Minggu, 29 Maret 2015

Kalau



Kalau kau kaki, bolehkah aku menjelma alasmu?
Melindungimu dari kerikil-kerikil tajam
Atau tanah-tanah merah
Atau semut-semut genit
Atau dia

Kalau kau mata, bolehkah aku menjelma kacamu?
Menghalangimu dari silau sang langit
Atau debu-debu mungil
Atau senyum-senyum gadis
Atau dia

Kalau kau telinga, bolehkah aku menjelma penutupmu?
Menghangatkanmu dari beku badai salju
Atau kata-kata menyakitkan
Atau sapaan mereka yang menggoda
Atau dia

Kalau kau ini, kalau kau itu
Bolehkah aku begini, bolehkah aku begitu
Atau dia
Atau dia

Kalau kau memang tak lagi padanya,
Bolehkah aku memintamu padaku?

Jumat, 20 Maret 2015

Isyarat


Katanya, ketika kau kehabisan kata, maka kau hanya bisa menyampaikannya dengan airmata. Kataku, ketika aku kehabisan kata, maka aku akan menyampaikannya dengan cinta.

***

Hari ini, di tepi danau kecil ini, aku menunggunya.

Angin terus berembus dari arah selatan. Membuatku harus memeluk tubuhku sendiri agar dingin tak begitu menusuk. Langit di atas kepalaku hampir seluruhnya tertutupi gelap, padahal hari baru berjalan setengahnya. Desember memang selalu pandai mempermainkan waktu, bukan?

Aku duduk di rerumputan yang agak basah ini sembari terus menatap ke layar laptopku. Sudah seminggu ini, aku menghabiskan hampir seluruh waktuku sembari memutar banyak video yang mengajarkanku bagaimana menyusun kata dengan jari dan tangan yang kupunya. Aku benar-benar harus menguasai bahasa isyarat untuk hari ini dan hari-hari yang akan datang.

Sudah satu jam,” kataku dalam hati sembari melirik jam tangan.

Ya, terkadang memang tak mudah membuat pertemuan dengan gadis yang, sepertinya, tak lama lagi akan datang.

Gadis itu bernama Erin—aku begitu menyukai namanya. Erin berarti damai. Ya, gadis itu memang penuh dengan kedamaian, Kedamaian dalam sebuah kesunyian.

Dan hari ini, hari kedua puluh tujuh di bulan Desember, aku akan mengungkapkan sesuatu yang orang sebut dengan cinta, kepada Erin. Aku tersenyum kecil sembari menutup kedua mataku

Tak lama, kurasakan embusan napas di sampingku. Kubuka kedua mata, menengok ke kanan, dan kudapati gadis damai itu telah duduk dengan senyuman.

Kau sudah datang?” tatapku bertanya padanya.
Maaf aku terlambat,” balas kedua mata teduhnya.

Aku hanya tersenyum, lalu melemparkan kedua mataku ke arah langit yang tiba-tiba saja tak lagi ditutupi gelap. Sial, gadis ini memang pandai mempermainkan Desember.

Laun-laun, kuhela napas. Mengumpulkan segala keberanian dalam dadaku. Aku mengedipkan mata berkali-kali. Berharap, tak akan ada tatapan luka siang ini.

Kemudian, kutatap gadis bernama Erin. Mencoba masuk ke dalam kedua matanya, masuk ke dalam dunia damainya. Lalu, kuangkat tanganku sejajar dengan dada. Mengepalkan jemariku, hanya menyisakan telunjuk dan jari tengah yang bersentuhan, lalu mengapit ibu jariku dengan jemari yang lain. Aku memainkan jemari dan tanganku, hingga membentuk sebuah kalimat. Sebuah kalimat yang selalu manusia gunakan untuk menyanjung yang terkasih. Sebuah kalimat, yang akan menentukan tatapan luka itu datang atau tidak.

Erin diam dengan segala kedamaian yang ia miliki. Kedua matanya terus terpaku pada permainan jemari dan tanganku. Tampak, matanya sedikit berair.

Benarkah?” balasnya, juga dengan sebuah permainan jemari dan tangan.

Aku mengangguk pelan. “Benar, aku menyukaimu.”

Suaraku sedikit gemetar, mungkin karena gugup. Sementara gadis yang penuh kedamaian itu, hanya tersenyum dengan sebuah tatapan bahagia.

Lalu semenjak saat itu, langit tak lagi gelap hingga Desember habis, bahkan hingga tahun yang lainnya datang.

Selasa, 17 Maret 2015

Jangan Jatuh Cinta Sambil Tutup Mata

“Memangnya, jatuh cinta itu harus melihat siapa dia?”

Aku melemparkan pertanyaan itu dengan mata yang hampir mau meledak. Bibirku sudah bergetar, menahan segala luapan perasaan yang selama ini hanya aku kubur sendirian.

“Setidaknya, kautahu dia pantas atau tidak untuk kaujatuhi cinta.”
“Bukan dia, tapi kau.”
“Baiklah. Setidaknya, kautahu aku pantas atau tidak un—“
“Pantas.”

Aku memotong perkataannya. dengan menggenggam erat sendok kecil, di hadapan secangkir kopi yang satu jam lalu masih panas. Benar, sudah satu jam aku dan lelaki ini duduk berhadapan dengan perasaan hitam yang mengelilingi kami. Rasanya, seperti seisi kedai kopi ini telah kehilangan aura manisnya.

“Lupakan saja tentang perasaanmu, Terra.”
“Jadi, menurutmu, kau tidak pantas untuk kujatuhi cinta?”

Ia hanya mengangguk pelan, sembari mengaduk-aduk kopi yang, aku yakin, rasanya pasti sangat pahit.

“Lain kali, kalau kau jatuh cinta, kau harus melihat juga siapa orangnya. Jangan jatuh cinta sambil tutup mata. Ah ya, sebentar lagi Rory menjemput, jadi jangan tunjukkan wajah menangismu di depannya. Aku tidak mau dia mengira ada yang terjadi di antara kita.”
“Deka, bukankah kau juga jatuh cinta sambil tutup mata?”

Ia hanya diam.

“Sudah, jangan menangis lagi.”

Deka mengangkat tangannya, lalu menghapus aliran perih yang membasahi kedua lembah pipiku. Tak lama, masuklah seorang lelaki bertubuh tinggi dan kekar. Rory menghampiri kami dengan mata yang tajam.

“Ah, kau sudah datang? Maaf, barusan ada sesuatu yang masuk ke mata Terra. Jangan salah paham, ya.”

Rory hanya tersenyum. Tatapan tajamnya menghilang.

“Kalau begitu aku pergi, ya, Ter. Sampai jumpa.” ucap Deka sembari berlalu, bersama Rory. Tampak, Deka melingkarkan tangan kanannya di tubuh Rory.

Lalu tiba-tiba saja, mataku terasa perih.

Rabu, 04 Maret 2015

Koma


"Jadi apa pilihanmu? Mau hidup bersama kabel-kabel itu, atau mati?"
Pria berpakaian serba hitam itu melayang-layang di kamar ini. Memutari bangsal yang sudah berbulan-bulan ditiduri oleh tubuhku yang koma.
"Belum tahu. Aku masih menunggu."
"Menunggu apa lagi? Menunggu kekasihmu menancapkan pisau ke dadamu, lalu menikahi gadis lain?"
"Dia tidak seperti itu."
"Ah, benar, kau ini belum sepenuhnya mati. Makanya jalan pikiranmu masih seperti manusia. Dangkal. Hanya mengutamakan perasaan."
Aku hanya diam mendengarkan ocehan dari pria serba hitam itu, sembari terus menatap tubuhku yang kaku dengan mata yang lekat tertutup.
"Kalau kekasihmu mengkhianatimu, bagaimana?" tanya pria serba hitam yang kini duduk di atas lemari. Mengayun-ayunkan kedua kakinya, dan menggerakkan kedua tangannya seolah ia adalah seorang konduktor orkestra.
"Dia tidak seperti itu."
"Aku beri tahu, ya, menunggu itu tak enak. Aku rasa, dia akan sangat bahagia kalau kau pergi sekarang. Kenapa kau tetap tak mau pergi?"
"Kau sendiri kenapa masih di sini? Bahkan tanpa tahu di mana tubuhmu. Menunggu apa?"
Pria serba hitam itu melayang turun. Kemudian bergerak mendekat ke arahku. Ke arah tubuhku.
"Aku menyukai seseorang, tetapi dia tak ingat aku. Aku menunggunya, agar sedikit saja dia mengerti."
"Dia manusia?"
"Kambing."
"Hahaha, ternyata kau memiliki selera humor yang baik. Padahal kau bukan manusia."
Kami sama-sama tertawa. Lalu tak lama, pintu terbuka, tawa kami menghilang. Seorang pria berkemeja putih masuk bersama perempuan cantik di sampingnya. Mereka mendekati tubuhku.
"Dia masih begini?" tanya perempuan itu.
"Ya, entah sampai kapan. Kau akan menunggu, kan?"
"Tentu saja.
"Aku hanya akan pergi kalau dia sudah pergi. Jadi, kita hanya akan menunggu hingga dia benar-benar pergi. Menyusul konduktor gila itu."
"Konduktor gila?"
"Ya, lelaki yang memimpin orkestranya. Dia bunuh diri setelah tahu Emira akan menikah denganku."
Aku mematung. Pupil mataku membulat. Perlahan kutengok pria serba hitam. Ia melayang di sudut kamar. Mengayunkan tangannya, sembari menggumamkan irama Pachelbel's Canon in D. Pipinya basah. Matanya merah.