Semua
gelap. Kemudian, perlahan kubuka kedua mata. Sedikit demi sedikit cahaya
menyerbu retinaku. Rasanya berat, seperti ada batu besar menindih mata. Hingga
hitungan ke dua puluh satu, langit-langit ruangan berukuran 3 x 3 meter
memenuhi pandanganku.
“Kamu
udah bangun?”
Sebuah
suara lembut namun dingin mengisi gendang telingaku yang sebelumnya kosong.
“Aku
di mana?” tanyaku lemah.
“UKS,
tadi kamu pingsan.”
Aku
cepat-cepat bangun, menyadari suara itu adalah suara Adnar. Lelaki yang
belakangan ini membuat jantungku terpompa lebih cepat. Mataku langsung tajam menujunya. Kuperhatikan
Adnar lekat-lekat. Ia duduk dengan earphone
yang menggantung di telinga. Matanya fokus tertuju pada playlist di MP3-nya. Ia diam. Benar-benar diam.
“Ini,
apel buatmu.”
Akhirnya
ia membuka mulut.
“Darimu?”
“Bukan,
dari Fakih.”
“Kupikir
darimu….” lirihku kecewa.
“Hm,
kamu pikir buat apa aku ngasih apel kepada perempuan yang dengan entengnya
nyatain perasaan duluan? So funny.” katanya, dengan mata yang masih menatap lekat
MP3-nya.
“I don’t think so. Aku pikir, kamu
peduli.”
“Lucu,”
“Tapi
kamu ada di sini. Nemenin aku.”
“Aku
belum siap ikut ulangan ekonomi. Jadi terpaksa, aku temenin kamu di sini, dan
sebentar lagi, bel berbunyi.”
Aku
bergeming. Napasku sedikit memberat. Kemudian kualihkan pandanganku pada
dinding UKS. Seorang perempuan yang menyatakan perasaannya. Ya, itu aku.
“Lepas
earphone-mu. Kamu bahkan nggak memutar
lagunya.” kataku, dengan tatapan yang sama dingin dengan sikapnya. Tapi ia
tetap diam, tak mendengar suaraku. Lebih tepatnya, pura-pura tak mendengar.
Kuhela
napas perlahan. “Kamu keluar aja, aku mau istirahat.”
Tak
butuh waktu lama hingga ia meninggalkan kursi yang ia duduki. Ia berjalan
keluar, tanpa ada suaranya yang membekas di gendang telingaku.
Niiit… Niiit…. Ponselku
bergetar. Satu pesan masuk.
From: Fakih
27/09/2013 09.50
Udah mendingan? Apelnya makan, ya! :D
Sekali
lagi, napasku memberat. Tuhan, andai aku tak jatuh cinta….
***
“Hey, Bro! Ngelamun aja.” Fakih menepuk pundak Adnar yang sedang melamun sembari
terus mengunyah batagor.
“Alila gimana? Udah sehat belum dia?”
“Gak tahu, gak ngurusin.”
“Yah, lo gimana, sih, temen sekelasnya
juga.”
Tak ada tanggapan apa pun dari Adnar.
Masih dengan wajah yang tak ada warna. Datar sekali.
“Gue nitip apel lagi, ya, buat Alila.” kata
Fakih sembari memberikan bungkusan plastik berisi beberapa buah apel.
“Kenapa gak lo kasih sendiri aja?”
“Ogah, malu, ha ha.”
“Kalau gitu gue juga ogah.”
“Yah. Kok, lo gitu banget sama sahabat
sendiri. Bantuin guelah.”
Adnar menoleh sejenak ke arah Fakih. Ia
diam. Seperti menemukan kalimat yang salah dari ucapan Fakih tadi.
“Ya, ntar gue kasih.”
“Nah, gitu, dong! Gue duluan, ya. Tugas
biologi belum kelar.”
Secepat kilat Fakih berlalu dari
pandangan Adnar. Meninggalkan Adnar sendiri di bangku memanjang yang ada di
kantin itu. Pelan-pelan, Adnar sedikit menenggakkan
wajahnya. Menghela napas berat-berat, dengan wajah yang penuh dengan
kegundahan.
“Maaf, Alila. Kamu jangan lupa, bahwa
aku adalah sahabat dari orang yang menganggapmnu segalanya.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar