Selamat malam, Tuan. Apakah kau sudah tidur? Kalau sudah, kau tidak perlu bangun hanya untuk menjawabnya. Lelapkan saja tubuhmu, dan biarkan aku bercerita kepada malam yang sendu.
Aku ingin bercerita, kepada malam, tentang senja yang kehilangan jingga, yang menciptakan kita. Kala itu kita tak saling mengenal. Namun, kau tetap tersenyum, seperti teman, atau lebih? Aku di belakangmu, duduk menyamping, menikmati angin juga langit yang terus menggelap. Kau tetap berlalu, membawaku. Berlalu sangat cepat, secepat angin, atau lebih?
Kemudian malam bertanya, "apakah hanya senja yang tersisa?" Aku menggeleng. Lalu kuceritakan tentang hujan, begitu deras, begitu manis. Aku masih ingat bagaimana kedua matamu menusukku untuk yang pertama kalinya. Tidak, tidak terasa sakit. Sama sekali tidak terasa sakit. Aku hanya sedikit kesulitan bernapas saat itu. Bagaimana tidak? Tatapmu telah melenyapkan oksigen, juga dunia. Aku tersenyum, lalu memalingkan wajah pada langit. Masih hujan. Masih begitu deras. Masih begitu manis.
Sejenak, aku menghela napas. Tersenyum, lalu melanjutkan ceritaku. Kini bukan tentang senja atau hujan, melainkan tentang hari yang kukira bukanlah hari yang terakhir. Di sana, di sebuah ruang kelas yang dingin, aku bernapas. Tiga detik kemudian, aku hilang napas. Di sana, di sederet anak tangga itu, kau melangkah naik. Aku mematung. Kau terus berjalan. Satu.. dua.. tiga.. lima.. delapan.. mataku masih tak bergerak. Sementara kau menghilang ditelan dinding pembatas. Aku tersenyum.
Lalu menangis ketika tahu itu adalah yang terakhir.
"Kau tidak bisa bertemu lagi dengannya?" tanya malam. Aku hanya menggeleng tak tahu. Lagi, aku menghela napas. Menatap malam yang semakin diam. Sunyi. Senyap.
Kalau boleh meminta, aku ingin meminta satu hal, Tuan. Datanglah ke sana, ke tempat di mana waktu untuk kita benar-benar akan berhenti. Aku yakin, kau sendiri juga pasti paham bagaimana sakitnya perpisahan tanpa selamat tinggal. Jadi, datanglah untuk melambaikan tangan, untuk mengucapkan selamat tinggal, untuk membiarkanku pergi.
Bagaimana, Tuan? Apakah kau mau? Tuan? Tuan? Tuan? Kok Tuan diam saja? Ah, aku lupa. Tuan, kan, sedang tidur.
Selamat tidur, Tuan.
Selamat tidur, Nona.
BalasHapusAh Tuan :))
Hapus