Sabtu, 11 Mei 2013

Karena Aku Mawar


Anggap saja aksara-aksara ini merah pekat warnanya. Merah menyala. Aksara merah yang tandakan bahwa yang menulisnya adalah sekuntum mawar, mawar merah. Ya, namaku Mawar. 

Kau sudah tahu, bukan? Seharusnya. Karena aku adalah mawar yang kaupilih untuk kemudian kaupetik. Aku adalah mawar yang kelopaknya hangat kau peluk dalam doa. Aku adalah mawar yang harumnya lembut kau cium juga dalam doa. Aku masih sekuntum mawar. Sampai gunung terbalik pun, aku tak akan rubah rupa. Ya, namaku Mawar. 

Aku begini. Aku mencintaimu dengan cara begini, caraku. Merahku lambangkan berani dalam menghardik setiap salahmu. Mahkota lembutku bak bantal yang kusediakan untuk penopang lelahmu. Batang hijauku ada untuk memperkuat langkahmu, langkah dalam dunia milikmu. Begitu berani, begitu lembut, dan begitu kuat, ialah dasar yang kugenggam untuk aku bersamamu. Ya, namaku Mawar.

Namun rupanya kau lupa akan sesuatu hal. Kecil memang, tapi adanya melengkapi adaku. Kau tahu apa itu? Benar, duriku. Aku juga mencintaimu dengan duriku. Aku mencintaimu dengan perihku. Jangan pikir duri ini adalah wujud dari si benci. Jangan coba enyahkan si duri. Karena sekali kau buat satu duri hilang, maka duri lainnya akan berat untuk melangkah kepadamu. Dan mungkin di situlah, saat-saat di mana aku menapaki titik jenuh. Sudah kubilang, duriku mencintaimu. Entahkah kau akan terima ataukah tidak, duriku tetaplah pelangkap dalam caraku mencintaimu. Ya, namaku Mawar.

Kalau juga ingin bersamaku, jangan hanya ingin elokku saja. Ambilah juga sakitku, segala yang bernama perih dalam adaku. Genggamlah duri-duri mungil ini. Biarkan mereka merasakan manis, hangat, dan lembut dari sentuhan darahmu. Biarkan mereka masuk melalui celah kecil dari luka di kulitmu. Biarkan mereka menyatu dengan adamu. Biarkanlah.

Karena setiap mawar miliki duri, maka cukuplah jadikan aku sebagai satu-satunya mawarmu. Mawar yang mencintaimu dengan manis, lagi pahitnya. Ya, karena aku adalah Mawar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar