di antara gemawan rindu.
Tanpa sayap.

Enam... Tujuh... Delapan... Kita sepasang merpati  yang merindukan sayap-sayap berbulu.

Sembilan... Kaubawa aku lebih tinggi.
Tinggi.
Tinggi.
Bahkan bulan nyaris tersentuh.

Sepuluh! Kauhempaskan aku tepat di langit keseratus.
Kaupatahkan sayap yang bahkan tak pernah kauizinkan untuk tumbuh.

Sebelas... Sekarang... Ke mana pergi lengkung manis-manis di bibirmu untukku, wahai Pengundang Luka?

Senin, 08 Juli 2013

Kupu-kupu Kertas



Aku menopang daguku dengan kepalan tangan. Duduk di balik jendela kamar yang kubiarkan terbuka dengan lebarnya. Embusan-embusan angin menggelitik rambut-rambut kecil di lenganku. Kutengok jam, sudah lewat tengah malam, bahkan fajar hampir tiba. Aku mengalihkan pandanganku pada kupu-kupu kertas yang menggantung di atas tempat tidur. Aku tersenyum, juga ingin menangis. Kupu-kupu kertas itu seperti ibuku.
Sayup-sayup aku mendengar suara kendaraan dari luar rumahku. Segera kututup jendela kamar. Bergegas mematikan lampu dan pura-pura tertidur. Ibu sudah datang.  Perlahan kudengar pintu kamarku terbuka. Cahaya dari ruang tengah masuk bersama seorang cantik yang kupanggil ibu. Aku masih pura-pura tertidur. Bukan karena tak ingin menyambut ibuku dengan pelukan hangat, aku hanya tak sanggup melihat ait matanya. Pipiku tersentuh oleh bibir yang lembut, ibu menciumku. Dan benar saja, ibu menangis. Tapi aku masih menutup kedua mataku rapat-rapat, Masih pura-pura tertidur. Tak lama, isak itu berhenti. Ibu beranjak dari kasur dan keluar. Kamarku kembali gelap.
***
Aku tak melepaskan pandanganku dari luar jendela di sepanjang perjalanan. Di sebelahku, ibu tengah asyik dengan setir dan klaksonnya. Aku tersenyum melihat wanita itu. Wajah ini yang aku inginkan. Wajah tanpa pipi yang membasah.
Dunia tampak begitu ramainya dari balik kaca mobil. Indah, seperti pelangi yang hanya bisa kunikmati sepotong. Ya, di antara ramainya, ragam warnanya dunia, hanya  sepotong yang bisa retinaku tangkap. Entah sejak kapan, aku lupa. Sudah lama aku menikmati dunia dengan sebelah mata. 
Kami sampai di gerbang sekolahku. Aku turun dari mobil, ibu pun turun. Ia berlari kecil ke arahku. Setengah pelukan dan ciuman lembut di pipi ia berikan dengan seuntai senyum, sesaat sebelum ia kembali masuk ke mobil dan beranjak dari sini. Senyum ini yang aku inginkan. Senyum yang tak terputus oleh isak tangis. Di balik gerbang, tampak ada sekerumun siswi yang memerhatikanku. Aku tahu, aku sedang menjadi buah bibir di antara mereka. Namun aku tak ingin menghiraukannya. Aku tetap berjalan melewati meraka. “Masih berani melewati gerbang ini?” satu di antara sekerumun gadis itu bertanya. Selalu pertanyaan yang sama.
Aku membalikkan badan. Tersenyum dengan wajah yang begitu tenang. Melanjutkan langkahku tanpa menghiraukannya.
“Tak ada tempat untuk darah kotor di sekolah ini,” kata gadis itu.
Rasanya aku ingin meledak mendengar kalimatnya. Sontak tangan kanan kuarahkan ke pipinya. Namun sial, tamparanku tak sampai. Ada tangan lain yang menepisnya. Tangan Bumi. Aku melepaskan tanganku. Aku menatap Bumi dan gadis itu dengan sebelah mataku yang masih menajam. Gadis picik itu mendekatkan wajahnya ke telingaku.
“Tak ada tempat untuk anak pelacur di sini.” bisiknya lembut, namun begitu menyayat telingaku.  Kemudian, Bumi menarikku tanganku tiba-tiba. Membawaku pergi meninggalkan tempat itu.
***
   Malamnya, aku menunggu ibu di depan rumah. Berkali-kali aku mengentakkan kaki ke lantai. Sebab kesal, sudah larut begini ibu tak kunjung pulang. Sementara itu, kepalaku terisi oleh selaksa apa dan mengapa, serta berbagai problematika lainnya. Aku benar-benar mengkhawatirkan ibu. Bukan karena ibu belum juga pulang, melainkan karena ibu belum juga bisa keluar dari dunia gelapnya. Padahal, bulan Ramadhan akan segera datang dalam hitungan hari.
   Pernah aku mendesak ibu untuk berhenti dari dunianya. Tapi selalu jawaban yang sama yang kudapatkan. Tak ada pilihan lain, selalu itu jawabnya. Rupanya, uang telah menyempitkan pikiran ibu. Padahal, selalu ada pilihan kedua dalam hidup. Selalu ada.  Lamunanku terpecahkan oleh bising mobil yang berhenti di halaman rumah. Sontak aku berdiri. Pikirku, itu pasti ibu.
   Tak lama, sesosok lelaki yang sebaya denganku turun lebih dulu dari mobil itu. Lelaki yang kuanggap penghancur hidupku, walau dirinya menganggap bahwa ialah penyelamat hidupku. Kemudian, ia berlari-lari kecil ke pintu yang satunya lagi, membukakan pintu untuk seorang wanita yang begitu akrab dengan mata kananku. Benar, itu ibuku.
Mereka terlihat begitu dekat. Bahkan, sesaat sebelum lelaki itu pergi, ia sempat memberikan ciuman kilat ke pipi ibuku. Aku mematung melihatnya. Dadaku tiba-tiba saja terasa penuh oleh sesuatu yang tak pernah bisa kuluapkan. Tangan kananku membentuk sebuah kepalan kuat. Air di  pelupuk mataku terbendung, yang kemudian kutahan.
   “Ilana, sedang apa di sini? Kenapa kau tidak tidur?” tanya ibu keheranan saat melihatku yang masih berdiri di depan rumah.
   “Tidak bisakah ibu berhenti? Tidak bisakah ibu keluar dari dunia ibu?” Aku berbicara dengan mata yang sudah dipenuhi airnya. Sementara ibu, tampak mendadak sendu mendengarku bicara tentang dunianya.
“Kalau ibu berhenti, maka kau takkan makan.”
   “Tapi ibu bisa mencari dunia yang baru!”
   “Kaupikir itu mudah? Kalau mudah, ibu sudah berhenti sedari lama.”
   Air mata ibu mulai jatuh dari sangkarnya. Aku benar-benar bergeming. Selalu begini, ibu selalu menangis dan aku selalu menyesal setiap aku membicarkan dunianya.
Semua memang sudah telanjur sulit. Nyatanya, aku memang hidup di negara yang sempit lapangan pekerjaan. Sebuah keharusan untuk bertahan hidup menjadi momok yang mendorong segelintir orang untuk mengambil jalan pintas. Dan nahasnya, ibuku termasuk ke dalam segelintir orang itu.
Kemudian, aku memeluk ibu. Sebuah pelukan yang rupanya telah lama tak kuberikan kepada tubuh yang mulai rentan ini. Air di pelupuk mataku rasanya sudah tak terbendung lagi, kemudian ikut jatuh bersama air mata ibu. Suara tangis kami menyeruak dalam senyapnya malam.
***
Aku berjalan dengan penuh keyakinan. Mataku lurus memandang ke depan. Dari raut wajahku, sama sekali tak nampak ada belas kasihan di sana. Aku tahu, dunia gelap ibuku sudah mengubah diriku sendiri. Tak lama, aku sampai di tempat lelaki itu duduk. Di taman yang begitu penuh oleh pepohonan riuh. Tapi tetap, hatiku tak kunjung riuh.
“Bumi, aku ingin bicara.” kataku kepada lelaki itu. Kemudian, ia menoleh. Berdiri seraya tersenyum melihatku. Senyuman yang cukup manis. Senyuman yang sedari lama ingin kulenyapkan. Senyuman yang menyeretku pada kehancuran
   “Ilana? Ada apa?”
   “Berhenti sekarang. Jangan bawa ibuku masuk lebih dalam lagi.”
   “Kaupikir semudah itu berhenti?” tanyanya dingin. Senyumnya hilang.
   “Apa menjadi mucikari membuat hidupmu tenang? Berhenti atau mati.”
   Aku bicara dengan mata yang entah setajam apa. Sambil terus tersenyum dingin, aku bergegas meninggalkan Bumi dari tempat itu. Tak ada kalimat apa pun lagi dari mulutnya. Mungkin ia hanya sedang memerhatikan punggungku yang kian hilang dari kejauhan.
***
   Seperti biasa, malamnya aku menunggu ibu pulang. Kali ini, aku menunggunya tanpa disertai kecemasan seperti malam-malam sebelumnya. Aku duduk menunggu dengan tangan yang mengenggam kupu-kupu kertas yang biasa tergantung di dinding kamarku. Kupu-kupu kertas yang asli belum juga pulang.
   “Kau menunggu ibu lagi?” tanya ibu saat ia masuk ke rumah. Aku langsung memeluknya tanpa menjawab. Aku tahu, sebelumnya aku tak pernah seperti ini.
   “Duduklah dulu, Bu. Mau aku buatkan teh?”
   Ibu hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian aku bergegas ke dapur. Menyiapkan teh hangat yang sebelumnya tak pernah kubuatkan untuk ibu. Di sela-sela membuatnya, aku menoleh ke arah ruang tamu. Wajah ibu yang tampak begitu kelelahan terlihat dari sini. Aku mendadak sendu melihatnya. Namun aku yakin, sebentar lagi semua akan berakhir. “Hanya menunggu sebentar lagi, Bu. Sebentar lagi.”
   Setelah selesai, kubawa secawan teh hangat itu kepada ibu. Dan tak lupa, selengkung senyum yang tak kulepaskan dari bibir. Ibu menerimanya dengan senyum pula, dan mata yang berbinar. Aku masih berdiri seraya terus menyaksikan ibu meminum teh itu seteguk demi seteguk. Tak butuh waktu lama hingga ibu menghabiskannya. Aku menyunggingkan senyumku.
   “Sudah larut, Bu. Tidurlah.” kataku. Ibu hanya tersenyum, kemudian aku membantu memapahnya ke kamar. Kubaringkan ibu dengan perlahan. Membalut tubuhnya dengan selimut bercorak bunga mawar.
   “Terima kasih, Sayang.” kata ibu seraya tersenyum. Aku membalasnya hanya dengan senyum. Entah aku pantas atau tidak mendapatkan ucapan terima kasih itu.
   Perlahan ibu mulai menutup kedua matanya.  Air mataku mulai bergantian membasahi lembah pipi. Tangan kananku menggenggam tangan ibu dengan kuat, sembari menidurkan kepalaku di samping tubuh ibu. Sementara tangan kiriku, masih menggenggam kupu-kupu kertas sedari tadi. Ya, ibu memang tak urungnya seperti kupu-kupu kertas ini. Cantik, tapi penuh dengan kerapuhan. “Semua sudah berakhir, Bu. Tidurlah…” lirihku.
Air mata yang mengalir semakin deras. Genggamanku semakin kuat kuberikan. Dengan penuh berat, aku menutup kedua mataku juga. Mencoba menemani ibu di alam mimpinya. Walau aku tahu, ibu tidak akan bangun lagi.

Kamis, 27 Juni 2013

Menimang Air Mata


Kamu selalu pandai mengajariku
Bagaimana 'tuk menimang air mata
Kamu selalu cerdik mengenalkanku
Pada bulir perih yang tak pernah kaupahami

Aku selalu bertanya,
Apa rupaku di retinamu

Wayangkah?
Yang hanya terbuat dari kayu dan atau kulit
Tiada dibuatkan hati di dalamnya

Bonekakah?
Yang wajahnya selalu tersenyum
Tiada rupa sendu
Dan tak bisa menangis

Sabtu, 01 Juni 2013

Sandiwara Jemawa


Negeriku dulu, makmur
Surga bagi para rempah
Hijau terpantri dari ujung hingga ujung pula
Tempat manusia bersandiwara

Negeriku kini, bergeming
Kaku di antara mega
Hijau hilang, pun senja pulang
Sandiwara kian menganga

Negeriku dikunyah waktu
Badut berdasi kini buta aksara
Mereka ditulikan
Oleh sandiwara yang enggan bungkam

Malam gelap, pagi tak berpendar
Baluti negeriku yang meringkih
Segala ditimpa gulita
Terbungkus sandiwara

Tak boleh begini
Tak boleh hanya ada geming
Bangkit, bangkit
Serupa dulu, sehijau dulu

Putihkan sandiwara
Hitamkan segala yang berputih maya
Pupuskan jemawa
Serupa dulu
Serupa dulu

Selasa, 21 Mei 2013

Aku Ingin Dulu


Sudahkah aku berhenti menghela napas? Belum. Aku masih menghela napas, napas yang risau. Hanya langit-langit kamar yang segan untuk menjadi saksi. Saksi bisu, begitu orang menyebutnya. Kelopak mataku agak membasah, entah oleh apa. Yang pasti bukan air mata, aku tidak ingin mengaku kalau aku menangis. Aku hanya tengah berpagut dengan para tanda tanya dan sekawanan kata 'dulu'. 

Kau tahu apa itu tanda tanya? Ialah sebuah tanda baca yang banyak kutujukan kepadamu, kepada kita. Kau tahu apa arti dulu? Ialah waktu yang sudah terlewat, bukan kini. Sederhana sekali definisinya. Tapi ada luka yang mengental di dalamnya; dulu dan sekarang pandai melukai. Ah, lagi-lagi aku membandingkan dulu dan sekarang. Maafkan aku, aku hanya sedikit terlalu merindukanmu. Bukan, bukan dirimu yang tengah berdiri di hadapanku sekarang. Melainkan dirimu dari masa yang lalu, kau yang memanis di masa dulu. Hangatmu, ucapmu, tatapmu, segala tentang kau yang dulu. Aku rindu segala itu.

Bukan kisah sempurna yang aku inginkan, hanya cerita manis yang sedarhana. Jauh dari luka, jauh dari kecewa, jauh dari apa-apa yang mengundang air mata. Ah, itu kisah sempurna, ya, namanya? Entahlah, aku hanya tidak ingin menjadikan kita sebagai pemicu luka. Aku tidak ingin menyulam kisah yang sama dengan mereka. Yang hanya tahu bagaimana mendapatkan, tetapi lupa cara menjaga. Hingga akhirnya tenggelam dalam bendungan air mata sendiri. Sungguhpun, bukan itu tujuanku menyulam kisah bersamamu, Sayang.

Genggamlah aku sekuat dulu. Ikat aku sekencang dulu. Paling tidak, jangan biarkan ada celah untuk aku beranjak dari sisimu. Jangan buat aku berpikir untuk pergi. Jangan buat aku menganggap bahwa kau telah berubah. Jangan buat aku mengakui bahwa aku merindukanmu yang dulu. Jangan buat aku menimbun luka lebih banyak, menyembunyikan luka sesering mungkin. Jangan gagalkan sulaman kisah manis yang sudah kita kerjakan sedari dulu. Sampai letih, sampai terasa perih, pun suara memarau.

Adakah ingin 'tuk kembalikan dirimu serupa dulu? 

Sabtu, 18 Mei 2013

Mengecap Manis Bersama Pahit


Di antara bulir hujan aku tengadah
Terbang menuju dunia
Dunia manusia
Aku mencarimu
Mencari apa yang jangan dicari
Aku membawamu
Ke dalam dunia milik kita

Aku masih mengikatmu
Sambil tak mengenal waktu yang liar rangkaknya
Pun kau ingin kuikat
Ingin hanyut dalam duriku, katanya
Dalam dunia milik kita

Sempat terjepit waktu
Sebab ego sama rata
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Sungguhpun sama,
Tiada yang tertinggi

Mana bisa waktu merangkak mundur
Biar saja mengalir begini
Kau, aku, yang terlanjur terikat
Oleh tali bukan pita
Bukan juga sutra
Hanya sulaman dari air mata

Pun nanti terus seperti ini
Serupa,
Mengecap manis, bersama pahit

Senin, 13 Mei 2013

Karena Aku Mawar


Anggaplah aksara ini merah
Nyala merah, bak darah
Wakili setangkai merekah
Setangkai mawar merah

Akulah mawar itu
Terpilih 'tuk kaupetik dulu
Setia kaucumbu dalam doa sendu
Yang enggan terikat waktu

Aku mawar yang kelu
Merahku menghardikmu
Mahkotaku bak lembut bantalmu
Tangkaiku kokoh di langkahmu

Ada satu kurang
Duriku terbuang
Duri yang mencintamu meradang
Perihnya menjulang

Jikalau ingin bersama,
Acuhkan elokku saja
Lalu terima duri yang ada
Ikut nikmati perih terasa

Bukan itu,
Duriku bukan membencimu
Kubilang dia mencitamu
Biarkanlah tetap menyatu

Karena setiap mawar berduri
Biarkan aku jadi satu-satunya mawar yang berdiri
Mencintamu tanpa iri
Dengan manis, lagi perih menyeri

Malamnya Malam


Malam ini berbeda
Dinginnya amat menusuk
Terbang bersama angin
Mengetuk jendela kamar

Mataku terbuka
Bulir bening lirih mengalir
Mengisak dalam senyap
Merayap di tengah gulita

Malam ini,
Lidahmu tiada hati
Terkaku, sampai buat aku tergagu
Menimbun luka dalam dada

Malam ini berbeda
Awal kukira akan serupa pelangi
Ternyata hanya malam
Gelap sekali, pekat sekali

Sabtu, 11 Mei 2013

Karena Aku Mawar


Anggap saja aksara-aksara ini merah pekat warnanya. Merah menyala. Aksara merah yang tandakan bahwa yang menulisnya adalah sekuntum mawar, mawar merah. Ya, namaku Mawar. 

Kau sudah tahu, bukan? Seharusnya. Karena aku adalah mawar yang kaupilih untuk kemudian kaupetik. Aku adalah mawar yang kelopaknya hangat kau peluk dalam doa. Aku adalah mawar yang harumnya lembut kau cium juga dalam doa. Aku masih sekuntum mawar. Sampai gunung terbalik pun, aku tak akan rubah rupa. Ya, namaku Mawar. 

Aku begini. Aku mencintaimu dengan cara begini, caraku. Merahku lambangkan berani dalam menghardik setiap salahmu. Mahkota lembutku bak bantal yang kusediakan untuk penopang lelahmu. Batang hijauku ada untuk memperkuat langkahmu, langkah dalam dunia milikmu. Begitu berani, begitu lembut, dan begitu kuat, ialah dasar yang kugenggam untuk aku bersamamu. Ya, namaku Mawar.

Namun rupanya kau lupa akan sesuatu hal. Kecil memang, tapi adanya melengkapi adaku. Kau tahu apa itu? Benar, duriku. Aku juga mencintaimu dengan duriku. Aku mencintaimu dengan perihku. Jangan pikir duri ini adalah wujud dari si benci. Jangan coba enyahkan si duri. Karena sekali kau buat satu duri hilang, maka duri lainnya akan berat untuk melangkah kepadamu. Dan mungkin di situlah, saat-saat di mana aku menapaki titik jenuh. Sudah kubilang, duriku mencintaimu. Entahkah kau akan terima ataukah tidak, duriku tetaplah pelangkap dalam caraku mencintaimu. Ya, namaku Mawar.

Kalau juga ingin bersamaku, jangan hanya ingin elokku saja. Ambilah juga sakitku, segala yang bernama perih dalam adaku. Genggamlah duri-duri mungil ini. Biarkan mereka merasakan manis, hangat, dan lembut dari sentuhan darahmu. Biarkan mereka masuk melalui celah kecil dari luka di kulitmu. Biarkan mereka menyatu dengan adamu. Biarkanlah.

Karena setiap mawar miliki duri, maka cukuplah jadikan aku sebagai satu-satunya mawarmu. Mawar yang mencintaimu dengan manis, lagi pahitnya. Ya, karena aku adalah Mawar.

Kamis, 25 April 2013

Pertengahan Malam


Pertengahan malam
Umurmu berkurang
Saat kau terlelap tanpa jam
Sedang aku main bersama sajak riang

Pertengahan malam
Ada rindu yang mengerang
Lembut, namun benar tajam
Sampai hati sesak sebidang

Pertengahan malam
Sunyi itu ramai datang
Rupa gelap tanpa lebam
Pandai bawa hati ke negeri usang

Pertengahan malam
Aku malu sebab lancang
Telah bawa dirimu yang bungkam
Dalam sajak yang jeleknya menjulang

Senin, 22 April 2013

Aku Mengaku


Dahulu aku pernah mengaku
Kalau rasaku penuh sungguh
Terlepas bagaimana kau
Hati kan setia tahan dengan tangguh

Sedari dulu aku tahu
Duniamu ramai gaduh
Bukan duniaku,
Ramainya begitu lusuh

Sebabnya takut ini membiru
Takut ganggu tawamu kukuh
Sebab tawaku terlalu gagu
Sampai lidah harus bersimpuh

Dahulu aku pernah mengaku
Kalau rasaku penuh sungguh
Sebabnya taruh percaya di diriku
Maka hati tak lari walau disuruh

Namaku Rindu


Namaku itu rindu
Rindu dalam diam
Rindu dalam doa
Rindu dalam jarak

Aku begini
Tak peduli bagaimana
Aku tetap hidup
Walau meringis tak terbalas
Aku tak mati

Pernah kulebam dihajar waktu
Sebab terlalu lama ada
Namun hanya sekadar angin sepi
Semilir pun tak ada yang tahu

Namaku itu rindu
Rindu dalam payah
Rindu dalam lelah
Rindu dalam perih
Rindu itu, namaku

Minggu, 14 April 2013

12 April 2013


Hmm... jadi, tanggal 12 April kemarin itu aku berulang tahun yang ke-16 tahun (15 boleh?). Saat pertengahan malam tepatnya, handphone-ku bergetar. Ada beberapa pesan singkat yang masuk, dari satu orang yang sama. Dari dia yang mengaku menyimpanku dalam hatinya. Salah satu isi pesan singkatnya adalah sebuah sajak. Rupa sajaknya begini:
 


"Puisi jelek buat orang (yang lebih dari) indah"


Jika boleh,
Kuralat semua kalimat
Tentang kau indah
Kau bukan indah,
Kau lebih dari indah
Aku tak tahu apa
Pokoknya indah
Kau ya kau,
Ke-kau-anmu adalah dari kau sendiri
Ingat ya
Lebih dari indah 
Apa tau, aku tak tahu
Intinya begitu
Kau,
Aku bersyukur aku bisa menjadi tentang kau
Juga sebaliknya



Sederhana dan cantik. Itulah dua kata dariku teruntuk sajak tersebut. Kado pertama yang kuterima di pertengahan malam itu. Rasanya sayang jika aku tidak mengabadikannya. Uwuwuwuw.... ^^

Cantik?


Indah rupa wajahnya
Dua mata elang yang begitu tajam
Namun lembut binarnya
Lengkung bibir pun tak mau kalah
Sungguh,
Senyumnya terlalu manis
Rambutnya panjang melambai
Tiap helai pandai pikat retina
Sungguh,
Terpesona hati dibuatnya
Namun sial!
Mataku, matamu, tertipu
Matanya bukan mata elang
Hanya pengait maya
Sekali bertemu, tak akan bisa melepas
Senyumnya bukan manis
Pahit betul yang terkecap
Pahit yang siap setia pada lidahmu
Rambutnya,
Hanya seutas tali peranjat
Tak heran kaki tak bisa lari
Sekali mendekati, tak akan bisa kabur menjauh
Memang ia terlalu elok rupa
Terlalu,
Sampai pikat dewa bersayap
Yang mampu terbangkannya hingga ujung mega
Benar sosok ada rupa,
Tapi tak ada hati




Teruntuk kamu,
Yang pandai bersembunyi di balik daya tarikmu.

Sabtu, 30 Maret 2013

Inginku Bukan Butuhku


Halo, Tuan. Bagaimana kabarmu hari ini? Kalau kabarku baik, baik-baik saja. Ya, aku memang selalu baik-baik saja, bukan? Kau sedang apa di sana? Kalau aku di sini sedang bertahan. Benar, bertahan untuk mendayungi perahu yang sama bersamamu. Ada begitu banyak rasa yang hadir selama aku bertahan. Begitu banyak, sampai tak semua kusampaikan. 

Aku masih ingat, rasanya mendayung bersamamu saat kita masih dekat tepian. Begitu ringan, begitu aku lupa pada waktu. Walau perahu melaju tak secepat kereta. Namun kunikmati benar, inci demi inci lajunya. Bersamamu, pagiku, senjaku, begitu sarat dengan arti. Matahari terbit dan matahari terbenam terlihat lebih cantik, bagai dilukis Tuhan langsung. Aku terhanyut. Tak lagi peduli pada air laut yang sebenarnya kutakuti. Hal ini kurasakan tak bukan karena kau. Karena aku, mendayung bersamamu.

Namun ternyata lautan yang kita telusuri terlalu luas. Aku bahkan tak tahu apa laut ini 'kan berujung. Belum kurasakan ujungnya jatuh ke retinaku. Dan ada yang berbeda, papan dayungku terasa lebih berat ketimbang saat kita di tepian. Laju perahu melemah. Jangankan kereta, dengan siput saja kita kalah cepat. Padahal tanganku lengkap menggenggam dua papan dayung. Padahal keringatku terkuras tiada hentinya. Entah berapa trilyun tetes keringat yang jadi korban. Namun tetap saja, perahu kita seolah tak bergerak. Begitu berat.

Aku masih mendayung bersamamu, bukan? Lalu ada apa? Apa yang salah? Papan dayungmu tenggelam sebelah? Atau tanganmu terkilir? Atau ada celah bocor di perahu kita? Atau... kau tenggelam di lautan yang lain? Aku terus mendayung dan mendayung, sembari otakku dijamah beribu tanda tanya. Tanya yang diam, tak berjejak.

Rasanya mual. Aku mabuk laut. Air laut yang dulu tak lagi aku takuti, kini takut itu menghampiri lagi. Napasku begitu terpompa, lemas. Hampir kuhilang kesadaran. Hampir hilang napas. Hampir aku putus asa. Begitu, begitu, begitu ingin berhenti mendayung. Begitu ingin tenggelam sendiri di lautan yang bernama menyerah. 

Namun tak sebentar aku tersadar, itu hanya inginku, bukan butuhku. Aku hanya menginginkannya, tapi sungguhpun aku tak membutuhkannya.

Aku tahu, aku hanya butuh dayungku. Dan dayungku hanya butuh dayungmu. Dengan kata lain, aku hanya butuh mendayung bersamamu. Mungkin sesak bila aku berhenti. Mungkin hilang rupa pagi dan senja. Mungkin bisa benar mati. Maka dari itu, mendayunglah seperti dulu, mendayung sekuat dulu. Kalau cinta, bukan hanya aku yang mendayung. Kalau cinta, bukan hanya aku yang berkeringat.

Karena sekali lagi, butuhku hanya kau. Karena aku ingin bersamamu, maka aku membutuhkanmu. Karena begitu banyak mimpi bersamamu yang belum terselesaikan, maka aku membutuhkanmu untuk membantu menyelesaikannya.

Jadi kumohon, mendayunglah. Mendayung hingga lelah, hingga sangat lelah, hingga amat sangat lelah. Hingga akhirnya tak lagi kenal rasa lelah. Bersediakah, Tuan?

Jumat, 22 Maret 2013

Senjaku

senjaku merah melebam
bukan jingga, bukan darah
hanya sepi tersayat
senjaku hambar
tiada ucap memanis
pun pahit tak terkecap
menungguku di sini
menunggu senjaku dimakan waktu
hingga jingga hangat datang
hingga lidah mampu mengecap
namun sesak,
aku malah hilang napas

Minggu, 10 Maret 2013

Sepasang Telinga


Akulah sepasang telinga
Tidak tuli, tapi bisu
Tak miliki kuasa tuk main lisan
Tiada hak tuk bicara
Aku mendengar
Dalam,
Lebih dalam
Aku mendengar
Dan tak didengar
Hirupku tandas
Hatiku mengaum
Teriak,
Dan tak didengar
Hening adalah wicaraku
Suara bukan diriku
Karena aku,
Hanya sepasang daun telinga

Tenggelam


Diamku tak butuh sunyi
Bicaraku tak butuh suara
Pun tangisku,
Tak butuh airmata
Dihempas
Menghempas
Terhempas
Ketiga itu aku
Terakhir ialah mimpiku
Terhempas dunia
Terhempas takdir 
Terhempas kau
Diam
Bicara
Menangis
Aku dan mimpiku,
Tenggelam

Masih dan Selalu


Lebih dari setengah tahun kiranya, aku berjalan bergandengan dengan lelaki yang tak kukenali sebelumnya. Lelaki yang selalu mampu melelapkan tidurku, dengan bunga tidur yang ia perani. Lelaki yang selalu mampu mengundang senyumku, walau tak semua senyum dituangkan di bibir. Satu-satunya lelaki yang membuatku rela menunggu, betapapun lamanya. Lelaki yang kusebut itu kamu. Ya, kamu.

Kamu tahu? Pesan hasil jentikan jemarimu dan suara lembutmu yang mengalir di ujung telepon, masih dan selalu menjadi kesukaanku. Demi membaca satu pesan singkatmu, menunggu seharian penuh pun tak akan kukenal dengan nama masalah. Demi sepuluh menit mendengar suaramu, menunggu sampai terkantuk pun senyumku tetap mengembang, walau dalam hati tentunya.

Mungkin sudah seharusnya berjalan seperti ini. Kamu yang pergi dan aku yang menunggumu kembali. Tapi tenang, hal ini tak akan bernamakan masalah. Tidak akan. Karena mungkin ini juga kesalahanku. Salahku yang memiliki waktu yang terlalu longgar, tidak seperti kebanyakan orang di seberang sana. Sehingga yang kulakukan hanya menunggumu. Tak ada lagi selain itu. Masih dan selalu.

Aku menunggu, walau bulir-bulir perih datang menggoda air pelupuk mataku. Tapi tenang, aku tak semudah itu menangis, aku kuat, aku cukup kuat. Aku hanya akan menangis ketika sudah saatnya airmata itu pecah. Kalau masih bisa manahan, tentu akan kutahan, tak akan jatuh airmata itu. Tenang saja. Kamu, setujukah bahwa aku kuat? Tentu. Karena aku memang kuat. Bila tidak, mungkin setiap harinya aku akan mengeluh. Bila tidak, mungkin sedari lama aku berhenti berjalan bergandengan denganmu.

Tenang saja, perasaanku adalah masih dan selalu. Betapapun lama aku menunggu. Betapapun jauh jaraknya. Betapapun keras setiap harinya. Betapapun bulir-bulir perih tak henti menggoda. Aku masih diriku. Sampai waktu tiba tuk berhenti, sampai itu pula aku menjadi perempuanmu.

Dan tenang, aku tidak akan berhenti menunggu. Tentunya sampai waktuku diberhentikan Tuhan. Aku tetap diriku, perempuanmu. Dan tenang, bila kamu tak datang hari ini, maka hari ini akan tetap kujadikan hari ini, tak ada besok. Aku tidak ingin membatasi penantianku dengan nama-nama hari. Dan lagi, tenang, rasaku ini masih dan selalu menjadi rasaku. Rasa teruntuk kamu. Tunjukkan, seberapa indah kamu untuk kuperjuangkan?

Minggu, 17 Februari 2013

Terlepas (I)



“Aku tahu! Ya! Aku juga bisa tanpa kamu!”

Kevin menghempaskan tangan Lita. Tentunya, dengan tak memerdulikan airmata yang makin menderas di pipi gadis itu.

“Tapi, Vin... tolong jangan kayak gini, tolong…” lirih Lita.

“Kamu yang jangan kayak gini! Jangan nangis! Jangan jadiin airmata kamu itu sebagai senjata! Dasar perempuan!”

“Oke, baik. Aku gak nangis. Tapi tolong, berhenti kayak gini. Sesulit itu bertahan sama aku?”
Lita menghapus airmatanya. Berpura-pura tegar di hadapan lelaki yang selalu menjadi pemicu tangisnya.

“Ya, aku gak akan pergi. Tapi kamu juga jangan selalu kayak gini,”

“Gini gimana, Sayang?”

“Jangan egois. Aku cuma punya satu jam tangan. Satu waktu. Hari aku gak melulu tentang kita. Kamu harus ngerti!”

Lita terdiam. Ia sudah tak tahu bagaimana cara untuk membahasakan perasaannya, keadaan yang sebenarnya. Sudah terlalu lama dipendam.

“Baik. Aku akan berusaha. Dengan syarat, kamu jangan pergi…”

“Aku gak akan pergi. Aku janji,”

Kevin memeluk Lita. Sembari mengusap rambut sebahu milik gadis yang sudah dua tahun terakhir ini menemaninya. Sementara Lita, masih mencoba menahan rintikan gerimis yang sekiranya akan turun dari pelupuk matanya.

Sebenarnya, pertengkaran seperti ini bukan hal baru dalam hubungan mereka. Masalah kecil selalu berhasil membuat Kevin mengucapkan kalimat perpisahan. Tentunya, juga selalu berhasil memaksa Lita untuk menguras kembali airmatanya. Untuk sesaat, siapapun yang menyaksikan  pertengkaran mereka tadi, pastilah menyimpulkan bahwa memang Lita yang memegang kendali hubungan, sementara Kevin berperan sebagai lelaki pengalah yang selalu sabar menghadapi keegoisan Lita. Sesungguhnya itu salah besar. Kevin, memang sosok lelaki tampan nan setia yang pastinya didambakan setiap wanita. Namun siapa yang tahu? Tentang apa yang sebenarnya tersimpan di balik ketampanan dan kesetiannya itu? Keegoisan. Itulah sifat alamiah Kevin. Sementara Lita, gadis lugu berkacamata yang selalu siap terinjak batinnya. Terinjak oleh lelaki yang mengaku bahwa ia mencintai Lita.
***
Pagi itu, Lita duduk di bangku memanjang di taman tempat biasa ia bertemu dengan Kevin. Berkali-kali ia menengok ke arah jam tangan merah muda yang melingkar di tangan kirinya. Jam menunjukkan pukul 10.00 waktu setempat.

“Kalau begini, pasti akan ketinggalan filmnya,” ucap Lita pada diri sendiri.

Lita di sana memang sedang menunggu Kevin, sudah dua jam menunggu. Kevin berjanji kalau hari ini ia akan mengajak Lita ke bioskop. Ia menunggu dengan tenang. Lengkung manis di bibirnya tak pernah berhenti ia bentuk. Binar matanya benar-benar mengharapkan kedatangan Kevin. Sepatunya mengetuk-ngetuk tanah, berirama walau tanpa instrument apa pun. Tak lama kemudian, ponsel Lita bergetar. Terlihat ‘Kevin’ memenuhi layar ponselnya.

“Halo? Kamu dimana?”

Lita bertanya dengan nada yang super sumringah.

“Aku di rumah,”

“Kok? Belum berangkat?”

“Kayaknya gak usah jadi, ya. Aku diajak main basket sama yang lain.”

“Gak jadi?”

“Ya. Gak apa-apa, kan?”

“Ah, iya. Gak apa-apa, kok. Have fun, ya.”

Lita menutup teleponnya. Ia terdiam, tak ada ekspresi lain yang tergambar di wajahnya. Hanya kekecewaan yang sudah tak asing lagi bagi hatinya. Ya, perlakuan Kevin yang seperti ini bukanlah hal baru.

“Datang untuk pergi kembali? Tanpa maaf? Dua jam aku menunggu,”

Suaranya melirih, parau. Sembari diiringi air dingin yang perlahan jatuh dari sangkarnya; dari matanya. Lita menangis didekap angin. Sementara itu, dari kejauhan terlihat seseorang terus memandang Lita. Airmatanya juga ikut terjatuh.
***

“Aku perlu bicara,” ucap Lita kepada Kevin yang tengah bekumpul bersama teman-temannya.

“Ada apa?”

“Gak bisa di sini,”

“Oke. Guys, gue pergi sebentar, ya.” kata Kevin kepada teman-temannya.

Lita lekas menarik lengan Kevin. Mereka berjalan melewati koridor kelas. Langkah sepatu pantofel milik Lita yang diiringi sepatu hitam pekatnya Kevin benar-benar terasa mati; seperti tak ada cinta dalam langkah kedua-duanya. Sepotong obrolan pun, tak kunjung dirajut oleh dua manusia yang mengaku saling mencintai ini.

Mereka sampai di taman belakang sekolah. Kevin yang masih tak tahu apa maksud Lita membawanya kemari, langsung menghempaskan pegangan gadis itu dengan tiba-tiba.

“Kamu ini mau ngomong apa, sih?”

Kevin bertanya dengan raut wajah penuh keheranan. Mungkin ada seribu lapis heran di sana. Lita membalikkan badan. Mula-mula, ia hanya menghela napas panjang. Dengan otak yang sedang memutarbalikkan kalimat. Mencoba merangkai kata yang sekiranya pantas ia ucapkan tanpa membuat Kevin meledak marah.

“Sebelumnya, aku minta maaf. Aku juga minta kamu buat janji, kalau kamu gak akan marah dengan apa yang aku omongin,”

“Tergantung,”

“Kevin…”

“Iya, iya. Ayo dong ngomong!”

“Janji gak marah?”

“Ya,”

“Jadi gini, aku cuma mau tanya, waktu kamu telepon aku kemarin itu, sadar gak kalau aku lagi nunggu kamu di taman?”

Lita bertanya dengan pelan nan lembut. Ia benar-benar tak mau membuat Kevin marah.

“Sadar, kok.”

“Lalu kenapa dengan gampangnya kamu pergi? Tanpa maaf? Aku juga punya rasa lelah, Sayang.”

“Oh, jadi kamu capek sama aku?!”

“Bukan, bukan, bukan begitu maksud aku…”

Mata Lita berkaca-kaca. Dipenuhi air yang sedari tadi bersembunyi di balik kelopak matanya.

“Lalu apa?!”

Emosi Kevin lagi-lagi meluap.

“Kev… kamu bukannya janji buat gak marah?”

“Aku bilang kan tergantung!”

“Tapi dengerin aku dulu… aku belum selesai ngomong,”

Air di balik pelupuk mata Lita, jatuh menetes bergantian membasahi pipi mulusnya.

“Jangan nangis! Berapa kali aku bilang, jangan nangis!”

“Kevin…”

“Oke! Aku ngaku salah karena lebih milih basket ketimbang kamu. Tapi kan aku udah bilang, hari-hari aku gak melulu tentang kamu, tentang kita. Gak selalu aku harus ada di balik langkah kaki kamu. Aku punya dunia sendiri!”

Kevin membentak Lita tanpa jeda. Untuk kesekian kalinya, Kevin kembali tak menghiraukan airmata Lita, tak menganggap bahwa airmata Lita adalah wujud dari kesedihannya.

“Bukan itu yang aku permasalahin. Dengerin aku dulu...” ucap Lita memohon.

Sementara airmatanya, mulai tersamarkan oleh rinai hujan yang rintik. Ya, hujan mulai membasahi bumi.

“Udah! Berhenti! Aku muak dengan keluhan kamu. Aku muak dengan suara kamu yang sok tersiksa itu. Aku capek! Gak tahu lagi gimana caranya buat aku bertahan. Kita putus! Itu yang terbaik.”

Kevin langsung membalikkan badan untuk pergi. Tanpa terimakasih, tanpa maaf. Bahkan ucapan selamat tinggal pun tak ada. Sementara Lita diam mematung. Setelah gendang telinganya disentuh oleh kalimat perpisahan itu. Ia duduk terjatuh, dengan tatapan yang mulai kosong. Bibirnya menggigil. Ia terlihat gemetar. Airmata yang jatuh tak kalah derasnya dengan hujan yang semakin meliar basahi bumi.

Tak lama, hujan berhenti menyentuh tubuh Lita. Ia yang masih tertunduk merasa aneh, jelas-jelas gemuruh hujan masih terdengar jelas di telinganya. Ia mencoba menenggakkan kepala. Namun ia jadi sedikit terkejut. Ada payung bercorak pelangi yang melindunginya dari hujan. Payung yang digenggam oleh tangan lelaki yang tak ia kenali.

“Pelangi udah datang. Harusnya, hujan di mata kamu berhenti, bukan?”

Lelaki itu melemparkan seuntai senyum. Namun bayangnya, semakin terlihat samar di mata Lita. Lita mencoba memutarkan matanya ke setiap sudut yang ada di hadapannya. Bumi seolah berputar, dan bayang pria itu, perlahan hilang ditelan gelap. Lita jatuh tak sadarkan diri. Tak lama, hujan berhenti iringi tangisnya.