"Jadi apa pilihanmu? Mau hidup bersama kabel-kabel
itu, atau mati?"
Pria berpakaian serba hitam itu melayang-layang di kamar
ini. Memutari bangsal yang sudah berbulan-bulan ditiduri oleh tubuhku yang
koma.
"Belum tahu. Aku masih menunggu."
"Menunggu apa lagi? Menunggu kekasihmu menancapkan
pisau ke dadamu, lalu menikahi gadis lain?"
"Dia tidak seperti itu."
"Ah, benar, kau ini belum sepenuhnya mati. Makanya
jalan pikiranmu masih seperti manusia. Dangkal. Hanya mengutamakan
perasaan."
Aku hanya diam mendengarkan ocehan dari pria serba hitam
itu, sembari terus menatap tubuhku yang kaku dengan mata yang lekat tertutup.
"Kalau kekasihmu mengkhianatimu, bagaimana?"
tanya pria serba hitam yang kini duduk di atas lemari. Mengayun-ayunkan kedua
kakinya, dan menggerakkan kedua tangannya seolah ia adalah seorang konduktor
orkestra.
"Dia tidak seperti itu."
"Aku beri tahu, ya, menunggu itu tak enak. Aku rasa,
dia akan sangat bahagia kalau kau pergi sekarang. Kenapa kau tetap tak mau
pergi?"
"Kau sendiri kenapa masih di sini? Bahkan tanpa tahu
di mana tubuhmu. Menunggu apa?"
Pria serba hitam itu melayang turun. Kemudian bergerak
mendekat ke arahku. Ke arah tubuhku.
"Aku menyukai seseorang, tetapi dia tak ingat aku.
Aku menunggunya, agar sedikit saja dia mengerti."
"Dia manusia?"
"Kambing."
"Hahaha, ternyata kau memiliki selera humor yang
baik. Padahal kau bukan manusia."
Kami sama-sama tertawa. Lalu tak lama, pintu terbuka, tawa
kami menghilang. Seorang pria berkemeja putih masuk bersama perempuan cantik di
sampingnya. Mereka mendekati tubuhku.
"Dia masih begini?" tanya perempuan itu.
"Ya, entah sampai kapan. Kau akan menunggu,
kan?"
"Tentu saja.
"Aku hanya akan pergi kalau dia sudah pergi. Jadi,
kita hanya akan menunggu hingga dia benar-benar pergi. Menyusul konduktor gila
itu."
"Konduktor gila?"
"Ya, lelaki yang memimpin orkestranya. Dia bunuh diri
setelah tahu Emira akan menikah denganku."
Aku mematung. Pupil mataku membulat. Perlahan kutengok
pria serba hitam. Ia melayang di sudut kamar. Mengayunkan tangannya, sembari
menggumamkan irama Pachelbel's Canon in D. Pipinya basah. Matanya merah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar