Senin, 18 Januari 2016

Pagi Ini, untuk Kali Pertamanya


Pagi ini, untuk kali pertamanya, aku berusaha mati-matian untuk tidak menangis.
Pagi ini, untuk kali pertamanya, aku berjanji akan mengutuk diriku sendiri kalau aku menangis.
Pagi ini, untuk kali pertamanya, aku merasa tidak cukup kuat untuk mengakui kalau aku juga ingin menangis.

Sepertinya aku perlu mengerti satu hal–atau mungkin beberapa hal–yang selama ini menjadi rumit dalam kepalaku. Sejak dulu, aku selalu percaya, betapa pun sulitnya, semua akan terasa ringan bila "bersama" selalu ada. 

Namun, pagi ini, kepercayaanku terpatahkan.

Sepertinya aku perlu mengerti, kalau hidup bukan hanya tentang aku dan inginku. Bukan hanya tentang aku yang mencintai mereka, dan inginku untuk terus bersama mereka. Aku perlu mengerti, bahwa untuk tidak bersama jugalah sebuah jalan yang memang patut untuk dipilih.

Perpisahan? Aku harap bukan. Aku harap Tuhan punya cara lain dalam mencintai kami.

Pagi ini, untuk kali pertamanya, aku berhasil menelan airmataku bulat-bulat.

Rabu, 23 September 2015

Sebut Saja Perlindungan


Aku tahu kau
Tapi tak mengenalmu
Aku kenal senyummu
Tapi tak ingat bagaimana tawamu

Kita bertemu
Tapi tak pernah hanyut dalam tatap
Kita dekat
Lalu saling menjauh ke tepian

Mereka bilang ini menyakitkan
Mereka bilang kasih dalam diam hanya memberi luka
Aku bilang tidak
Aku bilang, tidak

Aku merindu
Tapi sadar hati ini bukan milikku
Aku melihat namamu
Lalu ingat Tuhan pencemburu

Aku bergeming
Satu
Dua
Tiga
Ini perlindungan, kataku

Rabu, 09 September 2015

Mati



Lelaki itu datang melayang entah dari mana. Tubuh kosongnya menembus hujan yang masih turun dengan deras. Tampak, ada kalung yang berbentuk patahan hati menggantung di lehernya. Ia berhenti di sana, di kerumunan pejalan kaki itu. Di bawahnya, para manusia berkumpul, melingkari tubuh yang semakin kaku penuh darah.
            Ia mematung. Rasanya, seperti ada yang berdebar di dadanya, walau jantungnya sudah lama mati.
            “Aku sudah mati,” Suara perempuan di bawahnya menggema.
            Lelaki itu tertegun. Didekatinya perempuan itu dengan pelan.
            “Kenapa kau mati?”
            “Aku tidak tahu. Aku tak ingat apa pun.”
            “Ya, kau memang akan hilang ingatan kalau sudah kemari.”
            “Kau juga begitu?”
            Lelaki itu mengangguk. Kemudian, ia melemparkan pandangannya pada mayat di bawah kakinya. Dilihatnya, ada kalung patahan hati di sana.
            “Kita punya kalung yang sama.”
            Perempuan itu hanya diam. Pipinya membasah. Entah hujan, entah airmata.
           Hujan masih turun begitu deras. Sementara para manusia, masih sibuk mengurusi sang mayat yang semakin beku. Beberapa dari mereka hanya menonton, beberapa lagi mempertanyakan bagaimana perempuan itu mati.  
            “Bunuh diri,” jawab salah seorang dari mereka.




Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku.

Senja yang Menghilang



Takdirnya memang begitu. Tak ada senja kalau bintang sudah tiba.

***

            Di atas bukit itu, ia melepaskan pandangan pada pepohonan yang tampak lebih pendek darinya. Tatapannya begitu takjub. Di ujung sana, kedua matanya terisi penuh oleh langit kemerahan, dengan gemawan yang tersebar tipis-tipis. Gadis itu, Senja, selalu merasa seribu kali lebih bahagia ketika langit jingga berkuasa.
            “Mentang-mentang, nama kamu Senja.”
            Suara Langit memecahkan takjubnya. Dadanya berdebar cepat. “Mau apa ke sini?” tanyanya datar.
            “Mau nengok senja.” jawabnya singkat. “Kenapa nggak gabung sama peserta lain?” Ia balik bertanya, sembari melemparkan pandangan ke arah peserta penanaman pohon yang lainnya.
            “Nggak apa-apa.”
            “Hm… kamu suka senja?”
            “Kalau nggak suka ngapain aku di sini?”
            “Kalau aku?”
            Senja tertegun. Lidahnya kaku.
            “Kamu suka aku?” Langit kembali bertanya. Sementara Senja hanya diam. Matanya masih terus menerawang langit.
            “Hahaha… aku bercanda! Serius banget mukanya!” Tawa lelaki itu pecah.
            “Aku suka.” lirih Senja.
            Langit mematung, tawanya hilang.
            “Langit!” Suara lain datang. Bintang, gadis yang sudah menemani Langit satu tahun ini. Tak lama, Senja bangkit. Meninggalkan Langit yang masih bergeming.
            “Kamu suka senja?” tanya Bintang, sembari menidurkan kepalanya di bahu Langit.
            Langit hanya diam. Ia melemparkan pandangannya ke arah senja yang mulai hilang. Laun-laun, ia menghela napas, dengan berat.
            “Iya, aku suka Senja.”             


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Rabu, 29 Juli 2015

Dari Mana Saja?


Dari mana saja?
Seharusnya kau sudah datang sebelum hari ini
Puisi, kopi, dan hujan
Biarkan aku menunjukkanmu hal menakjubkan
Menjamu adamu dengan kejutan
Hingga kau lelah dan jatuh cinta

Dari mana saja?
Seharusnya kau datang kemarin
Luka, air mata, dan sepi
Kau mampu mengusir segala yang pahit
Mengubah segalanya dengan sihir
Lalu aku jatuh cinta hingga lelah

Karena kita telah saling ada
Saling menatap dan berbicara
Lalu berkata pada dunia
Lihatlah kami
Begitu manis, begitu nyata
Bagai kesalahan selanjutnya

Karena kita telah saling jatuh
Melupakan waktu dan takdir
Mencinta dan percaya
Luka pasti akan selalu ada
Manis bisa saja menjadi pahit

Dari mana saja?
Waktuku tak banyak
Aku hidup setiap hari dan harus mati satu kali
Puisi, kopi, hujan
Luka, air mata, sepi
Mari kita pelajari mereka satu per satu

Jumat, 01 Mei 2015

Hidup? Sendirian? Mawar? Hello Ghost? Yang Mana Judulnya?




Mungkin kalian pernah ngerasain ini. Ngerasa nggak dihargain. Ngerasa nggak ada artinya. Ngerasa jadi manusia nggak berguna. Ngerasa seolah-olah yang kamu lakuin semuanya salah. Kalau pernah, tenang, kalian nggak sendirian. Aku yakin, di bumi ini, masih ada orang-orang yang kayak gitu. Termasuk aku.

Banyak alasan kenapa seseorang bisa ngerasain semua itu. Banyak. Dan, nggak semua orang bisa ngerti alasannya. Termasuk alasan punyaku. Juga punyamu, mungkin.

Nama aku Mawar. Sejak dulu, aku yakin, nama ini bakal bikin hidup penuh sama apa yang namanya cinta. Yaa, karena mawar itu, umumnya, bunga tanda cinta. Tapi ternyata nggak. Hidup nggak semudah itu. Hahaha, hidup emang nggak mudah. Sekalipun kamu adalah mawar, atau idola, atau anak presiden, atau putri, atau pangeran. Bahkan di negeri dongeng sekalipun, sang pemeran utama juga pernah ngalamin yang namanya kesulitan dalam hidup. Bedanya sama dunia nyata, ya, cuma di ending; dongeng selalu bahagia, sedangkan nyata belum tentu.

Bicara soal bahagia, aku suka ngerasa malu sendiri. Aku selalu bilang, kalau bahagia itu ciptakan, bukan ditunggu sampe akhir. Gimana cara nyiptainnya? Senyum. Senyum. Aku selalu nyuruh orang-orang buat selalu tersenyum. Apa pun keadaannya. Ternyata, nggak semua keadaan itu ngedukung kita buat tersenyum. Tersenyum itu gampang, kok. Gampang. Sekalipun kamu lagi ngerasa nggak bahagia, kamu tetep bisa tersenyum. Tapi, ternyata, lagi-lagi hidup itu nggak mudah. Bahkan untuk tersenyum aja, seolah-olah ada syarat di belakangnya. Kita pasti bakal dengan mudah tersenyum—kalau di tempat ramai; nggak sendirian. Sayangnya, terlalu banyak orang yang terjebak dalam yang namanya kesendirian. Sepi. Nggak ada temen ngobrol. Cuma ada kamu, tembok, lantai, pintu, bantal, PC, dan mp3. Siapa, tuh? Aku. 

Aku udah 18 tahun. Sekarang, aku lagi dalam masa-masa nganggurnya kelas 12. Bisa bayangin sepinya gimana? Kamu sendirian, dari pagi sampe sore. Kamu bingung harus ngapain, dan ini bikin kamu lebih rajin; ngerjain semua pekerjaan rumah biar nggak ngerasa sepi. Kalau udah selesai? Lari ke mana? PC. Ngapain? Ya, mungkin ngetik-ngetik hal nggak jelas, nonton film, atau ngejelajahin internet. Awalnya kamu ngerasa, “wah keren, nih, gue bisa kayak gini tiap hari. Santai. Nggak perlu capek-capek belajar di sekolah.” Tapi, manusia punya titik jenuh, kan? Dan lama-lama, kamu makin bingung harus ngapain. Sampe sesuatu yang namanya sendirian, bener-bener kamu rasain.

Sendirian. Apa enaknya sendirian? Nggak ada orang yang bisa bikin kamu ketawa. Yang ada, cuma diri kamu sendiri. Mau ngetawain diri sendiri? Hahaha…, beberapa orang emang berakhir di titik tersebut; ngetawain diri sendiri. Ketawa. Keras. Keras. Sampe nangis. Siapa, tuh? Aku. Juga kamu, mungkin.

Mungkin, sendirian nggak akan jadi masalah, kalau kamu nggak punya masalah. Sayangnya, lagi-lagi, hidup itu nggak mudah. Kita nggak akan pernah lepas dari yang namanya masalah. Jadi, aku lagi punya masalah? Beberapa orang bilang itu bukan masalah. “Jalanin aja, ini nggak sulit, semua bakal baik-baik aja, kok.” Wow, such a great sentence. Gimana bisa ini nggak sulit? Gimana bisa baik-baik aja? Ya karena yang ngomongnya nggak ngalamin masalah itu! Hahaha…, lucu, kan?  Kita nggak bisa nentuin masalah orang lain mudah atau sulit, kecil atau besar, bakal baik-baik aja atau nggak, selama kita nggak ngerasain langsung masalah tersebut. Iya, orang yang paling ngerti kita emang cuma diri sendiri. 

Duh, aku ngelantur banget nggak, sih? Maaf, ya. Intinya, hidup itu emang nggak mudah, sebagai siapa pun kamu hidup. Buat kamu yang lagi siap-siap kuliah, semangat, ya! Jangan ngeluh kalau nanti banyak tugas. Jangan ngeluh kalau nggak punya waktu istirahat. Percayalah, di luar sana, masih banyak orang “sendirian” yang pengen ada di posisi kamu sekarang. Selama kamu masih sehat, jangan pernah buat males gerak, ya!
Juga, buat kamu, yang selalu ngerasa sendirian, don’t do stupidly when you feel lonely.



Salam dari seseorang, yang bernama Mawar.

By the way, yang tadi itu kutipan dari film Hello Ghost. “Don’t do stupidly when you feel lonely.” Keren banget filmnya! Recommended!

Minggu, 19 April 2015

Kepada Tuan yang Kini Terlelap

Selamat malam, Tuan. Apakah kau sudah tidur? Kalau sudah, kau tidak perlu bangun hanya untuk menjawabnya. Lelapkan saja tubuhmu, dan biarkan aku bercerita kepada malam yang sendu.

Aku ingin bercerita, kepada malam, tentang senja yang kehilangan jingga, yang menciptakan kita. Kala itu kita tak saling mengenal. Namun, kau tetap tersenyum, seperti teman, atau lebih? Aku di belakangmu, duduk menyamping, menikmati angin juga langit yang terus menggelap. Kau tetap berlalu, membawaku. Berlalu sangat cepat, secepat angin, atau lebih?

Kemudian malam bertanya, "apakah hanya senja yang tersisa?" Aku menggeleng. Lalu kuceritakan tentang hujan, begitu deras, begitu manis. Aku masih ingat bagaimana kedua matamu menusukku untuk yang pertama kalinya. Tidak, tidak terasa sakit. Sama sekali tidak terasa sakit. Aku hanya sedikit kesulitan bernapas saat itu. Bagaimana tidak? Tatapmu telah melenyapkan oksigen, juga dunia. Aku tersenyum, lalu memalingkan wajah pada langit. Masih hujan. Masih begitu deras. Masih begitu manis.

Sejenak, aku menghela napas. Tersenyum, lalu melanjutkan ceritaku. Kini bukan tentang senja atau hujan, melainkan tentang hari yang kukira bukanlah hari yang terakhir. Di sana, di sebuah ruang kelas yang dingin, aku bernapas. Tiga detik kemudian, aku hilang napas. Di sana, di sederet anak tangga itu, kau melangkah naik. Aku mematung. Kau terus berjalan. Satu.. dua.. tiga.. lima.. delapan.. mataku masih tak bergerak. Sementara kau menghilang ditelan dinding pembatas. Aku tersenyum.

Lalu menangis ketika tahu itu adalah yang terakhir.

"Kau tidak bisa bertemu lagi dengannya?" tanya malam. Aku hanya menggeleng tak tahu. Lagi, aku menghela napas. Menatap malam yang semakin diam. Sunyi. Senyap.

Kalau boleh meminta, aku ingin meminta satu hal, Tuan. Datanglah ke sana, ke tempat di mana waktu untuk kita benar-benar akan berhenti. Aku yakin, kau sendiri juga pasti paham bagaimana sakitnya perpisahan tanpa selamat tinggal. Jadi, datanglah untuk melambaikan tangan, untuk mengucapkan selamat tinggal, untuk membiarkanku pergi.

Bagaimana, Tuan? Apakah kau mau? Tuan? Tuan? Tuan? Kok Tuan diam saja? Ah, aku lupa. Tuan, kan, sedang tidur.

Selamat tidur, Tuan.