Kamis, 07 November 2013

Sepotong Percakapan Di Atas Jembatan


Mereka berdiri di sana. Di sebuah jembatan kecil di taman itu. Seorang perempuan berambut sebahu dan berkaca mata, dengan seorang laki-laki berambut short spike style. Mereka, Aldea dan Bari, dua manusia yang mengaku sebagai sahabat. Dua manusia, yang katakanlah, paling pandai menyembunyikan rasa.

"Kenapa matahari hanya ada saat siang?" Aldea membuka mulut. Membuat Bari sedikit tersedak saat meneguk air mineralnya.

"Mungkin dia lelah,"

"Jawabanmu basi."

"Ha ha ha, lantas harus jawab apa?"

"Tidak adakah jawaban yang sedikit cerdas?"

Bari memalingkan wajahnya ke langit. Sembari memicingkan mata melawan silaunya sang surya. Perlahan, ia menghela napas putus-putus.

"Karena di langit malam, sudah ada bulan."

Kemudian, Aldea melakukan hal yang sama seperti Bari. Memandang matahari dengan mata telanjang. Lalu ia berkata, "kalau bulan tak pernah diciptakan, apa matahari mau untuk berpindah dari siang ke malam?" Bari tertegun. Ia memindahkan pandangannya menuju Aldea yang masih asyik bermain silau.

"Mungkin ia tak akan segan. Mungkin ia benar-benar ingin. Tapi seperti yang kamu tahu, bulan ada dan akan tetap ada."

"Kenapa begitu?"

"Tentu karena permainan Tuhan."

"Kalau Tuhan tak pernah campur tangan, bagaimana? Kalau bulan tak pernah benar-benar ada, bagaimana?" Kini nada bicara Aldea sedikit meninggi. Seperti benar-benar ingin mendapat jawaban kalau sang surya, juga akan mencintai malam.

"Sudah kubilang, mungkin matahari tak akan menolak. Tapi seperti yang sudah kubilang, Tuhan tak akan tak pernah campur tangan."

Aldea memalingkan wajah, menuju air yang mengalir di bawah jembatan. Ia perhatikan ikan-ikan kecil yang bergumul di bawah sana. Aldea diam. Seperti ingin menjadi ikan-ikan itu, seperti ingin tak memedulikan siang dan malam.

"Jadi?" Aldea melanjutkan.

"Jadi, matahari dan malam tidak akan pernah bersama."

"Tidak akan?"

"Ya, Aldea."

"Kalau pada kenyataannya bukan hanya siang yang membutuhkan matahari, bagaimana? Kalau malam juga menginginkan matahari, bagaimana?" 

"Jawabanku tetap tidak." Bari tersenyum. Sembari mengusap-usap kepala Aldea, yang mungkin, sudah mulai memanas.

"Jadi, mereka tidak akan bersama?" Aldea kembali bertanya, dan Bari hanya mengangguk manis.

"Lalu kita...." Aldea melirih, namun terpotong oleh dering ponsel milik Bari. Satu panggilan masuk. Dari kekasihnya.

"Halo, Sayang?"

Sementara Bari asyik memanjakan kekasihnya via telepon, Aldea masih menggerutu kesal. Mengetuk-ngetukkan kakinya ke tanah. Lagi dan lagi. Semakin keras, dan semakin keras. Hingga suara itu memecah keadaan.

"Dea!"

Seorang lelaki berkaos merah berlari menghampiri Aldea dan Bari. Bersamaan dengan itu, Bari menutup teleponnya.

"Kamu sudah lama menunggu?" tanyanya, dengan napas yang terpogoh-pogoh. 

"Ah, tidak. Mau berangkat sekarang? Yuk! Bar, aku duluan, ya!" seru Aldea sembari berlalu. Berjalan pergi dengan tangan yang digenggam erat oleh lelaki berkaos merah itu. Bari hanya bergeming. Tersenyum menatap punggung Aldea dari kejauhan. Punggung yang ia cintai.

Dering ponsel kembali memecah sunyi. Lagi, satu panggilan telepon dari kekasihnya.

"Kenapa teleponnya ditutup? Kamu bahkan belum bilang i love you."

"Ok, I love you, Aldea."

Tanpa aba-aba, Bari menutup teleponnya. Dengan penuh sadar, ia tahu, ia baru saja salah menyebut nama. Namun untuk kesekian kalinya, ia tak menyesal.

Rabu, 06 November 2013

Kepadamu, Semesta Laluku


Kepadamu, semesta laluku. Aku masih menjadikanmu bagian dari kalimat yang kurapal dalam doa. Walau bibir tak ada ucap, walau mata tak berani menatap. Kuingatkan, jalanku, juga milikmu masih panjang. Maka jangan terlalu takut kehilangan. 

Hiduplah dengan bahagia, maka kau tak akan terluka.

Ketahuilah


Kepadamu, Tuan. Aku tak mau banyak berbasa-basi. Aku hanya ingin menegaskan kembali tentang segala rindu yang menjadikanku sebagai tawanannya. 

Tentang aku, yang menjadi lemah di hadapan perasaan, yang entah harus kuartikan sebagai apa. Dan tentang kau, yang kemudian menjelma menjadi bongkahan es yang tak kunjung sudi untuk mencair.

Kamu mungkin belum tahu kalau aku tak suka dingin. Aku benci dingin. Dan ketahuilah, kaumasuk ke dalam daftar apa-apa yang tak ingin aku benci. Maka, dengarlah, aku tak banyak menuntut. Hanya meminta kau sedikit saja sudi untuk berjemur; agar bukan lagi bongkahan es yang kulihat saat menatapmu.