Jumat, 13 Desember 2013

Sepenggal Kisah Tak Penting


Aku bingung harus memulai cerita ini dari mana. Hmm.. mungkin bisa kumulai dengan sebuah pertanyaan. Baiklah, bahagia itu seperti apa? Ha ha ha, pertanyaan yang konyol.

Benar, konyol, seperti apa-apa yang membuat kita tak pernah saling menjadi siapa-siapa. Disadari atau tidak, sengaja atau tidak, kini kamu menjelma menjadi bongkahan es yang biasanya ada di sudut-sudut lemari pendingin yang sangat sukar untuk dikorek-korek. Haaa, intinya, kamu dingin sekarang. Kalau aku menyebut dinginnya kamu adalah kepribadianmu, kurasa itu salah. Karena kepada selainku, kamu sehangat teman, sehangat seorang konyol yang bicara dan tertawa tanpa membawa perasaan yang neko-neko. Kepadaku? Aah, like a stranger. Terbukti, dinginmu bukan tanpa alasan. Tapi apa alasannya? Alasan konyol yang kamu pegang tiga bulan yang lalu? Masih alasan yang sama? Kalau iya, boleh aku tertawa sekarang? Ha ha ha, menjalani waktu sekarang sepertinya bukan hal yang mudah. Maka dari itu, kilas-balik selalu aku lakukan. Paling tidak, itu membuatku ingat kalau kamu juga pernah menjadi seorang hangat yang selalu pandai membuatku tertawa tergeli-geli.

Kamu ingat tidak? Sekitar satu bulan yang lalu, di sebuah tempat yang penuh dengan air, hari sudah mulai gelap, hujan turun deras dan deras, lebih dan lebih, kamu menjelma menjadi seorang kamu yang, katakanlah, sangat peduli tentangku. Kuulangi, saat itu hujan turun sangat deras. Kita, bersama satu, dua, tiga, empat, ah... teman-teman yang lain ingin pulang sehabis praktik renang. Tapi nahasnya tak ada satu pun angkot yang sudi membawa kita (kalau inget ini Mawar jadi miris sendiri-_-). 

Saat itu perasaanku sudah tak keruan. Lebaynya, sudah pusing-pusing unyu. Entah apalagi yang terjadi, aku tak ingat pasti, karena saat itu aku memang sempat jatuh tak sadarkan diri (ini nyebelin tau gak). Yang aku ingat, saat aku bangun, di tempat yang saaangat gelap, ada sepasang mata yang menatap cemas. Benar, itu mata milikmu. Beberapa pertanyaan langsung menyerangku saat itu. Simply like, "Mawar gak apa-apa, kan?"; "Masih pusing gak?"; "Mau minum?". Ha ha ha, lucu sekali. Lebih lucu lagi, kalau aku ingat saat kamu rela menembus hujan hanya untuk membelikanku minyak angin. Setelahnya kamu duduk di depanku. Lantas bertanya, "Udah kuat belum?" Dengan lucu aku menjawab, "Mawar, mah, selalu kuat. Kan sailor moon..." Kamu hanya tertawa saat itu. Tawa yang benar-benar membuatku merasa tenang. Merasa kalau kamu sudah kembali menjadi kamu yang dulu. Karena sebelum-sebelumnya, ingat atau tidak, kamu belajar untuk menjauhiku.

Hingga sampailah kita semua pada situasi yang sangat bingung. Bingung, bagaimana cara aku pulang. Langit sudah gelap, hujan masih turun, dan tak ada satu pun di antara kalian yang searah jalan pulang denganku. Awalnya teman-teman yang lain meminta kamu yang mengantarkanku pulang. Tapi aku merasa tidak enak. Bayangkan, kamu mengantarku pulang dengan menaiki angkot, lantas sesudahnya kamu masih harus mengejar angkot ke rumahmu. Dan akhirnya, keputusannya, kalian semua yang mengantarku pulang (Aaak so sweet...).

Singkat cerita, kita semua sudah berjalan di jalanan komplek rumahku. Aku yang berpayung kuning keemasan berjalan di sebelahmu yang menutupi kepala dengan almamater sekolah. Hujan masih turun. Dan seharusnya aku membencinya. Tapi malam itu, aku seolah tak ingin hujan berhenti. Hujan telah menahanmu untukku.

 Aku jadi ingat sepenggal percakapan kita malam itu. 
"Kok hujannya gak berhenti-berhenti, sih?" katamu.
"Kenapa coba gak berhenti?"
"Umm aku tahu kenapa. Soalnya kamu pingsan. Kalau kamu gak pingsan, kamu kan ada di atas nerangin semuanya biar gak ujan."

(Oh, Tuhaaan... bangunin Mawar! I just melted with rains!)


Begitulah, cerita konyol yang mungkin tak pernah kamu anggap penting. Tapi itu cerita satu bulan yang lalu. Hah, sekarang, bisakah kamu kembali menjadi kamu dalam cerita itu? Kak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar