Lebih dari setengah tahun kiranya, aku berjalan bergandengan dengan lelaki yang tak kukenali sebelumnya. Lelaki yang selalu mampu melelapkan tidurku, dengan bunga tidur yang ia perani. Lelaki yang selalu mampu mengundang senyumku, walau tak semua senyum dituangkan di bibir. Satu-satunya lelaki yang membuatku rela menunggu, betapapun lamanya. Lelaki yang kusebut itu kamu. Ya, kamu.
Kamu tahu? Pesan hasil jentikan jemarimu dan suara lembutmu yang mengalir di ujung telepon, masih dan selalu menjadi kesukaanku. Demi membaca satu pesan singkatmu, menunggu seharian penuh pun tak akan kukenal dengan nama masalah. Demi sepuluh menit mendengar suaramu, menunggu sampai terkantuk pun senyumku tetap mengembang, walau dalam hati tentunya.
Mungkin sudah seharusnya berjalan seperti ini. Kamu yang pergi dan aku yang menunggumu kembali. Tapi tenang, hal ini tak akan bernamakan masalah. Tidak akan. Karena mungkin ini juga kesalahanku. Salahku yang memiliki waktu yang terlalu longgar, tidak seperti kebanyakan orang di seberang sana. Sehingga yang kulakukan hanya menunggumu. Tak ada lagi selain itu. Masih dan selalu.
Aku menunggu, walau bulir-bulir perih datang menggoda air pelupuk mataku. Tapi tenang, aku tak semudah itu menangis, aku kuat, aku cukup kuat. Aku hanya akan menangis ketika sudah saatnya airmata itu pecah. Kalau masih bisa manahan, tentu akan kutahan, tak akan jatuh airmata itu. Tenang saja. Kamu, setujukah bahwa aku kuat? Tentu. Karena aku memang kuat. Bila tidak, mungkin setiap harinya aku akan mengeluh. Bila tidak, mungkin sedari lama aku berhenti berjalan bergandengan denganmu.
Tenang saja, perasaanku adalah masih dan selalu. Betapapun lama aku menunggu. Betapapun jauh jaraknya. Betapapun keras setiap harinya. Betapapun bulir-bulir perih tak henti menggoda. Aku masih diriku. Sampai waktu tiba tuk berhenti, sampai itu pula aku menjadi perempuanmu.
Dan tenang, aku tidak akan berhenti menunggu. Tentunya sampai waktuku diberhentikan Tuhan. Aku tetap diriku, perempuanmu. Dan tenang, bila kamu tak datang hari ini, maka hari ini akan tetap kujadikan hari ini, tak ada besok. Aku tidak ingin membatasi penantianku dengan nama-nama hari. Dan lagi, tenang, rasaku ini masih dan selalu menjadi rasaku. Rasa teruntuk kamu. Tunjukkan, seberapa indah kamu untuk kuperjuangkan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar