“Takdirnya
memang begitu. Tak ada senja kalau bintang sudah tiba.”
***
Di atas bukit itu, ia melepaskan
pandangan pada pepohonan yang tampak lebih pendek darinya. Tatapannya begitu
takjub. Di ujung sana, kedua matanya terisi penuh oleh langit kemerahan, dengan
gemawan yang tersebar tipis-tipis. Gadis itu, Senja, selalu merasa seribu kali lebih
bahagia ketika langit jingga berkuasa.
“Mentang-mentang, nama kamu Senja.”
Suara Langit memecahkan takjubnya.
Dadanya berdebar cepat. “Mau apa ke sini?” tanyanya datar.
“Mau nengok senja.” jawabnya
singkat. “Kenapa nggak gabung sama peserta lain?” Ia balik bertanya, sembari melemparkan
pandangan ke arah peserta penanaman pohon yang lainnya.
“Nggak apa-apa.”
“Hm… kamu suka senja?”
“Kalau nggak suka ngapain aku di
sini?”
“Kalau aku?”
Senja tertegun. Lidahnya kaku.
“Kamu suka aku?” Langit kembali
bertanya. Sementara Senja hanya diam. Matanya masih terus menerawang langit.
“Hahaha… aku bercanda! Serius banget
mukanya!” Tawa lelaki itu pecah.
“Aku suka.” lirih Senja.
Langit mematung, tawanya hilang.
“Langit!” Suara lain datang. Bintang,
gadis yang sudah menemani Langit satu tahun ini. Tak lama, Senja bangkit.
Meninggalkan Langit yang masih bergeming.
“Kamu suka senja?” tanya Bintang,
sembari menidurkan kepalanya di bahu Langit.
Langit hanya diam. Ia melemparkan
pandangannya ke arah senja yang mulai hilang. Laun-laun, ia menghela napas,
dengan berat.
“Iya, aku suka Senja.”
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar