Aku
termangu di jendela
Pandangi tetes airmata langit
Langit,
Tengah siarkan empatinya
Menangis ikuti ketukan airmataku
Diam menggigil dingin
Bukan karena hujan
Melainkan air pelupuk mata
Ini terlalu dingin
Aku hanya menangis
Ketika angin membawa takdir itu
Bagai napas terhenti disini
Kasih mati di daun kering
Aku tahu
Aku kalah kuat dengan takdir
Kepalan tangan takkan kuasa
Menahan agar takdir tak datang
Tapi aku tahu,
Kedua lengan ini pasti mampu
Mendekap erat sang hati
Tatkala peluru takdir menyerang liar
Pandangi tetes airmata langit
Langit,
Tengah siarkan empatinya
Menangis ikuti ketukan airmataku
Diam menggigil dingin
Bukan karena hujan
Melainkan air pelupuk mata
Ini terlalu dingin
Aku hanya menangis
Ketika angin membawa takdir itu
Bagai napas terhenti disini
Kasih mati di daun kering
Aku tahu
Aku kalah kuat dengan takdir
Kepalan tangan takkan kuasa
Menahan agar takdir tak datang
Tapi aku tahu,
Kedua lengan ini pasti mampu
Mendekap erat sang hati
Tatkala peluru takdir menyerang liar
Pahat kata sejukkan mata
Adalah namamu,
Tersurat dalam deret baris itu
Penaku enggan peduli
Jikalau kau tak hiraukanku
Meringis,
Namun asik cumbu aksara namamu
Aku hanya bisa lakukan ini
Dalam sepi liarkan geliat jemari
‘Tuk rangkai namamu
Dengan,
Atau tanpa embel-embel menyentuhmu
‘