Senin, 24 Februari 2014

Sampai Salju Turun di Bogor


: Tuxedo Bertopeng

Jangan sampai kamu menyia-nyiakan dan disia-siakan dalam waktu yang sama.

Takdir itu terkadang menggelikan, ya, Kak. Sama seperti apa yang aku alami saat ini. Tak ada yang tak tahu kalau aku masih saja menunggumu; menunggumu mematahkan prinsipmu sendiri. Dan lagi, tak ada yang tahu kalau ternyata, seseorang juga menungguku sama seperti aku menunggumu. Seseorang yang datang dari masa sepuluh tahun silam.

Benar. Seseorang telah menganggapku sebagai dunianya, katanya. Sedang aku, lebih dulu menganggapmu sebagai duniaku.

Kamu jahat. Aku jahat. Kita jahat. Beberapa bilang kalau aku terlalu bodoh. Beberapa lagi, tak berhenti bertanya tentang sampai kapan aku menantimu; sampai kapan aku menyia-nyiakannya. Satu jawabanku: sampai salju turun dari langit Bogor.

Aku harus bahagia. Karenanya aku tetap memperjuangkanmu.


Salam bulan,
Sailor Moon.

Kamis, 20 Februari 2014

Caraku Untukmu


: Tuxedo Bertopeng

As long as I can see you, everything will never be problem. It’s always be okay.

Sebelumnya aku nggak tahu apa sebenarnya definisi ‘jatuh’ yang tepat, Kak. Namun setelah aku membentuk kalimat di atas, aku sekarang mengerti apa itu jatuh; mengerti kalau aku sedang jatuh. Ah iya, maksudku kalimat pertama pada tulisan ini, jadi kamu tak perlu mencari kalimat itu ke atas langit-langit kamarmu, Kak.

Oh ya, kamu tau nggak, Kak, apa yang sedang aku tekuni sekarang? Merayu-rayu mama untuk memberikan izin menonton pentas musikalisasi puisimu bulan depan. Kamu—mungkin—tidak tahu kalau mamaku itu over protective, but I love the way she used to. I love the way she love me.

Hmm… The way to love.

Cara orang mencintai itu memang berbeda-beda, ya, Kak. Aku jugalah orang, so, caraku untukmu juga berbeda. Menunggumu di depan pintu kelas, menahan lapar agar tetap bisa diam di kelas saat kamu juga ada di sana, menikmati setiap degup jantung yang lebih cepat karenamu, mengkhawatirkanmu dalam diam, tersenyum saat kau tertawa, merapal namamu dalam doa. That’s all my way. The way I love you.

People say, that care too much to person who always ignore you is too bad. It’s like one-sided love. And at least, it’s too hurt. But not for me.

Aku juga nggak mengerti, Kak, di mana letak lukanya. Mencintai dan dicintai itu perkara berbeda. Selama ego tidak menguasai diri, cinta satu sisi nggak melulu sakit. Kalau bisa dibikin bahagia, kenapa masih menciptakan kata ‘luka’?

Oh ya, jangan lupa doakan aku, ya, Kak, biar mama membolehkan aku menonton pentasmu. Suka-suka kamulah kapan mau berdoa. Asal paling tidak, sekali saja kamu berharap aku bisa menontonmu

Ummm… My english is too bad by the way. But at last, I can say that I love you.


Salam bulan,
Sailor Moon.

Rabu, 19 Februari 2014

Kembali


Aku menyukainya. Mungkin kalimat ini terlalu terlambat bila kuucapkan sekarang. Tapi waktu memang pandai membuat semua mengalir sebegini adanya. Membuat aku dirundung sesal hingga tumbuk akal.

Kuhela napas panjang. Sembari mengaduk-aduk teh yang menghangat di dalam cangkir mungil itu, sama seperti dulu aku mengaduk-aduk perasaannya. Perasaan milik seseorang yang—mungkin—terlambat untuk kukasihi.

Di jeda-jeda napasku, kalimat-kalimat dari pesan singkatnya masih membayang-bayang jelas di kedua retinaku. Kalimat yang membuatku semakin kecewa pada diriku sendiri.

“Kamu berbeda akhir-akhir ini,” 

Entah setan bodoh macam apa yang merasukiku hingga jemariku dapat begitu saja mengirimkan kalimat itu. Walau memang benar adanya, dia memang telah berbeda. Dia menghilang tepat setelah aku memintanya untuk selalu menemaniku.

“Ah, tidak. Akhir-akhir ini aku sedang sibuk.”
“Kalau begitu, istirahatlah, Yurda. Kamu harus menjaga kesehatan kalau memang sibuk.”
“Iya. Selamat malam.”

Hanya itu. Tak ada lagi kalimat-kalimat lembut yang mengalir di layar ponselku, yang selalu tahu bagaimana cara bertahan walau pengabaian selalu menyerang. Tak ada lagi. Tak ada.

Aku mulai menilik-nilik masa lalu. Masa-masa tentang bagaimana aku miskin acuh kepadanya, demi  seseorang yang sebelumnya selalu kutunggu. Tentang bagaimana aku menyia-nyiakan segala peluh pedulinya, demi seseorang yang tak pernah memedulikanku. Dan tentang bagaimana dia menghilang, ketika aku mulai membalikkan badan dan setengah memunggungi Saka—orang yang membuatku menyia-nyiakannya.

Setengah memunggungi? Benar, baru setengah. Entah setan tolol apa lagi yang Tuhan suruh untuk merasukiku, hingga tak pernah aku tahu ke mana seharusnya hatiku berjalan. Menunggu sedari lama, atau mulai menunggu hingga lama.

Laun-laun, kusesap teh yang mulai mendingin di genggamanku. Menyesapnya habis. Bersama keraguan yang tak kunjung menipis.
***
“Kalian berdua sangat cocok.” 

Saka muncul seperti hantu. Tiba-tiba berdiri di sampingku sembari ikut memperhatikan mereka yang tengah bermain bola kaki di lapangan sekolah.

“Maksudmu, siapa?”
“Kamu dan Yurda.”
           
Aku diam. Aku memilih untuk diam. Lantas menundukkan kepalaku, memandangi kedua kakiku yang tak pernah aku tahu harus berlari ke mana.
           
“Yurda memiliki badan yang cukup tinggi. Kamu suka laki-laki tinggi, bukan?” Saka terus membuka mulutnya.
“Ketika kamu mencintai dua hati, pilihlah orang yang kedua. Sebab kalau kamu memang mencintai orang pertama, kamu tak akan pernah jatuh untuk orang kedua.”

Kalimat itu berhasil membuatku menoleh kepadanya. Entah, kurasakan banyak letupan-letupan luka yang mengetuk-ngetuk di balik dadaku setelah mendengarnya. Lembut-lembut, aku menatap mata yang tak pernah menyempatkan untuk menatapku walau setengah detik. Menatap mata, dari lelaki berbadan tinggi yang selama ini membuatku menggantungkan harap melebihi tinggi badannya.
           
Lantas aku melempar kedua retinaku, pada lapangan yang penuh dengan kaki. Kaki-kaki yang haus akan berlari, menuju apa yang membuatnya terus berlari.
           
Aku tersenyum tipis. Seolah tahu ke mana kakiku harus berlari.
***
Di balik tumpukan-tumpukan buku itu, aku tenggelam. Mengalihkan segala kelesah yang akhir-akhir ini mengganggu setiap hela napasku. Aku memang selalu jatuh cinta pada perpustakaan. Tak hanya karena ada begitu banyak buku, melainkan juga karena setiap sunyi yang ruangan ini berikan.
           
“Malena?”

Suara lembut itu menyelusup gendang telinga, ketika aku semakin tenggelam bersama buku dalam genggaman tanganku. Kubalikkan badan, lantas mendapati sosok Yurda yang kaku di balik punggungku.
“Bisa kita bicara?”
“Ada apa?”
“Kemarin Saka bicara banyak tentangmu.”
           
Kedua mataku tertegun. Aku mematung. Menelan ludah pahit-pahit. Kemudian gelagapan berusaha untuk lari.

“Apa pun yang dibicarakannya, lupakanlah.”

Aku berusaha berlalu, namun langkahnya terlalu cepat untuk menahanku keluar dari segala gelebahku.
           
 “Aku tak pernah tahu kalau kamu berhenti menunggunya karena aku.”
           
Lagi. Aku mematung. Kami sama-sama diam. Satu… dua… tiga… delapan… tepat pada hitungan kesepuluh Yurda kembali membuka mulut.
           
“Ada orang lain. Ada orang lain yang membuatku harus mengubah segala sikapku padamu. Aku punya pacar baru.”
           
Pupil mataku mengecil. Kaku. Lantas kulepaskan pegangan tangannya. Mencoba menyelamatkan kedua gendang telingaku dari kalimat-kalimat sembilunya.
           
“Aku menyesal berhenti menunggu secepat ini.”
           
Tiga detik langkahku tertahan. Nyaris membuatku tenggelam dalam anak sungai air mataku yang entah sejak kapan mengalir. Namun kemudian, aku berjalan cepat meninggalkannya. Membiarkannya memandangi punggungku dengan segala belati di lidahnya yang siap menusuk kapan saja.
***
Aku menggoyangkan kakiku pelan-pelan di atas bangku memanjang itu. Di depan ruang musik yang gaduh dengan alunan-alunan nada yang terus mengalir. Saka ada di dalam. Menyanyikan lagu tanpa tahu kalau aku sedang mendengarkannya.
           
17:30. Daun pintu ruang musik terbuka. Kerumunan orang berhamburan keluar. Aku langsung berdiri menyadarinya. Menjinjit-jinjitkan kaki mencari sosok Saka sembari menggaruk kuku jemariku sendiri. Saka keluar paling akhir.
           
“Malena?” 

Lelaki itu tampak keheranan melihatku berdiri di hadapannya, dengan air muka penuh nanar. Entah bagaimana kerja otakku saat itu, tanpa sedikit saja berbasa-basi, aku malah langsung memeluknya. Menumpahruahkan segala getir di balik kedua pelupuk mata.
           
Saka hanya diam. Bergeming. Membiarkan tanganku melingkar di tubuhnya. Melingkari hangat yang sebelumnya selalu ia jadikan dingin untukku.

“Izinkan aku menunggumu. Jangan buat aku menyesal saat berhenti menunggu.” ucapku parau.

Kini deru isakku semakin menenggelamkan pita suara di kerongkonganku. Saka masih diam. Bahkan semakin menyerupai patung. Hingga tak lama, kurasakan sentuhan lembut di punggung rapuhku. Saka memelukku. Mengizinkan aku untuk semakin lenyap di bahu kukuhnya.
           
“Kalian berdua memang tak cocok.”
           
Suara Saka bergetar pilu. Lalu senja menenggelamkan kami berdua.