Matahari masih belum keluar dari persembunyiannya. Lampu-lampu kota masih asik menyala walau dalam redup. Sementara aku, sudah menjamah jalan raya dengan kuda mesin yang tak pernah keberatan untuk kunaiki. Sebagai sipir tahanan yang tinggal seorang diri, memang sudah seharusnya aku serajin ini. Berbeda dengan mereka. Orang-orang berdasi yang menarik uang hanya dengan goresan tinta dari tanda tangannya. Pasti, pagi ini mereka masih sibuk terhanyut dalam bunga mimpinya masing-masing.
Sepanjang jalan masih terlihat sepi. Kendaraan yang lewat saja masih bisa kuhitung dengan jari. Walaupun sebenarnya, jalanan di negaraku tidak akan bertahan lama untuk keadaan selonggar ini. Dari balik helm hitamku, samar-samar aku melihat sosok wanita lusuh yang terbatuk-batuk di seberang jalan sana. Awalnya aku tak mengacuhkan. Sampai akhirnya, kulihat ia semakin terbatuk-batuk, seperti menahan rasa sakit. Langsung saja aku mengentikan laju mesinku. Setengah berlari menghampirinya.
“Kau tidak apa-apa?” tanyaku panik.
Namun wanita itu masih saja terbatuk-batuk tanpa menjawab pertanyaannku. Aku langsung membuka ransel hitam yang kubawa. Mengambil sebotol air minum yang kemudian aku berikan kepadanya.
“Ini, minumlah!”
Dengan cepat ia menerima botol airku. Meneguk air yang ada di dalamnya tanpa kenal kata pelan. Aku heran, apa ia sudah lama tak bertemu dengan air?
“Bagaimana? Kau tidak apa-apa?”
Namun kembali tidak ada jawaban. Ia malah menenggakkan kepala, berusaha untuk melihat wajahku yang setengah membungkuk ini. Cukup lama ia memandangku. Satu menit… dua menit… dan…
“Apa kau manusia?”
“Tentu saja, aku manusia. Memangnya kau melihatku melayang? Aku manusia.” jawabku keheranan.
“Tidak. Kau bukan manusia, melainkan malaikat.”
Aku terdiam mendengar kalimat yang terlontar dari lipatan bibir tipis itu. Untuk sejenak, aku menatap kedua matanya. Keyakinan bahwa aku adalah malaikat memang terpancar jelas dari sorot mata sayunya. Kami jadi sama-sama diam. Aku yang diam karena keheranan dan dia diam seperti sedang memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba perut wanita itu berbunyi. Bunyi keroncong pemanggil makanan. Segera ia menutupi perut dengan kedua tangannya, menutupi rasa laparnya. Aku yang tak mau berlama-lama dalam keadaan diam seperti ini langsung membuka kembali ransel hitamku. Mengeluarkan kotak bekal yang rencananya akan kumakan siang nanti.
“Ini, makanlah!”
“Sungguh?”
“Tentu saja,”
Tanpa membuka mulut lagi, ia langsung menerima kotak bekal itu dengan sumringah. Membukanya dan melahap cepat setiap butir nasi putih yang kupajangkan di dalamnya. Dan tak lupa juga, lauk pauk teman setia sang nasi.
Aku hanya memerhatikannya dengan seuntai senyuman kecil. Ia seolah lupa, bahwa ia adalah wanita yang sedang makan di hadapan seorang pria. Bukankah kebanyakan wanita pada umunya akan jaga image? Lalu kenapa tidak dengan wanita ini? Sepertinya, lapar memang tak harus kenal dengan image.
Dalam hati, aku menebak-nebak. Pasti wanita ini sudah lebih dari satu hari tidak bertemu dengan nasi. Dan rupanya itu benar. Kudapatkan pernyataan itu setelah ia selesai menyapu bersih semua isi yang ada dalam kotak bekalku.
“Ini kali pertamanya aku makan nasi bersih setelah dua minggu yang lalu. Tentunya, tanpa harus membongkar tempat sampah di kota ini,” katanya disertai senyum. Senyum palsu, sepertinya.
“Kau malaikat,” lagi-lagi ia katakan hal yang sama.
“Kenapa kau begitu yakin?” tanyaku.
“Entahlah… setahuku, manusia di bumi ini sudah dihilangkan fungsi hatinya. Mereka hanya tahu untuk senang, bukan untuk susah. Hanya tahu hidup sendiri, sedangkan mata dan telinganya ditutup rapat-rapat dari kehidupan orang lain. Kehidupan orang sepertiku, misalnya. Menurutku, hanya malaikat yang sebaik kau.”
Aku hanya menatapnya sendu. Tak berani tanggapi kalimat yang terlontar dari bibirnya barusan. Lancang rasanya jika aku berani menanggapi.
“Kau tinggal dimana?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Aku berpindah-pindah. Bagiku, setiap sudut di kota ini adalah rumahku. Semalam aku tidur di teras toko itu!” jawabnya sambil menunjuk sebuah toko kecil di seberang jalan. “Dan untuk nanti malam, aku belum tahu akan pindah kemana,” lanjutnya.
“Berapa umurmu?”
“25 tahun. Kenapa? Wajahku tidak sesuai dengan umurku? Hm… sepertinya si bulat panas itu telah membuat kulitku tua sebelum waktunya.” jawabnya kecut sambil menenggakkan kepala ke arah matahari.
“Lalu namamu? Siapa?” lagi-lagi aku bertanya.
“Aku lupa,”
“Bagaimana mungkin?”
“Sejak dua tahun lalu, aku telah memutuskan untuk melupakan namaku. Orang bilang, nama adalah doa, bukan? Lalu, kenapa aku tak pernah merasakan ada doa yang memelukku? Aku tak pantas punya nama,” jawabnya dengan tatapan kosong.
Tiba-tiba ia kembali terbatuk-batuk. Sontak aku pun terkejut. Batuknya memang terlihat parah.
“Kau kenapa lagi? Kau sakit?” tanyaku cukup panik.
Namun ia tak menjawab. Hanya menggelengkan kepala dengan mulut yang masih ditutupi oleh tangannya. Aku kembali bertanya,
“Kau yakin?”
Ia menganggukkan kepala. Selang beberapa menit, batuknya berhenti. Ia kemudian mencoba untuk mengatur napas dengan perlahan tapi pasti.
“Kau yakin?”
Ia menganggukkan kepala. Selang beberapa menit, batuknya berhenti. Ia kemudian mencoba untuk mengatur napas dengan perlahan tapi pasti.
“Pergilah…”
“Ini sudah cukup siang, memangnya kau tidak bekerja?” lanjutnya.
Aku langsung menengok jam tangan hitam pekat yang melingkar di pergelangan tanganku. Waktu memang sudah menunjukkan pukul 07.45 dan seharusnya aku sudah ada di tempat kerjaku sekarang.
“Kau benar. Baiklah, aku pergi sekarang. Kau sudah tidak apa-apa?”
“Tidak. Hm… kau naik apa?”
“Sepeda motor,”
“Apa malaikat ada yang memakai sepeda motor?” tanyanya polos.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Kemudian langsung membalikkan badan meninggalkannya. Berlari-lari kecil ke arah sepeda motorku. Rupanya, ia masih kekeuhmenganggapku malaikat. Memangnya aku ini terlalu tampan untuk dikatakan manusia? Ah, kurasa tidak.
Tak ada kalimat perpisahan yang keluar dari mulut kami berdua. Mungkin sekarang, ia sedang berdiri mematung melihatku lenyap ditelan jarak perlahan. Atau mungkin, ia juga membalikkan badan dan pergi ke arah yang berlawanan. Entahlah, aku tidak tahu. Aku tidak mau menengok ke belakang. Aku takut kalau rasa ibaku nanti justru akan menahan ragaku untuk meninggalkan wanita itu.
Namun ternyata, ia tidak pergi. Ia berdiri persis di tempatku berdiri tadi. Aku bisa melihatnya dari kaca spionku. Terlihat benar, ia hanya mematung dengan mata yang mengarah padaku. Tatapannya mengantarkan laju mesinku. Dan kemudian, jarak semakin menjauhkan kami berdua.
***
Malam ini, aku melaju dengan kecepatan tinggi menuju tempat kerjaku. Aku takut kalau-kalau aku terlambat lagi seperti tiga hari yang lalu. Untuk beberapa hari ke depan, aku akan seperti kelelawar. Tidur pada waktu siang dan bekerja saat gelap mulai mencumbu malam. Aku mendapat giliran sip malam untuk menjaga sel tahanan.
Singkat waktu, aku sampai di tempat yang sedari tadi kutuju. Seperti biasa aku memulai pekerjaanku dengan memantau keadaan setiap orang berseragam biru tua, yang membusuk di balik jeruji besi, walaupun tidak semuanya juga yang membusuk. Wajah-wajah lusuh perindu rumah mengisi penuh ruang di mataku. Setiap kali melihatnya, aku selalu bertanya-tanya dalam hati; apakah semua orang yang ada di sini adalah pelaku kejahatan? Mengingat penerapan hukum di negeri ini yang identik dengan kata lucu, bukankah bisa saja mereka-mereka ini tak sepenuhnya bersalah? Bahkan mungkin, mereka adalah korban. Korban dari para pelawak hukum.
Karena kurasa sudah cukup, aku bermaksud untuk istirahat sejenak di tempat biasa. Aku duduk di sebelah temanku yang sejak lama kukenal. Sebut saja Haris. Teman yang juga berprofesi sebagai sipir penjaga tahanan. Lebih tepatnya, sipir yang terpaksa menjadi sipir, karena tuntutan dari kedua orangtuanya. Ya, sebagai anak, kita memang tidak ada sebutir pasir pun hak untuk melawan kemauan orangtua.
“Jangan duduk!” seru Haris ketika aku hendak duduk di bangku tempat biasa aku beristirahat.
“Ada permen karet yang melekat di sana!” lanjutnya.
“Bagaimana bisa ada permen karet seperti ini?” tanyaku.
“Itu milikku,” jawabnya cengengesan.
Aku lekas mengambil lipatan koran yang ada di atas meja untuk kupakai alas duduk. Namun sebelum aku menaruhnya di atas permen karet itu, aku mematung sejenak. Mematung saat aku melihat halaman pertama pada lipatan koran tersebut. “Gelandangan Menyerang Seorang Pengusaha Ternama” terpampang jelas sebagai judul. Sebenarnya, yang membuatku mematung bukanlah judul itu, melainkan gambar gelandangan yang di beritakan. Mirip sekali dengan gelendangan wanita yang kujumpai beberapa hari yang lalu. Atau mungkin, ini adalah orang yang sama?
“Kau kenapa?” tanya Haris kebingungan.
“Ah, tidak. Aku hanya sedang memikirkan wanita ini, sepertinya aku pernah bertemu dengannya,” jawabku sambil menunjuk pada gambar.
“Oh, wanita kasar ini. Memangnya kau tidak tahu? Dia juga kan ditahan di sini,”
“Benarkah? Kenapa aku tidak tahu?”
“Terang saja kau tidak tahu. Bukankah sudah tiga hari kau tidak masuk kerja? Wanita kasar ini masuk kemarin lusa,”
“Benar juga, ya. Ah, tidak masuk tiga hari saja sudah tertinggal.”
“Kenapa harus merasa tertinggal? Kau kenal wanita ini?”
“Sepertinya. Di sel sebelah mana ia ditahan?”
“Sel utara paling pojok. Ia sendirian.”
Tanpa berbasa-basi, langsung saja aku pergi menuju tempat yang dimaksud. Aku berjalan cepat. Tak sampai lima menit, kakiku sudah membawaku ke depan kamar jeruji besi terpojok. Aku berdiri mematung melihat siapa yang sedang berbaring di dalamnya. Punggung yang tempo hari kulihat, kini kembali tertangkap oleh kedua mataku. Aku mendekatinya pelan. Mengendap-ngendap sambil menahan bunyi ketukan sepatuku. Aku tak mau membangunkannya.
Tak lama kemudian, aku mendengar suara batuk yang sama seperti kala itu. Wanita lusuh yang kukira tidur ini, kembali terbatuk-batuk. Dengan sigap aku mendekatinya. Kupegang jeruji besi yang tegak berbaris menghalangiku untuk masuk.
“Hei! Kau kenapa? Kau tidak apa-apa?” tanyaku sedikit berbisik.
Ia yang menyadari kedatanganku langsung membalikkan badan seraya tetap menahan batuknya keluar. Kulihat ia menyembunyikan tangan yang tadi ia pakai untuk menutup mulutnya.
“Tidak apa-apa?”
“Kau… lagi?”
“Kau ingat aku? Ya, ini aku!”
“Sedang apa di sini? Kau mengikutiku?”
“Tidak. Aku bekerja di sini.”
“Benarkah? Dunia itu sempit.”
“Ya, kau benar. Apa kau baik-baik saja?”
“Tentu.”
“Tapi suara batukmu tadi sama seperti kemarin.”
“Lalu, apa kau pikir suara batuk itu harus berbeda?”
“Entahlah. Hm… bagaimana kau bisa ada di sini?”
“Kau tidak suka aku di sini?”
“Bukan, bukan, bukan begitu. Tapi kudengar, kau menyerang seorang pengusaha? Apa itu benar?”
“Ya, aku memang menyerangnya.”
“Kenapa kau tiba-tiba menyerangnya?” tanyaku dengan nada sedikit meninggi.
“Aku hanya bilang kalau aku menyerangnya. Aku tidak bilang kalau aku menyerangnya tiba-tiba,”
“Lalu? Kenapa kau menyerangnya?”
“Kenapa kau terus bertanya? Apakah korban pelecehan seksual sepertiku dilarang untuk menyerang pelaku pelecehan itu? Aku memang gelandangan. Tapi aku juga seorang wanita!”
Aku tertegun mendengar jawabannya. Dengan perlahan, aku duduk di depan barisan jeruji besi. Aku menatapnya sendu.
“Lalu bagaimana bisa kau ada di sini? Sedangkan kau sendiri adalah korban.”
“Karena aku tidak punya uang,”
Aku kembali tertegun.
“Tapi setidaknya kau harus membuka mulut! Kau harus membela diri!”
“Sudah kubilang aku tidak punya uang. Bahkan hanya untuk sekedar membuka mulut.”
Sekarang aku terdiam. Sementara otakku, tengah berkutat dengan huruf-huruf. Mencoba merangkai kalimat yang sekiranya tidak membuat wanita ini tersinggung.
“Apa kau ingin keluar? Aku bisa membantumu kalau kau mau,”
“Tidak mau. Aku lebih senang di sini,”
“Apa kau bilang?”
“Ya, aku lebih senang di sini dibanding di luar sana. Di sini, aku bisa makan tiga kali sehari dengan sepiring nasi bersih, tanpa harus mengkhawatirkan bagaimana cara agar aku bisa mendapatkannya. Dan lihat baju yang kupakai! Di sini aku bisa memakai baju bersih. Dan melepaskan baju yang sudah dua tahun ini melekat setia di tubuhku. Tidakkah tempat ini seperti surga?”
“Kau yakin tidak ingin keluar?”
“Tidak.”
“Kau lucu,”
“Kurasa negeri ini lebih lucu.”
Aku tersenyum mendengarnya. Bukan sebuah senyum kebahagiaan, melainkan senyum kegagalan. Ya, sebagai alat kelengkapan hukum di negeri ini, aku sudah merasa gagal. Gagal menciptakan ruang tahanan yang hanya diisi oleh pelaku kejahatan, bukan korban yang tak berani membuka mulut seperti ini.
“Aku ingin tidur. Pergilah…”
“Oh, baik. Tapi, kenapa harus kau lagi yang mengusir?”
“Hahaha… memangnya kau ingin seperti apa? Kau yang mengusirku, begitu? Sudah kubilang aku lebih memilih di sini. Meskipun mulutmu sampai berbusa darah, aku tetap tidak akan mengiyakan usiranmu!”
“Ya, kau benar juga. Lalu, apa aku harus pergi sekarang?”
“Tentu.”
“Baiklah, aku pergi. Sampai jumpa!”
Karena tak ingin banyak mengganggu, aku mengiyakan permintaannya untuk pergi. Sama seperti tempo hari, tak ada kalimat perpisahan yang terlontar dari bibirnya. Entah karena tak ingin berucap, ataukah karena tak ingin berpisah. Ya, entahlah.
***
“Mau dibawa kemana makanan itu?” tanya Haris ketika melihatku hendak pergi membawa makanan.
“Untuk seseorang yang kau sebut wanita kasar,”
“Untuknya?”
“Ya! Apa telingamu sudah tak berfungsi?”
Langsung saja aku pergi tanpa menunggunya menjawab. Kami teman dekat, lelucon seperti itu seharusnya tidak akan membuatnya tersinggung.
Aku berjalan melewati lorong sepi. Semua tahanan sudah tertidur. Mungkin sekarang, mereka sedang bermimpi. Bermimpi jikalau dulu mereka tak lakukan kesalahan itu, pasti mereka tak akan ada di sini. Mungkin ada juga mimpi yang lain. Seandainya keadilan dapat berbicara, pasti juga mereka tak akan ada di sini. Aku sampai di depan sel tahanan gelandangan itu. Ah, tidak, bukan gelandangan. Wanita yang tak sama dengan wanita lainnya yang sudah kutemui dua kali. Mungkin itu terdengar lebih sopan.
“Hei! Kau sudah tidur? Aku membawakanmu makanan,” kataku setengah berbisik. Takut kalau para tahanan yang lain terbangun.
“Kau kembali?” tanyanya seraya membalikkan badan menghadapku.
“Ya, aku dengar kau tak mau makan malam, jadi aku kesini untuk membawakanmu makan malam. Ini, makanlah!”
“Aku tidak lapar,”
“Katamu kau senang di sini? Karena tidak harus berpusing-pusing mencari makanan. Lalu kenapa sekarang kautolak makanan ini?”
“Aku tidak menolak, aku hanya tidak lapar. Sekalipun aku makan seribu piring, tetap saja aku akan mati, bukan?”
“Kenapa kau bicara seperti itu? Makanlah! Ini perintah!”
Nada bicaraku meninggi. Kulihat ia pun sedikit tersentak. Tanpa menolak lagi, ia menerima makanan yang kubawa dengan tangan sedikit bergetar.
“Terimakasih,”
Aku hanya tersenyum. Kemudian duduk di depan jeruji tahanannya sembari tak henti memandangnya. Mukanya terlihat amat pucat.
“Apa kau sakit?”
“Ah… tidak,”
“Mukamu pucat, kau pasti sakit.”
“Ya, aku sakit.”
“Sakit apa?!”
“Percayalah, kau pasti tidak ingin mengetahui sakitku,”
Lagi-lagi aku terdiam. Aku mencoba memutarbalikkan kalimatnya. Mencoba memahami arti dari kalimat tersebut. Sementara ia, hanya melahap pelan nasi yang kubawa tadi. Sedikit ada perbedaan, lahapan cepat seperti tempo hari tak lagi kulihat sekarang.
“Aku kenyang,”
“Kenapa kau tidak habiskan?”
“Sudah kubilang aku kenyang,”
“Kau baik-baik saja?”
“Tentu,”
“Kau bohong,”
“Tidak,”
“Mendekatlah…”
Kemudian ia merangkak mendekatiku. Sekarang kami duduk bersebelahan. Hanya barisan jeruji besi yang menghalangi.
“Boleh aku bertanya?”
“Tentu,”
“Soal siapa namamu…”
“Sudah kubilang aku lupa.”
Ia memotong ucapanku.
“Bukan itu yang mau aku tanyakan, melainkan bagaimana bisa kau memilih untuk melupakannya?”
“Orangtuaku,”
“Apa kau bilang?”
“Kubilang karena orangtuaku,”
“Kenapa dengan mereka?”
“Dua tahun lalu, karena sesuatu mereka mengusirku. Seolah lupa bahwa aku adalah anak mereka. Padahal, tentunya mereka diberikan hati oleh Tuhan, bukan? Tapi kenapa tak berfungsi. Manusia sama saja,”
“Sesuatu itu, boleh aku tahu?”
“Kau pasti akan membuangku jika kau tahu. Sama seperti mereka, seperti teman-temanku, dan rumah sakit di kota ini.”
Ia bicara dengan mata yang berkaca-kaca. Sebelum air dari pelupuk itu jatuh, aku memilih untuk berhenti bertanya. Kemudian sepi menemani kami berdua. Tak ada kalimat, tak ada tanya. Tapi sepi ini tak bertahan lama ketika batuknya datang lagi. Wanita ini kembali terbatuk-batuk, dan sekarang terlihat lebih parah dari hari kemarin.
“Kau kenapa lagi?!” tanyaku panik.
Ia batuk terus-menerus. Batuknya terdengar kering. Aku tak yakin kalau ia baik-baik saja. Lama sekali hingga batuk itu berhenti. Namun mataku menangkap suatu kejanggalan; ia kembali menyembunyikan tangannya yang tadi ia pakai untuk menutupi mulutnya.
“Kemarikan tanganmu!”
Aku menarik tangannya dengan cepat. Ia tak sempat menahannya. Hingga tangannya berhasil kudapatkan. Telapak tangannya penuh darah.
“Kau, batukmu berdarah?!” tanyaku terkejut bukan main.
“Ini bukan urusanmu,” katanya dingin seraya menarik kembali tangan kanannya.
“Kau sakit, kan? Kau bukannya sedang baik-baik saja, kan? Bilang padaku kau kenapa?!”
“Apa ini begitu penting? Orangtuaku saja sampai membuangku karena ini! Apalagi kau yang bukan siapa-siapa!”
“Ijinkan aku untuk tahu,” pintaku dengan tatapan sendu.
Ia menatapku dengan sangat dalam. Tak pernah kulihat tatapannya semenyakitkan itu. Matanya berair. Ia menangis.
“Kau tahu HIV? Virus itu yang menjamah tubuhku.”
Aku tersentak. Mataku tepekik.
“Sudah lama aku mengidap AIDS. Hingga orangtuaku tahu dan tanpa berpikir panjang langsung membuangku. Awalnya aku heran kenapa mereka sampai hati melakukannya. Namun aku yakin, pasti aku bukan anak kandung mereka,”
“Kau…” ucapku dengan mata yang mulai berair.
“Dulu aku bingung, bagaimana aku bisa bertahan hidup dengan keadaan seperti ini tanpa keluarga. Pernah juga merasakan saat sakitku benar-benar sampai pada puncaknya. Kakiku tetap membawaku gontai. Mencari rumah sakit yang sekiranya akan membantuku. Tapi nihil, belum saja inginku terkabul, perawat di setiap rumah sakit selalu mengusirku. Mungkin karena dua alasan. Pertama aku tidak punya uang, kedua mereka jijik denganku. Kupikir aku akan mati cepat setelah itu. Namun nyatanya, Tuhan membiarkanku untuk hidup lebih lama di dunia yang kejam ini.”
Aku tak berani berkata-kata. Tetap menatapnya sambil sebisa mungkin menahan airmataku.
“Sekarang kau sudah tahu. Kalau kauingin, kau juga bisa meninggalkanku seperti mereka,”
“Aku bukan mereka. Percayalah, aku berbeda.”
Aku mengeluarkan kain sapu tangan yang kukantongi. Hendak membersihkan telapak tangannya yang penuh darah.
“Jangan!” hentaknya menahanku.
Tenanglah, aku masih punya banyak sapu tangan,”
Dengan cepat tapi lembut, telapak tangannya kembali bersih. Memang tak ada pengucapan terimakasih darinya. Namun terasa benar, tetes air pelupuknya yang semakin menjadi. Nampaknya, ia berterimakasih lewat airmata. Kemudian aku mendekap tubuhnya. Ia masih menangis dan makin menangis.
“Kau malaikat. Tuhan sangat baik telah mengirimmu,”
“Ya, aku malaikat. Kau benar, aku memang malaikat.”
“Kau malaikat, malaikat,”
“Aku tahu,”
Untuk kali ini, aku mengiyakan tanggapannya tentang aku adalah malaikat. Setidaknya aku bisa membuatnya merasa bahwa ia tak sendiri.
Tak ada kalimat lagi yang mengisi sepinya sel tahanan ini. Airmatanya, sudah jelas mengatakan bahwa ia lelah dengan dunia. Aku hanya salut, ia tak sampai terobsesi untuk mati hanya karena terkekang oleh dunia sekejam ibu tiri ini. Kurasa bukan aku yang seharusnya dianggap malaikat, melainkan wanita ini. Ya, ia terlalu tegar untuk dikatakan manusia.
***
Hari tak lagi siang. Kini sang mega tengah asik bermain warna. Mencampurkan merah, kuning, ungu, dan biru bersama awannya. Burung-burung kecil hilir mudik mencari sangkar. Matahari yang mengintip dari ufuk barat sana, menambah cantik pemandangan ini. Tuhan memang pandai melukis senja.
Sebenarnya ini masih terlalu cepat untuk aku pergi bekerja. Entahlah, rasanya aku ingin segera sampai di tempat kerjaku. Sebelum pergi, aku berdiri di depan cermin lemari.
“Kau malaikat. Tetaplah jadi malaikat,” kataku kepada pria yang ada dalam cermin.
Aku lekas berangkat. Tak lupa, aku mengambil sehelai sapu tangan biru tua yang tersimpan di laci meja.
“Aku pasti membutuhkan ini lagi,” batinku.
Kemudian aku pergi dengan kuda mesinku. Melaju dengan kecepatan yang masih di garis normal. Aku tak mau mencelakakan diriku sendiri karena mengendarai sepeda motor dengan liar. Lebih tepatnya, aku tak mau kalau aku pergi lebih dulu dari wanita yang memanggilku malaikat. Sampailah aku di tempat yang kutuju. Tempat yang menjadi neraka bagi sebagian orang yang ada di dalamnya, dan tempat yang dianggap surga oleh wanita ajaib itu. Senyumku mengembang mengingatnya.
“Kau sudah datang? Jam berapa memangnya sekarang? Rajin sekali,” kata salah seorang rekan kerjaku.
“Aku kemari bukan sebagai penjaga tahanan, tapi pengunjung.”
Pria itu hanya melihatku keheranan. Tak mau berlama-lama, aku langsung saja berjalan pergi, menuju sel tahanan wanita ajaib itu. Ketukan dari sepatuku berirama, seolah tak sabar ingin cepat sampai di sana. Sepanjang lorong, banyak yang memerhatikanku dari balik jeruji besi. Mungkin mereka juga keheranan melihatku berjalan dengan wajah sesumringah ini, sambil bersiul pula. Namun aku tak mengacuhkan. Aku hanya fokus pada langkah yang membawaku. Tangan kananku mengenggam sapu tangan.
“Ah, dimana dia?” tanyaku mencari-cari sosok yang sedari tadi menjamah otakku.
Aku telah sampai di depan sel tahanannya. Namun mataku, sama sekali tak mendapati ada wanita itu di sana. Kosong, tak berpenghuni.
“Kau mencarinya?” tanya seorang tahanan yang kamarnya berhadapan dengan kamar kosong ini.
“Wanita itu sudah tidak ada,” lanjutnya.
“Kau bilang apa? Dia sudah dibebaskan?”
“Ya, dibebaskan dari dunia tak berhati ini,”
“Dia terbukti tak bersalah?”
“Tuhan selalu tahu hamba-Nya yang tak bersalah,”
“Maksudmu? Sebenarnya dia kemana?!”
“Pulang,”
“Tapi dia tak punya rumah,”
“Pulang ke tangan Tuhan. Jasadnya sudah sedari pagi dibebaskan dari jeruji besi itu,”
Hatiku terpekik, terkejut bukan main. Rasanya seperti tulang-tulangku tak lagi punya kuasa tuk menopang tubuhku. Aku jatuh melemas.
“Dimakamkan… dimana?” tanyaku terbata-bata.
“Kudengar di pemakaman umum dekat sini,”
Tanpa berpikit panjang, aku langsung berusaha untuk bangun, dan berjalan walau dalam gontai sekalipun.
“Cari makam yang bernamakan Prita,” katanya ketika aku hendak pergi. Aku kembali membalikkan badan.
“Bagaimana kautahu namanya? Makamnya harusnya tak bernama,”
“Matamu ditaruh dimana? Kalung yang selama ini ia pakai bertuliskan namanya. Prita.”
Aku kembali terkejut. Bodoh memang, sudah tiga kali di samping wanita itu, namun tak pernah sadar kalau ia mengalungkan namanya sendiri. Aku mencoba menyadarkan diriku. Mengisi jiwa yang tadi hendak terlepas. Aku berlari cepat saat jiwaku sudah kembali terkumpul. Kakiku berlari tak kenal pelan. Bahkan sampai lupa bahwa aku membawa sepeda motor. Entahlah, aku hanya memikirkan wanita itu. Untung saja, pemakamannya tak jauh dari sini. Keringatku membasahi jalan raya.
Tak lama, aku telah sampai di sebuah lahan hijau yang penuh dengan batu nisan. Dengan sigap aku mencari-cari makam yang sekiranya masih baru. Sampailah aku di sebuah makam yang tanahnya masih kemerahan. Bunga-bunga yang ditaburkan masih terlihat segar. Saat kulihat papan nisannya, tertulis Prita di sana. Ini makamnya. Ini makam wanita ajaib itu.
Aku bersimpuh di samping makamnya. Kusentuh papan nisan yang masih berwarna putih. Airmataku sudah bersiap untuk terjun dari sarangnya. Sesal memenuhi ruang di hatiku. Kenapa Tuhan hanya memberikan waktu tiga kali untuk aku bertemu dengan wanita ini? Aku masih ingin mendapatkan banyak pengajaran hidup darinya. Wanita yang selalu menganggapku malaikat, bahkan baru kutahu namanya saat ia sudah tertidur di bawah gundukan tanah ini.
“Tuhan mengambil kembali malaikat-Nya,”
Bibirku gemetar. Kutaruh sapu tangan biru yang kubawa di dekat papan nisannya. Hujan turun menyamarkan airmataku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar