Selasa, 07 Januari 2014

Biarkan Ahren Tertidur


Ahren menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang merah muda di sudut kamar. Helaan napas ia hembuskan berat-berat, dengan mata yang mengarah pada langit-langit, namun seperti menerawang hal yang tak ada di depan matanya. Di telinganya, bersarang beberapa kalimat yang terus ia dengar seolah terekam. 

“Egomu terlalu tinggi, Daray.”
“Aku hanya ingin teguh pada prinsipku.”
“Tapi prinsipmu telah melukaiku.”
“Aku tahu itu,”
“Lalu?”
“Lupakan aku kalau kau tak mau semakin terluka.”

Lagi, Ahren memencak-mencak sembari terus mengacak seprai ranjangnya. Di kedua lembah pipinya, telah ada dua anak sungai yang basah karena terlalu sulit mengubur harapan.

Sejenak kemudian ia berhenti, dengan napas yang masih agak memburu. Pandangannya masih menuju langit-langit kamar. Namun yang tertangkap jelas oleh matanya, hanyalah wajah orang pertama yang membuatnya jatuh cinta. Benar-benar jatuh.

“Biarkan aku tertidur, Daray. Aku takut membuka mata....” lirihnya, yang tak sampai hitungan ketiga, telah menutup mata dengan segala berat di sela-sela bulu matanya.

***

“Berhenti merengek! Umurmu bahkan sudah menginjak kepala lima!”
“Ini sudah lewat tengah malam. Apa kata orang kalau kau keluar dengan pakaian yang memamerkan kedua pahamu ini? Tidak bisakah kau sedikit lebih menghormati suamimu?”
“Kalau aku tak begini, kau, aku, juga Ahren tak akan makan. Lagi pula, di mana letak hal yang bisa kuhormati darimu? Gajimu? Tubuhmu? Beritahu aku kalau ada. Maka akan kubuang kursi roda bututmu itu!” cerca sang wanita kepada suaminya, sembari sedikit menendang kursi roda di hadapannya, sesaat sebelum ia pergi.

Sementara di dalam kamar, di balik pintu, Ahren terduduk dengan memeluk kedua lututnya. Lutut yang basah oleh hujan yang ia ciptakan sendiri dari kedua matanya. Seisi kepalanya, seolah memaksa ia untuk terus memvisualisasikan semua kalimat kasar yang ia dengar dari mulut jalang sang ibu, juga kalimat pilu dari mulut getir sang ayah.

Sudah sepuluh tahun lamanya, semenjak kecelakaan maut merenggut kedua kaki sang ayah, Ahren jadi hidup dalam duka yang tiada tahu di mana letak ujung. Keputusasaan seolah memaksa sang ibu untuk mengambil jalan pintas. Karena pikirnya, tubuhnya cukup mahal untuk memberi makan Ahren dan suami yang baginya sudah tak lagi berguna. Hingga keangkuhan membuatnya lupa akan kodratnya sebagai istri. Membuat Ahren selalu cemas, kalau-kalau ia akan menjadi istri yang sebegitu bengisnya.

“Biarkan aku tidur, Ayah, Ibu. Aku takut membuka mata…” lirihnya, yang tak sampai hitungan ketiga, telah menutup mata dengan segala berat di sela-sela bulu matanya.

***
“Ren, bangunlah…”

Sepenggal kalimat lembut itu menulusup ke dalam lubang telinga Ahren, lantas menariknya dari dunia yang ia ciptakan sendiri dalam tidur. Berat-berat, ia membuka kedua matanya, hingga sesosok indah menyesaki ruang di matanya. Daray.

“Se.. se.. sedang apa kau di sini?” tanya Ahren yang langsung terbangun lantas tergugup.
“Kau tertidur selama kelas berlangsung.”

Kemudian Ahren melemparkan pandangannya ke sekeliling. Ruangan yang hanya dipenuhi dengan kursi juga meja, tanpa seseorang selain ia dan Daray.
“Apakah kelas sudah selesai?”
“Ya,”
“Mengapa aku tak dikeluarkan saja sedari tadi?”
“Dosen tadi tak cukup peduli untuk mengurusi mahasiswa sejenismu.”

Ahren hanya menatap Daray tanpa membalas ucap dari mulutnya. Lalu ia membuang tatapnya. Ke segala arah, ke mana saja, asal bukan mata milik Daray.

“Mengapa kau sering sekali tertidur saat kelas berlangsung?” Daray kembali membuka mulut.
“Aku hanya menyukai tidur.”
“Kau sering begadang?”
“Tidak. Aku hanya tidur.”
“Terlalu banyak tidur tak baik untuk kesehatanmu,”
“Terlalu banyak terjaga tak baik untuk kedua mataku.”

Daray tertegun. Diam. Ditatapnya kedua mata yang dihiasi lingkar hitam di bawahnya. Kedua mata milik orang yang harus ia lupakan perasaannya.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu.” katanya, sesaat sebelum ia membalikkan badan. Berjalan tanpa menunggu jawaban dari Ahren.

“Daray?” Ahren menghentikan langkah Daray. “Kapan kau akan mengajakku kencan?” lanjutnya, membuat Daray bergeming tiba-tiba.
“Kubilang lupakan aku. Lupakan perasaanmu.”
“Tapi kenapa?”
“Kau dan aku jelas berbeda.”
“Berbeda kaubilang? Kau juga sama denganku!”
“Itu dulu, Ahren! Sekarang aku bukan Daray yang semenjijikan itu!”

Daray kembali menghadap Ahren dengan memasang wajah yang entah seseram apa. Sementara Ahren, hanya tergagu mendengar kalimat yang baru saja Daray ucapkan.

“Menjijikan kaubilang? Kau bilang aku menjijikan?”
“Ya, maka berhentilah menyimpan perasaanmu. Berhenti menjadi perempuan menjijikan.”

Kalimat itu, kalimat terakhir yang telah berhasil mengantarkan kedua kaki Daray menuju jalan pulang. Meninggalkan Ahren yang masih bergeming tak kunjung bergerak.

“Biarkan aku tertidur, Daray. Aku takut membuka mata....” lirihnya, yang tak sampai hitungan ketiga, telah menutup mata dengan segala berat di sela-sela bulu matanya.

***

Di seberang jalan itu, seorang perempuan berdiri di tengah keramaian dan riuhnya laju kendaraan. Ia terus berdiri di sana. Hanya berdiri di sana sejak dua jam yang lalu. Rambut panjangnya tersapu-sapu oleh angin yang dibawa oleh mobil-mobil yang tak kenal rambu lalu lintas. Sedang matanya, terus menatap pada zebra cross yang sedari tadi menemaninya dalam diam, di antara ramai geraknya manusia.

Kemudian, sekelabat ingatan-ingatan usang berputar-putar di dalam kepalanya. Mengamuk, seolah memaksa ingin diputar kembali. Hingga ingatan-ingatan itu, berhasil membawanya pada malam-malam kelam yang selama ini menjadi hidupnya. Malam, ketika ia mendekap sesosok berambut panjang sepertinya. Malam, ketika ia mencumbu sesosok indah penuh riasan di wajahnya, sama sepertinya. Malam, ketika ia mendekap, mencumbu, sesosok cantik sama sepertinya.

Riuh klakson memecah film kelam itu, lantas menyadarkan perempuan itu kembali tentang di mana ia hidup dan sebagai siapa ia diciptakan. Kemudian dengan tetap menghela napas, ia menenggakkan kepala, memandang langit yang mulai berubah kemerahan. Di kedua matanya yang terenyuh, kepiluan benar-benar tersirat. Pilu bagai disayat sembilu.

“Maafkan aku, Ahren. Aku tak bisa mencintaimu. Tidurlah, dan biarkan aku mencintai lelaki, sebagaimana mestinya.”

Kemudian perempuan itu melanjutkan langkahnya. Perempuan itu terus berjalan. Perempuan itu tak lagi menghentikan langkahnya, hingga ia hilang di tengah keramaian.

Perempuan itu, Daray.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar