Maka ketika Tuhan menyentikkan jemari-Nya, seluruh hirup dan asa 'kan tandas, menjadi angin kesepian yang menanti kematian. Gemuruh-gemuruh jentikan itu 'kan sanggup meniadakan segala ada. Meniadakan hingar-bingar yang mendusta pada Ayat Suci. Meniadakan iman yang setia pada terbit-tenggelamnya. Meniadakan lenguhan serta peluh yang mengguyur seprai dosa.
Maka ketika jentikan jemari-Nya menyeruak di lubang-lubang telingamu, tiada lagi detak jarum jam, tempat kau meminta kesempatan. Kesempatan yang kaubilang 'tuk pulang ke jalan-Nya, malah kau khianat lewat darah-darah yang kau persembahkan untuk sang kenyang. Embusan-embusan dari mulutmu, hanya akan menjadi hawa dingin-dingin yang diseret kematian. Kehancuran. Derup-derup kakimu hanya 'kan menjelma menjadi bayang sembiluan yang tak tertangkap retina. Lalu kaulesap, dalam adamu yang ditiadakan.
Maka ketika Tuhan menyentikkan jemari-Nya, kita hanya mampu berlari. Menuju kematian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar