Senin, 19 Agustus 2013

Rindu, Kataku.


Rindu adalah embus-embus napas yang meraung minta secuil acuhmu, kataku.
Ialah aku, yang meneguk tiada di tiap adamu.


Bogor, 19 Agustus
Di tengah keramaian acara Co-reaction Korean-Indonesian Culture

Jentikan Jemari-Nya


Maka ketika Tuhan menyentikkan jemari-Nya, seluruh hirup dan asa 'kan tandas, menjadi angin kesepian yang menanti kematian. Gemuruh-gemuruh jentikan itu 'kan sanggup meniadakan segala ada. Meniadakan hingar-bingar yang mendusta pada Ayat Suci. Meniadakan iman yang setia pada terbit-tenggelamnya. Meniadakan lenguhan serta peluh yang mengguyur seprai dosa.

Maka ketika jentikan jemari-Nya menyeruak di lubang-lubang telingamu, tiada lagi detak jarum jam, tempat kau meminta kesempatan. Kesempatan yang kaubilang 'tuk pulang ke jalan-Nya, malah kau khianat lewat darah-darah yang kau persembahkan untuk sang kenyang. Embusan-embusan dari mulutmu, hanya akan menjadi hawa dingin-dingin yang diseret kematian. Kehancuran. Derup-derup kakimu hanya 'kan menjelma menjadi bayang sembiluan yang tak tertangkap retina. Lalu kaulesap, dalam adamu yang ditiadakan.

Maka ketika Tuhan menyentikkan jemari-Nya, kita hanya mampu berlari. Menuju kematian. 

Jumat, 09 Agustus 2013

Kembali Untuk Kupinta Pergi Lagi


Langit menggulung baskara
Gemawan menyeret ratu malam
Kala itu kau kembali,
Dengan segala klausa yang lidahmu tulis
Kau masih sama,
Masih berlagak paling mengenal daku



9 Agustus 2013,
Di tengah gelumat senandung raja malam

Selasa, 06 Agustus 2013

Hari Kesepuluh




Satu... Dua... Kita masih berupa surya kala fajar. 
Hangat, 
namun hanya sebatas fajar.

Tiga... Empat... Lima... Kau mengajakku beranjak terbang. Melayang di antara gemawan rindu.
Tanpa sayap.

Enam... Tujuh... Delapan... Kita sepasang merpati  yang merindukan sayap-sayap berbulu.

Sembilan... Kaubawa aku lebih tinggi.
Tinggi.
Tinggi.
Bahkan bulan nyaris tersentuh.

Sepuluh! Kauhempaskan aku tepat di langit keseratus.
Kaupatahkan sayap yang bahkan tak pernah kauizinkan untuk tumbuh.

Sebelas... Sekarang... Ke mana pergi lengkung manis-manis di bibirmu untukku, wahai Pengundang Luka?