Sabtu, 30 Maret 2013

Inginku Bukan Butuhku


Halo, Tuan. Bagaimana kabarmu hari ini? Kalau kabarku baik, baik-baik saja. Ya, aku memang selalu baik-baik saja, bukan? Kau sedang apa di sana? Kalau aku di sini sedang bertahan. Benar, bertahan untuk mendayungi perahu yang sama bersamamu. Ada begitu banyak rasa yang hadir selama aku bertahan. Begitu banyak, sampai tak semua kusampaikan. 

Aku masih ingat, rasanya mendayung bersamamu saat kita masih dekat tepian. Begitu ringan, begitu aku lupa pada waktu. Walau perahu melaju tak secepat kereta. Namun kunikmati benar, inci demi inci lajunya. Bersamamu, pagiku, senjaku, begitu sarat dengan arti. Matahari terbit dan matahari terbenam terlihat lebih cantik, bagai dilukis Tuhan langsung. Aku terhanyut. Tak lagi peduli pada air laut yang sebenarnya kutakuti. Hal ini kurasakan tak bukan karena kau. Karena aku, mendayung bersamamu.

Namun ternyata lautan yang kita telusuri terlalu luas. Aku bahkan tak tahu apa laut ini 'kan berujung. Belum kurasakan ujungnya jatuh ke retinaku. Dan ada yang berbeda, papan dayungku terasa lebih berat ketimbang saat kita di tepian. Laju perahu melemah. Jangankan kereta, dengan siput saja kita kalah cepat. Padahal tanganku lengkap menggenggam dua papan dayung. Padahal keringatku terkuras tiada hentinya. Entah berapa trilyun tetes keringat yang jadi korban. Namun tetap saja, perahu kita seolah tak bergerak. Begitu berat.

Aku masih mendayung bersamamu, bukan? Lalu ada apa? Apa yang salah? Papan dayungmu tenggelam sebelah? Atau tanganmu terkilir? Atau ada celah bocor di perahu kita? Atau... kau tenggelam di lautan yang lain? Aku terus mendayung dan mendayung, sembari otakku dijamah beribu tanda tanya. Tanya yang diam, tak berjejak.

Rasanya mual. Aku mabuk laut. Air laut yang dulu tak lagi aku takuti, kini takut itu menghampiri lagi. Napasku begitu terpompa, lemas. Hampir kuhilang kesadaran. Hampir hilang napas. Hampir aku putus asa. Begitu, begitu, begitu ingin berhenti mendayung. Begitu ingin tenggelam sendiri di lautan yang bernama menyerah. 

Namun tak sebentar aku tersadar, itu hanya inginku, bukan butuhku. Aku hanya menginginkannya, tapi sungguhpun aku tak membutuhkannya.

Aku tahu, aku hanya butuh dayungku. Dan dayungku hanya butuh dayungmu. Dengan kata lain, aku hanya butuh mendayung bersamamu. Mungkin sesak bila aku berhenti. Mungkin hilang rupa pagi dan senja. Mungkin bisa benar mati. Maka dari itu, mendayunglah seperti dulu, mendayung sekuat dulu. Kalau cinta, bukan hanya aku yang mendayung. Kalau cinta, bukan hanya aku yang berkeringat.

Karena sekali lagi, butuhku hanya kau. Karena aku ingin bersamamu, maka aku membutuhkanmu. Karena begitu banyak mimpi bersamamu yang belum terselesaikan, maka aku membutuhkanmu untuk membantu menyelesaikannya.

Jadi kumohon, mendayunglah. Mendayung hingga lelah, hingga sangat lelah, hingga amat sangat lelah. Hingga akhirnya tak lagi kenal rasa lelah. Bersediakah, Tuan?

Jumat, 22 Maret 2013

Senjaku

senjaku merah melebam
bukan jingga, bukan darah
hanya sepi tersayat
senjaku hambar
tiada ucap memanis
pun pahit tak terkecap
menungguku di sini
menunggu senjaku dimakan waktu
hingga jingga hangat datang
hingga lidah mampu mengecap
namun sesak,
aku malah hilang napas

Minggu, 10 Maret 2013

Sepasang Telinga


Akulah sepasang telinga
Tidak tuli, tapi bisu
Tak miliki kuasa tuk main lisan
Tiada hak tuk bicara
Aku mendengar
Dalam,
Lebih dalam
Aku mendengar
Dan tak didengar
Hirupku tandas
Hatiku mengaum
Teriak,
Dan tak didengar
Hening adalah wicaraku
Suara bukan diriku
Karena aku,
Hanya sepasang daun telinga

Tenggelam


Diamku tak butuh sunyi
Bicaraku tak butuh suara
Pun tangisku,
Tak butuh airmata
Dihempas
Menghempas
Terhempas
Ketiga itu aku
Terakhir ialah mimpiku
Terhempas dunia
Terhempas takdir 
Terhempas kau
Diam
Bicara
Menangis
Aku dan mimpiku,
Tenggelam

Masih dan Selalu


Lebih dari setengah tahun kiranya, aku berjalan bergandengan dengan lelaki yang tak kukenali sebelumnya. Lelaki yang selalu mampu melelapkan tidurku, dengan bunga tidur yang ia perani. Lelaki yang selalu mampu mengundang senyumku, walau tak semua senyum dituangkan di bibir. Satu-satunya lelaki yang membuatku rela menunggu, betapapun lamanya. Lelaki yang kusebut itu kamu. Ya, kamu.

Kamu tahu? Pesan hasil jentikan jemarimu dan suara lembutmu yang mengalir di ujung telepon, masih dan selalu menjadi kesukaanku. Demi membaca satu pesan singkatmu, menunggu seharian penuh pun tak akan kukenal dengan nama masalah. Demi sepuluh menit mendengar suaramu, menunggu sampai terkantuk pun senyumku tetap mengembang, walau dalam hati tentunya.

Mungkin sudah seharusnya berjalan seperti ini. Kamu yang pergi dan aku yang menunggumu kembali. Tapi tenang, hal ini tak akan bernamakan masalah. Tidak akan. Karena mungkin ini juga kesalahanku. Salahku yang memiliki waktu yang terlalu longgar, tidak seperti kebanyakan orang di seberang sana. Sehingga yang kulakukan hanya menunggumu. Tak ada lagi selain itu. Masih dan selalu.

Aku menunggu, walau bulir-bulir perih datang menggoda air pelupuk mataku. Tapi tenang, aku tak semudah itu menangis, aku kuat, aku cukup kuat. Aku hanya akan menangis ketika sudah saatnya airmata itu pecah. Kalau masih bisa manahan, tentu akan kutahan, tak akan jatuh airmata itu. Tenang saja. Kamu, setujukah bahwa aku kuat? Tentu. Karena aku memang kuat. Bila tidak, mungkin setiap harinya aku akan mengeluh. Bila tidak, mungkin sedari lama aku berhenti berjalan bergandengan denganmu.

Tenang saja, perasaanku adalah masih dan selalu. Betapapun lama aku menunggu. Betapapun jauh jaraknya. Betapapun keras setiap harinya. Betapapun bulir-bulir perih tak henti menggoda. Aku masih diriku. Sampai waktu tiba tuk berhenti, sampai itu pula aku menjadi perempuanmu.

Dan tenang, aku tidak akan berhenti menunggu. Tentunya sampai waktuku diberhentikan Tuhan. Aku tetap diriku, perempuanmu. Dan tenang, bila kamu tak datang hari ini, maka hari ini akan tetap kujadikan hari ini, tak ada besok. Aku tidak ingin membatasi penantianku dengan nama-nama hari. Dan lagi, tenang, rasaku ini masih dan selalu menjadi rasaku. Rasa teruntuk kamu. Tunjukkan, seberapa indah kamu untuk kuperjuangkan?