Aku tak sendiri, Sayang, tapi aku menantimu
Memahat luka pada dinding-dinding
hati yang lembut
Menangis,
Ditangisi,
Lalu tertawa
Aku tak sendiri, Sayang, tapi aku menantimu
Mencampakkan tiap kelopak mawar
dengan segala tulusnya
Mematahkan segala kukuh sang
tangkai
Bersama deraian sayang yang mati
untukmu
Aku tak sendiri, Sayang, tapi aku menantimu
Menjelma selaksa percikan api yang dingin
Mengabukan segala manis
Menenung kasih menjadi hangus
Milik mereka yang elok
untukku
Aku tak sendiri, Sayang, tapi aku menantimu
Maka datanglah,
Sebelum terlalu banyak hati yang
mati karenaku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar