Gulita berkuasa. Menyembunyikan
langit senja yang pernah sepia. Walau begitu, setiap sudut kota
Jakarta masih
tetap menunjukkan geliat kehidupannya. Kemerlap lampu-lampu jalan semarak
menggantikan kedipan bintang di angkasa. Dengan kaki-kaki yang terus memencar
ke deretan bangunan yang menjejak paksa. Langkah yang berderap, mengarungi
setiap jajar fashion store, mal, kafe, juga sebaris klub malam yang
menempel pada padatnya isi kota.
Angin selatan mengantar awan-awan hujan mendekat. Sementara
tetes-tetes air saling berlomba, siapa yang lebih dulu terjun bebas mencium
aspal-aspal ibu kota. Atau
paling tidak, jatuh di atas atap tertinggi dari gedung tertinggi.
Sementara pria itu, Trian, dengan
kemeja maroon pekat sewarna darah, masih sibuk membiarkan jemarinya berlarian ke kanan, ke kiri, atas, bawah; di
atas papan keyboard komputernya. Kantornya sudah mulai sepi. Orang-orang
yang berdiam di dalamnya sudah bisa dihitung dengan jari. Tapi seolah tak
mengenal rumah, Trian sengaja mengurung diri dalam gedung dua puluh lantai itu,
bersama berkas-berkas dan setumpuk proyek kantor yang enggan ia tinggalkan.
Sejenak, ia memberi jeda pada
pekerjaannya. Merebahkan tubuh penatnya pada kursi hangat yang ia duduki.
Gelengan halus acapkali menggerakan otot lehernya. Tampak garis-garis kerutan
menggurat di beberapa titik wajahnya, seolah mengajaknya untuk merasakan lelah
dan mendiktenya untuk menyerah. Lalu sembari menarik napas, ekor matanya
terlempar pada jendela kaca yang basah. Butiran uap air mengambangkan bau basah
ke udara, meninggalkan jejak-jejak gerimis yang mau habis.
“Kalau saja itu
salju, pasti akan lebih indah.” gumamnya.
Kemudian, pintu
yang sedari tadi rapat tertutup, kini terbuka perlahan. Suara derit pintu membuat Trian
sedikit terhenyak. Detik yang sama, gelembung lamunannya pecah tak bersisa.
Dalam gelombang nalurinya, pria itu segera memasang wajah enggan, seolah tahu
siapa yang ada di balik pintu.
“Pulanglah saja.
Aku mau di sini.” tukas Trian sembari kembali memalingkan perhatian pada jendela
yang membingkai rinai hujan dan melelehkan atap-atap kota.
“Aku bukan ingin
mengajakmu pulang. Aku
hanya ingin melihat senyummu.”
Ujar seorang gadis dengan rambut
berkuncir kuda yang entah muncul darimana. Tanpa gentar, ia melangkahkan
kakinya menembus ambang yang terpisahkan oleh daun pintu. Seluruh tubuhnya
basah kuyup.
“Tapi aku tidak sedang tersenyum, Marika.”
“Kalau begitu, aku akan membuatmu
tersenyum, Tuan!” seulas senyum sumringah lahir di bibir gadis basah kuyup itu,
Marika.
Trian menolehkan wajahnya ke satu
arah. Lurus menjuruspada mata gadis itu. Wajah yang tampan, tampaknya tak satu paket dengan sesirat
pun keramahan. “Kamu bermain hujan?”
“Aku lupa membawa payung.” akunya, dengan bonus senyum.
“Berhenti
memasang wajah seperti itu. Kamu semakin terlihat seperti anak kecil.”
“Apakah ada yang salah dengan wajah seperti anak kecil?”
“Tentu. Kamu semakin terlihat tak pantas denganku.”
Di akhir senyumnya, Marika tertegun.
Senyumnya mati. Di ceruk yang menampung kedua bulatan matanya yang berwarna
cokelat, menyelinap seberkas pilu yang tertahan.
“Kau bahkan lebih dingin dari hujan
yang membuatku basah kuyup.” Marika berlalu tanpa sepatah kata.
“Kau tak pantas
mencintai pria sepertiku, Marika.”
Trian menghela
napas berat. Tak bisa
didustai, ada getir di setiap helaan napasnya. Ada rindu yang memilih terkubur dalam-dalam.
Memang, sudah tiga tahun lamanya Trian membiarkan dirinya tersiksa dengan
perasaan aneh yang mengacaukan segala janji yang telah ia sepakati. Ia masih
benci mengakui bahwa ia telah jatuh untuk seorang gadis bernama Marika, putri
dari teman SMA-nya. Putri dari seseorang yang telah hidup dalam hatinya sejak
dari semula. Trian selalu merasa kalau ia tak bisa mencintai Marika. Cinta yang
bukan pada tempatnya ini hanya akan membuat ia dan Marika dipandang sebagai pendosa
oleh orang-orang di sekitarnya.
Kemudian dengan sendu yang masih
pekat menggambari wajahnya, Trian mengemasi laptop dan barang-barangnya,
bergegas untuk pulang. Lalu dengan cepat kakinya membawa ia keluar dari
ruangannya.
Seisi kantor sudah mulai benar-benar
sepi. Beberapa lampu bahkan sudah dimatikan. Sunyi. Hanya ketukan dari sepatu
kulitnya yang mengisi kekosongan. Tak berapa lama, ia sudah sampai di depan
lift. Lift yang bertuliskan 'rusak'.
“Sejak kapan lift ini rusak?”
Karena tak ingin berlama-lama mencari
lift yang lain, Trian memutuskan menggunakan tangga darurat yang tak jauh dari lift. Awalnya semua terlihat
wajar-wajar saja. Anak tangga demi anak tangga ia turuni dengan cepat. Namun
ketika kakinya menginjak anak tangga yang entah keberapa, ia mematung. Pupil
matanya yang mengecil memaku tatap pada sosok di ujung tangga.
Tubuh Marika tergeletak pada anak tangga yang dingin.
***
Marika terbangun dalam dunia yang
putih. Matanya tersakiti oleh terang yang menyilaukan. Apa aku telah mati,
tebaknya. Lalu, berbekal segenap keberanian, ia kembali mencoba membuka
matanya. Ia terpana mendapati selang infus yang mengalirkan cairan bening penyuplai
nutrisi tertanam di tangan kanannya. Sakit. Seluruh otot, jaringan, sel, di
tubuhnya meregang membuatnya setiap saat mengerang.
Persetan dengan semua alat medis yang berdengung pelan dan berputar-putar memusingkan
kepalanya. Satu-satunya obat penawar bagi segala keluhan penderitaannya hanya
dia. Dia yang tak ada. Dimana pun itu.
“Sudah baikan?”
Namun tiba-tiba suara itu, yang
begitu ia kenal sejak saat kehidupannya bermula, terdengar. Serak, berat,
dengan sedikit bunyi sengau yang menggantung di tiap ujung kalimat. Marika menikmati
suara itu khidmat. Kehadirannya dekat terasa. Hingga sosok pria itu benar-benar
menyeruak, meskipun masih menyatu dalam kelam yang buram di penglihatannya. Ia
yakin, dia disini.
“Terima kasih. Aku tahu kamu peduli..”
Lemah suara
gadis itu berbisik. Si pria yang diterimakasihi hanya memutar mata. Senyumnya dipaksakan.
“Tidak, security yang menyelamatkanmu.
Tadi kebetulan hanya aku sendiri yang belum pulang. Karena itu kubantu kau ke
sini.”
Marika merasakan basah di wajahnya.
Tidak lagi. hujan telah usai, tapi derasnya masih bisa ia rasakan lewat bulir
air yang bergulir. Mengalir jauh dari pelupuk mata, yang merupakan satu-satunya
jendela bagi siapa pun untuk melihat ke dalam dunianya. Ada amarah dan kecewa yang memberangus
hatinya hingga hitam.
Marika menggusar dalam diam. Jatuh
dari tangga darurat yang menyebabkan tak kurang dari empat tulang rusuknya
remuk tentulah bukan hal biasa. Sebabnya, Marika inginkan lebih dari sekadar
perhatian dingin ini. Abainya pria itu rupanya telah menggantungkan rasa obsesi
berkepanjangan dalam diri Marika
***
Perempuan itu, Marika, masih berbaring
di sana, di ranjang rumah sakit yang ada di kamar 203. Ia bukan sedang
berbaring lemah, atau tak sadarkan diri karena tubuhnya masih dalam keadaan tak
baik. Ia hanya sedang membolak-balikkan badannya ke kanan lalu ke kiri, lantas
memaku pandangan kelesahnya ke arah kaca jendela kamarnya. Marika bahkan lebih
fokus terhadap kesepiannya ketimbang sakit yang ada di tubuhnya.
Kemudian, sunyi siang yang sedari
tadi menerik itu, terpecah oleh suara derit pintu yang tiba-tiba terbuka perlahan. Marika membuyarkan segala risaunya, lantas menoleh ke arah pintu yang jaraknya tak lebih dari dua meter darinya itu. Betapa kecewanya Marika, saat sosok yang muncul dari balik pintu bukanlah sosok Trian, melainkan Karen, teman sekolahnya.
“Hei, Mar!” sapa Karen dengan lengkung
manis di bibirnya yang terus mengembang, yang kemudian duduk di kursi yang ada
di samping ranjang Marika.
“Apakah aku sudah mempersilakan kamu duduk, Nona Karen?”
ledek Marika.
“Ah, kamu, Mar. Sedang sakit pun masih saja menyebalkan.”
“Tumben kamu sensitif? PMS?”
Karen hanya tertawa mendengar
pertanyaan Marika. Bagi Karen, menghubung hubungkan sifat sensitif perempuan
dengan pre-menstrual syndrome ini adalah hal yang terlalu tak pantas
dikatakan cerdas.
“Huh, jadi, bagaimana keadaanmu?”
“Aku tak baik.”
“Ah, lekas sembuh, dong. Kelulusan, kan, sebentar lagi. Kurang
dari satu bulan lagi!”
“Oh, ya?”
“Yap. Jadi, siapa yang akan
menemanimu di acara kelulusan nanti?”
Marika sedikit tertegun mendengar pertanyaan
yang baru saja diajukan oleh Karen. Siapa.. siapa.. siapa.... Pertanyaan yang
diawali dengan kata tanya ini, baginya, tak akan ada jawabannya.
“Hm, tak ada. Kau pun tahu aku
tak punya ibu, ataupun ayah.”
“Tapi, bukankah pria itu—”
“Dia bukan
ayahku. Tak ada setetes pun dari darahnya yang mengalir dalam tubuhku.”
***
Hari tak lagi terik. Menjelang twilight,
sang mega tengah asik bermain dengan lapisan warna yang terang menggradasi di
bentang kanvas cakrawala. Membaurkan merah, kuning, ungu, dan biru bersama
gulungan gemawan. Sambil tak henti mengicaukan jerit yang menoreh langit, burung-burung
kecil hilir mudik mencari ranjang tidurnya. Matahari yang mengintip dari ufuk
barat sana,
menambah elok pemandangan menjelang petang. Tuhan memang selalu pandai melukis
senja.
Sementara di ranjang itu, Marika
tertidur dengan masih memakai setelan biru muda khas rumah sakit. Infus dan kabel-kabel menghubungkannya ke monitor yang mendengung sayup. Kemudian, sementara Marika menjelajahi dunia yang hanya dimilikinya sendiri dalam tidur, sosok
Trian datang dengan membawa segala risau yang tak tahu di mana letak garis
akhir.
“Apakah kau
tertidur? Apakah kau
benar-benar teridur?”
Suara yang
keluar dari mulut manis Trian begitu terdengar parau, begitu bergetar. Seolah
terlalu banyak kata-kata yang tak mampu ia keluarkan, lantas tersangkut di
batang tenggorokannya.
“Wajahmu... Kau benar-benar mirip dengan ibumu,”
Perlahan namun
benar-benar pasti, ada bulir-bulir pilu yang sudah bersiap untuk menjadi anak sungai di kedua lembah pipi tirus milik pria itu.
“Kau tahu,
Marika? Ibumu adalah perempuan
yang baik semasa SMA. Kuharap kau juga bisa sebaik ibumu.” Trian menyunggingkan
sebuah senyum.
“Jangan mengejar apa yang tak pantas
kaukejar. Ingat, usiaku sudah menginjak kepala empat.” lanjutnya,
suaranya semakin bergetar.
Kemudian,
setelah ia merasa cukup dengan segala klausa yang baru saja ia ucapkan, kedua
kakinya bergegas membawanya keluar dari kamar yang mulai dipenuhi sembilu,
sembari kedua matanya menyeka lembut air mata yang sedari tadi berjatuhan dari
sang pelupuk. Lantas setelah seluruh tubuhnya lenyap di pintu itu, ada kedua
mata yang laun-laun membuka. Pelan, terisi oleh segala tetes-tetes getir.
Marika menangis
bersama senja.
***
Tujuh belas nol lima. Trian datang
membawakan satu nampan penuh makanan untuk Marika. Nasi lembek, sup tak berasa,
dan air minum yang tak mampu meluruhkan pahit akibat tetes-tetes cairan infus
yang masuk melalui aliran darah. Marika pasti menolak makan jika tak dipaksa, tapi
ia belum juga berani untuk bertatapan langsung dengan sepasang mata itu. Mata
Marika serupa lautan hitam yang tenang menenggelamkan. Sekali tatap, ia pasti
akan tercebur, berenang-berenang di lautan cintanya yang tercecer.
“Aku bawakan makanan untukmu. Makanlah..”
Marika yang melamun dengan wajah merindu
seketika tergugah ketika kedatangan pria itu memeluk rasa sendirinya. Pria itu
tak menutup pintu yang dibukanya. Kalimat yang datar tertera dalam ruang dengarnya
itu lebih pantas disebut perintah. Kehadirannya tak lama, karena seusai
meninggalkan nampan makanan di atas meja, pria itu berlalu. Mencampakkannya
entah untuk ke berapa ratus kalinya.
Marika menatap
pilu makanan yang belum disentuhnya itu. Tiba-tiba, sebetik ide menyusup ke tempurung kepalanya.
Menyelinap, lalu perlahan resap dalam rancangan pemikirannya yang tak lagi
putih. Dalam sekejapan mata, Marika melesat dengan nampan makanan di tangan.
Pintu toilet itulah tujuannya.
***
Trian membanting setir mobilnya ke parkiran
rumah sakit yang gelap. Menghabiskan waktu di jalan dengan perasaan gamang
memang membahayakan. Laun-laun, bayang Marika memenuhi kedua retinanya, membuat
Trian semakin kalang-kabut. Ia tak mau gadis itu merasa ia perhatikan, ia
pedulikan. Tapi walau bagaimanapun, gadis itu tetap memenuhi satuan-satuan terkecil
pergantian waktunya. Obat untuk rindu terlarang ternyata adalah paksaan untuk
kembali.
Meski terhuyung, Trian akhirnya kembali
ke kamar 203. Ia masuk dengan tak sedikit pun menoleh kepada Marika, lantas
terus melangkah menuju pintu toilet yang tak jauh dari ranjang besi itu.
Air mengucur
deras dari keran. Tumpah
dalam tampungan tangannya. Lebih baik rasanya. Ah, tapi ia perlu sabun untuk
meluruhkan bau keringat lengannya. Tapi tak ditemuinya cairan itu dimana pun. “Bagaimana
bisa toilet rumah sakit sebesar ini tak memiliki setetes pun sabun?” keluhnya,
lalu dengan langkah berat, Trian keluar.
Marika tersenyum selembut bubur
sumsum yang mendingin dalam nampan
makan. Ketika akhirnya Trian benar-benar pergi dengan tujuan untuk datang
kembali. Trian menggaruk belakang kepalanya. benar saja, gadis itu belum
menyentuh sedikit pun nampan berisi makanan yang dua puluh menit lalu ia
tinggalkan. Dengan terpaksa, Trian mengambil satu suap bubur, lalu berpaling ke
arah Marika yang menyambutnya dengan mulut terbuka.
“Kenapa harus menungguku, untuk memakan ini?” desah Trian
kecewa.
“Apa kau benar-benar tak bisa mencintaiku?” Marika
menatap Trian, tepat di mata.
Hanya sekejap, karena pria itu segera membuang muka. Marika
tersenyum. Marika tahu jawabannya.
“Hentikan, Marika. Mana mungkin aku
mencintai kau yang terlahir dari perempuan yang tak kuharapkan..”
Marika mematung. Kemudian, ingatannya
kembali pada masa-masa kelam yang tak ingin ia ulangi. Pada malam, di mana
kedua tangannya berhasil mengusir istri pria itu dari hidupnya. Ia tersenyum
tipis, saat ingat betapa manisnya ketika ia berhasil mencekik mati perempuan
yang menghalangi jalannya.
“Apa kau tahu
berjuang itu tidak mudah?” lagi, Marika mengajukan tanya.
“Apa yang kau
perjuangkan?”
“Dirimu! Kau
tahu? Menerjang hujan, lift yang rusak, sampai menjatuhkan diriku sendiri dari
tangga. Semua itu karenamu! Demi kamu!”
“Marika… kau… lalu untuk apa kau
berjuang?! Untuk apa kaulakukan ini?!”
“Untuk kita. Paling tidak untuk mendengarmu, sekali
saja, menyatakan cinta.”
Marika mulai
menangis. Isaknya yang lirih
membuat kata-katanya samar tertelan bunyi yang tak lagi jernih. Trian
menatapnya kosong.
“Tidak bisa. Aku sudah tua.”
Marika menatapnya tak mengerti.
Kenapa kamu tak pernah mengerti aku,
mata itu berbicara.
“Kubilang aku mencintaimu!”
Trian menggeleng. “Tetap tidak bisa.”
“Maka biarkan aku mati..”
“Untuk apa lagi?”
“Agar aku bisa kaukenang..”
Marika menelan suapan terakhir di
nampan makannya yang telah tandas. Sebelum hitungan kedua ratus, sebelum malaikat yang sengaja ia undang mengetuk
pintu kamarnya, Marika kembali bersuara.
“Aku mencintaimu, sejak kali pertama
ibuku menjadi istrimu, lalu kau memintaku untuk memanggilmu dengan sebutan ayah…,”
Getar suara Marika menyeruak dalam
keterbatasan waktunya. Trian mendadak panik. Menggila.
“Aku mencintaimu, bodoh!” Deras air
mata pria itu membanjiri kedua pipi tirusnya, sesaat setelah ia mengucapkan
kalimat yang selama ini sengaja ia kubur.
Marika tersenyum tipis.
“Aku tahu, tak pernah ada perjuangan
yang sia-sia, Ayah…,”