Begini, bayangkan ada satu bintang redup di langit malam. Redup, namun damai, dan semua bintang peduli akan redupnya.
Tapi tak berapa lama, bintang itu semakin diredupkan oleh bintang yang lebih redup darinya; yang paling redup. Nahasnya, semua bintang beralih kepada bintang yang paling redup itu. Semua, bahkan sang bulan.
Tahu rasanya menjadi si bintang redup yang pertama itu? Rasa sakitnya dilupakan. Cahaya redupnya dilupakan. Dilupakan oleh semua bintang yang kini hanya peduli pada redupnya bintang yang kedua; yang paling redup.
Bintang redup –yang pertama– lelah. Menjadi terang bukanlah kemampuannya. Pun menjadi redup rupanya, jugalah bukan takdirnya. Ia hanya ingin menjadi bintang yang cahayanya mampu membuat bintang lain tak kalah berpendar, dan menjadi bintang yang redupnya mampu meredupkan segala bintang, bahkan sang bulan.
Ialah aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar