Rabu, 23 September 2015

Sebut Saja Perlindungan


Aku tahu kau
Tapi tak mengenalmu
Aku kenal senyummu
Tapi tak ingat bagaimana tawamu

Kita bertemu
Tapi tak pernah hanyut dalam tatap
Kita dekat
Lalu saling menjauh ke tepian

Mereka bilang ini menyakitkan
Mereka bilang kasih dalam diam hanya memberi luka
Aku bilang tidak
Aku bilang, tidak

Aku merindu
Tapi sadar hati ini bukan milikku
Aku melihat namamu
Lalu ingat Tuhan pencemburu

Aku bergeming
Satu
Dua
Tiga
Ini perlindungan, kataku

Rabu, 09 September 2015

Mati



Lelaki itu datang melayang entah dari mana. Tubuh kosongnya menembus hujan yang masih turun dengan deras. Tampak, ada kalung yang berbentuk patahan hati menggantung di lehernya. Ia berhenti di sana, di kerumunan pejalan kaki itu. Di bawahnya, para manusia berkumpul, melingkari tubuh yang semakin kaku penuh darah.
            Ia mematung. Rasanya, seperti ada yang berdebar di dadanya, walau jantungnya sudah lama mati.
            “Aku sudah mati,” Suara perempuan di bawahnya menggema.
            Lelaki itu tertegun. Didekatinya perempuan itu dengan pelan.
            “Kenapa kau mati?”
            “Aku tidak tahu. Aku tak ingat apa pun.”
            “Ya, kau memang akan hilang ingatan kalau sudah kemari.”
            “Kau juga begitu?”
            Lelaki itu mengangguk. Kemudian, ia melemparkan pandangannya pada mayat di bawah kakinya. Dilihatnya, ada kalung patahan hati di sana.
            “Kita punya kalung yang sama.”
            Perempuan itu hanya diam. Pipinya membasah. Entah hujan, entah airmata.
           Hujan masih turun begitu deras. Sementara para manusia, masih sibuk mengurusi sang mayat yang semakin beku. Beberapa dari mereka hanya menonton, beberapa lagi mempertanyakan bagaimana perempuan itu mati.  
            “Bunuh diri,” jawab salah seorang dari mereka.




Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku.

Senja yang Menghilang



Takdirnya memang begitu. Tak ada senja kalau bintang sudah tiba.

***

            Di atas bukit itu, ia melepaskan pandangan pada pepohonan yang tampak lebih pendek darinya. Tatapannya begitu takjub. Di ujung sana, kedua matanya terisi penuh oleh langit kemerahan, dengan gemawan yang tersebar tipis-tipis. Gadis itu, Senja, selalu merasa seribu kali lebih bahagia ketika langit jingga berkuasa.
            “Mentang-mentang, nama kamu Senja.”
            Suara Langit memecahkan takjubnya. Dadanya berdebar cepat. “Mau apa ke sini?” tanyanya datar.
            “Mau nengok senja.” jawabnya singkat. “Kenapa nggak gabung sama peserta lain?” Ia balik bertanya, sembari melemparkan pandangan ke arah peserta penanaman pohon yang lainnya.
            “Nggak apa-apa.”
            “Hm… kamu suka senja?”
            “Kalau nggak suka ngapain aku di sini?”
            “Kalau aku?”
            Senja tertegun. Lidahnya kaku.
            “Kamu suka aku?” Langit kembali bertanya. Sementara Senja hanya diam. Matanya masih terus menerawang langit.
            “Hahaha… aku bercanda! Serius banget mukanya!” Tawa lelaki itu pecah.
            “Aku suka.” lirih Senja.
            Langit mematung, tawanya hilang.
            “Langit!” Suara lain datang. Bintang, gadis yang sudah menemani Langit satu tahun ini. Tak lama, Senja bangkit. Meninggalkan Langit yang masih bergeming.
            “Kamu suka senja?” tanya Bintang, sembari menidurkan kepalanya di bahu Langit.
            Langit hanya diam. Ia melemparkan pandangannya ke arah senja yang mulai hilang. Laun-laun, ia menghela napas, dengan berat.
            “Iya, aku suka Senja.”             


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku