Kamis, 20 Desember 2012

Teman Kecil dari Illahi

ketukan sang waktu
pernah ditemani olehnya
tubuh tipis
berdering panggilan shalat
bernafaskan nama Illahi

ponselku,
kurancang kamu beda dari temanmu
tanpa GPRS
tanpa sinyal EDGE
hanya selipan ayat-ayat lembut
dari kitab sang Illahi
diantara fitur canggihmu

biarkan saja bumi berotasi!
dan biarkan aku tetap di jalan-Nya
tak ingin dibutakan
sungguhpun ku tak ingin lengah
di dunia penuh tipuan ini

ponselku,
tetaplah jadi seperti ini
berdering dan terus bedering
dengan tak tinggalkan nama-Nya

jangan coba membiusku!
rasuki duniamu
lalu tinggalkan duniaku

jangan coba ciutkan imanku!
mengubahku menjadi ilalang patah
di mata sang Illahi

Kamu, Bukan Datang Untukku (II)

     Aku duduk di bangku memanjang itu. Di dalam angkot; kereta kencanaku. Aku duduk di tempat terpojok disini, dekat kaca lebar yang ada di belakang. Ini memang tempat favorite-ku. Disini, aku terbiasa membiarkan fantasiku kabur meliar sambil memandangi jalanan yang terlebih dulu dilewati angkot ini. Fantasi tentang dia, pastinya. Pemilik senyum maut yang membuatku jadi pecandu.

***

     Matahari sudah cukup tinggi diatas sana. Dengan setengah berlari, aku memasuki gerbang sekolahku. Hari ini aku memang terlambat. Dan seharusnya, kelas sudah dimulai sedari tadi. Aku berlari melawati koridor kelas-kelas lain yang terlihat sudah memulai kegiatan KBM-nya. Nafasku, benar-benar terpompa sekarang. Ada sedikit mengumpat dihati; kenapa kelasku harus sejauh ini dari gerbang? Ah...
     Tiba-tiba lariku terhenti. Aku jatuh dengan posisi duduk tepat di depan anak tangga menuju lantai dua. Kulihat ada sepasang sepatu bersimpul rapi berdiri di hadapanku. Ternyata, aku bertabrakan dengan seseorang! Dengan nafas yang masih terpompa, aku mencoba menenggakkan kepalaku untuk melihat siapa pemilik sepasang sapatu ini yang telah membuatku semakin tertinggal jam pelajaran.
      Dan... astaga! Mataku terpekik melihat sosok lembut yang berdiri di hadapanku itu. Itu dia! Dia! Pemilik senyum maut itu!
"Kamu gak apa-apa?" suara lembut bercampur panik menyentuh gendang telingaku. Dan ini, kali pertama aku mendengarnya!
"Ah, iya, gak apa-apa, kok."
"Sini biar aku bantu," ucapnya sembari mengulurkan tangan kanannya padaku.
    Degup jantungku serasa membabi buta. Aku membayangkan bagaimana nanti jika jemariku bertemu dengan jemarinya. Bukankah ini yang selalu aku angankan juga?
"Gak usah! Aku bisa sendiri,"  kalimat singkat bernada sinis terlontar begitu saja dari lipatan bibirku. Ah, dasar bodoh! Bagaimana bisa aku menolaknya. Membiarkan anganku tetap jadi angan.
    Aku mencoba berdiri sambil merapikan seragam putih abuku. Kulihat ia tetap berusaha membantuku untuk berdiri. Mungkin ia tahu, jika persendianku memang terasa ngilu berkat insiden kecil tadi.
      Tapi, aku malah berkali-kali mencoba menepis tengan gagah yang hendak menyentuhku itu. Ah, lagi-lagi aku bertindak bodoh. Bagaimana bisa aku menolaknya?
    Dan rupanya, perlakuan dinginku padanya tidak membuat ia berbalik dingin padaku. Ia malah tetap menunjukkan simpatinya dan berkali-kali mengulang pertanyaan yang sama.
"Kamu beneran gak apa-apa?"
"Nggak, kok, aku gak apa-apa." jawabku tanpa sedikitpun menoleh ke arah wajah manisnya.
"Maaf, ya. Sekali lagi maaf..."
      Oh tuhan! Aku serasa meleleh ketika permintaan maafnya menyentuh indera pendengaranku. Mimpi apa aku semalam, sampai bisa bercakap langsung dengan karya Tuhan yang teragung ini?
"Iya, gak apa-apa, kok." jawabku sambil melihat papan nama bertuliskan Dias Andriansyah yang terpasang di seragam putih abunya itu.
    Yup! Sekarang aku tahu namanya! Aku tak perlu lagi menamainya 'dia' saat kutulis di lembaran buku harian merah mudaku. 
   Ia seolah ingin mencairkan suasana yang memang canggung ini. Ia bertanya, "Kamu baru dateng? Terlambat?" 
   Pertanyaannya ini, sedikit membuatku tertegun. Menyadari akan satu hal, bahwa aku... sial! Aku terlambat!
"Oh, iya!" 
     Aku berseru kencang seraya mengambil ancang-ancang untuk berlari secepat tadi. Dan aku mulai berlari, menyusuri koridor kelas yang seharusnya sudah kulewati sejak tadi. Berlari meninggalkan sosoknya tanpa berbasa-basi sedikitpun. Entahlah, mungkin, di matanya aku adalah sosok wanita yang teramat aneh. Dan mungkin, ia juga akan memasang wajah terheran-heran saat matanya mengarah padaku yang hanya terlihat punggung berlari semakin jauh darinya.
      Tapi disini, aku seolah melupakan apa itu rasa malu. Mungkin, maluku sudah lebih dulu terbayar dengan aku mengetahui namanya. Ya, Dias Andriansyah.

Selasa, 18 Desember 2012

Kita, Setelah Kepergiannya

"Puisi ini..." suara lembut keluar dari bibir manis si tokoh dalam puisiku itu. Ia seperti terkagum-kagum membacanya. Apakah ia sadar bahwa dialah yang ku tuliskan dalam puisi itu?
"Kenapa? Ada yang salah ya?" tanyaku sedikit sumringah berharap dapat jawaban yang aku inginkan; berharap hatinya terpeka.
"Ah, gak kok, gak apa-apa. Puisi kamu keren, Kin."
"Hanya itu? Itu biasa saja," ucapku dengan nada tak sesumringah tadi. Sedikit kecewa mendengar jawabannya.
"Biasa dari mana? Ini tuh keren. Ngena banget! Saking kenanya aku gak bisa bilang ini sekedar puisi, ini... pasti surat cinta buat seseorang kan???? Hayo ngaku! Hahaha," 
   Gelak tawanya benar-benar seolah membuatku membatu. Setidakpeka itukah hatinya? Jelas-jelas sosoknya yang tersirat disana!
"Apasih sok tahu banget!"
"Cie... ngambek,"
"Gak!"
"Ih kamu, aku cuma bercanda, Kin, kamu ini sensitif ya, gitu aja ngembek."
"Siapa yang ngambek? Wo..."
       Aku berusaha seolah tak rasakan apa-apa. Berpura-pura lupa tentang apa dan siapa yang tersirat dalam deretan sajak itu.
"Eh iseng banget!" ujarnya dengan sedikit campuran tawa.
      Dia, Rio. Lelaki yang selama ini melatarbelakangi puisi-puisiku. Kami bersahabat sedari dulu. Dari mulai Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas ini kami selalu satu sekolah, bahkan satu kelas. Lantas, jika hubunganku dengannya ada karena persahabatan hangat yang menahun, lalu tidak boleh aku mencampur aduknya dengan perasaan lain? Cinta misalnya.

***

     Wanita itu menggenggam erat tangan Rio di hadapanku. Mengisi setiap celah dari jemarinya. Kepalanya bersandar manja di pundak Rio yang gagah itu. Sementara tangan kirinya tak henti memainkan ponselnya dengan mickey mouse yang bergantung disana.
"Jadi kamu gak mau ikut?" Rio kembali bertanya.
"Ah, gak usah, aku takut ganggu kalian,"
"Kamu ini, kayak orang lain aja. Ayo ikut!"
"Gak usah, aku ma..."
"Yang, ayo... aku laper, kalo Kinan gak mau ya udah jangan dipaksa. Kita aja berdua..."
   Kalimatku terpotong oleh kalimat manja dari bibir berlipstick merah muda itu. Ia merengek sambil menggoyangkan tangan Rio. Ah, aku benci melihat adegan ini.
"Iya.. sebentar yang..." ucap Rio dengan sabarnya. Aku bingung, bagaimana bisa Rio tahan menghadapi wanita semanja ini.
"Kamu yakin gak mau ikut?"
"Nggak! Aku mau pulang. Kamu pergi aja!" intonasi bicaraku meninggi. Rupanya, aku telah lebih dulu terpancing oleh suasana semenjijikkan ini.
"Kalo gitu, aku duluan ya!"
     Belum sempat aku menjawab, Rio sudah membalikkan badan. Mencoba untuk berlalu dari hadapanku. Berjalan jauh dan semakin jauh. Hanya punggung gagahnya yang terlihat dari sini. Dan tentunya, genggaman yang ia belitkan di jemari wanita itu yang masih enggan untuk ia lepaskan. Sebut saja Rena. Wanita yang kini berperan sebagai pemilik mutlak hati Rio. Wanita yang hadirnya tak pernah ku harapkan. Wanita yang ku harapkan tak pernah masuk ke dunia Rio.

***

      Aku duduk di jendela kamar yang terbuka lebar itu. Angin malam mulai menusuk pengapnya ruangan kamar ini. Menggigit dingin setiap lapisan kulitku yang hanya dibalut kaos pendek tipis berwarna merah ati.
      Tak lama kemudian, gemingnya malamku terpecah oleh dering ponsel mungil yang sedari tadi tertidur diatas meja belajar. Aku beranjak menghampirinya. Dan ternyata, 'Rio' terpampang di layar ponselku.
"Halo?"
"Kinan? Kamu dimana sekarang?" terdengar suara lembut yang terisak di seberang sana.
"Aku di rumah. Ada apa, Yo?"
"Aku di depan rumah kamu. Tolong keluar ya,"
      Panggilan terputus seketika. Ada apa ini? Dengan hati yang dipenuhi tanya itu aku beranjak keluar kamar dan setengah berlari menuju teras rumah. Sesampainya disana, aku membuka cepat kedua pintu berwarna putih itu. Dan benar saja. Ada sosok Rio berdiri di baliknya. Ia menggigil. Matanya sembab. Hidungnya memerah seperti habis menangis. Dan tiba-tiba saja, tubuh gagahnya mendekap erat tubuhku.
"Kinan... bantu aku, aku harus gimana..."
     Suara terisak di telepon tadi, kini kembali kudengar langsung dari bibirnya yang menggigil itu. Ku rasakan pundakku membasah tertetesi air yang jatuh dari pelupuk mata sembabnya. Rio menangis.
"Yo? Kamu kenapa???"
"Aku gak apa-apa. Rena yang kenapa-kenapa. Rena, Kin. Rena..." 
     Aku diam mendengar nama itu terucap dari lipatan bibirnya. Aku enggan bertanya lagi. Aku benci nama itu.
"Rena kecelakaan. Dia tertabrak saat hendak keluar dari mobil. Rena kecelakaan, Kin, kecelakaan..."
    Kalimat yang diucapkan Rio seolah menyuruhku untuk membuka mulut. Sementara pundakku, semakin dibuat basah oleh airmata yang jatuh menderas itu.
"Rena dimana sekarang?"
"Dia di rumah. Dia udah pulang,"
"Lho? Kamu bilang ta..."
"Dia pulang ke tangan Tuhan."
     Kalimatku kembali terpotong. Tapi bukan lagi terpotong oleh suara manja itu, melainkan suara lirih terisak yang berhasil mengunci mulutku. Aku benar-benar tak mempu berkata-kata. Aku tak berani bertanya lagi.
"Dia meninggal, Kin... Dokter itu payah! Dokter itu gak bisa selametin Rena!"
      Tangisnya makin tersedu-sedu. Kedua lengannya makin erat memeluk tubuhku. Aku benar-benar dibuat diam olehnya.
"Aku harus gimana... Harus gimana..."
     Aku masih diam. Tak kuasa rasanya untuk keluar satu patah kata sekalipun. Entahlah, nafasku seolah terhenti disini juga. Tuhan mengabil Rena? Karena apa? Harapanku?
"Kinan..." 
      Rio masih tersedu. Sementara aku masih menutup mulutku rapat-rapat. Ada rasa senang mendengar Rio menyebut namaku, tanpa embel-embel nama Rena. Tapi, apa pantas aku begini setelah kepergian Rena? Aku hanya memeluk tubuhnya lebih erat lagi. Aku bisa merasakan benar tangis yang juga terisak di hatinya. 
    Kalau begitu, apa artinya ini? Tuhan benar-benar mengambil Rena? Lalu aku? Haruskah aku jadi pengganti Rena? Berhenti mencintai Rio diam-diam, dan datang menghapus setiap tetes airmatanya. Menghapus luka yang menghujam jantungnya? Ataukah... tetap mencintai Rio dengan caraku? Mencintai Rio dalam diam? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu untuk memeluknya lebih erat dari ini. Pelukan basah bercampur airmatanya. Tetaplah menangis, Rio. Tetaplah dalam pelukku.

Selasa, 04 Desember 2012

Kamu, Bukan Datang Untukku

      Dia, memang begitu sederhana. Lengkung manis di bibirnya, sorot mata elang dari bola matanya; mampu membuatku jadi penikmat agungnya karya Tuhan itu. Wajahnya, bagai dipahat Tuhan langsung. Wajah yang mampu membuatku jadi perindu juga tentunya. Ya, hanya karena itu. Sederhana bukan?

***
     Aku bersandar di jendela kelas yang tak sebening mata elangmu itu. Membiarkan lamunanku kabur meliar, mencari setiap inci bayang-bayangmu. Berkali-kali kuhela nafas panjang. Mulai bosan rasanya disini. Menunggu datangnya karya Tuhan itu. Menunggu sosok yang tak pernah tahu jika Ia selalu kutunggu.
      Tiba-tiba mataku menangkap bias cahaya bening. Dan seketika, langsung tertuju pada satu titik fokus itu. Ada kamu di depan sana! Seketika pula, senyum mengembang di bibirku. Wajahku benar-benar sumringah. Saat tahu, bahwa yang kutunggu telah datang tunjukkan batang hidung. Walau bukan datang untukku pastinya. Ya, bukan untukku.
     Sementara aku masih terpaku dalam diam. Masih belum melepaskanmu dari sorotan matakku. Rasanya, aku tidak ingin melewati setiap inci dari perpindahan gerikmu.
    Sampai akhirnya, suasana berubah seketika. Tak ada lagi lengkung di bibirku. Hanya nanar terpancar jelas dari mataku. Di depan sana, ada sosok berambut sebahu yang menemanimu. Kamu dan dia asik menebar canda tawa diantara manusia-manusia yang tak memerhatikan kalian selain aku. Tapi aku, orang yang melihat kamu dan dia dari balik jendela kelas ini, seolah menciut menjadi semut. Aku sama sekali tak terlihat oleh kalian.
    Tatapan hangat dari sang mata elang yang selalu ku inginkan itu, berkali-kali kamu berikan pada gadis yang berdiri disampingmu. Dengan tidak adanya batas takaran. Aku iri. Aku sangat iri. Bukankah itu yang selalu aku angan-angankan? Tapi, aku malah mendapati anganku hanya tetap jadi angan saja. Ya, angan memang selalu tinggi.
     Tanpa sadar, keirianku ini menghipnotis mataku. Mataku mulai berkaca-kaca. Mengingat kamu, sosok yang selalu kutunggu tapi selalu enggan untuk melihatku. Dan mata ini, serasa ditusuk! Ketika aku, melihat kelima jemari kananmu membelitkan diri pada jemari milik gadis itu. Kamu menggenggamnya erat dan pasti. Gerikmu, mulai berpindah. Tapi perpindahan itu tidak lagi terhitung inci, melainkan jengkal, atau mungkin kaki. Seketika berlalu dari titik fokus mataku. Berjalan melalui koridor kelas dengan tak melepas genggaman si gadis itu. Gadis manis berambut sebahu, berkulit sawo matang. Gadis manis yang mungkin selau hadir mengisi setiap jengkal mimpi malammu. Gadis manis yang kau panggil dengan sebutan sayang.
     Pacarmu.

Senin, 03 Desember 2012

Aku, Kamu, dan Penaku


Pekat gulita,
Kerap kulewati bersamanya
Tubuh mungil bertinta hitam
Temani aku bermain sajak

Kunamai itu pena
Nakal dengan tintanya
Pahat kata sejukkan mata
Adalah namamu,
Tersurat dalam deret baris itu

Penaku enggan peduli
Jikalau kau tak hiraukanku
Meringis,
Namun asik cumbu aksara namamu

Aku hanya bisa lakukan ini
Dalam sepi liarkan geliat jemari
‘Tuk rangkai namamu
Dengan,
Atau tanpa embel-embel menyentuhmu

Selasa, 27 November 2012

Aku Diserang Takdir


Aku termangu di jendela
Pandangi tetes airmata langit
Langit,
Tengah siarkan empatinya
Menangis ikuti ketukan airmataku

Diam menggigil dingin
Bukan karena hujan
Melainkan air pelupuk mata
Ini terlalu dingin

Aku hanya menangis
Ketika angin membawa takdir itu
Bagai napas terhenti disini
Kasih mati di daun kering

Aku tahu
Aku kalah kuat dengan takdir
Kepalan tangan takkan kuasa
Menahan agar takdir tak datang

Tapi aku tahu,
Kedua lengan ini pasti mampu
Mendekap erat sang hati
Tatkala peluru takdir menyerang liar

le='font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman","serif"; color:black'>Nakal dengan tintanya
Pahat kata sejukkan mata
Adalah namamu,
Tersurat dalam deret baris itu

Penaku enggan peduli
Jikalau kau tak hiraukanku
Meringis,
Namun asik cumbu aksara namamu

Aku hanya bisa lakukan ini
Dalam sepi liarkan geliat jemari
‘Tuk rangkai namamu
Dengan,
Atau tanpa embel-embel menyentuhmu

Rokok

nikotin tercium mesra
hipnotis mereka jadi tak berdaya
mereka,
tiada henti menghisapmu


kaulah serbuk penyakit dibalut kertas
batang tubuhmu berasap nikmat, tabu
undang sakit bagi teman
juga musuh

jentikan abumu harusnya hitam pekat
hitam tandakan sakit
tandakan sial
tandakan benci

kau mungkin mampu
hadiahkan surga untuk mereka
juga segunduk emas
mereka yang ciptakanmu
tapi jangan keliru!
kau tetaplah pengundang sakit
bagi kami
sosok yang enggan menyentuhmu
tapi terpaksa berteman dengan asap sialmu

Senin, 19 November 2012

Dosaku, Itu Tentangmu

inikah dosa?
ah, tanya itu menjamah pikiranku
menjelma jadi takut
takut,
jikalau nanti aku jadi sasaran batu karma

kau,
pemicu tanya ini
pemicu takutku ini
renggut kendali otakku
buat pikiranku terbelah dua
antara kau,
dan dirinya

sadarkah kau siapa?
kau sosok baru
bukan hanya di duniaku
tapi disini
di celah kecil relung hati
tapi dia?
sosok lama
di duniaku
juga di hatiku

memang,
jemariku berbelit dengan jemarinya
kedua lengan mendekap gagah raganya
napas ini terus hembuskan namanya
tapi pikiranku,
asik berpagut dengan bayang tabumu
adalah sosokmu
tak henti menggelitik tiap lapisan otakku

harusnya terlarang
tak layak kusentuh
tapi lagi-lagi
kau kendalikan aku
buat aku tak patuh pada waktu
tak patuh jua pada hati
lantas,
inikah dosa?

Minggu, 18 November 2012

Masihkah Kita Berkawan?

gulita langit mengintip melalui jendela kamar
mengintip aku termangu
tak berekspresi lain
tak bersuara lain
otakku tengah terjamah beribu mengapa!

ya,
dulu dan sekarang
jenis waktu yang berlawanan
dulu tak begini
dulu tak seperti ini
dulu, dulu, dulu
sekarang?
kita sibuk tuk saling melupakan

kawan,
jikalau malam dulu
ponselku, pastilah selalu bergetar
getar asik wakili canda
terselip di pesan maya itu
aku, kamu; tak berjarak
layar ponsel tak dianggap dinding pemisah

tapi lihat sekarang!
ponselku tak lagi bergetar karenamu
pesan maya hasil jentikan jemarimu asing
bagiku,
juga ponselku

kawan,
aku yakin tak hanya aku yang rasakan
jarak ini
kerenggangan ini
kau ikut sadari bukan?
lalu kenapa diam?
malah pergi mencari pengganti

dan aku masih disini
melihatmu asik mencumbu tawa
tapi tak bersamaku
kau bersama mereka
sosok baru di hidupmu bukan?

Sabtu, 17 November 2012

Pemburu Kepingan Koin

dia berjalan penuh lunglai
tubuh kurus dibalut kain usang
telapak kaki sentuh kulit jalan
melangkah ditemani sebatang kayu
tak kalah lunglai dengan kakinya

terik mentari terhiraukan
seolah kulit sudah kebal dengan sang panas
tetesan pelu arti perjuangan
gantungkan hidup pada jalanan bising

rupiah kecil dilempar lembut
oleh tangan-tangan di balik kaca mobil
mungkin iba melihanya
sosok tua pemburu kepingan koin
yang tak sebanding dengan laparnya

miris,
teringat negeri sudah merdeka
tapi dia tetap hidup dengan pelu payahnya
seolah negeri tak miliki induk

apakah negeri sudah buta?
sudahkah tuli?
abaikan sosok lunglai seperti dia
undang seribu apa dan seribu mengapa
seribu yang tak terjawab
oleh bibir sang induk negeri

mungkin sudah suratan hidupnya
jelajahi pinggiran demi raih si kenyang
tapi ketahuilah,
ini sungguh bukan inginnya
semuanya
segalanya
hanya wujud dari pengabaian negeri

Jumat, 16 November 2012

Writer? Hmm....

Umm... ngomong-ngmong soal nulis, sejatinya kita emang udah jadi penulis lho.. Kok bisa??? Coba deh flashback kapan pertama kali kalian diajarin nulis disekolah? Atau... diajarin mama papa? Itu udah lama yakan? Kira-kira umur 6tahun-an kita udah bisa nulis. Nah! Sejak itu pula kita bisa disebut penulis. Yang ngebedain sama penulis yang lainnya adalah....apa tulisan kita udah dipublikakan? Udah dapet apresiasi? Belum? *kita samaan, sehati<3-_-

Sebelumnya coba kita pikir dulu, 'cerdas' itu lahir bukan karna bakat kan? Bukan karna mukjizat kan? Tapi karna ketekunan belajar, guys. Diulang ya, ke-te-ku-nan be-la-jar *hohoho. Yang ngebedain cuma satu, seberapa cepat otak orang itu nerima materi yang diajarkan.
 
Sama halnya kaya menulis. Kalian pernah denger istilah gini gak: "dia kan jadi penulis karna udah bakat dari lahir" kalo pernah coba tinggalin sejenak pemikiran kalo menulis itu bakat. Menulis itu bukan bakat guys, bukan! Diulang ya, bukan bakat!!!!! Sebagaimana yang udah diuraikan diatas, kalo semua orang udah punya bakat nulis sejak masuk SD. Bakat itu tentunya lahir dari proses, dan proses itu dalah hasil dari ketekunan berlatih. Muncul deh.....istilah yang bilang kalo menulis adalah bakat. Karna kebanyakan orang biasanya cuma liat tulisan tu dari hasilnya, bukan dari bagaimana prosesnya hasil tulisan tersebut.*yagak? 

Disini bakal diuraikan tips-tips sederhana biar kita punya sebuah 'tulisan'. Yang diantaranya.....
  1. Buku Harian. Kenapa harus buku harian? Buku harian kan identiknya sama cewek? Cowok punya buku harian? Gimana jadinya????? Eittss.. tapi gak usah keparnoan sama pertanyaan-pertanyaan barusan. Sekali lagi, jangan. Buku harian atau buku harian online yang biasa kita sebut dengan blog, ternyata juga faktor yang bikin kita suka menulis. Buat para cowok nih ya, gak usah takut laaa dikatain feminim gara-gara punya buku harian. Terus aja lanjutin nulis di buku harian, selain bikin lega perasaan kita karena bisa numpahin segala unek-unek, kesal, marah kita tanpa buku harian memprotesnya. Juga kita bisa dapetin sisi positivnya, berupa terbiasa menulis.
  2. Hobby. Kalo ngalamin kesusahan dalam menulis, coba deh kalian mulai mulis sesuai hobby kalian.. Sebagai contoh, kalo kalian suka baca novel maka cobalah menulis novel. Buat remaja putri nih ya, kalo kalian suka memasak coba tulis buku masakan. Kalo suka berpuisi, kalian bisa nyoba tulis puisi-puisi, nanti harapan kalian bisa sama kayak orang yang satu ini ~~~> Mawar Hijati *itumah gueee.-.
  3. Membaca. Kalian pernah ada rasa buat susah memulai? *males nulis/mager buat nulis.-. Kalo yang satu ini sih...mawar juga ngalamin. Yakali emang kadang suka susah...... buat mulai suatu tulisan, apalagi kalo lagi gak ada insprirasi. Kalo menurut mawar sendiri, ide atau inspirasi itu tersendat karna kurangnya membaca. Jadi kuncinya tu satu, perbanyak membaca. Membaca disini bukan sekedar membaca. Membaca disini berarti membaca secara luas.Mulai dari buku, website, koran dan masih banyak lagi. Asal jangan coba buat baca hati doi ya, beda jalur itumah *okesip.
  4. Kuasai Teknologi. Jangan gaptek! Di era modern ini, udah seharusnya penulis harus bisa menguasai teknologi. Minimal bisa bikin email, ngetik pake program Microsoft Word. Karena banyak dari tuntutan penerbit udah gak nerima tulisan tangan, tapi harus diketik dengan komputer dan dikirim lewat email. Hal itu juga ngemudahin dalam produksi buku, meringankan kerja editor tanpa harus ngetik ulang tinggal ngolah data yang udah ada.
Nah..itu dia beberapa tips-tips sederhana biar bisa punya 'tulisan'. Tapi jujur aja, sebenernya mawar juga masih 'in programming' sih dari tips-tips diatas hehehe. Sebenernya buat jadi penulis itu gak rumit. Kuncinya cuma satu, perbanyak menulis. Dan terakhir nih, mawar pernah dapet satu quotes dari senior mawar. Bunyinya: "Jika kita berhenti membaca, maka kita akan berhenti menulis. Tapi jika kita berhenti menulis, maka kita akan mati."
:-))))

Kamis, 15 November 2012

Sosokmu dalam Penaku

kugenggam pena mungil itu
kuambil secarik kertas suci
rasanya ingin ku tumpahkan seisi otakku
curahkan jua isi sanubari; tak lain tak bukan adalah tentangmu

ku goreskan setitik tetes tinta
merangkai menjadi satu kata
tak asing bagi mataku
juga bagi hatiku
adalah namamu
tersurat dalam kertas yang tadinya suci
seolah dalam kuasa alam bawah sadar
jemariku membentuk namamu

ini terjadi lagi
apa yang kutulis pasti kamu
kutulis rindu tersirat lengkung bibirmu
kutulis sayang tersirat teduh matamu
dan kutulis cinta,
tersirat gagah sosokmu

lalu apa ada lagi?
objek yang pantas kugambar
dalam satu paragraf padu; paragraf tentang cinta
selain dirimu?
jawabku pastikan tidak
hadirmu,
telah mutlak dalam tintaku

mungkin,
penaku menyukaimu
sampai tak bosan jumpa namamu
atau mungkin,
kelima jemari kananku
terbiasa dengan hadirmu
hingga mereka mencintaimu
menulis,
mendekap namamu erat-erat
dalam deretan baris itu

ya,
sosokmu adalah ajaib yang bisu
diam-diam tiupkan nyawa pada huruf-huruf mungilku
hidupkan mereka dalam gelap sunyi
sosok inspirasi dari tiap tuliskanku; objek dari definisi cintaku; itu kamu.

Jumat, 09 November 2012

(Masih) Untukmu, dengan Seribu Tanda Tanya

Masih seribu tanya untukmu
Sosok yang sukar ku logiskan
Berkubang tiada henti di pikiranku
Lucu
Kau anggap otakku ini kolam?

Masih seribu tanya untukmu
Si pemilik mata elang yang enggan melihatku
Dan aku tetap disini
Menunggu sang mata elang melirikku
Walau hanya satu lirikan

Masih seribu tanya untukmu
Seribu
Dan mungkin lebih
Tanya yang entah miliki arti apa
Tanya yang apa mungkin bisa kau jawab?
Dan sampai detik ini,
masih sekedar tanya
Seribu tanya diam
Tak harapkan jawaban

Sabtu, 03 November 2012

Juga Kau, Bunda

ini menyakitkan
ketika masalah membelit otakku
membelit juga relung jiwa
tapi,
tak satupun mengerti
tak juga kau, Bunda

ini menyakitkan
ketika tetes air jatuh dari pelupuk mata
terisak di hidung
tapi,
tak satupun jemari menghapusnya
tak juga jemarimu, Bunda

ini menyakitkan
ketika semakin banyak hari ulang tahunku
membikin semakin sedikit perhatian tergenggam tanganku
dari semua orang
dan juga darimu, Bunda

ini menyakitkan
ketika impianku
inginku
tak lagi dinamakan penting bagi semua orang
tak juga kau, Bunda

lantas apa yang harus kulakukan?
apa yang kalian tunggu?
haruskah kuhentikan detak jantung ini
barulah kalian akan tumpahkan airmata?
setidaknya satu tetes untukku

haruskah kugoreskan potongan kaca di nadiku?
agar kalian tau
tersadar,
bahwa nadiku tak hanya bergetar sia-sia

ah,
ini abu-abu
aku tak kuasa tuk mengerti
yang aku tahu
aku miliki rasa penyuruh
suruh aku menangisi apa yang terjadi
mungkin dimiliki mereka juga yang senasib
rasa yang dinamakan lelah
ya, aku lelah..

Rabu, 31 Oktober 2012

Hari Terakhirku; Hari Jadi Kita..

Langit tidak lagi biru. Kini sang gulita tengah sibuk menyelimutinya. Sudah larut memang. Tapi Ia tetap berdiri di bawah lampu taman di  pinggir jalan itu. Berkali-kali Ia menengok jam tangan merah muda yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.35 malam. Waktu yang tidak lazim bagi seorang mahasiswi sepertinya berdiri di pinggir jalan sendirian. Angin malam berhembus dengan pelannya. Pelan, namun cukup membuat Ia kedinginan. Malam ini, Ia memang tidak mengenakan pakaian tebal. Hanya jeans hitam dan kemeja biru ber-papan-nama-kan Dwita Putri yang Ia kenakan.Tak lama heningpun terpecah oleh dering ponsel.'♥' bertuliskan di layar ponselnya. Panggilan dari sang pacar rupanya -sebut saja Dani- Dwita dengan bermimik girang segera menjawab panggilan tersebut.

"Halo? Sayang? Kamu dimana? Aku sudah di tempat biasa, kamu jadi jemput aku kan?"
"Sekarang? Kenapa cepat sekali? Kamu pulang mendadak?"
"Iya.. Jemput aku yaa!"
"Apa harus aku? Acaranya selesai pukul 10 nanti. Tunggu aku 30menit lagi ya!"
"Tapi sayang, apa itu tidak terlalu la.....halo? Sayang? Halo?!"
Keluhan Dwita terpotong karena matinya penggilan. Dwita pun mencoba menelepon balik Dani. Berkali-kali Ia mencoba namun tak ada jawaban; Dani mematikan ponselnya. Dwita hanya bisa menghela nafas perlahan. Lagi-lagi seperti ini. Dan lagi-lagi Ia memilih untuk memendam amarahnya; karena cinta mungkin. Entahlah, hasratnya untuk bertemu Dani sangat besar rupanya, hingga Ia enggan untuk pulang sendirian.

***

Jam dinding menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat. Acara yang dihadairi Dani sudah selesai. Dani pun langsung menghidupkan kembali ponselnya yang tadi Ia matikan untuk menghindari Dwita. Ternyata ada lima pesan yang dari Dwita yang diabaikan olehnya. Namun Dani tak kunjung mebacanya, malah bergegas pergi ke taman tempat Dwita menunggu.

Sesampainya disana, Dani bermimik bingung. Tak ada sosok cantik yang berdiri di bawah lampu taman seperti biasanya. Dwita sudah tak lagi disana; Dwita pulang; Dani telat. Ia cepat-cepat mengambil ponsel dari dalam ranselnya, dan mengeluarkan panggilan untuk Dwita. Tapi, malah mesin yang menjawab; nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
"Kalau hanya karena aku telat jemput kenapa pergi, sampai mematikan ponsel, hih!"
Rupanya Dani telah dibuat kesal oleh Dwita. Dengan masih bernafaskan kesal, ia menghidupkan mesin sepeda motornya dan bergegas pergi menuju rumah Dwita.

Tapi lagi-lagi Dani bermimik bingung. Ia berdiri di depan gerbang rumah Dwita sembari terus menekan bel. Tak ada jawaban; tak ada orang; rumah Dwita kosong. Ini tak lagi membuat Dani kesal, justru Ia jadi heran. Dengan keheranan yang penuh seluruh, Dani memutuskan untuk pulang ke rumah. Namun langkah kakinya terhenti oleh suara sirene ambulance yang terngiang di telinganya. Tak lama kemudian, datang seorang lelaki separuh baya dengan banjir di matanya; ayahnya Dwita. Ia mencaci maki Dani.
"Bajingan kamu! Kemana saja?! Dwita dari tadi menunggumu! Ia bersikeras untuk menunggumu! Lalu? Ia dirampok! Ia celaka! Harusnya Ia menunggu kamu, bukan kematian!!!!!"
Dani terpatung. Tak bersuara; hatinya menjerit. Kalimat yang dilontarkan lelaki tadi rupanya mebuat Dani benar-benar sesak; seolah nafasnya juga berhenti disini. Dengan lemas Dani meninggalkan lelaki itu. Melaju kencang menggunakan sepada motornya, menuju taman tempat Dwita menunggu. 

Disana, Ia masih tak kunjung bersuara; tak berekspresi lain; wajahnya kosong. Gemetar jemarinya mengecek ponsel. Membuka satu-persatu pesan terakhir dari Dwita.

- "sayang?"
- "kamu dimana? aku masih disini."
- "sayang, ada yang memperhatikan aku."
- "aku takut, kamu dimana?"
- "baiklah, aku pulang sendiri saja, sekarang. Sebenarnya aku sangat ingin bertemu denganmu . Dan aku hanya ingin mengucapkan Happy Anniversary untuk kita berdua. Selamat hari jadi, sayang. Terimakasih mau menemaniku 2tahun ini. Aku sayang kamu. Aku pulang yaa..."

Tanpa sadar, airmata deras terjatuh dari pelupuk mata Dani. Bibirnya menggigil seperti kedinginan; kedinginan airmata; airmata dingin. Benar-benar seolah waktu berhenti. Dani menangis tiada tanding. Mengingat Dwita, kekasih yang selalu diabaikan olehnya, tak pernah diperhatikan. Dan Dwita kini, sudah pulang. Benar-benar pulang. Bukan pulang ke rumah, melainkan ke tangan Tuhan; pulang sungguhan.






Temani kekasihmu, selagi Ia belum ditemani Sang Pencabut Nyawa.

Selasa, 30 Oktober 2012

Aku Ingin Beda, Sayang...

kumohon,
buka matamu
lihat apa yang tak pernah kau lihat
kasat mata; airmata hatiku

kumohon,
pasang telingamu
dengar apa yang tak pernah kau dengar
kedap suara; tangisan hatiku

kerap kali kau tak perduli
malah menangis seolah tersakiti
tak taukah bagaimana hatiku?
menjerit; tak kau mengerti

sayang rasanya
jika otak cerdasmu tak kau pakai untuk mengerti
mangerti keberadaanku
kekasihmu; diantara satu milyar manusia di jagat ini


mengertilah
aku,
ingin jadi sosok satu-satunya untukmu

jadi satu-satunya yang diam
ketika dunia tertawa bahak
aku ingin jadi satu-satunya yang tidak mengerti
ketika dunia menyimak tak berkedip
aku ingin jadi satu-satunya yang marah
ketika dunia membalas hangat

mengertilah
bukan karena aku benci
bukan karena aku tak suka
aku hanya ingin jadi setitik beda
diantara satu milyar orang yang sama

karena aku bukan orang lain; kekasihmu
tak ingin disamakan dengan mereka
mereka bukan kekasihmu!

mengertilah
aku hanya ingin jadi satu-satunya beda untukmu
satu-satunya!
hanya satu!
bukan seribu!

Hujan Rindu

aku terbawa langkah di jalan setapak itu
masih di jalan yang sama
di hari yang sama
di bawah langit yang sama; langit mendung

tapi ada satu beda disini
langkahku, tak ditemani siapapun
tak juga kau!
ya, aku sendiri

angin bertiup mesra
membikin bulu roma menari-nari
dan melemas kembali,
tatkala tertetesi air yang dibawa sang angin
turun hujan rupanya

kenapa hujan?
aku, enggan bersentuhan dengan hujan
tapi sekarang,
aku harus berjabat tangan
berkenalan dengannya
hujan membikin telapak tanganku basah

terlihat pasti
tetes air jatuh ditelapak tangan
tapi ada beda kurasa
hujan ini...
tetes demi tetesnya panjatkan rindu!
ya, ini hujan rindu
rindu dirimu

renyah tawa dari mulutku
hih! sang langit sedang mengejekku
ia tahu kalau langkahku tengah sendiri
tak ditemani siapapun
tak juga oleh sosok nan jauh disana; sosok buatku jadi perindu; kau.

Minggu, 28 Oktober 2012

Malam, Aku Benci...

tepat malam hari
malam
waktu paling kubenci dalam kurunan waktu di negeri ini
malam menyiksaku
ah tidak,
kau menyiksaku kala malam
ah, itu tidak juga
bayangmu yang menyiksa pikiranku kala malam

tak jarang telinga ikut tersiksa
dalam sayup suara malam
redup mendengar suaramu
entahkah halusinasi
yang aku tahu
suara mungilmu menari-nari lewati pekatnya gulita
sampai ke gendang telinga

ini bukan salahmu
tapi salahku
enggan mengusirmu dari lamunan
lantas,
apa kau ini?
zat apa yang membentukmu?
nyatanya aku candu
candu disiksa olehmu

dan tersebutlah
kau; penyiksaku kala sang gulita selimuti langit.

Jumat, 12 Oktober 2012

Aku Enggan Berpisah Dengan Waktu

Hidup memang pertarungan dengan sang waktu
Andai kita lengah,
Waktu kan berlarihebat
Guna kalahkan kita


Tapi,
Pernahkah kau bayangkan jika pertarungan berhenti?

Ketika itu,
Semua terasa beda
Telingamu, tak lagi dengar titik-titik bunyi diluar
Mulutmu hanya terkaku diam
Dipaksapun kau tak akan bersuara
Kulitmu pastilah dingin
Dingin, saat teman menyentuh
Matamu tak kuasa bergerak
Untuk menutupnya saja,
Kau butuhkan jemari lain

Ketika nafasmu....
Tunggu dulu, nafas?
Tidak!
Tiada bernafas kala itu
Kau tak lagi bisa menghirup
Keluarkan udara

Tidakkah menyedihkan?
Jika berhenti hanya mengundangnya
Rasanya aku tiada niat
Untuk berhenti bertarung dengan sang waktu

Aku dan Kesederhanaanku

Aku ingin mencintaimu dengan cara sederhana; dengan doa
Sedia kupanjatkan kapanpun
Bahkan ketika aku tak lagi kuasa untuk mengangkat 
Dan melipat tangan untuk berdoa

Aku ingin mencintaimu dengan kalimat sederhana
Tak berbelit
Tak perlu kaya kiasan
Dan tak dilebihkan
Aku cukup mencintaimu dengan kalimat "aku mencintaimu.."

Dan aku,
Aku ingin mencintaimu dengan takaran cinta sederhana
Ya, sederhana
Karena jujur, 
Aku tak kuasa persembahkan cinta seluas samudera
Cinta setinggi angkasa
Aku hanya mampu mencintaimu, 
Seluas,
 dan setinggi yang mampu jemariku sentuh

Rabu, 19 September 2012

Kenapa Selalu Kamu?

Kamu...
Si pemilik mata itu
Mampu getarkan ruang kosong hati
Seolah terkena setrum
Hati ini menggelinjang tak karuan

Kamu...
Si pemilik suara itu
Lebih indah dari sekedar dentingan piano
Mampu redam keluh kesahku

Kamu...
Si pemilik jemari itu
Jemari yang berbelit diantara jemariku
Genggaman hangat
Sungguh,
Tak ingin kulepas

Dan kamu...
Ah, lagi-lagi kamu
Kamu telah sita waktuku!
Menyita dengan seribu bayangmu

Taukah aku lelah begini?
Ya,
Lelah yang aku nikmati

Selasa, 11 September 2012

Sendiri Itu Melelahkan

Pernah kamu lewati hari yang lebih sepi dari hariku?
Hari saat sinar mentari tak sampai
Burung-burung enggan membuka paruhnya
Dedaunan tertawa kecil
Bergoyang bersama angin
Dan manusia?
Tak ada
Seolah tinggal daku seorang

Ini terus terjadi
Semanjak kemarin
Semenjak sosoknya hilang di duniaku
Tinggalkan cinta terasa
Tinggalkan rindu terkubur

Sepi berjuta kali lipat
Inginku teriak
Agar suaraku bergema
Paling tidak,
Aku dengar suara selain suara utamaku
Agar aku tak begitu rasakan sepi

Tuhan,
sudikah Engkau kirimkan malaikat mungil-Mu?
Tak ada dia di duniaku
Aku benar-benar merasa sendiri
Dan aku, Tuhan
aku lelah untuk sendiri.

Senin, 10 September 2012

Nona Ini, Siapa yang Punya?


Sebut saja, Nona
Mampu genggam dunia
Namun tak mampu menangkap setitik sejuk di dalamnya

Nona kesepian
Tak ada teman
Yang ada hanya manusia berlalu-lalang
Namun enggan melihat Nona

Nona menipu dunia dengan senyumnya
Dunia kira Nona bahagia
Nyatanya?
Jauh dari kata bahagia

Nona lelah
Hatinya rapuh namun seolah tangguh
Bagai berjalan dalam lorong gelap
Walau tanpa cahaya,
Nona tetap berjalan

Nona butuh pelukan
Pelukan hangat yang membuat Nona lupa akan dinginnya dunia
Lupa akan pengabaian dunia
Walau hanya terhitung detik

Carikan Nona sebuah pelukan!
Atau...
Adakah yang ingin memeluk Nona?

Lagi... Aku Candu

Waktu kian merangkak
Kukira rangkakan siput,
Namun ternyata cepat tak mengenal ketukan
Tapi tahukah kau?
Secepat rangkakan waktu itulah hatiku luluh olehmu

Entah ada kandungan zat apa dalam dirimu
Yang membuatku terus, terus, terus, dan terus berfikir
Bagaimana agar aku bisa selalu dekat sosokmu?

Sesekali aku berteriak kecil
Aku kesal
Rasanya,
Hasrat ini terlalu memperbudakku!
Memaksaku untuk beranjak
Mencarimu
Lalu mendekapmu

Seolah ada zat adiktif menyatu dengan darahmu
Lagi...
Buatku candu akan hadirnya sosokmu

Minggu, 09 September 2012

Ingin Terus Melihatmu.

Hangatnya mentari
Mengingatkanku akan dinginnya malam
Celoteh burung berisik
Mengingatkanku akan nyanyian sang jangkrik
Dan manisnya kehadiranmu
Mengingatkanku akan rasa pahit kehilanganmu

Rasa inipun menjelma menjadi takut
Meremas sel-sel otakku
Membuat waktuku tersita hanya tuk yakinkanmu
Agar tetap sedia berdiri di sisi

Tatkala kau menghilang
Dan aku?
Aku masih sibuk mencoba melihatmu
Bahkan sampai kedua mata ini tertutup

Sunyi....
Membelaiku saat aku menutup mata ini
Hingga kantukpun mulai merayap
Memaksaku tuk tetap menutup mata
Menyuruhku berhenti melihatmu

Namun,
Sosokmu datang sebelum aku mulai mencari
Tidak jauh beda dengan kafein,
Harum tubuhmu mengusir kantukku seketika

Sepertinya,
Kaupun tak ingin jika aku berhenti melihatmu
Terimakasih

Takdir?

Kau,
Percaya akan takdir?
Saat kali pertama bertemu
Tidakkah kau sempat bertanya
Ini sekedar pertemuan ataukah takdir?
Jika iya,
Maka kita adalah sama pada saat itu

Hingga pertemuan kali kedua pun ada
Masih tanya yang sama
Ini sekedar temu atau juga takdir?

Namun ternyata
Pertemuan seterusnya tak terhindari
Aku baru sadar
Kita ini berputar dalam gulungan roda yang sama
Semahir apapun aku sembunyi
Kau akan tetap berhasil menemukan

Dan akupun mulai mengerti...
Serangkaian kisah kecil
Ada sebelum pertemuan ketiga
Semata-mata adalah takdir

Menyusun artian,
Bahwa takdir tak melulu tentang hal besar
Bahkan,
Pertemuan matapun tidakkah bisa disebut takdir?

Minggu, 02 September 2012

Di Negaraku Kini

Di negaraku kini
Andai kau mencuri sebungkus nasi
Hidupmu akan terhukum tragis
Mencuri sepotong semangka?
Kau akan jadi dongeng!
Dongeng yang akal anak kecilpun tak bisa menerimanya

Tidakkah negaraku ini hebat?
Korupsi? Sudah membudidaya!
Bahkan mengalahkan budaya pribumi
Hukum dan perspun mampu dibeli
Tak perduli seberapa banyak uang haram yang harus dikeluarkan

Tidakkah negaraku ini lucu? 
Ditengah tawa mereka kami menangis
Ditengah rasa kenyang mereka kami kelaparan

Di negaraku kini,
Tak hanya ada lautan yang indah
Hutan hijau yang merekah
Tapi juga para koruptor yang serakah

Ini Jawabku


Cinta….Jika kau tak tahu apa ituMaka lihatlah kedua matakuCintamu telah meninggalkan jejak cahaya disanaJika kau tanya kenapa begituJawabku adalah kauKau yang telah menjatuhkanku dalam cintaJika kau masih tidak mengertiMaka aku….  Akupun sama
 Akupun tak mengerti
Karena kuyakin,
kata-kata takkan sanggup sampaikan isyarat hatiku