Aku menyukainya.
Mungkin kalimat ini terlalu
terlambat bila kuucapkan sekarang. Tapi waktu memang pandai membuat semua
mengalir sebegini adanya. Membuat aku dirundung sesal hingga tumbuk akal.
Kuhela napas panjang. Sembari mengaduk-aduk teh
yang menghangat di dalam cangkir mungil itu, sama seperti dulu aku
mengaduk-aduk perasaannya. Perasaan milik seseorang yang—mungkin—terlambat
untuk kukasihi.
Di jeda-jeda napasku, kalimat-kalimat dari pesan
singkatnya masih membayang-bayang jelas di kedua retinaku. Kalimat yang
membuatku semakin kecewa pada diriku sendiri.
“Kamu berbeda akhir-akhir ini,”
Entah
setan bodoh macam apa yang merasukiku hingga jemariku dapat begitu saja
mengirimkan kalimat itu. Walau memang benar adanya, dia memang telah berbeda. Dia
menghilang tepat setelah aku memintanya untuk selalu menemaniku.
“Ah,
tidak. Akhir-akhir ini aku sedang sibuk.”
“Kalau begitu, istirahatlah, Yurda. Kamu
harus menjaga kesehatan kalau memang sibuk.”
“Iya. Selamat malam.”
Hanya itu. Tak ada lagi kalimat-kalimat lembut
yang mengalir di layar ponselku, yang selalu tahu bagaimana cara bertahan walau
pengabaian selalu menyerang. Tak ada lagi. Tak ada.
Aku mulai menilik-nilik masa lalu. Masa-masa
tentang bagaimana aku miskin acuh kepadanya, demi seseorang yang sebelumnya selalu kutunggu.
Tentang bagaimana aku menyia-nyiakan segala peluh pedulinya, demi seseorang
yang tak pernah memedulikanku. Dan tentang bagaimana dia menghilang, ketika aku
mulai membalikkan badan dan setengah memunggungi Saka—orang yang membuatku
menyia-nyiakannya.
Setengah memunggungi? Benar, baru setengah. Entah
setan tolol apa lagi yang Tuhan suruh untuk merasukiku, hingga tak pernah aku
tahu ke mana seharusnya hatiku berjalan. Menunggu sedari lama, atau mulai
menunggu hingga lama.
Laun-laun, kusesap teh yang mulai mendingin di
genggamanku. Menyesapnya habis. Bersama keraguan yang tak kunjung
menipis.
***
“Kalian berdua
sangat cocok.”
Saka muncul seperti hantu. Tiba-tiba berdiri di sampingku
sembari ikut memperhatikan mereka yang tengah bermain bola kaki di lapangan
sekolah.
“Maksudmu,
siapa?”
“Kamu dan
Yurda.”
Aku diam. Aku
memilih untuk diam. Lantas menundukkan kepalaku, memandangi kedua kakiku yang
tak pernah aku tahu harus berlari ke mana.
“Yurda memiliki
badan yang cukup tinggi. Kamu suka laki-laki tinggi, bukan?” Saka terus membuka mulutnya.
“Ketika kamu mencintai dua hati, pilihlah orang
yang kedua. Sebab kalau kamu memang mencintai orang pertama, kamu tak akan
pernah jatuh untuk orang kedua.”
Kalimat itu
berhasil membuatku menoleh kepadanya. Entah, kurasakan banyak letupan-letupan
luka yang mengetuk-ngetuk di balik dadaku setelah mendengarnya. Lembut-lembut,
aku menatap mata yang tak pernah menyempatkan untuk menatapku walau setengah
detik. Menatap mata, dari lelaki berbadan tinggi yang selama ini membuatku
menggantungkan harap melebihi tinggi badannya.
Lantas aku
melempar kedua retinaku, pada lapangan yang penuh dengan kaki. Kaki-kaki yang
haus akan berlari, menuju apa yang membuatnya terus berlari.
Aku tersenyum
tipis. Seolah tahu ke mana kakiku harus berlari.
***
Di balik
tumpukan-tumpukan buku itu, aku tenggelam. Mengalihkan segala kelesah yang
akhir-akhir ini mengganggu setiap hela napasku. Aku memang selalu jatuh cinta
pada perpustakaan. Tak hanya karena ada begitu banyak buku, melainkan juga
karena setiap sunyi yang ruangan ini berikan.
“Malena?”
Suara lembut itu menyelusup gendang
telinga, ketika aku semakin tenggelam bersama buku dalam genggaman tanganku.
Kubalikkan badan, lantas mendapati sosok Yurda yang kaku di balik punggungku.
“Bisa kita bicara?”
“Ada apa?”
“Kemarin Saka bicara banyak tentangmu.”
Kedua mataku
tertegun. Aku mematung. Menelan
ludah pahit-pahit. Kemudian gelagapan berusaha untuk lari.
“Apa pun yang dibicarakannya, lupakanlah.”
Aku berusaha berlalu, namun langkahnya terlalu cepat
untuk menahanku keluar dari segala gelebahku.
“Aku tak pernah tahu kalau kamu berhenti
menunggunya karena aku.”
Lagi. Aku
mematung. Kami sama-sama diam. Satu… dua… tiga… delapan… tepat pada hitungan
kesepuluh Yurda kembali membuka mulut.
“Ada orang lain. Ada orang lain yang membuatku
harus mengubah segala sikapku padamu. Aku punya pacar baru.”
Pupil mataku mengecil. Kaku. Lantas
kulepaskan pegangan tangannya. Mencoba menyelamatkan kedua gendang telingaku
dari kalimat-kalimat sembilunya.
“Aku menyesal
berhenti menunggu secepat ini.”
Tiga detik
langkahku tertahan. Nyaris membuatku tenggelam dalam anak sungai air mataku
yang entah sejak kapan mengalir. Namun kemudian, aku berjalan cepat
meninggalkannya. Membiarkannya memandangi punggungku dengan segala belati di
lidahnya yang siap menusuk kapan saja.
***
Aku menggoyangkan kakiku pelan-pelan di atas
bangku memanjang itu. Di depan ruang musik yang gaduh dengan
alunan-alunan nada yang terus mengalir. Saka ada di dalam. Menyanyikan lagu
tanpa tahu kalau aku sedang mendengarkannya.
17:30. Daun
pintu ruang musik terbuka. Kerumunan orang berhamburan keluar. Aku langsung
berdiri menyadarinya. Menjinjit-jinjitkan kaki mencari sosok Saka sembari
menggaruk kuku jemariku sendiri. Saka keluar paling akhir.
“Malena?”
Lelaki
itu tampak keheranan melihatku berdiri di hadapannya, dengan air muka penuh
nanar. Entah bagaimana kerja otakku saat itu, tanpa sedikit saja berbasa-basi,
aku malah langsung memeluknya. Menumpahruahkan segala getir di balik kedua
pelupuk mata.
Saka hanya diam.
Bergeming. Membiarkan tanganku melingkar di tubuhnya. Melingkari hangat yang
sebelumnya selalu ia jadikan dingin untukku.
“Izinkan aku
menunggumu. Jangan buat aku menyesal saat berhenti menunggu.” ucapku parau.
Kini deru isakku semakin menenggelamkan pita suara
di kerongkonganku. Saka masih diam. Bahkan semakin menyerupai patung.
Hingga tak lama, kurasakan sentuhan lembut di punggung rapuhku. Saka memelukku.
Mengizinkan aku untuk semakin lenyap di bahu kukuhnya.
“Kalian berdua
memang tak cocok.”
Suara Saka bergetar pilu. Lalu senja
menenggelamkan kami berdua.