Minggu, 17 Februari 2013

Terlepas (I)



“Aku tahu! Ya! Aku juga bisa tanpa kamu!”

Kevin menghempaskan tangan Lita. Tentunya, dengan tak memerdulikan airmata yang makin menderas di pipi gadis itu.

“Tapi, Vin... tolong jangan kayak gini, tolong…” lirih Lita.

“Kamu yang jangan kayak gini! Jangan nangis! Jangan jadiin airmata kamu itu sebagai senjata! Dasar perempuan!”

“Oke, baik. Aku gak nangis. Tapi tolong, berhenti kayak gini. Sesulit itu bertahan sama aku?”
Lita menghapus airmatanya. Berpura-pura tegar di hadapan lelaki yang selalu menjadi pemicu tangisnya.

“Ya, aku gak akan pergi. Tapi kamu juga jangan selalu kayak gini,”

“Gini gimana, Sayang?”

“Jangan egois. Aku cuma punya satu jam tangan. Satu waktu. Hari aku gak melulu tentang kita. Kamu harus ngerti!”

Lita terdiam. Ia sudah tak tahu bagaimana cara untuk membahasakan perasaannya, keadaan yang sebenarnya. Sudah terlalu lama dipendam.

“Baik. Aku akan berusaha. Dengan syarat, kamu jangan pergi…”

“Aku gak akan pergi. Aku janji,”

Kevin memeluk Lita. Sembari mengusap rambut sebahu milik gadis yang sudah dua tahun terakhir ini menemaninya. Sementara Lita, masih mencoba menahan rintikan gerimis yang sekiranya akan turun dari pelupuk matanya.

Sebenarnya, pertengkaran seperti ini bukan hal baru dalam hubungan mereka. Masalah kecil selalu berhasil membuat Kevin mengucapkan kalimat perpisahan. Tentunya, juga selalu berhasil memaksa Lita untuk menguras kembali airmatanya. Untuk sesaat, siapapun yang menyaksikan  pertengkaran mereka tadi, pastilah menyimpulkan bahwa memang Lita yang memegang kendali hubungan, sementara Kevin berperan sebagai lelaki pengalah yang selalu sabar menghadapi keegoisan Lita. Sesungguhnya itu salah besar. Kevin, memang sosok lelaki tampan nan setia yang pastinya didambakan setiap wanita. Namun siapa yang tahu? Tentang apa yang sebenarnya tersimpan di balik ketampanan dan kesetiannya itu? Keegoisan. Itulah sifat alamiah Kevin. Sementara Lita, gadis lugu berkacamata yang selalu siap terinjak batinnya. Terinjak oleh lelaki yang mengaku bahwa ia mencintai Lita.
***
Pagi itu, Lita duduk di bangku memanjang di taman tempat biasa ia bertemu dengan Kevin. Berkali-kali ia menengok ke arah jam tangan merah muda yang melingkar di tangan kirinya. Jam menunjukkan pukul 10.00 waktu setempat.

“Kalau begini, pasti akan ketinggalan filmnya,” ucap Lita pada diri sendiri.

Lita di sana memang sedang menunggu Kevin, sudah dua jam menunggu. Kevin berjanji kalau hari ini ia akan mengajak Lita ke bioskop. Ia menunggu dengan tenang. Lengkung manis di bibirnya tak pernah berhenti ia bentuk. Binar matanya benar-benar mengharapkan kedatangan Kevin. Sepatunya mengetuk-ngetuk tanah, berirama walau tanpa instrument apa pun. Tak lama kemudian, ponsel Lita bergetar. Terlihat ‘Kevin’ memenuhi layar ponselnya.

“Halo? Kamu dimana?”

Lita bertanya dengan nada yang super sumringah.

“Aku di rumah,”

“Kok? Belum berangkat?”

“Kayaknya gak usah jadi, ya. Aku diajak main basket sama yang lain.”

“Gak jadi?”

“Ya. Gak apa-apa, kan?”

“Ah, iya. Gak apa-apa, kok. Have fun, ya.”

Lita menutup teleponnya. Ia terdiam, tak ada ekspresi lain yang tergambar di wajahnya. Hanya kekecewaan yang sudah tak asing lagi bagi hatinya. Ya, perlakuan Kevin yang seperti ini bukanlah hal baru.

“Datang untuk pergi kembali? Tanpa maaf? Dua jam aku menunggu,”

Suaranya melirih, parau. Sembari diiringi air dingin yang perlahan jatuh dari sangkarnya; dari matanya. Lita menangis didekap angin. Sementara itu, dari kejauhan terlihat seseorang terus memandang Lita. Airmatanya juga ikut terjatuh.
***

“Aku perlu bicara,” ucap Lita kepada Kevin yang tengah bekumpul bersama teman-temannya.

“Ada apa?”

“Gak bisa di sini,”

“Oke. Guys, gue pergi sebentar, ya.” kata Kevin kepada teman-temannya.

Lita lekas menarik lengan Kevin. Mereka berjalan melewati koridor kelas. Langkah sepatu pantofel milik Lita yang diiringi sepatu hitam pekatnya Kevin benar-benar terasa mati; seperti tak ada cinta dalam langkah kedua-duanya. Sepotong obrolan pun, tak kunjung dirajut oleh dua manusia yang mengaku saling mencintai ini.

Mereka sampai di taman belakang sekolah. Kevin yang masih tak tahu apa maksud Lita membawanya kemari, langsung menghempaskan pegangan gadis itu dengan tiba-tiba.

“Kamu ini mau ngomong apa, sih?”

Kevin bertanya dengan raut wajah penuh keheranan. Mungkin ada seribu lapis heran di sana. Lita membalikkan badan. Mula-mula, ia hanya menghela napas panjang. Dengan otak yang sedang memutarbalikkan kalimat. Mencoba merangkai kata yang sekiranya pantas ia ucapkan tanpa membuat Kevin meledak marah.

“Sebelumnya, aku minta maaf. Aku juga minta kamu buat janji, kalau kamu gak akan marah dengan apa yang aku omongin,”

“Tergantung,”

“Kevin…”

“Iya, iya. Ayo dong ngomong!”

“Janji gak marah?”

“Ya,”

“Jadi gini, aku cuma mau tanya, waktu kamu telepon aku kemarin itu, sadar gak kalau aku lagi nunggu kamu di taman?”

Lita bertanya dengan pelan nan lembut. Ia benar-benar tak mau membuat Kevin marah.

“Sadar, kok.”

“Lalu kenapa dengan gampangnya kamu pergi? Tanpa maaf? Aku juga punya rasa lelah, Sayang.”

“Oh, jadi kamu capek sama aku?!”

“Bukan, bukan, bukan begitu maksud aku…”

Mata Lita berkaca-kaca. Dipenuhi air yang sedari tadi bersembunyi di balik kelopak matanya.

“Lalu apa?!”

Emosi Kevin lagi-lagi meluap.

“Kev… kamu bukannya janji buat gak marah?”

“Aku bilang kan tergantung!”

“Tapi dengerin aku dulu… aku belum selesai ngomong,”

Air di balik pelupuk mata Lita, jatuh menetes bergantian membasahi pipi mulusnya.

“Jangan nangis! Berapa kali aku bilang, jangan nangis!”

“Kevin…”

“Oke! Aku ngaku salah karena lebih milih basket ketimbang kamu. Tapi kan aku udah bilang, hari-hari aku gak melulu tentang kamu, tentang kita. Gak selalu aku harus ada di balik langkah kaki kamu. Aku punya dunia sendiri!”

Kevin membentak Lita tanpa jeda. Untuk kesekian kalinya, Kevin kembali tak menghiraukan airmata Lita, tak menganggap bahwa airmata Lita adalah wujud dari kesedihannya.

“Bukan itu yang aku permasalahin. Dengerin aku dulu...” ucap Lita memohon.

Sementara airmatanya, mulai tersamarkan oleh rinai hujan yang rintik. Ya, hujan mulai membasahi bumi.

“Udah! Berhenti! Aku muak dengan keluhan kamu. Aku muak dengan suara kamu yang sok tersiksa itu. Aku capek! Gak tahu lagi gimana caranya buat aku bertahan. Kita putus! Itu yang terbaik.”

Kevin langsung membalikkan badan untuk pergi. Tanpa terimakasih, tanpa maaf. Bahkan ucapan selamat tinggal pun tak ada. Sementara Lita diam mematung. Setelah gendang telinganya disentuh oleh kalimat perpisahan itu. Ia duduk terjatuh, dengan tatapan yang mulai kosong. Bibirnya menggigil. Ia terlihat gemetar. Airmata yang jatuh tak kalah derasnya dengan hujan yang semakin meliar basahi bumi.

Tak lama, hujan berhenti menyentuh tubuh Lita. Ia yang masih tertunduk merasa aneh, jelas-jelas gemuruh hujan masih terdengar jelas di telinganya. Ia mencoba menenggakkan kepala. Namun ia jadi sedikit terkejut. Ada payung bercorak pelangi yang melindunginya dari hujan. Payung yang digenggam oleh tangan lelaki yang tak ia kenali.

“Pelangi udah datang. Harusnya, hujan di mata kamu berhenti, bukan?”

Lelaki itu melemparkan seuntai senyum. Namun bayangnya, semakin terlihat samar di mata Lita. Lita mencoba memutarkan matanya ke setiap sudut yang ada di hadapannya. Bumi seolah berputar, dan bayang pria itu, perlahan hilang ditelan gelap. Lita jatuh tak sadarkan diri. Tak lama, hujan berhenti iringi tangisnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar