“Memangnya, jatuh cinta itu harus
melihat siapa dia?”
Aku melemparkan pertanyaan itu dengan
mata yang hampir mau meledak. Bibirku sudah bergetar, menahan segala luapan
perasaan yang selama ini hanya aku kubur sendirian.
“Setidaknya, kautahu dia pantas atau
tidak untuk kaujatuhi cinta.”
“Bukan dia, tapi kau.”
“Baiklah. Setidaknya, kautahu aku pantas
atau tidak un—“
“Pantas.”
Aku memotong perkataannya. dengan menggenggam
erat sendok kecil, di hadapan secangkir kopi yang satu jam lalu masih panas.
Benar, sudah satu jam aku dan lelaki ini duduk berhadapan dengan perasaan hitam
yang mengelilingi kami. Rasanya, seperti seisi kedai kopi ini telah kehilangan
aura manisnya.
“Lupakan saja tentang perasaanmu, Terra.”
“Jadi, menurutmu, kau tidak pantas untuk
kujatuhi cinta?”
Ia hanya mengangguk pelan, sembari mengaduk-aduk
kopi yang, aku yakin, rasanya pasti sangat pahit.
“Lain kali, kalau kau jatuh cinta, kau
harus melihat juga siapa orangnya. Jangan jatuh cinta sambil tutup mata. Ah ya,
sebentar lagi Rory menjemput, jadi jangan tunjukkan wajah menangismu di depannya.
Aku tidak mau dia mengira ada yang terjadi di antara kita.”
“Deka, bukankah kau juga jatuh cinta
sambil tutup mata?”
Ia hanya diam.
“Sudah, jangan menangis lagi.”
Deka mengangkat tangannya, lalu
menghapus aliran perih yang membasahi kedua lembah pipiku. Tak lama, masuklah seorang
lelaki bertubuh tinggi dan kekar. Rory menghampiri kami dengan mata yang tajam.
“Ah, kau sudah datang? Maaf, barusan ada
sesuatu yang masuk ke mata Terra. Jangan salah paham, ya.”
Rory hanya tersenyum. Tatapan tajamnya
menghilang.
“Kalau begitu aku pergi, ya, Ter. Sampai
jumpa.” ucap Deka sembari berlalu, bersama Rory. Tampak, Deka melingkarkan
tangan kanannya di tubuh Rory.
Lalu tiba-tiba saja, mataku terasa
perih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar