Kamis, 20 Februari 2014

Caraku Untukmu


: Tuxedo Bertopeng

As long as I can see you, everything will never be problem. It’s always be okay.

Sebelumnya aku nggak tahu apa sebenarnya definisi ‘jatuh’ yang tepat, Kak. Namun setelah aku membentuk kalimat di atas, aku sekarang mengerti apa itu jatuh; mengerti kalau aku sedang jatuh. Ah iya, maksudku kalimat pertama pada tulisan ini, jadi kamu tak perlu mencari kalimat itu ke atas langit-langit kamarmu, Kak.

Oh ya, kamu tau nggak, Kak, apa yang sedang aku tekuni sekarang? Merayu-rayu mama untuk memberikan izin menonton pentas musikalisasi puisimu bulan depan. Kamu—mungkin—tidak tahu kalau mamaku itu over protective, but I love the way she used to. I love the way she love me.

Hmm… The way to love.

Cara orang mencintai itu memang berbeda-beda, ya, Kak. Aku jugalah orang, so, caraku untukmu juga berbeda. Menunggumu di depan pintu kelas, menahan lapar agar tetap bisa diam di kelas saat kamu juga ada di sana, menikmati setiap degup jantung yang lebih cepat karenamu, mengkhawatirkanmu dalam diam, tersenyum saat kau tertawa, merapal namamu dalam doa. That’s all my way. The way I love you.

People say, that care too much to person who always ignore you is too bad. It’s like one-sided love. And at least, it’s too hurt. But not for me.

Aku juga nggak mengerti, Kak, di mana letak lukanya. Mencintai dan dicintai itu perkara berbeda. Selama ego tidak menguasai diri, cinta satu sisi nggak melulu sakit. Kalau bisa dibikin bahagia, kenapa masih menciptakan kata ‘luka’?

Oh ya, jangan lupa doakan aku, ya, Kak, biar mama membolehkan aku menonton pentasmu. Suka-suka kamulah kapan mau berdoa. Asal paling tidak, sekali saja kamu berharap aku bisa menontonmu

Ummm… My english is too bad by the way. But at last, I can say that I love you.


Salam bulan,
Sailor Moon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar