![]() |
| dreamaginations.tumblr.com |
“Ayah,
rasanya jatuh cinta itu bagaimana?”
Ersa bertanya kepada ayahnya sembari
tetap menopang dagunya dengan kepalan tangan. Sudah hampir satu jam lamanya,
gadis lima belas tahun ini memandangi langit yang biru tanpa awan dari kaca
jendela rumahnya. Eros, ayahnya, cukup terkejut saat mendengar anak perempuannya
melontarkan pertanyaan itu. Ini kali pertamanya Ersa berbicara tentang cinta.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, Eros
lebih dulu tersenyum. Memandangi Ersa dari belakang, lantas duduk di sofa
memanjang yang tak jauh dari tempat Ersa melamunkan cinta pertamanya. Eros
sadar betul, anaknya bukan lagi bocah ingusan yang tak kenal lelaki. Ersa kini
telah tumbuh menjadi gadis belia yang begitu elok rupa. Setelah detik kelima
belas, barulah Eros membuka mulutnya.
“Hmm… Sepertinya indah.”
“Salah, Ayah. Yang benar itu: sangat indah.”
Ersa menjawabnya dengan sesungging senyum.
“Apa kau sedang jatuh cinta, Ersa?”
Ersa tertegun mendengar pertanyaan Eros.
Lalu dengan cepat membalikkan badan dan duduk berhadapan dengan ayahnya yang
sudah menginjak kepala empat itu.
“Tidak, tidak tahu.” gelagap Ersa.
Eros hanya tertawa geli melihat polah
tingkah anaknya yang baru merasakan virus merah jambu. Kemudian ia memasang kaca
matanya, lantas membaca buku yang sedari tadi ia pegang. Eros memang seorang cendekiawan
yang haus akan pengetahuan.
“Apakah Ayah tahu bagaimana rasanya
jatuh cinta? Ayah pernah merasakannya?”
“Kalau Ayah tak tahu, berarti kau tak
pernah lahir.”
Eros menjawabnya datar sembari terus
menelusuri tiap rangkaian huruf yang berbaris dalam buku di genggamannya.
“Bisakah Ayah beri tahu aku? Beri tahu
aku, Ayah! Beri tahu aku!”
Sejenak, Eros diam. Berhenti membaca
walau matanya masih tertuju pada bukunya. Kemudian, ia mengangkat kepala.
Menatap Ersa yang tampak begitu penasaran.
“Kau sungguh ingin tahu?”
Ersa hanya mengangguk polos. Eros
tersenyum. Menutup bukunya, lalu meletakkannya di atas meja yang menghalangi ia
dan Ersa.
“Banyak hal-hal yang menadakan kau jatuh
cinta. Sangat banyak.”
Eros memulai merangkai
kalimat-kalimatnya. Sementara Ersa diam memperhatikannya dengan penuh rasa
ingin tahu.
“Satu di antaranya adalah dari matamu,
Ersa. Pupil matamu, akan tampak membesar ketika kau melihat, apalagi menatap,
orang yang telah dipilih oleh hatimu.” jelas Eros.
“Kau akan gugup dan berkeringat bila
berdekatan dengannya. Otot Zygomaticus Major di wajahmu secara otomatis
akan terkontraksi, yang membuatmu tersenyum ketika melihanya.” lanjutnya.
“Jantungmu akan berdebar lebih cepat.
Kehilangan ritme normalnya, bahkan mendekati tak keruan. Dan apakah kau tahu, Ersa? Menurut ilmu medis, detak
jantung orang yang sedang jatuh cinta akan lebih terdengar seperti love, love, love… Bukan lub, lub, lub seperti yang semestinya.”
Telinga Ersa terus mencerna setiap
kalimat yang ayahnya ucapkan dengan perhatian penuh. Memasang wajah yang begitu
polos, sembari sesekali terkejut kecil.
“Yang terakhir adalah, pipimu akan
memerah.”
Senyum Eros mengakhiri penjelasan
singkatnya mengenai love attacked.
“Yang terakhir? Hanya itu?”
“Memangnya kau mau berapa banyak?”
“Tidak, itu sudah cukup, Ayah.”
Eros kembali tersenyum. Terus tersenyum.
“Apa kau sedang merasakan itu semua? Kepada
siapa?”
Mendengarnya, Ersa malah kembali
memunggungi Eros. Kembali menenggelamkan kedua matanya di lautan langit yang
masih begitu biru.
“Ini tentangku, Ayah.”
Di balik punggungnya, Eros tiba-tiba
mendengus, lantas mengepalkan kedua tangannya. Matanya terpaku pada sosok di
hadapannya. Pupil matanya membesar. Ritme jantungnya semakin cepat, menciptakan
senandung love, love, love. Keringatnya
bergantian menetes di permukaan kulit yang mulai penuh oleh kerutan. Pipinya memerah. Begitu menyala. Begitu sulit dipadamkan.
Dengan kalang-kabut, Eros mengambil kembali buku yang sebelumnya ia baca. Berusaha mengalihkan segala kelesahnya.
Dengan kalang-kabut, Eros mengambil kembali buku yang sebelumnya ia baca. Berusaha mengalihkan segala kelesahnya.
“Kalau
kau tak pernah lahir, maka aku tak akan pernah jatuh cinta.” ucapnya lirih,
dalam hati. Kemudian Eros tenggelam dalam gelap yang tak pernah ia biarkan
menjadi terang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar