Kamis, 20 Desember 2012

Teman Kecil dari Illahi

ketukan sang waktu
pernah ditemani olehnya
tubuh tipis
berdering panggilan shalat
bernafaskan nama Illahi

ponselku,
kurancang kamu beda dari temanmu
tanpa GPRS
tanpa sinyal EDGE
hanya selipan ayat-ayat lembut
dari kitab sang Illahi
diantara fitur canggihmu

biarkan saja bumi berotasi!
dan biarkan aku tetap di jalan-Nya
tak ingin dibutakan
sungguhpun ku tak ingin lengah
di dunia penuh tipuan ini

ponselku,
tetaplah jadi seperti ini
berdering dan terus bedering
dengan tak tinggalkan nama-Nya

jangan coba membiusku!
rasuki duniamu
lalu tinggalkan duniaku

jangan coba ciutkan imanku!
mengubahku menjadi ilalang patah
di mata sang Illahi

Kamu, Bukan Datang Untukku (II)

     Aku duduk di bangku memanjang itu. Di dalam angkot; kereta kencanaku. Aku duduk di tempat terpojok disini, dekat kaca lebar yang ada di belakang. Ini memang tempat favorite-ku. Disini, aku terbiasa membiarkan fantasiku kabur meliar sambil memandangi jalanan yang terlebih dulu dilewati angkot ini. Fantasi tentang dia, pastinya. Pemilik senyum maut yang membuatku jadi pecandu.

***

     Matahari sudah cukup tinggi diatas sana. Dengan setengah berlari, aku memasuki gerbang sekolahku. Hari ini aku memang terlambat. Dan seharusnya, kelas sudah dimulai sedari tadi. Aku berlari melawati koridor kelas-kelas lain yang terlihat sudah memulai kegiatan KBM-nya. Nafasku, benar-benar terpompa sekarang. Ada sedikit mengumpat dihati; kenapa kelasku harus sejauh ini dari gerbang? Ah...
     Tiba-tiba lariku terhenti. Aku jatuh dengan posisi duduk tepat di depan anak tangga menuju lantai dua. Kulihat ada sepasang sepatu bersimpul rapi berdiri di hadapanku. Ternyata, aku bertabrakan dengan seseorang! Dengan nafas yang masih terpompa, aku mencoba menenggakkan kepalaku untuk melihat siapa pemilik sepasang sapatu ini yang telah membuatku semakin tertinggal jam pelajaran.
      Dan... astaga! Mataku terpekik melihat sosok lembut yang berdiri di hadapanku itu. Itu dia! Dia! Pemilik senyum maut itu!
"Kamu gak apa-apa?" suara lembut bercampur panik menyentuh gendang telingaku. Dan ini, kali pertama aku mendengarnya!
"Ah, iya, gak apa-apa, kok."
"Sini biar aku bantu," ucapnya sembari mengulurkan tangan kanannya padaku.
    Degup jantungku serasa membabi buta. Aku membayangkan bagaimana nanti jika jemariku bertemu dengan jemarinya. Bukankah ini yang selalu aku angankan juga?
"Gak usah! Aku bisa sendiri,"  kalimat singkat bernada sinis terlontar begitu saja dari lipatan bibirku. Ah, dasar bodoh! Bagaimana bisa aku menolaknya. Membiarkan anganku tetap jadi angan.
    Aku mencoba berdiri sambil merapikan seragam putih abuku. Kulihat ia tetap berusaha membantuku untuk berdiri. Mungkin ia tahu, jika persendianku memang terasa ngilu berkat insiden kecil tadi.
      Tapi, aku malah berkali-kali mencoba menepis tengan gagah yang hendak menyentuhku itu. Ah, lagi-lagi aku bertindak bodoh. Bagaimana bisa aku menolaknya?
    Dan rupanya, perlakuan dinginku padanya tidak membuat ia berbalik dingin padaku. Ia malah tetap menunjukkan simpatinya dan berkali-kali mengulang pertanyaan yang sama.
"Kamu beneran gak apa-apa?"
"Nggak, kok, aku gak apa-apa." jawabku tanpa sedikitpun menoleh ke arah wajah manisnya.
"Maaf, ya. Sekali lagi maaf..."
      Oh tuhan! Aku serasa meleleh ketika permintaan maafnya menyentuh indera pendengaranku. Mimpi apa aku semalam, sampai bisa bercakap langsung dengan karya Tuhan yang teragung ini?
"Iya, gak apa-apa, kok." jawabku sambil melihat papan nama bertuliskan Dias Andriansyah yang terpasang di seragam putih abunya itu.
    Yup! Sekarang aku tahu namanya! Aku tak perlu lagi menamainya 'dia' saat kutulis di lembaran buku harian merah mudaku. 
   Ia seolah ingin mencairkan suasana yang memang canggung ini. Ia bertanya, "Kamu baru dateng? Terlambat?" 
   Pertanyaannya ini, sedikit membuatku tertegun. Menyadari akan satu hal, bahwa aku... sial! Aku terlambat!
"Oh, iya!" 
     Aku berseru kencang seraya mengambil ancang-ancang untuk berlari secepat tadi. Dan aku mulai berlari, menyusuri koridor kelas yang seharusnya sudah kulewati sejak tadi. Berlari meninggalkan sosoknya tanpa berbasa-basi sedikitpun. Entahlah, mungkin, di matanya aku adalah sosok wanita yang teramat aneh. Dan mungkin, ia juga akan memasang wajah terheran-heran saat matanya mengarah padaku yang hanya terlihat punggung berlari semakin jauh darinya.
      Tapi disini, aku seolah melupakan apa itu rasa malu. Mungkin, maluku sudah lebih dulu terbayar dengan aku mengetahui namanya. Ya, Dias Andriansyah.

Selasa, 18 Desember 2012

Kita, Setelah Kepergiannya

"Puisi ini..." suara lembut keluar dari bibir manis si tokoh dalam puisiku itu. Ia seperti terkagum-kagum membacanya. Apakah ia sadar bahwa dialah yang ku tuliskan dalam puisi itu?
"Kenapa? Ada yang salah ya?" tanyaku sedikit sumringah berharap dapat jawaban yang aku inginkan; berharap hatinya terpeka.
"Ah, gak kok, gak apa-apa. Puisi kamu keren, Kin."
"Hanya itu? Itu biasa saja," ucapku dengan nada tak sesumringah tadi. Sedikit kecewa mendengar jawabannya.
"Biasa dari mana? Ini tuh keren. Ngena banget! Saking kenanya aku gak bisa bilang ini sekedar puisi, ini... pasti surat cinta buat seseorang kan???? Hayo ngaku! Hahaha," 
   Gelak tawanya benar-benar seolah membuatku membatu. Setidakpeka itukah hatinya? Jelas-jelas sosoknya yang tersirat disana!
"Apasih sok tahu banget!"
"Cie... ngambek,"
"Gak!"
"Ih kamu, aku cuma bercanda, Kin, kamu ini sensitif ya, gitu aja ngembek."
"Siapa yang ngambek? Wo..."
       Aku berusaha seolah tak rasakan apa-apa. Berpura-pura lupa tentang apa dan siapa yang tersirat dalam deretan sajak itu.
"Eh iseng banget!" ujarnya dengan sedikit campuran tawa.
      Dia, Rio. Lelaki yang selama ini melatarbelakangi puisi-puisiku. Kami bersahabat sedari dulu. Dari mulai Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas ini kami selalu satu sekolah, bahkan satu kelas. Lantas, jika hubunganku dengannya ada karena persahabatan hangat yang menahun, lalu tidak boleh aku mencampur aduknya dengan perasaan lain? Cinta misalnya.

***

     Wanita itu menggenggam erat tangan Rio di hadapanku. Mengisi setiap celah dari jemarinya. Kepalanya bersandar manja di pundak Rio yang gagah itu. Sementara tangan kirinya tak henti memainkan ponselnya dengan mickey mouse yang bergantung disana.
"Jadi kamu gak mau ikut?" Rio kembali bertanya.
"Ah, gak usah, aku takut ganggu kalian,"
"Kamu ini, kayak orang lain aja. Ayo ikut!"
"Gak usah, aku ma..."
"Yang, ayo... aku laper, kalo Kinan gak mau ya udah jangan dipaksa. Kita aja berdua..."
   Kalimatku terpotong oleh kalimat manja dari bibir berlipstick merah muda itu. Ia merengek sambil menggoyangkan tangan Rio. Ah, aku benci melihat adegan ini.
"Iya.. sebentar yang..." ucap Rio dengan sabarnya. Aku bingung, bagaimana bisa Rio tahan menghadapi wanita semanja ini.
"Kamu yakin gak mau ikut?"
"Nggak! Aku mau pulang. Kamu pergi aja!" intonasi bicaraku meninggi. Rupanya, aku telah lebih dulu terpancing oleh suasana semenjijikkan ini.
"Kalo gitu, aku duluan ya!"
     Belum sempat aku menjawab, Rio sudah membalikkan badan. Mencoba untuk berlalu dari hadapanku. Berjalan jauh dan semakin jauh. Hanya punggung gagahnya yang terlihat dari sini. Dan tentunya, genggaman yang ia belitkan di jemari wanita itu yang masih enggan untuk ia lepaskan. Sebut saja Rena. Wanita yang kini berperan sebagai pemilik mutlak hati Rio. Wanita yang hadirnya tak pernah ku harapkan. Wanita yang ku harapkan tak pernah masuk ke dunia Rio.

***

      Aku duduk di jendela kamar yang terbuka lebar itu. Angin malam mulai menusuk pengapnya ruangan kamar ini. Menggigit dingin setiap lapisan kulitku yang hanya dibalut kaos pendek tipis berwarna merah ati.
      Tak lama kemudian, gemingnya malamku terpecah oleh dering ponsel mungil yang sedari tadi tertidur diatas meja belajar. Aku beranjak menghampirinya. Dan ternyata, 'Rio' terpampang di layar ponselku.
"Halo?"
"Kinan? Kamu dimana sekarang?" terdengar suara lembut yang terisak di seberang sana.
"Aku di rumah. Ada apa, Yo?"
"Aku di depan rumah kamu. Tolong keluar ya,"
      Panggilan terputus seketika. Ada apa ini? Dengan hati yang dipenuhi tanya itu aku beranjak keluar kamar dan setengah berlari menuju teras rumah. Sesampainya disana, aku membuka cepat kedua pintu berwarna putih itu. Dan benar saja. Ada sosok Rio berdiri di baliknya. Ia menggigil. Matanya sembab. Hidungnya memerah seperti habis menangis. Dan tiba-tiba saja, tubuh gagahnya mendekap erat tubuhku.
"Kinan... bantu aku, aku harus gimana..."
     Suara terisak di telepon tadi, kini kembali kudengar langsung dari bibirnya yang menggigil itu. Ku rasakan pundakku membasah tertetesi air yang jatuh dari pelupuk mata sembabnya. Rio menangis.
"Yo? Kamu kenapa???"
"Aku gak apa-apa. Rena yang kenapa-kenapa. Rena, Kin. Rena..." 
     Aku diam mendengar nama itu terucap dari lipatan bibirnya. Aku enggan bertanya lagi. Aku benci nama itu.
"Rena kecelakaan. Dia tertabrak saat hendak keluar dari mobil. Rena kecelakaan, Kin, kecelakaan..."
    Kalimat yang diucapkan Rio seolah menyuruhku untuk membuka mulut. Sementara pundakku, semakin dibuat basah oleh airmata yang jatuh menderas itu.
"Rena dimana sekarang?"
"Dia di rumah. Dia udah pulang,"
"Lho? Kamu bilang ta..."
"Dia pulang ke tangan Tuhan."
     Kalimatku kembali terpotong. Tapi bukan lagi terpotong oleh suara manja itu, melainkan suara lirih terisak yang berhasil mengunci mulutku. Aku benar-benar tak mempu berkata-kata. Aku tak berani bertanya lagi.
"Dia meninggal, Kin... Dokter itu payah! Dokter itu gak bisa selametin Rena!"
      Tangisnya makin tersedu-sedu. Kedua lengannya makin erat memeluk tubuhku. Aku benar-benar dibuat diam olehnya.
"Aku harus gimana... Harus gimana..."
     Aku masih diam. Tak kuasa rasanya untuk keluar satu patah kata sekalipun. Entahlah, nafasku seolah terhenti disini juga. Tuhan mengabil Rena? Karena apa? Harapanku?
"Kinan..." 
      Rio masih tersedu. Sementara aku masih menutup mulutku rapat-rapat. Ada rasa senang mendengar Rio menyebut namaku, tanpa embel-embel nama Rena. Tapi, apa pantas aku begini setelah kepergian Rena? Aku hanya memeluk tubuhnya lebih erat lagi. Aku bisa merasakan benar tangis yang juga terisak di hatinya. 
    Kalau begitu, apa artinya ini? Tuhan benar-benar mengambil Rena? Lalu aku? Haruskah aku jadi pengganti Rena? Berhenti mencintai Rio diam-diam, dan datang menghapus setiap tetes airmatanya. Menghapus luka yang menghujam jantungnya? Ataukah... tetap mencintai Rio dengan caraku? Mencintai Rio dalam diam? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu untuk memeluknya lebih erat dari ini. Pelukan basah bercampur airmatanya. Tetaplah menangis, Rio. Tetaplah dalam pelukku.

Selasa, 04 Desember 2012

Kamu, Bukan Datang Untukku

      Dia, memang begitu sederhana. Lengkung manis di bibirnya, sorot mata elang dari bola matanya; mampu membuatku jadi penikmat agungnya karya Tuhan itu. Wajahnya, bagai dipahat Tuhan langsung. Wajah yang mampu membuatku jadi perindu juga tentunya. Ya, hanya karena itu. Sederhana bukan?

***
     Aku bersandar di jendela kelas yang tak sebening mata elangmu itu. Membiarkan lamunanku kabur meliar, mencari setiap inci bayang-bayangmu. Berkali-kali kuhela nafas panjang. Mulai bosan rasanya disini. Menunggu datangnya karya Tuhan itu. Menunggu sosok yang tak pernah tahu jika Ia selalu kutunggu.
      Tiba-tiba mataku menangkap bias cahaya bening. Dan seketika, langsung tertuju pada satu titik fokus itu. Ada kamu di depan sana! Seketika pula, senyum mengembang di bibirku. Wajahku benar-benar sumringah. Saat tahu, bahwa yang kutunggu telah datang tunjukkan batang hidung. Walau bukan datang untukku pastinya. Ya, bukan untukku.
     Sementara aku masih terpaku dalam diam. Masih belum melepaskanmu dari sorotan matakku. Rasanya, aku tidak ingin melewati setiap inci dari perpindahan gerikmu.
    Sampai akhirnya, suasana berubah seketika. Tak ada lagi lengkung di bibirku. Hanya nanar terpancar jelas dari mataku. Di depan sana, ada sosok berambut sebahu yang menemanimu. Kamu dan dia asik menebar canda tawa diantara manusia-manusia yang tak memerhatikan kalian selain aku. Tapi aku, orang yang melihat kamu dan dia dari balik jendela kelas ini, seolah menciut menjadi semut. Aku sama sekali tak terlihat oleh kalian.
    Tatapan hangat dari sang mata elang yang selalu ku inginkan itu, berkali-kali kamu berikan pada gadis yang berdiri disampingmu. Dengan tidak adanya batas takaran. Aku iri. Aku sangat iri. Bukankah itu yang selalu aku angan-angankan? Tapi, aku malah mendapati anganku hanya tetap jadi angan saja. Ya, angan memang selalu tinggi.
     Tanpa sadar, keirianku ini menghipnotis mataku. Mataku mulai berkaca-kaca. Mengingat kamu, sosok yang selalu kutunggu tapi selalu enggan untuk melihatku. Dan mata ini, serasa ditusuk! Ketika aku, melihat kelima jemari kananmu membelitkan diri pada jemari milik gadis itu. Kamu menggenggamnya erat dan pasti. Gerikmu, mulai berpindah. Tapi perpindahan itu tidak lagi terhitung inci, melainkan jengkal, atau mungkin kaki. Seketika berlalu dari titik fokus mataku. Berjalan melalui koridor kelas dengan tak melepas genggaman si gadis itu. Gadis manis berambut sebahu, berkulit sawo matang. Gadis manis yang mungkin selau hadir mengisi setiap jengkal mimpi malammu. Gadis manis yang kau panggil dengan sebutan sayang.
     Pacarmu.

Senin, 03 Desember 2012

Aku, Kamu, dan Penaku


Pekat gulita,
Kerap kulewati bersamanya
Tubuh mungil bertinta hitam
Temani aku bermain sajak

Kunamai itu pena
Nakal dengan tintanya
Pahat kata sejukkan mata
Adalah namamu,
Tersurat dalam deret baris itu

Penaku enggan peduli
Jikalau kau tak hiraukanku
Meringis,
Namun asik cumbu aksara namamu

Aku hanya bisa lakukan ini
Dalam sepi liarkan geliat jemari
‘Tuk rangkai namamu
Dengan,
Atau tanpa embel-embel menyentuhmu