Halo, Tuan. Bagaimana kabarmu hari ini? Kalau kabarku baik, baik-baik saja. Ya, aku memang selalu baik-baik saja, bukan? Kau sedang apa di sana? Kalau aku di sini sedang bertahan. Benar, bertahan untuk mendayungi perahu yang sama bersamamu. Ada begitu banyak rasa yang hadir selama aku bertahan. Begitu banyak, sampai tak semua kusampaikan.
Aku masih ingat, rasanya mendayung bersamamu saat kita masih dekat tepian. Begitu ringan, begitu aku lupa pada waktu. Walau perahu melaju tak secepat kereta. Namun kunikmati benar, inci demi inci lajunya. Bersamamu, pagiku, senjaku, begitu sarat dengan arti. Matahari terbit dan matahari terbenam terlihat lebih cantik, bagai dilukis Tuhan langsung. Aku terhanyut. Tak lagi peduli pada air laut yang sebenarnya kutakuti. Hal ini kurasakan tak bukan karena kau. Karena aku, mendayung bersamamu.
Namun ternyata lautan yang kita telusuri terlalu luas. Aku bahkan tak tahu apa laut ini 'kan berujung. Belum kurasakan ujungnya jatuh ke retinaku. Dan ada yang berbeda, papan dayungku terasa lebih berat ketimbang saat kita di tepian. Laju perahu melemah. Jangankan kereta, dengan siput saja kita kalah cepat. Padahal tanganku lengkap menggenggam dua papan dayung. Padahal keringatku terkuras tiada hentinya. Entah berapa trilyun tetes keringat yang jadi korban. Namun tetap saja, perahu kita seolah tak bergerak. Begitu berat.
Aku masih mendayung bersamamu, bukan? Lalu ada apa? Apa yang salah? Papan dayungmu tenggelam sebelah? Atau tanganmu terkilir? Atau ada celah bocor di perahu kita? Atau... kau tenggelam di lautan yang lain? Aku terus mendayung dan mendayung, sembari otakku dijamah beribu tanda tanya. Tanya yang diam, tak berjejak.
Rasanya mual. Aku mabuk laut. Air laut yang dulu tak lagi aku takuti, kini takut itu menghampiri lagi. Napasku begitu terpompa, lemas. Hampir kuhilang kesadaran. Hampir hilang napas. Hampir aku putus asa. Begitu, begitu, begitu ingin berhenti mendayung. Begitu ingin tenggelam sendiri di lautan yang bernama menyerah.
Namun tak sebentar aku tersadar, itu hanya inginku, bukan butuhku. Aku hanya menginginkannya, tapi sungguhpun aku tak membutuhkannya.
Aku tahu, aku hanya butuh dayungku. Dan dayungku hanya butuh dayungmu. Dengan kata lain, aku hanya butuh mendayung bersamamu. Mungkin sesak bila aku berhenti. Mungkin hilang rupa pagi dan senja. Mungkin bisa benar mati. Maka dari itu, mendayunglah seperti dulu, mendayung sekuat dulu. Kalau cinta, bukan hanya aku yang mendayung. Kalau cinta, bukan hanya aku yang berkeringat.
Karena sekali lagi, butuhku hanya kau. Karena aku ingin bersamamu, maka aku membutuhkanmu. Karena begitu banyak mimpi bersamamu yang belum terselesaikan, maka aku membutuhkanmu untuk membantu menyelesaikannya.
Jadi kumohon, mendayunglah. Mendayung hingga lelah, hingga sangat lelah, hingga amat sangat lelah. Hingga akhirnya tak lagi kenal rasa lelah. Bersediakah, Tuan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar