Senin, 08 Juli 2013

Kupu-kupu Kertas



Aku menopang daguku dengan kepalan tangan. Duduk di balik jendela kamar yang kubiarkan terbuka dengan lebarnya. Embusan-embusan angin menggelitik rambut-rambut kecil di lenganku. Kutengok jam, sudah lewat tengah malam, bahkan fajar hampir tiba. Aku mengalihkan pandanganku pada kupu-kupu kertas yang menggantung di atas tempat tidur. Aku tersenyum, juga ingin menangis. Kupu-kupu kertas itu seperti ibuku.
Sayup-sayup aku mendengar suara kendaraan dari luar rumahku. Segera kututup jendela kamar. Bergegas mematikan lampu dan pura-pura tertidur. Ibu sudah datang.  Perlahan kudengar pintu kamarku terbuka. Cahaya dari ruang tengah masuk bersama seorang cantik yang kupanggil ibu. Aku masih pura-pura tertidur. Bukan karena tak ingin menyambut ibuku dengan pelukan hangat, aku hanya tak sanggup melihat ait matanya. Pipiku tersentuh oleh bibir yang lembut, ibu menciumku. Dan benar saja, ibu menangis. Tapi aku masih menutup kedua mataku rapat-rapat, Masih pura-pura tertidur. Tak lama, isak itu berhenti. Ibu beranjak dari kasur dan keluar. Kamarku kembali gelap.
***
Aku tak melepaskan pandanganku dari luar jendela di sepanjang perjalanan. Di sebelahku, ibu tengah asyik dengan setir dan klaksonnya. Aku tersenyum melihat wanita itu. Wajah ini yang aku inginkan. Wajah tanpa pipi yang membasah.
Dunia tampak begitu ramainya dari balik kaca mobil. Indah, seperti pelangi yang hanya bisa kunikmati sepotong. Ya, di antara ramainya, ragam warnanya dunia, hanya  sepotong yang bisa retinaku tangkap. Entah sejak kapan, aku lupa. Sudah lama aku menikmati dunia dengan sebelah mata. 
Kami sampai di gerbang sekolahku. Aku turun dari mobil, ibu pun turun. Ia berlari kecil ke arahku. Setengah pelukan dan ciuman lembut di pipi ia berikan dengan seuntai senyum, sesaat sebelum ia kembali masuk ke mobil dan beranjak dari sini. Senyum ini yang aku inginkan. Senyum yang tak terputus oleh isak tangis. Di balik gerbang, tampak ada sekerumun siswi yang memerhatikanku. Aku tahu, aku sedang menjadi buah bibir di antara mereka. Namun aku tak ingin menghiraukannya. Aku tetap berjalan melewati meraka. “Masih berani melewati gerbang ini?” satu di antara sekerumun gadis itu bertanya. Selalu pertanyaan yang sama.
Aku membalikkan badan. Tersenyum dengan wajah yang begitu tenang. Melanjutkan langkahku tanpa menghiraukannya.
“Tak ada tempat untuk darah kotor di sekolah ini,” kata gadis itu.
Rasanya aku ingin meledak mendengar kalimatnya. Sontak tangan kanan kuarahkan ke pipinya. Namun sial, tamparanku tak sampai. Ada tangan lain yang menepisnya. Tangan Bumi. Aku melepaskan tanganku. Aku menatap Bumi dan gadis itu dengan sebelah mataku yang masih menajam. Gadis picik itu mendekatkan wajahnya ke telingaku.
“Tak ada tempat untuk anak pelacur di sini.” bisiknya lembut, namun begitu menyayat telingaku.  Kemudian, Bumi menarikku tanganku tiba-tiba. Membawaku pergi meninggalkan tempat itu.
***
   Malamnya, aku menunggu ibu di depan rumah. Berkali-kali aku mengentakkan kaki ke lantai. Sebab kesal, sudah larut begini ibu tak kunjung pulang. Sementara itu, kepalaku terisi oleh selaksa apa dan mengapa, serta berbagai problematika lainnya. Aku benar-benar mengkhawatirkan ibu. Bukan karena ibu belum juga pulang, melainkan karena ibu belum juga bisa keluar dari dunia gelapnya. Padahal, bulan Ramadhan akan segera datang dalam hitungan hari.
   Pernah aku mendesak ibu untuk berhenti dari dunianya. Tapi selalu jawaban yang sama yang kudapatkan. Tak ada pilihan lain, selalu itu jawabnya. Rupanya, uang telah menyempitkan pikiran ibu. Padahal, selalu ada pilihan kedua dalam hidup. Selalu ada.  Lamunanku terpecahkan oleh bising mobil yang berhenti di halaman rumah. Sontak aku berdiri. Pikirku, itu pasti ibu.
   Tak lama, sesosok lelaki yang sebaya denganku turun lebih dulu dari mobil itu. Lelaki yang kuanggap penghancur hidupku, walau dirinya menganggap bahwa ialah penyelamat hidupku. Kemudian, ia berlari-lari kecil ke pintu yang satunya lagi, membukakan pintu untuk seorang wanita yang begitu akrab dengan mata kananku. Benar, itu ibuku.
Mereka terlihat begitu dekat. Bahkan, sesaat sebelum lelaki itu pergi, ia sempat memberikan ciuman kilat ke pipi ibuku. Aku mematung melihatnya. Dadaku tiba-tiba saja terasa penuh oleh sesuatu yang tak pernah bisa kuluapkan. Tangan kananku membentuk sebuah kepalan kuat. Air di  pelupuk mataku terbendung, yang kemudian kutahan.
   “Ilana, sedang apa di sini? Kenapa kau tidak tidur?” tanya ibu keheranan saat melihatku yang masih berdiri di depan rumah.
   “Tidak bisakah ibu berhenti? Tidak bisakah ibu keluar dari dunia ibu?” Aku berbicara dengan mata yang sudah dipenuhi airnya. Sementara ibu, tampak mendadak sendu mendengarku bicara tentang dunianya.
“Kalau ibu berhenti, maka kau takkan makan.”
   “Tapi ibu bisa mencari dunia yang baru!”
   “Kaupikir itu mudah? Kalau mudah, ibu sudah berhenti sedari lama.”
   Air mata ibu mulai jatuh dari sangkarnya. Aku benar-benar bergeming. Selalu begini, ibu selalu menangis dan aku selalu menyesal setiap aku membicarkan dunianya.
Semua memang sudah telanjur sulit. Nyatanya, aku memang hidup di negara yang sempit lapangan pekerjaan. Sebuah keharusan untuk bertahan hidup menjadi momok yang mendorong segelintir orang untuk mengambil jalan pintas. Dan nahasnya, ibuku termasuk ke dalam segelintir orang itu.
Kemudian, aku memeluk ibu. Sebuah pelukan yang rupanya telah lama tak kuberikan kepada tubuh yang mulai rentan ini. Air di pelupuk mataku rasanya sudah tak terbendung lagi, kemudian ikut jatuh bersama air mata ibu. Suara tangis kami menyeruak dalam senyapnya malam.
***
Aku berjalan dengan penuh keyakinan. Mataku lurus memandang ke depan. Dari raut wajahku, sama sekali tak nampak ada belas kasihan di sana. Aku tahu, dunia gelap ibuku sudah mengubah diriku sendiri. Tak lama, aku sampai di tempat lelaki itu duduk. Di taman yang begitu penuh oleh pepohonan riuh. Tapi tetap, hatiku tak kunjung riuh.
“Bumi, aku ingin bicara.” kataku kepada lelaki itu. Kemudian, ia menoleh. Berdiri seraya tersenyum melihatku. Senyuman yang cukup manis. Senyuman yang sedari lama ingin kulenyapkan. Senyuman yang menyeretku pada kehancuran
   “Ilana? Ada apa?”
   “Berhenti sekarang. Jangan bawa ibuku masuk lebih dalam lagi.”
   “Kaupikir semudah itu berhenti?” tanyanya dingin. Senyumnya hilang.
   “Apa menjadi mucikari membuat hidupmu tenang? Berhenti atau mati.”
   Aku bicara dengan mata yang entah setajam apa. Sambil terus tersenyum dingin, aku bergegas meninggalkan Bumi dari tempat itu. Tak ada kalimat apa pun lagi dari mulutnya. Mungkin ia hanya sedang memerhatikan punggungku yang kian hilang dari kejauhan.
***
   Seperti biasa, malamnya aku menunggu ibu pulang. Kali ini, aku menunggunya tanpa disertai kecemasan seperti malam-malam sebelumnya. Aku duduk menunggu dengan tangan yang mengenggam kupu-kupu kertas yang biasa tergantung di dinding kamarku. Kupu-kupu kertas yang asli belum juga pulang.
   “Kau menunggu ibu lagi?” tanya ibu saat ia masuk ke rumah. Aku langsung memeluknya tanpa menjawab. Aku tahu, sebelumnya aku tak pernah seperti ini.
   “Duduklah dulu, Bu. Mau aku buatkan teh?”
   Ibu hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian aku bergegas ke dapur. Menyiapkan teh hangat yang sebelumnya tak pernah kubuatkan untuk ibu. Di sela-sela membuatnya, aku menoleh ke arah ruang tamu. Wajah ibu yang tampak begitu kelelahan terlihat dari sini. Aku mendadak sendu melihatnya. Namun aku yakin, sebentar lagi semua akan berakhir. “Hanya menunggu sebentar lagi, Bu. Sebentar lagi.”
   Setelah selesai, kubawa secawan teh hangat itu kepada ibu. Dan tak lupa, selengkung senyum yang tak kulepaskan dari bibir. Ibu menerimanya dengan senyum pula, dan mata yang berbinar. Aku masih berdiri seraya terus menyaksikan ibu meminum teh itu seteguk demi seteguk. Tak butuh waktu lama hingga ibu menghabiskannya. Aku menyunggingkan senyumku.
   “Sudah larut, Bu. Tidurlah.” kataku. Ibu hanya tersenyum, kemudian aku membantu memapahnya ke kamar. Kubaringkan ibu dengan perlahan. Membalut tubuhnya dengan selimut bercorak bunga mawar.
   “Terima kasih, Sayang.” kata ibu seraya tersenyum. Aku membalasnya hanya dengan senyum. Entah aku pantas atau tidak mendapatkan ucapan terima kasih itu.
   Perlahan ibu mulai menutup kedua matanya.  Air mataku mulai bergantian membasahi lembah pipi. Tangan kananku menggenggam tangan ibu dengan kuat, sembari menidurkan kepalaku di samping tubuh ibu. Sementara tangan kiriku, masih menggenggam kupu-kupu kertas sedari tadi. Ya, ibu memang tak urungnya seperti kupu-kupu kertas ini. Cantik, tapi penuh dengan kerapuhan. “Semua sudah berakhir, Bu. Tidurlah…” lirihku.
Air mata yang mengalir semakin deras. Genggamanku semakin kuat kuberikan. Dengan penuh berat, aku menutup kedua mataku juga. Mencoba menemani ibu di alam mimpinya. Walau aku tahu, ibu tidak akan bangun lagi.