Jumat, 20 Maret 2015

Isyarat


Katanya, ketika kau kehabisan kata, maka kau hanya bisa menyampaikannya dengan airmata. Kataku, ketika aku kehabisan kata, maka aku akan menyampaikannya dengan cinta.

***

Hari ini, di tepi danau kecil ini, aku menunggunya.

Angin terus berembus dari arah selatan. Membuatku harus memeluk tubuhku sendiri agar dingin tak begitu menusuk. Langit di atas kepalaku hampir seluruhnya tertutupi gelap, padahal hari baru berjalan setengahnya. Desember memang selalu pandai mempermainkan waktu, bukan?

Aku duduk di rerumputan yang agak basah ini sembari terus menatap ke layar laptopku. Sudah seminggu ini, aku menghabiskan hampir seluruh waktuku sembari memutar banyak video yang mengajarkanku bagaimana menyusun kata dengan jari dan tangan yang kupunya. Aku benar-benar harus menguasai bahasa isyarat untuk hari ini dan hari-hari yang akan datang.

Sudah satu jam,” kataku dalam hati sembari melirik jam tangan.

Ya, terkadang memang tak mudah membuat pertemuan dengan gadis yang, sepertinya, tak lama lagi akan datang.

Gadis itu bernama Erin—aku begitu menyukai namanya. Erin berarti damai. Ya, gadis itu memang penuh dengan kedamaian, Kedamaian dalam sebuah kesunyian.

Dan hari ini, hari kedua puluh tujuh di bulan Desember, aku akan mengungkapkan sesuatu yang orang sebut dengan cinta, kepada Erin. Aku tersenyum kecil sembari menutup kedua mataku

Tak lama, kurasakan embusan napas di sampingku. Kubuka kedua mata, menengok ke kanan, dan kudapati gadis damai itu telah duduk dengan senyuman.

Kau sudah datang?” tatapku bertanya padanya.
Maaf aku terlambat,” balas kedua mata teduhnya.

Aku hanya tersenyum, lalu melemparkan kedua mataku ke arah langit yang tiba-tiba saja tak lagi ditutupi gelap. Sial, gadis ini memang pandai mempermainkan Desember.

Laun-laun, kuhela napas. Mengumpulkan segala keberanian dalam dadaku. Aku mengedipkan mata berkali-kali. Berharap, tak akan ada tatapan luka siang ini.

Kemudian, kutatap gadis bernama Erin. Mencoba masuk ke dalam kedua matanya, masuk ke dalam dunia damainya. Lalu, kuangkat tanganku sejajar dengan dada. Mengepalkan jemariku, hanya menyisakan telunjuk dan jari tengah yang bersentuhan, lalu mengapit ibu jariku dengan jemari yang lain. Aku memainkan jemari dan tanganku, hingga membentuk sebuah kalimat. Sebuah kalimat yang selalu manusia gunakan untuk menyanjung yang terkasih. Sebuah kalimat, yang akan menentukan tatapan luka itu datang atau tidak.

Erin diam dengan segala kedamaian yang ia miliki. Kedua matanya terus terpaku pada permainan jemari dan tanganku. Tampak, matanya sedikit berair.

Benarkah?” balasnya, juga dengan sebuah permainan jemari dan tangan.

Aku mengangguk pelan. “Benar, aku menyukaimu.”

Suaraku sedikit gemetar, mungkin karena gugup. Sementara gadis yang penuh kedamaian itu, hanya tersenyum dengan sebuah tatapan bahagia.

Lalu semenjak saat itu, langit tak lagi gelap hingga Desember habis, bahkan hingga tahun yang lainnya datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar