dia berjalan penuh lunglai
tubuh kurus dibalut kain usang
telapak kaki sentuh kulit jalan
melangkah ditemani sebatang kayu
tak kalah lunglai dengan kakinya
terik mentari terhiraukan
seolah kulit sudah kebal dengan sang panas
tetesan pelu arti perjuangan
gantungkan hidup pada jalanan bising
rupiah kecil dilempar lembut
oleh tangan-tangan di balik kaca mobil
mungkin iba melihanya
sosok tua pemburu kepingan koin
yang tak sebanding dengan laparnya
miris,
teringat negeri sudah merdeka
tapi dia tetap hidup dengan pelu payahnya
seolah negeri tak miliki induk
apakah negeri sudah buta?
sudahkah tuli?
abaikan sosok lunglai seperti dia
undang seribu apa dan seribu mengapa
seribu yang tak terjawab
oleh bibir sang induk negeri
mungkin sudah suratan hidupnya
jelajahi pinggiran demi raih si kenyang
tapi ketahuilah,
ini sungguh bukan inginnya
semuanya
segalanya
hanya wujud dari pengabaian negeri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar