Minggu, 01 Juni 2014

Eros


dreamaginations.tumblr.com
 “Ayah, rasanya jatuh cinta itu bagaimana?”

Ersa bertanya kepada ayahnya sembari tetap menopang dagunya dengan kepalan tangan. Sudah hampir satu jam lamanya, gadis lima belas tahun ini memandangi langit yang biru tanpa awan dari kaca jendela rumahnya. Eros, ayahnya, cukup terkejut saat mendengar anak perempuannya melontarkan pertanyaan itu. Ini kali pertamanya Ersa berbicara tentang cinta.

Sebelum menjawab pertanyaan itu, Eros lebih dulu tersenyum. Memandangi Ersa dari belakang, lantas duduk di sofa memanjang yang tak jauh dari tempat Ersa melamunkan cinta pertamanya. Eros sadar betul, anaknya bukan lagi bocah ingusan yang tak kenal lelaki. Ersa kini telah tumbuh menjadi gadis belia yang begitu elok rupa. Setelah detik kelima belas, barulah Eros membuka mulutnya.

“Hmm… Sepertinya indah.”

“Salah, Ayah. Yang benar itu: sangat indah.” Ersa menjawabnya dengan sesungging senyum.

“Apa kau sedang jatuh cinta, Ersa?”

Ersa tertegun mendengar pertanyaan Eros. Lalu dengan cepat membalikkan badan dan duduk berhadapan dengan ayahnya yang sudah menginjak kepala empat itu.

“Tidak, tidak tahu.” gelagap Ersa.

Eros hanya tertawa geli melihat polah tingkah anaknya yang baru merasakan virus merah jambu. Kemudian ia memasang kaca matanya, lantas membaca buku yang sedari tadi ia pegang. Eros memang seorang cendekiawan yang haus akan pengetahuan.

“Apakah Ayah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta? Ayah pernah merasakannya?”

“Kalau Ayah tak tahu, berarti kau tak pernah lahir.”
Eros menjawabnya datar sembari terus menelusuri tiap rangkaian huruf yang berbaris dalam buku di genggamannya.

“Bisakah Ayah beri tahu aku? Beri tahu aku, Ayah! Beri tahu aku!”

Sejenak, Eros diam. Berhenti membaca walau matanya masih tertuju pada bukunya. Kemudian, ia mengangkat kepala. Menatap Ersa yang tampak begitu penasaran.

“Kau sungguh ingin tahu?”

Ersa hanya mengangguk polos. Eros tersenyum. Menutup bukunya, lalu meletakkannya di atas meja yang menghalangi ia dan Ersa.

“Banyak hal-hal yang menadakan kau jatuh cinta. Sangat banyak.”

Eros memulai merangkai kalimat-kalimatnya. Sementara Ersa diam memperhatikannya dengan penuh rasa ingin tahu.

“Satu di antaranya adalah dari matamu, Ersa. Pupil matamu, akan tampak membesar ketika kau melihat, apalagi menatap, orang yang telah dipilih oleh hatimu.” jelas Eros.

“Kau akan gugup dan berkeringat bila berdekatan dengannya. Otot Zygomaticus Major di wajahmu secara otomatis akan terkontraksi, yang membuatmu tersenyum ketika melihanya.” lanjutnya.

“Jantungmu akan berdebar lebih cepat. Kehilangan ritme normalnya, bahkan mendekati tak keruan. Dan apakah  kau tahu, Ersa? Menurut ilmu medis, detak jantung orang yang sedang jatuh cinta akan lebih terdengar seperti love, love, love… Bukan lub, lub, lub seperti yang semestinya.”

Telinga Ersa terus mencerna setiap kalimat yang ayahnya ucapkan dengan perhatian penuh. Memasang wajah yang begitu polos, sembari sesekali terkejut kecil.
“Yang terakhir adalah, pipimu akan memerah.”

Senyum Eros mengakhiri penjelasan singkatnya mengenai love attacked.

“Yang terakhir? Hanya itu?”

“Memangnya kau mau berapa banyak?”

“Tidak, itu sudah cukup, Ayah.”

Eros kembali tersenyum. Terus tersenyum.

“Apa kau sedang merasakan itu semua? Kepada siapa?”

Mendengarnya, Ersa malah kembali memunggungi Eros. Kembali menenggelamkan kedua matanya di lautan langit yang masih begitu biru.

“Ini tentangku, Ayah.”

Di balik punggungnya, Eros tiba-tiba mendengus, lantas mengepalkan kedua tangannya. Matanya terpaku pada sosok di hadapannya. Pupil matanya membesar. Ritme jantungnya semakin cepat, menciptakan senandung love, love, love. Keringatnya bergantian menetes di permukaan kulit yang mulai penuh oleh kerutan. Pipinya memerah. Begitu menyala. Begitu sulit dipadamkan.

Dengan kalang-kabut, Eros mengambil kembali buku yang sebelumnya ia baca. Berusaha mengalihkan segala kelesahnya.

Kalau kau tak pernah lahir, maka aku tak akan pernah jatuh cinta.” ucapnya lirih, dalam hati. Kemudian Eros tenggelam dalam gelap yang tak pernah ia biarkan menjadi terang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar