Katanya, ketika kau kehabisan kata, maka kau hanya bisa menyampaikannya dengan
airmata. Kataku, ketika aku kehabisan kata, maka aku akan menyampaikannya
dengan cinta.
***
Hari ini, di tepi danau kecil ini, aku
menunggunya.
Angin terus berembus dari arah selatan.
Membuatku harus memeluk tubuhku sendiri agar dingin tak begitu menusuk. Langit
di atas kepalaku hampir seluruhnya tertutupi gelap, padahal hari baru berjalan
setengahnya. Desember memang selalu pandai mempermainkan waktu, bukan?
Aku duduk di rerumputan yang agak basah
ini sembari terus menatap ke layar laptopku. Sudah seminggu ini, aku
menghabiskan hampir seluruh waktuku sembari memutar banyak video yang mengajarkanku bagaimana menyusun kata dengan jari dan tangan
yang kupunya. Aku benar-benar harus menguasai bahasa isyarat untuk hari ini dan
hari-hari yang akan datang.
“Sudah
satu jam,” kataku dalam hati sembari melirik jam tangan.
Ya, terkadang memang tak mudah membuat
pertemuan dengan gadis yang, sepertinya, tak lama lagi akan datang.
Gadis itu bernama Erin—aku begitu menyukai
namanya. Erin berarti damai. Ya, gadis itu memang penuh dengan kedamaian,
Kedamaian dalam sebuah kesunyian.
Dan hari ini, hari kedua puluh tujuh di
bulan Desember, aku akan mengungkapkan sesuatu yang orang sebut dengan cinta,
kepada Erin. Aku tersenyum kecil sembari menutup kedua mataku
Tak lama, kurasakan embusan napas di
sampingku. Kubuka kedua mata, menengok ke kanan, dan kudapati gadis damai itu telah
duduk dengan senyuman.
“Kau
sudah datang?” tatapku bertanya padanya.
“Maaf
aku terlambat,” balas kedua mata teduhnya.
Aku hanya tersenyum, lalu melemparkan
kedua mataku ke arah langit yang tiba-tiba saja tak lagi ditutupi gelap. Sial,
gadis ini memang pandai mempermainkan Desember.
Laun-laun, kuhela napas. Mengumpulkan
segala keberanian dalam dadaku. Aku mengedipkan mata berkali-kali. Berharap,
tak akan ada tatapan luka siang ini.
Kemudian, kutatap gadis bernama Erin.
Mencoba masuk ke dalam kedua matanya, masuk ke dalam dunia damainya. Lalu,
kuangkat tanganku sejajar dengan dada. Mengepalkan jemariku, hanya menyisakan
telunjuk dan jari tengah yang bersentuhan, lalu mengapit ibu jariku dengan
jemari yang lain. Aku memainkan jemari dan tanganku, hingga membentuk sebuah
kalimat. Sebuah kalimat yang selalu manusia gunakan untuk menyanjung yang
terkasih. Sebuah kalimat, yang akan menentukan tatapan luka itu datang atau
tidak.
Erin diam dengan segala kedamaian yang
ia miliki. Kedua matanya terus terpaku pada permainan jemari dan tanganku.
Tampak, matanya sedikit berair.
“Benarkah?”
balasnya, juga dengan sebuah permainan jemari dan tangan.
Aku mengangguk pelan. “Benar, aku
menyukaimu.”
Suaraku sedikit gemetar, mungkin karena
gugup. Sementara gadis yang penuh kedamaian itu, hanya tersenyum dengan sebuah
tatapan bahagia.
Lalu semenjak saat itu, langit tak lagi
gelap hingga Desember habis, bahkan hingga tahun yang lainnya datang.