Rabu, 04 Maret 2015

Koma


"Jadi apa pilihanmu? Mau hidup bersama kabel-kabel itu, atau mati?"
Pria berpakaian serba hitam itu melayang-layang di kamar ini. Memutari bangsal yang sudah berbulan-bulan ditiduri oleh tubuhku yang koma.
"Belum tahu. Aku masih menunggu."
"Menunggu apa lagi? Menunggu kekasihmu menancapkan pisau ke dadamu, lalu menikahi gadis lain?"
"Dia tidak seperti itu."
"Ah, benar, kau ini belum sepenuhnya mati. Makanya jalan pikiranmu masih seperti manusia. Dangkal. Hanya mengutamakan perasaan."
Aku hanya diam mendengarkan ocehan dari pria serba hitam itu, sembari terus menatap tubuhku yang kaku dengan mata yang lekat tertutup.
"Kalau kekasihmu mengkhianatimu, bagaimana?" tanya pria serba hitam yang kini duduk di atas lemari. Mengayun-ayunkan kedua kakinya, dan menggerakkan kedua tangannya seolah ia adalah seorang konduktor orkestra.
"Dia tidak seperti itu."
"Aku beri tahu, ya, menunggu itu tak enak. Aku rasa, dia akan sangat bahagia kalau kau pergi sekarang. Kenapa kau tetap tak mau pergi?"
"Kau sendiri kenapa masih di sini? Bahkan tanpa tahu di mana tubuhmu. Menunggu apa?"
Pria serba hitam itu melayang turun. Kemudian bergerak mendekat ke arahku. Ke arah tubuhku.
"Aku menyukai seseorang, tetapi dia tak ingat aku. Aku menunggunya, agar sedikit saja dia mengerti."
"Dia manusia?"
"Kambing."
"Hahaha, ternyata kau memiliki selera humor yang baik. Padahal kau bukan manusia."
Kami sama-sama tertawa. Lalu tak lama, pintu terbuka, tawa kami menghilang. Seorang pria berkemeja putih masuk bersama perempuan cantik di sampingnya. Mereka mendekati tubuhku.
"Dia masih begini?" tanya perempuan itu.
"Ya, entah sampai kapan. Kau akan menunggu, kan?"
"Tentu saja.
"Aku hanya akan pergi kalau dia sudah pergi. Jadi, kita hanya akan menunggu hingga dia benar-benar pergi. Menyusul konduktor gila itu."
"Konduktor gila?"
"Ya, lelaki yang memimpin orkestranya. Dia bunuh diri setelah tahu Emira akan menikah denganku."
Aku mematung. Pupil mataku membulat. Perlahan kutengok pria serba hitam. Ia melayang di sudut kamar. Mengayunkan tangannya, sembari menggumamkan irama Pachelbel's Canon in D. Pipinya basah. Matanya merah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar