Selasa, 17 Maret 2015

Jangan Jatuh Cinta Sambil Tutup Mata

“Memangnya, jatuh cinta itu harus melihat siapa dia?”

Aku melemparkan pertanyaan itu dengan mata yang hampir mau meledak. Bibirku sudah bergetar, menahan segala luapan perasaan yang selama ini hanya aku kubur sendirian.

“Setidaknya, kautahu dia pantas atau tidak untuk kaujatuhi cinta.”
“Bukan dia, tapi kau.”
“Baiklah. Setidaknya, kautahu aku pantas atau tidak un—“
“Pantas.”

Aku memotong perkataannya. dengan menggenggam erat sendok kecil, di hadapan secangkir kopi yang satu jam lalu masih panas. Benar, sudah satu jam aku dan lelaki ini duduk berhadapan dengan perasaan hitam yang mengelilingi kami. Rasanya, seperti seisi kedai kopi ini telah kehilangan aura manisnya.

“Lupakan saja tentang perasaanmu, Terra.”
“Jadi, menurutmu, kau tidak pantas untuk kujatuhi cinta?”

Ia hanya mengangguk pelan, sembari mengaduk-aduk kopi yang, aku yakin, rasanya pasti sangat pahit.

“Lain kali, kalau kau jatuh cinta, kau harus melihat juga siapa orangnya. Jangan jatuh cinta sambil tutup mata. Ah ya, sebentar lagi Rory menjemput, jadi jangan tunjukkan wajah menangismu di depannya. Aku tidak mau dia mengira ada yang terjadi di antara kita.”
“Deka, bukankah kau juga jatuh cinta sambil tutup mata?”

Ia hanya diam.

“Sudah, jangan menangis lagi.”

Deka mengangkat tangannya, lalu menghapus aliran perih yang membasahi kedua lembah pipiku. Tak lama, masuklah seorang lelaki bertubuh tinggi dan kekar. Rory menghampiri kami dengan mata yang tajam.

“Ah, kau sudah datang? Maaf, barusan ada sesuatu yang masuk ke mata Terra. Jangan salah paham, ya.”

Rory hanya tersenyum. Tatapan tajamnya menghilang.

“Kalau begitu aku pergi, ya, Ter. Sampai jumpa.” ucap Deka sembari berlalu, bersama Rory. Tampak, Deka melingkarkan tangan kanannya di tubuh Rory.

Lalu tiba-tiba saja, mataku terasa perih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar