Selasa, 27 November 2012

Aku Diserang Takdir


Aku termangu di jendela
Pandangi tetes airmata langit
Langit,
Tengah siarkan empatinya
Menangis ikuti ketukan airmataku

Diam menggigil dingin
Bukan karena hujan
Melainkan air pelupuk mata
Ini terlalu dingin

Aku hanya menangis
Ketika angin membawa takdir itu
Bagai napas terhenti disini
Kasih mati di daun kering

Aku tahu
Aku kalah kuat dengan takdir
Kepalan tangan takkan kuasa
Menahan agar takdir tak datang

Tapi aku tahu,
Kedua lengan ini pasti mampu
Mendekap erat sang hati
Tatkala peluru takdir menyerang liar

le='font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman","serif"; color:black'>Nakal dengan tintanya
Pahat kata sejukkan mata
Adalah namamu,
Tersurat dalam deret baris itu

Penaku enggan peduli
Jikalau kau tak hiraukanku
Meringis,
Namun asik cumbu aksara namamu

Aku hanya bisa lakukan ini
Dalam sepi liarkan geliat jemari
‘Tuk rangkai namamu
Dengan,
Atau tanpa embel-embel menyentuhmu

Rokok

nikotin tercium mesra
hipnotis mereka jadi tak berdaya
mereka,
tiada henti menghisapmu


kaulah serbuk penyakit dibalut kertas
batang tubuhmu berasap nikmat, tabu
undang sakit bagi teman
juga musuh

jentikan abumu harusnya hitam pekat
hitam tandakan sakit
tandakan sial
tandakan benci

kau mungkin mampu
hadiahkan surga untuk mereka
juga segunduk emas
mereka yang ciptakanmu
tapi jangan keliru!
kau tetaplah pengundang sakit
bagi kami
sosok yang enggan menyentuhmu
tapi terpaksa berteman dengan asap sialmu

Senin, 19 November 2012

Dosaku, Itu Tentangmu

inikah dosa?
ah, tanya itu menjamah pikiranku
menjelma jadi takut
takut,
jikalau nanti aku jadi sasaran batu karma

kau,
pemicu tanya ini
pemicu takutku ini
renggut kendali otakku
buat pikiranku terbelah dua
antara kau,
dan dirinya

sadarkah kau siapa?
kau sosok baru
bukan hanya di duniaku
tapi disini
di celah kecil relung hati
tapi dia?
sosok lama
di duniaku
juga di hatiku

memang,
jemariku berbelit dengan jemarinya
kedua lengan mendekap gagah raganya
napas ini terus hembuskan namanya
tapi pikiranku,
asik berpagut dengan bayang tabumu
adalah sosokmu
tak henti menggelitik tiap lapisan otakku

harusnya terlarang
tak layak kusentuh
tapi lagi-lagi
kau kendalikan aku
buat aku tak patuh pada waktu
tak patuh jua pada hati
lantas,
inikah dosa?

Minggu, 18 November 2012

Masihkah Kita Berkawan?

gulita langit mengintip melalui jendela kamar
mengintip aku termangu
tak berekspresi lain
tak bersuara lain
otakku tengah terjamah beribu mengapa!

ya,
dulu dan sekarang
jenis waktu yang berlawanan
dulu tak begini
dulu tak seperti ini
dulu, dulu, dulu
sekarang?
kita sibuk tuk saling melupakan

kawan,
jikalau malam dulu
ponselku, pastilah selalu bergetar
getar asik wakili canda
terselip di pesan maya itu
aku, kamu; tak berjarak
layar ponsel tak dianggap dinding pemisah

tapi lihat sekarang!
ponselku tak lagi bergetar karenamu
pesan maya hasil jentikan jemarimu asing
bagiku,
juga ponselku

kawan,
aku yakin tak hanya aku yang rasakan
jarak ini
kerenggangan ini
kau ikut sadari bukan?
lalu kenapa diam?
malah pergi mencari pengganti

dan aku masih disini
melihatmu asik mencumbu tawa
tapi tak bersamaku
kau bersama mereka
sosok baru di hidupmu bukan?

Sabtu, 17 November 2012

Pemburu Kepingan Koin

dia berjalan penuh lunglai
tubuh kurus dibalut kain usang
telapak kaki sentuh kulit jalan
melangkah ditemani sebatang kayu
tak kalah lunglai dengan kakinya

terik mentari terhiraukan
seolah kulit sudah kebal dengan sang panas
tetesan pelu arti perjuangan
gantungkan hidup pada jalanan bising

rupiah kecil dilempar lembut
oleh tangan-tangan di balik kaca mobil
mungkin iba melihanya
sosok tua pemburu kepingan koin
yang tak sebanding dengan laparnya

miris,
teringat negeri sudah merdeka
tapi dia tetap hidup dengan pelu payahnya
seolah negeri tak miliki induk

apakah negeri sudah buta?
sudahkah tuli?
abaikan sosok lunglai seperti dia
undang seribu apa dan seribu mengapa
seribu yang tak terjawab
oleh bibir sang induk negeri

mungkin sudah suratan hidupnya
jelajahi pinggiran demi raih si kenyang
tapi ketahuilah,
ini sungguh bukan inginnya
semuanya
segalanya
hanya wujud dari pengabaian negeri

Jumat, 16 November 2012

Writer? Hmm....

Umm... ngomong-ngmong soal nulis, sejatinya kita emang udah jadi penulis lho.. Kok bisa??? Coba deh flashback kapan pertama kali kalian diajarin nulis disekolah? Atau... diajarin mama papa? Itu udah lama yakan? Kira-kira umur 6tahun-an kita udah bisa nulis. Nah! Sejak itu pula kita bisa disebut penulis. Yang ngebedain sama penulis yang lainnya adalah....apa tulisan kita udah dipublikakan? Udah dapet apresiasi? Belum? *kita samaan, sehati<3-_-

Sebelumnya coba kita pikir dulu, 'cerdas' itu lahir bukan karna bakat kan? Bukan karna mukjizat kan? Tapi karna ketekunan belajar, guys. Diulang ya, ke-te-ku-nan be-la-jar *hohoho. Yang ngebedain cuma satu, seberapa cepat otak orang itu nerima materi yang diajarkan.
 
Sama halnya kaya menulis. Kalian pernah denger istilah gini gak: "dia kan jadi penulis karna udah bakat dari lahir" kalo pernah coba tinggalin sejenak pemikiran kalo menulis itu bakat. Menulis itu bukan bakat guys, bukan! Diulang ya, bukan bakat!!!!! Sebagaimana yang udah diuraikan diatas, kalo semua orang udah punya bakat nulis sejak masuk SD. Bakat itu tentunya lahir dari proses, dan proses itu dalah hasil dari ketekunan berlatih. Muncul deh.....istilah yang bilang kalo menulis adalah bakat. Karna kebanyakan orang biasanya cuma liat tulisan tu dari hasilnya, bukan dari bagaimana prosesnya hasil tulisan tersebut.*yagak? 

Disini bakal diuraikan tips-tips sederhana biar kita punya sebuah 'tulisan'. Yang diantaranya.....
  1. Buku Harian. Kenapa harus buku harian? Buku harian kan identiknya sama cewek? Cowok punya buku harian? Gimana jadinya????? Eittss.. tapi gak usah keparnoan sama pertanyaan-pertanyaan barusan. Sekali lagi, jangan. Buku harian atau buku harian online yang biasa kita sebut dengan blog, ternyata juga faktor yang bikin kita suka menulis. Buat para cowok nih ya, gak usah takut laaa dikatain feminim gara-gara punya buku harian. Terus aja lanjutin nulis di buku harian, selain bikin lega perasaan kita karena bisa numpahin segala unek-unek, kesal, marah kita tanpa buku harian memprotesnya. Juga kita bisa dapetin sisi positivnya, berupa terbiasa menulis.
  2. Hobby. Kalo ngalamin kesusahan dalam menulis, coba deh kalian mulai mulis sesuai hobby kalian.. Sebagai contoh, kalo kalian suka baca novel maka cobalah menulis novel. Buat remaja putri nih ya, kalo kalian suka memasak coba tulis buku masakan. Kalo suka berpuisi, kalian bisa nyoba tulis puisi-puisi, nanti harapan kalian bisa sama kayak orang yang satu ini ~~~> Mawar Hijati *itumah gueee.-.
  3. Membaca. Kalian pernah ada rasa buat susah memulai? *males nulis/mager buat nulis.-. Kalo yang satu ini sih...mawar juga ngalamin. Yakali emang kadang suka susah...... buat mulai suatu tulisan, apalagi kalo lagi gak ada insprirasi. Kalo menurut mawar sendiri, ide atau inspirasi itu tersendat karna kurangnya membaca. Jadi kuncinya tu satu, perbanyak membaca. Membaca disini bukan sekedar membaca. Membaca disini berarti membaca secara luas.Mulai dari buku, website, koran dan masih banyak lagi. Asal jangan coba buat baca hati doi ya, beda jalur itumah *okesip.
  4. Kuasai Teknologi. Jangan gaptek! Di era modern ini, udah seharusnya penulis harus bisa menguasai teknologi. Minimal bisa bikin email, ngetik pake program Microsoft Word. Karena banyak dari tuntutan penerbit udah gak nerima tulisan tangan, tapi harus diketik dengan komputer dan dikirim lewat email. Hal itu juga ngemudahin dalam produksi buku, meringankan kerja editor tanpa harus ngetik ulang tinggal ngolah data yang udah ada.
Nah..itu dia beberapa tips-tips sederhana biar bisa punya 'tulisan'. Tapi jujur aja, sebenernya mawar juga masih 'in programming' sih dari tips-tips diatas hehehe. Sebenernya buat jadi penulis itu gak rumit. Kuncinya cuma satu, perbanyak menulis. Dan terakhir nih, mawar pernah dapet satu quotes dari senior mawar. Bunyinya: "Jika kita berhenti membaca, maka kita akan berhenti menulis. Tapi jika kita berhenti menulis, maka kita akan mati."
:-))))

Kamis, 15 November 2012

Sosokmu dalam Penaku

kugenggam pena mungil itu
kuambil secarik kertas suci
rasanya ingin ku tumpahkan seisi otakku
curahkan jua isi sanubari; tak lain tak bukan adalah tentangmu

ku goreskan setitik tetes tinta
merangkai menjadi satu kata
tak asing bagi mataku
juga bagi hatiku
adalah namamu
tersurat dalam kertas yang tadinya suci
seolah dalam kuasa alam bawah sadar
jemariku membentuk namamu

ini terjadi lagi
apa yang kutulis pasti kamu
kutulis rindu tersirat lengkung bibirmu
kutulis sayang tersirat teduh matamu
dan kutulis cinta,
tersirat gagah sosokmu

lalu apa ada lagi?
objek yang pantas kugambar
dalam satu paragraf padu; paragraf tentang cinta
selain dirimu?
jawabku pastikan tidak
hadirmu,
telah mutlak dalam tintaku

mungkin,
penaku menyukaimu
sampai tak bosan jumpa namamu
atau mungkin,
kelima jemari kananku
terbiasa dengan hadirmu
hingga mereka mencintaimu
menulis,
mendekap namamu erat-erat
dalam deretan baris itu

ya,
sosokmu adalah ajaib yang bisu
diam-diam tiupkan nyawa pada huruf-huruf mungilku
hidupkan mereka dalam gelap sunyi
sosok inspirasi dari tiap tuliskanku; objek dari definisi cintaku; itu kamu.

Jumat, 09 November 2012

(Masih) Untukmu, dengan Seribu Tanda Tanya

Masih seribu tanya untukmu
Sosok yang sukar ku logiskan
Berkubang tiada henti di pikiranku
Lucu
Kau anggap otakku ini kolam?

Masih seribu tanya untukmu
Si pemilik mata elang yang enggan melihatku
Dan aku tetap disini
Menunggu sang mata elang melirikku
Walau hanya satu lirikan

Masih seribu tanya untukmu
Seribu
Dan mungkin lebih
Tanya yang entah miliki arti apa
Tanya yang apa mungkin bisa kau jawab?
Dan sampai detik ini,
masih sekedar tanya
Seribu tanya diam
Tak harapkan jawaban

Sabtu, 03 November 2012

Juga Kau, Bunda

ini menyakitkan
ketika masalah membelit otakku
membelit juga relung jiwa
tapi,
tak satupun mengerti
tak juga kau, Bunda

ini menyakitkan
ketika tetes air jatuh dari pelupuk mata
terisak di hidung
tapi,
tak satupun jemari menghapusnya
tak juga jemarimu, Bunda

ini menyakitkan
ketika semakin banyak hari ulang tahunku
membikin semakin sedikit perhatian tergenggam tanganku
dari semua orang
dan juga darimu, Bunda

ini menyakitkan
ketika impianku
inginku
tak lagi dinamakan penting bagi semua orang
tak juga kau, Bunda

lantas apa yang harus kulakukan?
apa yang kalian tunggu?
haruskah kuhentikan detak jantung ini
barulah kalian akan tumpahkan airmata?
setidaknya satu tetes untukku

haruskah kugoreskan potongan kaca di nadiku?
agar kalian tau
tersadar,
bahwa nadiku tak hanya bergetar sia-sia

ah,
ini abu-abu
aku tak kuasa tuk mengerti
yang aku tahu
aku miliki rasa penyuruh
suruh aku menangisi apa yang terjadi
mungkin dimiliki mereka juga yang senasib
rasa yang dinamakan lelah
ya, aku lelah..