Aku bingung harus memulai cerita ini dari mana.
Hmm.. mungkin bisa kumulai dengan sebuah pertanyaan. Baiklah, bahagia itu
seperti apa? Ha ha ha, pertanyaan yang konyol.
Benar, konyol, seperti apa-apa yang membuat kita
tak pernah saling menjadi siapa-siapa. Disadari atau tidak, sengaja atau tidak,
kini kamu menjelma menjadi bongkahan es yang biasanya ada di sudut-sudut lemari
pendingin yang sangat sukar untuk dikorek-korek. Haaa, intinya, kamu dingin
sekarang. Kalau aku menyebut dinginnya kamu adalah kepribadianmu, kurasa itu
salah. Karena kepada selainku, kamu sehangat teman, sehangat seorang konyol
yang bicara dan tertawa tanpa membawa perasaan yang neko-neko. Kepadaku? Aah, like
a stranger. Terbukti, dinginmu bukan tanpa alasan. Tapi apa alasannya? Alasan
konyol yang kamu pegang tiga bulan yang lalu? Masih alasan yang sama? Kalau
iya, boleh aku tertawa sekarang? Ha ha ha, menjalani waktu sekarang sepertinya
bukan hal yang mudah. Maka dari itu, kilas-balik selalu aku lakukan. Paling
tidak, itu membuatku ingat kalau kamu juga pernah menjadi seorang hangat yang
selalu pandai membuatku tertawa tergeli-geli.
Kamu ingat tidak? Sekitar satu bulan yang lalu,
di sebuah tempat yang penuh dengan air, hari sudah mulai gelap, hujan turun
deras dan deras, lebih dan lebih, kamu menjelma menjadi seorang kamu yang,
katakanlah, sangat peduli tentangku. Kuulangi, saat itu hujan turun sangat
deras. Kita, bersama satu, dua, tiga, empat, ah... teman-teman yang lain ingin
pulang sehabis praktik renang. Tapi nahasnya tak ada satu pun angkot yang sudi
membawa kita (kalau inget ini Mawar jadi miris sendiri-_-).
Saat itu perasaanku sudah tak keruan. Lebaynya,
sudah pusing-pusing unyu. Entah apalagi yang terjadi, aku tak ingat pasti,
karena saat itu aku memang sempat jatuh tak sadarkan diri (ini nyebelin tau
gak). Yang aku ingat, saat aku bangun, di tempat yang saaangat gelap, ada
sepasang mata yang menatap cemas. Benar, itu mata milikmu. Beberapa pertanyaan
langsung menyerangku saat itu. Simply like, "Mawar gak apa-apa, kan?"; "Masih
pusing gak?"; "Mau minum?". Ha ha ha, lucu sekali. Lebih lucu
lagi, kalau aku ingat saat kamu rela menembus hujan hanya untuk membelikanku
minyak angin. Setelahnya kamu duduk di depanku. Lantas bertanya, "Udah
kuat belum?" Dengan lucu aku menjawab, "Mawar, mah, selalu kuat. Kan sailor moon..."
Kamu hanya tertawa saat itu. Tawa yang benar-benar membuatku merasa tenang.
Merasa kalau kamu sudah kembali menjadi kamu yang dulu. Karena
sebelum-sebelumnya, ingat atau tidak, kamu belajar untuk menjauhiku.
Hingga sampailah kita semua pada situasi yang
sangat bingung. Bingung, bagaimana cara aku pulang. Langit sudah gelap, hujan
masih turun, dan tak ada satu pun di antara kalian yang searah jalan pulang
denganku. Awalnya teman-teman yang lain meminta kamu yang mengantarkanku
pulang. Tapi aku merasa tidak enak. Bayangkan, kamu mengantarku pulang dengan
menaiki angkot, lantas sesudahnya kamu masih harus mengejar angkot ke rumahmu.
Dan akhirnya, keputusannya, kalian semua yang mengantarku pulang (Aaak so
sweet...).
Singkat cerita, kita semua sudah berjalan di
jalanan komplek rumahku. Aku yang berpayung kuning keemasan berjalan di
sebelahmu yang menutupi kepala dengan almamater sekolah. Hujan masih turun. Dan
seharusnya aku membencinya. Tapi malam itu, aku seolah tak ingin hujan
berhenti. Hujan telah menahanmu untukku.
Aku jadi ingat sepenggal percakapan kita
malam itu.
"Kok hujannya gak berhenti-berhenti,
sih?" katamu.
"Kenapa coba gak berhenti?"
"Umm aku tahu kenapa. Soalnya kamu pingsan.
Kalau kamu gak pingsan, kamu kan
ada di atas nerangin semuanya biar gak ujan."
(Oh, Tuhaaan... bangunin Mawar! I just melted with
rains!)
Begitulah,
cerita konyol yang mungkin tak pernah kamu anggap penting. Tapi itu
cerita satu bulan yang lalu. Hah, sekarang, bisakah kamu kembali menjadi
kamu dalam cerita itu? Kak?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar