Lelaki
itu datang melayang entah dari mana. Tubuh kosongnya menembus hujan yang masih
turun dengan deras. Tampak, ada kalung yang berbentuk patahan hati menggantung
di lehernya. Ia berhenti di sana, di kerumunan pejalan kaki itu. Di bawahnya, para
manusia berkumpul, melingkari tubuh yang semakin kaku penuh darah.
Ia mematung. Rasanya, seperti ada
yang berdebar di dadanya, walau jantungnya sudah lama mati.
“Aku sudah mati,” Suara perempuan di
bawahnya menggema.
Lelaki itu tertegun. Didekatinya perempuan
itu dengan pelan.
“Kenapa kau mati?”
“Aku tidak tahu. Aku tak ingat apa
pun.”
“Ya, kau memang akan hilang ingatan
kalau sudah kemari.”
“Kau juga begitu?”
Lelaki itu mengangguk. Kemudian, ia
melemparkan pandangannya pada mayat di bawah kakinya. Dilihatnya, ada kalung
patahan hati di sana.
“Kita punya kalung yang sama.”
Perempuan itu hanya diam. Pipinya membasah. Entah hujan, entah airmata.
Hujan masih turun begitu deras. Sementara para manusia, masih sibuk
mengurusi sang mayat yang semakin beku.
Beberapa dari mereka hanya menonton, beberapa lagi mempertanyakan bagaimana
perempuan itu mati.
“Bunuh diri,” jawab salah seorang
dari mereka.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar