Minggu, 01 Juni 2014

Titik dalam Koma



Gulita berkuasa. Menyembunyikan langit senja yang pernah sepia. Walau begitu, setiap sudut kota Jakarta masih tetap menunjukkan geliat kehidupannya. Kemerlap lampu-lampu jalan semarak menggantikan kedipan bintang di angkasa. Dengan kaki-kaki yang terus memencar ke deretan bangunan yang menjejak paksa. Langkah yang berderap, mengarungi setiap jajar fashion store, mal, kafe, juga sebaris klub malam yang menempel pada padatnya isi kota. Angin selatan mengantar awan-awan hujan mendekat. Sementara tetes-tetes air saling berlomba, siapa yang lebih dulu terjun bebas mencium aspal-aspal ibu kota. Atau paling tidak, jatuh di atas atap tertinggi dari gedung tertinggi.

Sementara pria itu, Trian, dengan kemeja maroon pekat sewarna darah, masih sibuk membiarkan jemarinya berlarian ke kanan, ke kiri, atas, bawah; di atas papan keyboard komputernya. Kantornya sudah mulai sepi. Orang-orang yang berdiam di dalamnya sudah bisa dihitung dengan jari. Tapi seolah tak mengenal rumah, Trian sengaja mengurung diri dalam gedung dua puluh lantai itu, bersama berkas-berkas dan setumpuk proyek kantor yang enggan ia tinggalkan.

Sejenak, ia memberi jeda pada pekerjaannya. Merebahkan tubuh penatnya pada kursi hangat yang ia duduki. Gelengan halus acapkali menggerakan otot lehernya. Tampak garis-garis kerutan menggurat di beberapa titik wajahnya, seolah mengajaknya untuk merasakan lelah dan mendiktenya untuk menyerah. Lalu sembari menarik napas, ekor matanya terlempar pada jendela kaca yang basah. Butiran uap air mengambangkan bau basah ke udara, meninggalkan jejak-jejak gerimis yang mau habis.

“Kalau saja itu salju, pasti akan lebih indah.” gumamnya.

Kemudian, pintu yang sedari tadi rapat tertutup, kini terbuka perlahan. Suara derit pintu membuat Trian sedikit terhenyak. Detik yang sama, gelembung lamunannya pecah tak bersisa. Dalam gelombang nalurinya, pria itu segera memasang wajah enggan, seolah tahu siapa yang ada di balik pintu.

“Pulanglah saja. Aku mau di sini.” tukas Trian sembari kembali memalingkan perhatian pada jendela yang membingkai rinai hujan dan melelehkan atap-atap kota.

“Aku bukan ingin mengajakmu pulang. Aku hanya ingin melihat senyummu.”
Ujar seorang gadis dengan rambut berkuncir kuda yang entah muncul darimana. Tanpa gentar, ia melangkahkan kakinya menembus ambang yang terpisahkan oleh daun pintu. Seluruh tubuhnya basah kuyup.

“Tapi aku tidak sedang tersenyum, Marika.”

“Kalau begitu, aku akan membuatmu tersenyum, Tuan!” seulas senyum sumringah lahir di bibir gadis basah kuyup itu, Marika.

Trian menolehkan wajahnya ke satu arah. Lurus menjuruspada mata gadis itu. Wajah yang tampan, tampaknya tak satu paket dengan sesirat pun keramahan. “Kamu bermain hujan?”

“Aku lupa membawa payung.” akunya, dengan bonus senyum.

“Berhenti memasang wajah seperti itu. Kamu semakin terlihat seperti anak kecil.”

“Apakah ada yang salah dengan wajah seperti anak kecil?”

“Tentu. Kamu semakin terlihat tak pantas denganku.”

Di akhir senyumnya, Marika tertegun. Senyumnya mati. Di ceruk yang menampung kedua bulatan matanya yang berwarna cokelat, menyelinap seberkas pilu yang tertahan.

“Kau bahkan lebih dingin dari hujan yang membuatku basah kuyup.” Marika berlalu tanpa sepatah kata.

“Kau tak pantas mencintai pria sepertiku, Marika.”

Trian menghela napas berat. Tak bisa didustai, ada getir di setiap helaan napasnya. Ada rindu yang memilih terkubur dalam-dalam. Memang, sudah tiga tahun lamanya Trian membiarkan dirinya tersiksa dengan perasaan aneh yang mengacaukan segala janji yang telah ia sepakati. Ia masih benci mengakui bahwa ia telah jatuh untuk seorang gadis bernama Marika, putri dari teman SMA-nya. Putri dari seseorang yang telah hidup dalam hatinya sejak dari semula. Trian selalu merasa kalau ia tak bisa mencintai Marika. Cinta yang bukan pada tempatnya ini hanya akan membuat ia dan Marika dipandang sebagai pendosa oleh orang-orang di sekitarnya.



Kemudian dengan sendu yang masih pekat menggambari wajahnya, Trian mengemasi laptop dan barang-barangnya, bergegas untuk pulang. Lalu dengan cepat kakinya membawa ia keluar dari ruangannya.

Seisi kantor sudah mulai benar-benar sepi. Beberapa lampu bahkan sudah dimatikan. Sunyi. Hanya ketukan dari sepatu kulitnya yang mengisi kekosongan. Tak berapa lama, ia sudah sampai di depan lift. Lift yang bertuliskan 'rusak'.

“Sejak kapan lift ini rusak?”

Karena tak ingin berlama-lama mencari lift yang lain, Trian memutuskan menggunakan tangga darurat yang tak jauh dari lift. Awalnya semua terlihat wajar-wajar saja. Anak tangga demi anak tangga ia turuni dengan cepat. Namun ketika kakinya menginjak anak tangga yang entah keberapa, ia mematung. Pupil matanya yang mengecil memaku tatap pada sosok di ujung tangga.

Tubuh Marika tergeletak pada anak tangga yang dingin.
***
Marika terbangun dalam dunia yang putih. Matanya tersakiti oleh terang yang menyilaukan. Apa aku telah mati, tebaknya. Lalu, berbekal segenap keberanian, ia kembali mencoba membuka matanya. Ia terpana mendapati selang infus yang mengalirkan cairan bening penyuplai nutrisi tertanam di tangan kanannya. Sakit. Seluruh otot, jaringan, sel, di tubuhnya meregang membuatnya setiap saat mengerang.
Persetan dengan semua alat medis yang berdengung pelan dan berputar-putar memusingkan kepalanya. Satu-satunya obat penawar bagi segala keluhan penderitaannya hanya dia. Dia yang tak ada. Dimana pun itu.

“Sudah baikan?”

Namun tiba-tiba suara itu, yang begitu ia kenal sejak saat kehidupannya bermula, terdengar. Serak, berat, dengan sedikit bunyi sengau yang menggantung di tiap ujung kalimat. Marika menikmati suara itu khidmat. Kehadirannya dekat terasa. Hingga sosok pria itu benar-benar menyeruak, meskipun masih menyatu dalam kelam yang buram di penglihatannya. Ia yakin, dia disini.

“Terima kasih. Aku tahu kamu peduli..”

Lemah suara gadis itu berbisik. Si pria yang diterimakasihi hanya memutar mata. Senyumnya dipaksakan.

Tidak, security yang menyelamatkanmu. Tadi kebetulan hanya aku sendiri yang belum pulang. Karena itu kubantu kau ke sini.”

Marika merasakan basah di wajahnya. Tidak lagi. hujan telah usai, tapi derasnya masih bisa ia rasakan lewat bulir air yang bergulir. Mengalir jauh dari pelupuk mata, yang merupakan satu-satunya jendela bagi siapa pun untuk melihat ke dalam dunianya. Ada amarah dan kecewa yang memberangus hatinya hingga hitam.

Marika menggusar dalam diam. Jatuh dari tangga darurat yang menyebabkan tak kurang dari empat tulang rusuknya remuk tentulah bukan hal biasa. Sebabnya, Marika inginkan lebih dari sekadar perhatian dingin ini. Abainya pria itu rupanya telah menggantungkan rasa obsesi berkepanjangan dalam diri Marika
***

Perempuan itu, Marika, masih berbaring di sana, di ranjang rumah sakit yang ada di kamar 203. Ia bukan sedang berbaring lemah, atau tak sadarkan diri karena tubuhnya masih dalam keadaan tak baik. Ia hanya sedang membolak-balikkan badannya ke kanan lalu ke kiri, lantas memaku pandangan kelesahnya ke arah kaca jendela kamarnya. Marika bahkan lebih fokus terhadap kesepiannya ketimbang sakit yang ada di tubuhnya.

Kemudian, sunyi siang yang sedari tadi menerik itu, terpecah oleh suara derit pintu yang tiba-tiba terbuka perlahan. Marika membuyarkan segala risaunya, lantas menoleh ke arah pintu yang jaraknya tak lebih dari dua meter darinya itu. Betapa kecewanya Marika, saat sosok yang muncul dari balik pintu bukanlah sosok Trian, melainkan Karen, teman sekolahnya.

“Hei, Mar!” sapa Karen dengan lengkung manis di bibirnya yang terus mengembang, yang kemudian duduk di kursi yang ada di samping ranjang Marika.

“Apakah aku sudah mempersilakan kamu duduk, Nona Karen?” ledek Marika.

“Ah, kamu, Mar. Sedang sakit pun masih saja menyebalkan.”
“Tumben kamu sensitif? PMS?”

Karen hanya tertawa mendengar pertanyaan Marika. Bagi Karen, menghubung hubungkan sifat sensitif perempuan dengan pre-menstrual syndrome ini adalah hal yang terlalu tak pantas dikatakan cerdas.

“Huh, jadi, bagaimana keadaanmu?”

“Aku tak baik.”

“Ah, lekas sembuh, dong. Kelulusan, kan, sebentar lagi. Kurang dari satu bulan lagi!”

“Oh, ya?”

“Yap. Jadi, siapa yang akan menemanimu di acara kelulusan nanti?”

Marika sedikit tertegun mendengar pertanyaan yang baru saja diajukan oleh Karen. Siapa.. siapa.. siapa.... Pertanyaan yang diawali dengan kata tanya ini, baginya, tak akan ada jawabannya.

“Hm, tak ada. Kau pun tahu aku tak punya ibu, ataupun ayah.”

“Tapi, bukankah pria itu—”

“Dia bukan ayahku. Tak ada setetes pun dari darahnya yang mengalir dalam tubuhku.”
***
Hari tak lagi terik. Menjelang twilight, sang mega tengah asik bermain dengan lapisan warna yang terang menggradasi di bentang kanvas cakrawala. Membaurkan merah, kuning, ungu, dan biru bersama gulungan gemawan. Sambil tak henti mengicaukan jerit yang menoreh langit, burung-burung kecil hilir mudik mencari ranjang tidurnya. Matahari yang mengintip dari ufuk barat sana, menambah elok pemandangan menjelang petang. Tuhan memang selalu pandai melukis senja.

Sementara di ranjang itu, Marika tertidur dengan masih memakai setelan biru muda khas rumah sakit. Infus dan kabel-kabel menghubungkannya ke monitor yang mendengung sayup. Kemudian, sementara Marika menjelajahi dunia yang hanya dimilikinya sendiri dalam tidur, sosok Trian datang dengan membawa segala risau yang tak tahu di mana letak garis akhir.

“Apakah kau tertidur? Apakah kau benar-benar teridur?”

Suara yang keluar dari mulut manis Trian begitu terdengar parau, begitu bergetar. Seolah terlalu banyak kata-kata yang tak mampu ia keluarkan, lantas tersangkut di batang tenggorokannya.

“Wajahmu... Kau benar-benar mirip dengan ibumu,”       

Perlahan namun benar-benar pasti, ada bulir-bulir pilu yang sudah bersiap untuk menjadi anak sungai di kedua lembah pipi tirus milik pria itu.

“Kau tahu, Marika? Ibumu adalah perempuan yang baik semasa SMA. Kuharap kau juga bisa sebaik ibumu.” Trian menyunggingkan sebuah senyum.

“Jangan mengejar apa yang tak pantas kaukejar. Ingat, usiaku sudah menginjak kepala empat. lanjutnya, suaranya semakin bergetar.

Kemudian, setelah ia merasa cukup dengan segala klausa yang baru saja ia ucapkan, kedua kakinya bergegas membawanya keluar dari kamar yang mulai dipenuhi sembilu, sembari kedua matanya menyeka lembut air mata yang sedari tadi berjatuhan dari sang pelupuk. Lantas setelah seluruh tubuhnya lenyap di pintu itu, ada kedua mata yang laun-laun membuka. Pelan, terisi oleh segala tetes-tetes getir.

Marika menangis bersama senja.
***

Tujuh belas nol lima. Trian datang membawakan satu nampan penuh makanan untuk Marika. Nasi lembek, sup tak berasa, dan air minum yang tak mampu meluruhkan pahit akibat tetes-tetes cairan infus yang masuk melalui aliran darah. Marika pasti menolak makan jika tak dipaksa, tapi ia belum juga berani untuk bertatapan langsung dengan sepasang mata itu. Mata Marika serupa lautan hitam yang tenang menenggelamkan. Sekali tatap, ia pasti akan tercebur, berenang-berenang di lautan cintanya yang tercecer.

“Aku bawakan makanan untukmu. Makanlah..”

Marika yang melamun dengan wajah merindu seketika tergugah ketika kedatangan pria itu memeluk rasa sendirinya. Pria itu tak menutup pintu yang dibukanya. Kalimat yang datar tertera dalam ruang dengarnya itu lebih pantas disebut perintah. Kehadirannya tak lama, karena seusai meninggalkan nampan makanan di atas meja, pria itu berlalu. Mencampakkannya entah untuk ke berapa ratus kalinya.

Marika menatap pilu makanan yang belum disentuhnya itu. Tiba-tiba, sebetik ide menyusup ke tempurung kepalanya. Menyelinap, lalu perlahan resap dalam rancangan pemikirannya yang tak lagi putih. Dalam sekejapan mata, Marika melesat dengan nampan makanan di tangan. Pintu toilet itulah tujuannya.
***
Trian membanting setir mobilnya ke parkiran rumah sakit yang gelap. Menghabiskan waktu di jalan dengan perasaan gamang memang membahayakan. Laun-laun, bayang Marika memenuhi kedua retinanya, membuat Trian semakin kalang-kabut. Ia tak mau gadis itu merasa ia perhatikan, ia pedulikan. Tapi walau bagaimanapun, gadis itu tetap memenuhi satuan-satuan terkecil pergantian waktunya. Obat untuk rindu terlarang ternyata adalah paksaan untuk kembali.

Meski terhuyung, Trian akhirnya kembali ke kamar 203. Ia masuk dengan tak sedikit pun menoleh kepada Marika, lantas terus melangkah menuju pintu toilet yang tak jauh dari ranjang besi itu.

Air mengucur deras dari keran. Tumpah dalam tampungan tangannya. Lebih baik rasanya. Ah, tapi ia perlu sabun untuk meluruhkan bau keringat lengannya. Tapi tak ditemuinya cairan itu dimana pun. “Bagaimana bisa toilet rumah sakit sebesar ini tak memiliki setetes pun sabun?” keluhnya, lalu dengan langkah berat, Trian keluar.

Marika tersenyum selembut bubur sumsum yang mendingin dalam nampan
makan. Ketika akhirnya Trian benar-benar pergi dengan tujuan untuk datang kembali. Trian menggaruk belakang kepalanya. benar saja, gadis itu belum menyentuh sedikit pun nampan berisi makanan yang dua puluh menit lalu ia tinggalkan. Dengan terpaksa, Trian mengambil satu suap bubur, lalu berpaling ke arah Marika yang menyambutnya dengan mulut terbuka.

“Kenapa harus menungguku, untuk memakan ini?” desah Trian kecewa.

Apa kau benar-benar tak bisa mencintaiku?” Marika menatap Trian, tepat di mata.

Hanya sekejap, karena pria itu segera membuang muka. Marika tersenyum. Marika tahu jawabannya.

“Hentikan, Marika. Mana mungkin aku mencintai kau yang terlahir dari perempuan yang tak kuharapkan..”

Marika mematung. Kemudian, ingatannya kembali pada masa-masa kelam yang tak ingin ia ulangi. Pada malam, di mana kedua tangannya berhasil mengusir istri pria itu dari hidupnya. Ia tersenyum tipis, saat ingat betapa manisnya ketika ia berhasil mencekik mati perempuan yang menghalangi jalannya.

“Apa kau tahu berjuang itu tidak mudah?” lagi, Marika mengajukan tanya.

“Apa yang kau perjuangkan?”

“Dirimu! Kau tahu? Menerjang hujan, lift yang rusak, sampai menjatuhkan diriku sendiri dari tangga. Semua itu karenamu! Demi kamu!”

“Marika… kau… lalu untuk apa kau berjuang?! Untuk apa kaulakukan ini?!”

“Untuk kita. Paling tidak untuk mendengarmu, sekali saja, menyatakan cinta.”

Marika mulai menangis. Isaknya yang lirih membuat kata-katanya samar tertelan bunyi yang tak lagi jernih. Trian menatapnya kosong.

“Tidak bisa. Aku sudah tua.”

Marika menatapnya tak mengerti. Kenapa kamu tak pernah mengerti aku,
mata itu berbicara.

“Kubilang aku mencintaimu!”

Trian menggeleng. “Tetap tidak bisa.”

“Maka biarkan aku mati..”

“Untuk apa lagi?”

“Agar aku bisa kaukenang..”

Marika menelan suapan terakhir di nampan makannya yang telah tandas. Sebelum hitungan kedua ratus, sebelum malaikat yang sengaja ia undang mengetuk pintu kamarnya, Marika kembali bersuara.

“Aku mencintaimu, sejak kali pertama ibuku menjadi istrimu, lalu kau memintaku untuk memanggilmu dengan sebutan ayah…,”

Getar suara Marika menyeruak dalam keterbatasan waktunya. Trian mendadak panik. Menggila.

“Aku mencintaimu, bodoh!” Deras air mata pria itu membanjiri kedua pipi tirusnya, sesaat setelah ia mengucapkan kalimat yang selama ini sengaja ia kubur.

Marika tersenyum tipis.

“Aku tahu, tak pernah ada perjuangan yang sia-sia, Ayah…,”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar