Satu... Dua... Kita masih berupa surya kala fajar.
Hangat,
namun hanya sebatas fajar.
Tiga... Empat... Lima... Kau mengajakku beranjak terbang. Melayang di antara gemawan rindu.
Tanpa sayap.
Enam... Tujuh... Delapan... Kita sepasang merpati yang merindukan sayap-sayap berbulu.
Sembilan... Kaubawa aku lebih tinggi.
Tinggi.
Tinggi.
Bahkan bulan nyaris tersentuh.
Sepuluh! Kauhempaskan aku tepat di langit keseratus.
Kaupatahkan sayap yang bahkan tak pernah kauizinkan untuk tumbuh.
Sebelas... Sekarang... Ke mana pergi lengkung manis-manis di bibirmu untukku, wahai Pengundang Luka?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar