Rabu, 19 September 2012

Kenapa Selalu Kamu?

Kamu...
Si pemilik mata itu
Mampu getarkan ruang kosong hati
Seolah terkena setrum
Hati ini menggelinjang tak karuan

Kamu...
Si pemilik suara itu
Lebih indah dari sekedar dentingan piano
Mampu redam keluh kesahku

Kamu...
Si pemilik jemari itu
Jemari yang berbelit diantara jemariku
Genggaman hangat
Sungguh,
Tak ingin kulepas

Dan kamu...
Ah, lagi-lagi kamu
Kamu telah sita waktuku!
Menyita dengan seribu bayangmu

Taukah aku lelah begini?
Ya,
Lelah yang aku nikmati

Selasa, 11 September 2012

Sendiri Itu Melelahkan

Pernah kamu lewati hari yang lebih sepi dari hariku?
Hari saat sinar mentari tak sampai
Burung-burung enggan membuka paruhnya
Dedaunan tertawa kecil
Bergoyang bersama angin
Dan manusia?
Tak ada
Seolah tinggal daku seorang

Ini terus terjadi
Semanjak kemarin
Semenjak sosoknya hilang di duniaku
Tinggalkan cinta terasa
Tinggalkan rindu terkubur

Sepi berjuta kali lipat
Inginku teriak
Agar suaraku bergema
Paling tidak,
Aku dengar suara selain suara utamaku
Agar aku tak begitu rasakan sepi

Tuhan,
sudikah Engkau kirimkan malaikat mungil-Mu?
Tak ada dia di duniaku
Aku benar-benar merasa sendiri
Dan aku, Tuhan
aku lelah untuk sendiri.

Senin, 10 September 2012

Nona Ini, Siapa yang Punya?


Sebut saja, Nona
Mampu genggam dunia
Namun tak mampu menangkap setitik sejuk di dalamnya

Nona kesepian
Tak ada teman
Yang ada hanya manusia berlalu-lalang
Namun enggan melihat Nona

Nona menipu dunia dengan senyumnya
Dunia kira Nona bahagia
Nyatanya?
Jauh dari kata bahagia

Nona lelah
Hatinya rapuh namun seolah tangguh
Bagai berjalan dalam lorong gelap
Walau tanpa cahaya,
Nona tetap berjalan

Nona butuh pelukan
Pelukan hangat yang membuat Nona lupa akan dinginnya dunia
Lupa akan pengabaian dunia
Walau hanya terhitung detik

Carikan Nona sebuah pelukan!
Atau...
Adakah yang ingin memeluk Nona?

Lagi... Aku Candu

Waktu kian merangkak
Kukira rangkakan siput,
Namun ternyata cepat tak mengenal ketukan
Tapi tahukah kau?
Secepat rangkakan waktu itulah hatiku luluh olehmu

Entah ada kandungan zat apa dalam dirimu
Yang membuatku terus, terus, terus, dan terus berfikir
Bagaimana agar aku bisa selalu dekat sosokmu?

Sesekali aku berteriak kecil
Aku kesal
Rasanya,
Hasrat ini terlalu memperbudakku!
Memaksaku untuk beranjak
Mencarimu
Lalu mendekapmu

Seolah ada zat adiktif menyatu dengan darahmu
Lagi...
Buatku candu akan hadirnya sosokmu

Minggu, 09 September 2012

Ingin Terus Melihatmu.

Hangatnya mentari
Mengingatkanku akan dinginnya malam
Celoteh burung berisik
Mengingatkanku akan nyanyian sang jangkrik
Dan manisnya kehadiranmu
Mengingatkanku akan rasa pahit kehilanganmu

Rasa inipun menjelma menjadi takut
Meremas sel-sel otakku
Membuat waktuku tersita hanya tuk yakinkanmu
Agar tetap sedia berdiri di sisi

Tatkala kau menghilang
Dan aku?
Aku masih sibuk mencoba melihatmu
Bahkan sampai kedua mata ini tertutup

Sunyi....
Membelaiku saat aku menutup mata ini
Hingga kantukpun mulai merayap
Memaksaku tuk tetap menutup mata
Menyuruhku berhenti melihatmu

Namun,
Sosokmu datang sebelum aku mulai mencari
Tidak jauh beda dengan kafein,
Harum tubuhmu mengusir kantukku seketika

Sepertinya,
Kaupun tak ingin jika aku berhenti melihatmu
Terimakasih

Takdir?

Kau,
Percaya akan takdir?
Saat kali pertama bertemu
Tidakkah kau sempat bertanya
Ini sekedar pertemuan ataukah takdir?
Jika iya,
Maka kita adalah sama pada saat itu

Hingga pertemuan kali kedua pun ada
Masih tanya yang sama
Ini sekedar temu atau juga takdir?

Namun ternyata
Pertemuan seterusnya tak terhindari
Aku baru sadar
Kita ini berputar dalam gulungan roda yang sama
Semahir apapun aku sembunyi
Kau akan tetap berhasil menemukan

Dan akupun mulai mengerti...
Serangkaian kisah kecil
Ada sebelum pertemuan ketiga
Semata-mata adalah takdir

Menyusun artian,
Bahwa takdir tak melulu tentang hal besar
Bahkan,
Pertemuan matapun tidakkah bisa disebut takdir?

Minggu, 02 September 2012

Di Negaraku Kini

Di negaraku kini
Andai kau mencuri sebungkus nasi
Hidupmu akan terhukum tragis
Mencuri sepotong semangka?
Kau akan jadi dongeng!
Dongeng yang akal anak kecilpun tak bisa menerimanya

Tidakkah negaraku ini hebat?
Korupsi? Sudah membudidaya!
Bahkan mengalahkan budaya pribumi
Hukum dan perspun mampu dibeli
Tak perduli seberapa banyak uang haram yang harus dikeluarkan

Tidakkah negaraku ini lucu? 
Ditengah tawa mereka kami menangis
Ditengah rasa kenyang mereka kami kelaparan

Di negaraku kini,
Tak hanya ada lautan yang indah
Hutan hijau yang merekah
Tapi juga para koruptor yang serakah

Ini Jawabku


Cinta….Jika kau tak tahu apa ituMaka lihatlah kedua matakuCintamu telah meninggalkan jejak cahaya disanaJika kau tanya kenapa begituJawabku adalah kauKau yang telah menjatuhkanku dalam cintaJika kau masih tidak mengertiMaka aku….  Akupun sama
 Akupun tak mengerti
Karena kuyakin,
kata-kata takkan sanggup sampaikan isyarat hatiku