Aku menopang daguku dengan kepalan tangan. Duduk di balik jendela kamar yang kubiarkan terbuka dengan lebarnya. Embusan-embusan angin menggelitik rambut-rambut kecil di lenganku. Kutengok jam, sudah lewat tengah malam, bahkan fajar hampir tiba. Aku mengalihkan pandanganku pada kupu-kupu kertas yang menggantung di atas tempat tidur. Aku tersenyum, juga ingin menangis. Kupu-kupu kertas itu seperti ibuku.
Sayup-sayup aku
mendengar suara kendaraan dari luar rumahku. Segera kututup jendela kamar.
Bergegas mematikan lampu dan pura-pura tertidur. Ibu sudah datang. Perlahan kudengar pintu kamarku terbuka.
Cahaya dari ruang tengah masuk bersama seorang cantik yang kupanggil ibu. Aku
masih pura-pura tertidur. Bukan karena tak ingin menyambut ibuku dengan pelukan
hangat, aku hanya tak sanggup melihat ait matanya. Pipiku tersentuh oleh bibir
yang lembut, ibu menciumku. Dan benar saja, ibu menangis. Tapi aku masih menutup
kedua mataku rapat-rapat, Masih pura-pura tertidur. Tak lama, isak itu berhenti.
Ibu beranjak dari kasur dan keluar. Kamarku kembali gelap.
***
Aku tak melepaskan
pandanganku dari luar jendela di sepanjang perjalanan. Di sebelahku, ibu tengah
asyik dengan setir dan klaksonnya. Aku tersenyum melihat wanita itu. Wajah ini
yang aku inginkan. Wajah tanpa pipi yang membasah.
Dunia tampak begitu ramainya
dari balik kaca mobil. Indah, seperti pelangi yang hanya bisa kunikmati
sepotong. Ya, di antara ramainya, ragam warnanya dunia, hanya sepotong yang bisa retinaku tangkap. Entah
sejak kapan, aku lupa. Sudah lama aku menikmati dunia dengan sebelah mata.
Kami sampai di gerbang
sekolahku. Aku turun dari mobil, ibu pun turun. Ia berlari kecil ke arahku.
Setengah pelukan dan ciuman lembut di pipi ia berikan dengan seuntai senyum,
sesaat sebelum ia kembali masuk ke mobil dan beranjak dari sini. Senyum ini
yang aku inginkan. Senyum yang tak terputus oleh isak tangis. Di balik gerbang,
tampak ada sekerumun siswi yang memerhatikanku. Aku tahu, aku sedang menjadi
buah bibir di antara mereka. Namun aku tak ingin menghiraukannya. Aku tetap
berjalan melewati meraka. “Masih berani melewati gerbang ini?” satu di antara
sekerumun gadis itu bertanya. Selalu pertanyaan yang sama.
Aku membalikkan badan.
Tersenyum dengan wajah yang begitu tenang. Melanjutkan langkahku tanpa
menghiraukannya.
“Tak ada tempat untuk
darah kotor di sekolah ini,” kata gadis itu.
Rasanya aku ingin
meledak mendengar kalimatnya. Sontak tangan kanan kuarahkan ke pipinya. Namun
sial, tamparanku tak sampai. Ada tangan lain yang menepisnya. Tangan Bumi. Aku
melepaskan tanganku. Aku menatap Bumi dan gadis itu dengan sebelah mataku yang
masih menajam. Gadis picik itu mendekatkan wajahnya ke telingaku.
“Tak ada tempat untuk
anak pelacur di sini.” bisiknya lembut, namun begitu menyayat telingaku. Kemudian, Bumi menarikku tanganku tiba-tiba.
Membawaku pergi meninggalkan tempat itu.
***
Malamnya, aku menunggu ibu di depan rumah. Berkali-kali aku
mengentakkan kaki ke lantai. Sebab kesal, sudah larut begini ibu tak kunjung
pulang. Sementara itu, kepalaku terisi oleh selaksa apa dan mengapa, serta
berbagai problematika lainnya. Aku benar-benar mengkhawatirkan ibu. Bukan
karena ibu belum juga pulang, melainkan karena ibu belum juga bisa keluar dari
dunia gelapnya. Padahal, bulan Ramadhan akan segera datang dalam hitungan hari.
Pernah aku mendesak ibu untuk berhenti dari dunianya. Tapi selalu
jawaban yang sama yang kudapatkan. Tak ada pilihan lain, selalu itu jawabnya. Rupanya,
uang telah menyempitkan pikiran ibu. Padahal, selalu ada pilihan kedua dalam
hidup. Selalu ada. Lamunanku terpecahkan
oleh bising mobil yang berhenti di halaman rumah. Sontak aku berdiri. Pikirku,
itu pasti ibu.
Tak lama, sesosok lelaki yang sebaya denganku turun lebih dulu
dari mobil itu. Lelaki yang kuanggap penghancur hidupku, walau dirinya
menganggap bahwa ialah penyelamat hidupku. Kemudian, ia berlari-lari kecil ke
pintu yang satunya lagi, membukakan pintu untuk seorang wanita yang begitu
akrab dengan mata kananku. Benar, itu ibuku.
Mereka terlihat begitu
dekat. Bahkan, sesaat sebelum lelaki itu pergi, ia sempat memberikan ciuman
kilat ke pipi ibuku. Aku mematung melihatnya. Dadaku tiba-tiba saja terasa
penuh oleh sesuatu yang tak pernah bisa kuluapkan. Tangan kananku membentuk
sebuah kepalan kuat. Air di pelupuk
mataku terbendung, yang kemudian kutahan.
“Ilana, sedang apa di sini? Kenapa kau tidak tidur?” tanya ibu
keheranan saat melihatku yang masih berdiri di depan rumah.
“Tidak bisakah ibu berhenti? Tidak bisakah ibu keluar dari dunia
ibu?” Aku berbicara dengan mata yang sudah dipenuhi airnya. Sementara ibu,
tampak mendadak sendu mendengarku bicara tentang dunianya.
“Kalau ibu berhenti,
maka kau takkan makan.”
“Tapi ibu bisa mencari dunia yang baru!”
“Kaupikir itu mudah? Kalau mudah, ibu sudah berhenti sedari lama.”
Air mata ibu mulai jatuh dari sangkarnya. Aku benar-benar bergeming.
Selalu begini, ibu selalu menangis dan aku selalu menyesal setiap aku
membicarkan dunianya.
Semua memang sudah
telanjur sulit. Nyatanya, aku memang hidup di negara yang sempit lapangan
pekerjaan. Sebuah keharusan untuk bertahan hidup menjadi momok yang mendorong
segelintir orang untuk mengambil jalan pintas. Dan nahasnya, ibuku termasuk ke
dalam segelintir orang itu.
Kemudian, aku memeluk ibu.
Sebuah pelukan yang rupanya telah lama tak kuberikan kepada tubuh yang mulai
rentan ini. Air di pelupuk mataku rasanya sudah tak terbendung lagi, kemudian
ikut jatuh bersama air mata ibu. Suara tangis kami menyeruak dalam senyapnya
malam.
***
Aku berjalan dengan
penuh keyakinan. Mataku lurus memandang ke depan. Dari raut wajahku, sama
sekali tak nampak ada belas kasihan di sana. Aku tahu, dunia gelap ibuku sudah
mengubah diriku sendiri. Tak lama, aku sampai di tempat lelaki itu duduk. Di
taman yang begitu penuh oleh pepohonan riuh. Tapi tetap, hatiku tak kunjung
riuh.
“Bumi, aku ingin
bicara.” kataku kepada lelaki itu. Kemudian, ia menoleh. Berdiri seraya
tersenyum melihatku. Senyuman yang cukup manis. Senyuman yang sedari lama ingin
kulenyapkan. Senyuman yang menyeretku pada kehancuran
“Ilana? Ada apa?”
“Berhenti sekarang. Jangan bawa ibuku masuk lebih dalam lagi.”
“Kaupikir semudah itu berhenti?” tanyanya dingin. Senyumnya
hilang.
“Apa menjadi mucikari membuat hidupmu tenang? Berhenti atau mati.”
Aku bicara dengan mata yang entah setajam apa. Sambil terus
tersenyum dingin, aku bergegas meninggalkan Bumi dari tempat itu. Tak ada
kalimat apa pun lagi dari mulutnya. Mungkin ia hanya sedang memerhatikan
punggungku yang kian hilang dari kejauhan.
***
Seperti biasa, malamnya aku menunggu ibu pulang. Kali ini, aku
menunggunya tanpa disertai kecemasan seperti malam-malam sebelumnya. Aku duduk
menunggu dengan tangan yang mengenggam kupu-kupu kertas yang biasa tergantung
di dinding kamarku. Kupu-kupu kertas yang asli belum juga pulang.
“Kau menunggu ibu lagi?” tanya ibu saat ia masuk ke rumah. Aku
langsung memeluknya tanpa menjawab. Aku tahu, sebelumnya aku tak pernah seperti
ini.
“Duduklah dulu, Bu. Mau aku buatkan teh?”
Ibu hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian aku bergegas ke
dapur. Menyiapkan teh hangat yang sebelumnya tak pernah kubuatkan untuk ibu. Di
sela-sela membuatnya, aku menoleh ke arah ruang tamu. Wajah ibu yang tampak
begitu kelelahan terlihat dari sini. Aku mendadak sendu melihatnya. Namun aku
yakin, sebentar lagi semua akan berakhir. “Hanya menunggu sebentar lagi, Bu. Sebentar
lagi.”
Setelah selesai, kubawa secawan teh hangat itu kepada ibu. Dan tak
lupa, selengkung senyum yang tak kulepaskan dari bibir. Ibu menerimanya dengan
senyum pula, dan mata yang berbinar. Aku masih berdiri seraya terus menyaksikan
ibu meminum teh itu seteguk demi seteguk. Tak butuh waktu lama hingga ibu
menghabiskannya. Aku menyunggingkan senyumku.
“Sudah larut, Bu. Tidurlah.” kataku. Ibu hanya tersenyum, kemudian
aku membantu memapahnya ke kamar. Kubaringkan ibu dengan perlahan. Membalut
tubuhnya dengan selimut bercorak bunga mawar.
“Terima kasih, Sayang.” kata ibu seraya tersenyum. Aku membalasnya
hanya dengan senyum. Entah aku pantas atau tidak mendapatkan ucapan terima
kasih itu.
Perlahan ibu mulai menutup kedua matanya. Air mataku mulai bergantian membasahi lembah
pipi. Tangan kananku menggenggam tangan ibu dengan kuat, sembari menidurkan
kepalaku di samping tubuh ibu. Sementara tangan kiriku, masih menggenggam
kupu-kupu kertas sedari tadi. Ya, ibu memang tak urungnya seperti kupu-kupu
kertas ini. Cantik, tapi penuh dengan kerapuhan. “Semua sudah berakhir, Bu.
Tidurlah…” lirihku.
Air mata yang mengalir
semakin deras. Genggamanku semakin kuat kuberikan. Dengan penuh berat, aku
menutup kedua mataku juga. Mencoba menemani ibu di alam mimpinya. Walau aku
tahu, ibu tidak akan bangun lagi.