Minggu, 29 September 2013

Terkubur

Semua gelap. Kemudian, perlahan kubuka kedua mata. Sedikit demi sedikit cahaya menyerbu retinaku. Rasanya berat, seperti ada batu besar menindih mata. Hingga hitungan ke dua puluh satu, langit-langit ruangan berukuran 3 x 3 meter memenuhi pandanganku.
“Kamu udah bangun?”
Sebuah suara lembut namun dingin mengisi gendang telingaku yang sebelumnya kosong.
“Aku di mana?” tanyaku lemah.
“UKS, tadi kamu pingsan.”
Aku cepat-cepat bangun, menyadari suara itu adalah suara Adnar. Lelaki yang belakangan ini membuat jantungku terpompa lebih cepat.  Mataku langsung tajam menujunya. Kuperhatikan Adnar lekat-lekat. Ia duduk dengan earphone yang menggantung di telinga. Matanya fokus tertuju pada playlist di MP3-nya. Ia diam. Benar-benar diam.
“Ini, apel buatmu.”
Akhirnya ia membuka mulut.
“Darimu?”
“Bukan, dari Fakih.”
“Kupikir darimu….” lirihku kecewa.
“Hm, kamu pikir buat apa aku ngasih apel kepada perempuan yang dengan entengnya nyatain perasaan duluan? So funny.”  katanya, dengan mata yang masih menatap lekat MP3-nya.
I don’t think so. Aku pikir, kamu peduli.”
“Lucu,”
“Tapi kamu ada di sini. Nemenin aku.”
“Aku belum siap ikut ulangan ekonomi. Jadi terpaksa, aku temenin kamu di sini, dan sebentar lagi, bel berbunyi.”
Aku bergeming. Napasku sedikit memberat. Kemudian kualihkan pandanganku pada dinding UKS. Seorang perempuan yang menyatakan perasaannya. Ya, itu aku.
“Lepas earphone-mu. Kamu bahkan nggak memutar lagunya.” kataku, dengan tatapan yang sama dingin dengan sikapnya. Tapi ia tetap diam, tak mendengar suaraku. Lebih tepatnya, pura-pura tak mendengar.
Kuhela napas perlahan. “Kamu keluar aja, aku mau istirahat.”
Tak butuh waktu lama hingga ia meninggalkan kursi yang ia duduki. Ia berjalan keluar, tanpa ada suaranya yang membekas di gendang telingaku.
Niiit… Niiit…. Ponselku bergetar. Satu pesan masuk.
           
      From: Fakih
    27/09/2013 09.50
   
    Udah mendingan? Apelnya makan, ya! :D

Sekali lagi, napasku memberat. Tuhan, andai aku tak jatuh cinta….

***
“Hey, Bro! Ngelamun aja.” Fakih menepuk pundak Adnar yang sedang melamun sembari terus mengunyah batagor.
“Alila gimana? Udah sehat belum dia?”
“Gak tahu, gak ngurusin.”
“Yah, lo gimana, sih, temen sekelasnya juga.”
Tak ada tanggapan apa pun dari Adnar. Masih dengan wajah yang tak ada warna. Datar sekali.
“Gue nitip apel lagi, ya, buat Alila.” kata Fakih sembari memberikan bungkusan plastik berisi beberapa buah apel.
“Kenapa gak lo kasih sendiri aja?”
“Ogah, malu, ha ha.”
“Kalau gitu gue juga ogah.”
“Yah. Kok, lo gitu banget sama sahabat sendiri. Bantuin guelah.”
Adnar menoleh sejenak ke arah Fakih. Ia diam. Seperti menemukan kalimat yang salah dari ucapan Fakih tadi.
“Ya, ntar gue kasih.”
“Nah, gitu, dong! Gue duluan, ya. Tugas biologi belum kelar.”
Secepat kilat Fakih berlalu dari pandangan Adnar. Meninggalkan Adnar sendiri di bangku memanjang yang ada di kantin itu. Pelan-pelan, Adnar sedikit menenggakkan wajahnya. Menghela napas berat-berat, dengan wajah yang penuh dengan kegundahan.
“Maaf, Alila. Kamu jangan lupa, bahwa aku adalah sahabat dari orang yang menganggapmnu segalanya.”
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar