“Aku tahu! Ya! Aku juga bisa tanpa kamu!”
Kevin menghempaskan
tangan Lita. Tentunya, dengan tak memerdulikan airmata yang makin menderas di
pipi gadis itu.
“Tapi, Vin... tolong
jangan kayak gini, tolong…” lirih Lita.
“Kamu yang jangan kayak
gini! Jangan nangis! Jangan jadiin airmata kamu itu sebagai senjata! Dasar
perempuan!”
“Oke, baik. Aku gak
nangis. Tapi tolong, berhenti kayak gini. Sesulit itu bertahan sama aku?”
Lita menghapus
airmatanya. Berpura-pura tegar di hadapan lelaki yang selalu menjadi pemicu
tangisnya.
“Ya, aku gak akan
pergi. Tapi kamu juga jangan selalu kayak gini,”
“Gini gimana, Sayang?”
“Jangan egois. Aku cuma
punya satu jam tangan. Satu waktu. Hari aku gak melulu tentang kita. Kamu harus
ngerti!”
Lita terdiam. Ia sudah
tak tahu bagaimana cara untuk membahasakan perasaannya, keadaan yang
sebenarnya. Sudah terlalu lama dipendam.
“Baik. Aku akan
berusaha. Dengan syarat, kamu jangan pergi…”
“Aku gak akan pergi.
Aku janji,”
Kevin memeluk Lita.
Sembari mengusap rambut sebahu milik gadis yang sudah dua tahun terakhir ini
menemaninya. Sementara Lita, masih mencoba menahan rintikan gerimis yang
sekiranya akan turun dari pelupuk matanya.
Sebenarnya,
pertengkaran seperti ini bukan hal baru dalam hubungan mereka. Masalah kecil
selalu berhasil membuat Kevin mengucapkan kalimat perpisahan. Tentunya, juga
selalu berhasil memaksa Lita untuk menguras kembali airmatanya. Untuk sesaat,
siapapun yang menyaksikan pertengkaran
mereka tadi, pastilah menyimpulkan bahwa memang Lita yang memegang kendali
hubungan, sementara Kevin berperan sebagai lelaki pengalah yang selalu sabar
menghadapi keegoisan Lita. Sesungguhnya itu salah besar. Kevin, memang sosok
lelaki tampan nan setia yang pastinya didambakan setiap wanita. Namun siapa
yang tahu? Tentang apa yang sebenarnya tersimpan di balik ketampanan dan
kesetiannya itu? Keegoisan. Itulah sifat alamiah Kevin. Sementara Lita, gadis
lugu berkacamata yang selalu siap terinjak batinnya. Terinjak oleh lelaki yang
mengaku bahwa ia mencintai Lita.
***
Pagi itu, Lita duduk di
bangku memanjang di taman tempat biasa ia bertemu dengan Kevin. Berkali-kali ia
menengok ke arah jam tangan merah muda yang melingkar di tangan kirinya. Jam
menunjukkan pukul 10.00 waktu setempat.
“Kalau begini, pasti
akan ketinggalan filmnya,” ucap Lita pada diri sendiri.
Lita di sana memang
sedang menunggu Kevin, sudah dua jam menunggu. Kevin berjanji kalau hari ini ia
akan mengajak Lita ke bioskop. Ia menunggu dengan tenang. Lengkung manis di
bibirnya tak pernah berhenti ia bentuk. Binar matanya benar-benar mengharapkan
kedatangan Kevin. Sepatunya mengetuk-ngetuk tanah, berirama walau tanpa instrument apa pun. Tak lama kemudian,
ponsel Lita bergetar. Terlihat ‘Kevin’ memenuhi layar ponselnya.
“Halo? Kamu dimana?”
Lita bertanya dengan
nada yang super sumringah.
“Aku di rumah,”
“Kok? Belum berangkat?”
“Kayaknya gak usah
jadi, ya. Aku diajak main basket sama yang lain.”
“Gak jadi?”
“Ya. Gak apa-apa, kan?”
“Ah, iya. Gak apa-apa,
kok. Have fun, ya.”
Lita menutup
teleponnya. Ia terdiam, tak ada ekspresi lain yang tergambar di wajahnya. Hanya
kekecewaan yang sudah tak asing lagi bagi hatinya. Ya, perlakuan Kevin yang
seperti ini bukanlah hal baru.
“Datang untuk pergi
kembali? Tanpa maaf? Dua jam aku menunggu,”
Suaranya melirih,
parau. Sembari diiringi air dingin yang perlahan jatuh dari sangkarnya; dari
matanya. Lita menangis didekap angin. Sementara itu, dari kejauhan terlihat
seseorang terus memandang Lita. Airmatanya juga ikut terjatuh.
***
“Aku perlu bicara,” ucap Lita kepada Kevin yang
tengah bekumpul bersama teman-temannya.
“Ada apa?”
“Gak bisa di sini,”
“Oke. Guys,
gue pergi sebentar, ya.” kata Kevin kepada teman-temannya.
Lita lekas menarik
lengan Kevin. Mereka berjalan melewati koridor kelas. Langkah sepatu pantofel
milik Lita yang diiringi sepatu hitam pekatnya Kevin benar-benar terasa mati;
seperti tak ada cinta dalam langkah kedua-duanya. Sepotong obrolan pun, tak
kunjung dirajut oleh dua manusia yang mengaku saling mencintai ini.
Mereka sampai di taman
belakang sekolah. Kevin yang masih tak tahu apa maksud Lita membawanya kemari,
langsung menghempaskan pegangan gadis itu dengan tiba-tiba.
“Kamu ini mau ngomong
apa, sih?”
Kevin bertanya dengan
raut wajah penuh keheranan. Mungkin ada seribu lapis heran di sana. Lita
membalikkan badan. Mula-mula, ia hanya menghela napas panjang. Dengan otak yang
sedang memutarbalikkan kalimat. Mencoba merangkai kata yang sekiranya pantas ia
ucapkan tanpa membuat Kevin meledak marah.
“Sebelumnya, aku minta
maaf. Aku juga minta kamu buat janji, kalau kamu gak akan marah dengan apa yang
aku omongin,”
“Tergantung,”
“Kevin…”
“Iya, iya. Ayo dong
ngomong!”
“Janji gak marah?”
“Ya,”
“Jadi gini, aku cuma
mau tanya, waktu kamu telepon aku kemarin itu, sadar gak kalau aku lagi nunggu
kamu di taman?”
Lita bertanya dengan
pelan nan lembut. Ia benar-benar tak mau membuat Kevin marah.
“Sadar, kok.”
“Lalu kenapa dengan
gampangnya kamu pergi? Tanpa maaf? Aku juga punya rasa lelah, Sayang.”
“Oh, jadi kamu capek
sama aku?!”
“Bukan, bukan, bukan
begitu maksud aku…”
Mata Lita berkaca-kaca.
Dipenuhi air yang sedari tadi bersembunyi di balik kelopak matanya.
“Lalu apa?!”
Emosi Kevin lagi-lagi
meluap.
“Kev… kamu bukannya
janji buat gak marah?”
“Aku bilang kan
tergantung!”
“Tapi dengerin aku
dulu… aku belum selesai ngomong,”
Air di balik pelupuk
mata Lita, jatuh menetes bergantian membasahi pipi mulusnya.
“Jangan nangis! Berapa
kali aku bilang, jangan nangis!”
“Kevin…”
“Oke! Aku ngaku salah
karena lebih milih basket ketimbang kamu. Tapi kan aku udah bilang, hari-hari
aku gak melulu tentang kamu, tentang kita. Gak selalu aku harus ada di balik
langkah kaki kamu. Aku punya dunia sendiri!”
Kevin membentak Lita
tanpa jeda. Untuk kesekian kalinya, Kevin kembali tak menghiraukan airmata
Lita, tak menganggap bahwa airmata Lita adalah wujud dari kesedihannya.
“Bukan itu yang aku
permasalahin. Dengerin aku dulu...” ucap Lita memohon.
Sementara airmatanya,
mulai tersamarkan oleh rinai hujan yang rintik. Ya, hujan mulai membasahi bumi.
“Udah! Berhenti! Aku
muak dengan keluhan kamu. Aku muak dengan suara kamu yang sok tersiksa itu. Aku
capek! Gak tahu lagi gimana caranya buat aku bertahan. Kita putus! Itu yang
terbaik.”
Kevin langsung
membalikkan badan untuk pergi. Tanpa terimakasih, tanpa maaf. Bahkan ucapan
selamat tinggal pun tak ada. Sementara Lita diam mematung. Setelah gendang
telinganya disentuh oleh kalimat perpisahan itu. Ia duduk terjatuh, dengan
tatapan yang mulai kosong. Bibirnya menggigil. Ia terlihat gemetar. Airmata
yang jatuh tak kalah derasnya dengan hujan yang semakin meliar basahi bumi.
Tak lama, hujan
berhenti menyentuh tubuh Lita. Ia yang masih tertunduk merasa aneh, jelas-jelas
gemuruh hujan masih terdengar jelas di telinganya. Ia mencoba menenggakkan
kepala. Namun ia jadi sedikit terkejut. Ada payung bercorak pelangi yang
melindunginya dari hujan. Payung yang digenggam oleh tangan lelaki yang tak ia
kenali.
“Pelangi udah datang.
Harusnya, hujan di mata kamu berhenti, bukan?”
Lelaki itu melemparkan
seuntai senyum. Namun bayangnya, semakin terlihat samar di mata Lita. Lita
mencoba memutarkan matanya ke setiap sudut yang ada di hadapannya. Bumi seolah
berputar, dan bayang pria itu, perlahan hilang ditelan gelap. Lita jatuh tak
sadarkan diri. Tak lama, hujan berhenti iringi tangisnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar