Ahren
menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang merah muda di sudut kamar. Helaan napas
ia hembuskan berat-berat, dengan mata yang mengarah pada langit-langit, namun
seperti menerawang hal yang tak ada di depan matanya. Di telinganya, bersarang
beberapa kalimat yang terus ia dengar seolah terekam.
“Egomu terlalu
tinggi, Daray.”
“Aku hanya ingin
teguh pada prinsipku.”
“Tapi prinsipmu
telah melukaiku.”
“Aku tahu itu,”
“Lalu?”
“Lupakan aku
kalau kau tak mau semakin terluka.”
Lagi, Ahren
memencak-mencak sembari terus mengacak seprai ranjangnya. Di kedua lembah
pipinya, telah ada dua anak sungai yang basah karena terlalu sulit mengubur
harapan.
Sejenak kemudian
ia berhenti, dengan napas yang masih agak memburu. Pandangannya masih menuju
langit-langit kamar. Namun yang tertangkap jelas oleh matanya, hanyalah wajah
orang pertama yang membuatnya jatuh cinta. Benar-benar jatuh.
“Biarkan aku
tertidur, Daray. Aku takut membuka mata....” lirihnya, yang tak sampai hitungan
ketiga, telah menutup mata dengan segala berat di sela-sela bulu matanya.
***
“Berhenti
merengek! Umurmu bahkan sudah menginjak kepala lima!”
“Ini sudah lewat
tengah malam. Apa kata orang kalau kau keluar dengan pakaian yang memamerkan
kedua pahamu ini? Tidak bisakah kau sedikit lebih menghormati suamimu?”
“Kalau aku tak
begini, kau, aku, juga Ahren tak akan makan. Lagi pula, di mana letak hal yang
bisa kuhormati darimu? Gajimu? Tubuhmu? Beritahu aku kalau ada. Maka akan
kubuang kursi roda bututmu itu!” cerca sang wanita kepada suaminya, sembari
sedikit menendang kursi roda di hadapannya, sesaat sebelum ia pergi.
Sementara di
dalam kamar, di balik pintu, Ahren terduduk dengan memeluk kedua lututnya.
Lutut yang basah oleh hujan yang ia ciptakan sendiri dari kedua matanya. Seisi
kepalanya, seolah memaksa ia untuk terus memvisualisasikan semua kalimat kasar
yang ia dengar dari mulut jalang sang ibu, juga kalimat pilu dari mulut getir
sang ayah.
Sudah sepuluh
tahun lamanya, semenjak kecelakaan maut merenggut kedua kaki sang ayah, Ahren
jadi hidup dalam duka yang tiada tahu di mana letak ujung. Keputusasaan seolah
memaksa sang ibu untuk mengambil jalan pintas. Karena pikirnya, tubuhnya cukup
mahal untuk memberi makan Ahren dan suami yang baginya sudah tak lagi berguna.
Hingga keangkuhan membuatnya lupa akan kodratnya sebagai istri. Membuat Ahren
selalu cemas, kalau-kalau ia akan menjadi istri yang sebegitu bengisnya.
“Biarkan aku
tidur, Ayah, Ibu. Aku takut membuka mata…” lirihnya, yang tak sampai hitungan
ketiga, telah menutup mata dengan segala berat di sela-sela bulu matanya.
***
“Ren,
bangunlah…”
Sepenggal
kalimat lembut itu menulusup ke dalam lubang telinga Ahren, lantas menariknya
dari dunia yang ia ciptakan sendiri dalam tidur. Berat-berat, ia membuka kedua
matanya, hingga sesosok indah menyesaki ruang di matanya. Daray.
“Se.. se..
sedang apa kau di sini?” tanya Ahren yang langsung terbangun lantas tergugup.
“Kau tertidur
selama kelas berlangsung.”
Kemudian Ahren
melemparkan pandangannya ke sekeliling. Ruangan yang hanya dipenuhi dengan
kursi juga meja, tanpa seseorang selain ia dan Daray.
“Apakah kelas
sudah selesai?”
“Ya,”
“Mengapa aku tak
dikeluarkan saja sedari tadi?”
“Dosen tadi tak
cukup peduli untuk mengurusi mahasiswa sejenismu.”
Ahren hanya
menatap Daray tanpa membalas ucap dari mulutnya. Lalu ia membuang tatapnya. Ke
segala arah, ke mana saja, asal bukan mata milik Daray.
“Mengapa kau
sering sekali tertidur saat kelas berlangsung?” Daray kembali membuka mulut.
“Aku hanya
menyukai tidur.”
“Kau sering
begadang?”
“Tidak. Aku
hanya tidur.”
“Terlalu banyak
tidur tak baik untuk kesehatanmu,”
“Terlalu banyak
terjaga tak baik untuk kedua mataku.”
Daray tertegun.
Diam. Ditatapnya kedua mata yang dihiasi lingkar hitam di bawahnya. Kedua mata
milik orang yang harus ia lupakan perasaannya.
“Baiklah, kalau
begitu aku pergi dulu.” katanya, sesaat sebelum ia membalikkan badan. Berjalan
tanpa menunggu jawaban dari Ahren.
“Daray?” Ahren
menghentikan langkah Daray. “Kapan kau akan mengajakku kencan?” lanjutnya,
membuat Daray bergeming tiba-tiba.
“Kubilang
lupakan aku. Lupakan perasaanmu.”
“Tapi kenapa?”
“Kau dan aku
jelas berbeda.”
“Berbeda
kaubilang? Kau juga sama denganku!”
“Itu dulu, Ahren! Sekarang aku
bukan Daray yang semenjijikan itu!”
Daray kembali
menghadap Ahren dengan memasang wajah yang entah seseram apa. Sementara Ahren,
hanya tergagu mendengar kalimat yang baru saja Daray ucapkan.
“Menjijikan kaubilang? Kau bilang
aku menjijikan?”
“Ya, maka
berhentilah menyimpan perasaanmu. Berhenti menjadi perempuan menjijikan.”
Kalimat itu,
kalimat terakhir yang telah berhasil mengantarkan kedua kaki Daray menuju jalan
pulang. Meninggalkan Ahren yang masih bergeming tak kunjung bergerak.
“Biarkan aku
tertidur, Daray. Aku takut membuka mata....” lirihnya, yang tak sampai hitungan
ketiga, telah menutup mata dengan segala berat di sela-sela bulu matanya.
***
Di seberang
jalan itu, seorang perempuan berdiri di tengah keramaian dan riuhnya laju
kendaraan. Ia terus berdiri di sana.
Hanya berdiri di sana
sejak dua jam yang lalu. Rambut panjangnya tersapu-sapu oleh angin yang dibawa
oleh mobil-mobil yang tak kenal rambu lalu lintas. Sedang matanya, terus
menatap pada zebra cross yang sedari tadi menemaninya dalam diam, di
antara ramai geraknya manusia.
Kemudian,
sekelabat ingatan-ingatan usang berputar-putar di dalam kepalanya. Mengamuk,
seolah memaksa ingin diputar kembali. Hingga ingatan-ingatan itu, berhasil
membawanya pada malam-malam kelam yang selama ini menjadi hidupnya. Malam,
ketika ia mendekap sesosok berambut panjang sepertinya. Malam, ketika ia
mencumbu sesosok indah penuh riasan di wajahnya, sama sepertinya. Malam, ketika
ia mendekap, mencumbu, sesosok cantik sama sepertinya.
Riuh klakson
memecah film kelam itu, lantas menyadarkan perempuan itu kembali tentang di
mana ia hidup dan sebagai siapa ia diciptakan. Kemudian dengan tetap menghela
napas, ia menenggakkan kepala, memandang langit yang mulai berubah kemerahan.
Di kedua matanya yang terenyuh, kepiluan benar-benar tersirat. Pilu bagai
disayat sembilu.
“Maafkan aku, Ahren.
Aku tak bisa mencintaimu. Tidurlah, dan biarkan aku mencintai lelaki,
sebagaimana mestinya.”
Kemudian
perempuan itu melanjutkan langkahnya. Perempuan itu terus berjalan. Perempuan
itu tak lagi menghentikan langkahnya, hingga ia hilang di tengah keramaian.
Perempuan itu,
Daray.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar