Di sudut kamar, di cermin terujung, tempat segala haru menghitam. Menyeruak di antara butir kerikil pedih yang mengudara. Sang gadis terduduk, menggigit gigi sendiri. Dengan kedua mata tanpa bolanya, ia menatapku yang juga tak lepas mata, dari duri kasih yang patahkan bulir-bulir harap.
Seperti menahan napas, kupilih 'tuk mengubur segala asa. Yang setia mengalunkan dentum-dentum rindu, dalam dada.
Kepada gadis tak berbola mata, aku bertanya, "Bila tak mau jatuh, mengapa pilih 'tuk jatuh?" Aku menggeram. Senandung perih ia gumamkan.
Kepada gadis tak berlidah, aku kembali menggurat tanya. "Masih sudi menyebut namanya?" Lantas jarum jam berhenti berdetak. Segala bergeming. Pun tetes hujan yang menggantung kian mematung di tengah mega.
Kepada gadis tak bernyawa, kusalahkan ia atas segala. Kurangkul bahu yang menopang selaksa beban. Maka dengarlah, wahai Gadis: jangan sudi menatap, kalau mau tak hilang kedua bola mata; jangan sudi menyebut namanya, kalau mau tak putus lidah; jangan mau menjatuhkan cinta, kalau takut kehilangan diri sendiri.
Kepadamu, gadis dalam cermin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar