Rabu, 09 September 2015

Senja yang Menghilang



Takdirnya memang begitu. Tak ada senja kalau bintang sudah tiba.

***

            Di atas bukit itu, ia melepaskan pandangan pada pepohonan yang tampak lebih pendek darinya. Tatapannya begitu takjub. Di ujung sana, kedua matanya terisi penuh oleh langit kemerahan, dengan gemawan yang tersebar tipis-tipis. Gadis itu, Senja, selalu merasa seribu kali lebih bahagia ketika langit jingga berkuasa.
            “Mentang-mentang, nama kamu Senja.”
            Suara Langit memecahkan takjubnya. Dadanya berdebar cepat. “Mau apa ke sini?” tanyanya datar.
            “Mau nengok senja.” jawabnya singkat. “Kenapa nggak gabung sama peserta lain?” Ia balik bertanya, sembari melemparkan pandangan ke arah peserta penanaman pohon yang lainnya.
            “Nggak apa-apa.”
            “Hm… kamu suka senja?”
            “Kalau nggak suka ngapain aku di sini?”
            “Kalau aku?”
            Senja tertegun. Lidahnya kaku.
            “Kamu suka aku?” Langit kembali bertanya. Sementara Senja hanya diam. Matanya masih terus menerawang langit.
            “Hahaha… aku bercanda! Serius banget mukanya!” Tawa lelaki itu pecah.
            “Aku suka.” lirih Senja.
            Langit mematung, tawanya hilang.
            “Langit!” Suara lain datang. Bintang, gadis yang sudah menemani Langit satu tahun ini. Tak lama, Senja bangkit. Meninggalkan Langit yang masih bergeming.
            “Kamu suka senja?” tanya Bintang, sembari menidurkan kepalanya di bahu Langit.
            Langit hanya diam. Ia melemparkan pandangannya ke arah senja yang mulai hilang. Laun-laun, ia menghela napas, dengan berat.
            “Iya, aku suka Senja.”             


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar