"Puisi ini..." suara lembut keluar dari bibir manis si tokoh dalam puisiku itu. Ia seperti terkagum-kagum membacanya. Apakah ia sadar bahwa dialah yang ku tuliskan dalam puisi itu?
"Kenapa? Ada yang salah ya?" tanyaku sedikit sumringah berharap dapat jawaban yang aku inginkan; berharap hatinya terpeka.
"Ah, gak kok, gak apa-apa. Puisi kamu keren, Kin."
"Hanya itu? Itu biasa saja," ucapku dengan nada tak sesumringah tadi. Sedikit kecewa mendengar jawabannya.
"Biasa dari mana? Ini tuh keren. Ngena banget! Saking kenanya aku gak bisa bilang ini sekedar puisi, ini... pasti surat cinta buat seseorang kan???? Hayo ngaku! Hahaha,"
Gelak tawanya benar-benar seolah membuatku membatu. Setidakpeka itukah hatinya? Jelas-jelas sosoknya yang tersirat disana!
"Apasih sok tahu banget!"
"Cie... ngambek,"
"Gak!"
"Ih kamu, aku cuma bercanda, Kin, kamu ini sensitif ya, gitu aja ngembek."
"Siapa yang ngambek? Wo..."
Aku berusaha seolah tak rasakan apa-apa. Berpura-pura lupa tentang apa dan siapa yang tersirat dalam deretan sajak itu.
"Eh iseng banget!" ujarnya dengan sedikit campuran tawa.
Dia, Rio. Lelaki yang selama ini melatarbelakangi puisi-puisiku. Kami bersahabat sedari dulu. Dari mulai Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas ini kami selalu satu sekolah, bahkan satu kelas. Lantas, jika hubunganku dengannya ada karena persahabatan hangat yang menahun, lalu tidak boleh aku mencampur aduknya dengan perasaan lain? Cinta misalnya.
***
Wanita itu menggenggam erat tangan Rio di hadapanku. Mengisi setiap celah dari jemarinya. Kepalanya bersandar manja di pundak Rio yang gagah itu. Sementara tangan kirinya tak henti memainkan ponselnya dengan mickey mouse yang bergantung disana.
"Jadi kamu gak mau ikut?" Rio kembali bertanya.
"Ah, gak usah, aku takut ganggu kalian,"
"Kamu ini, kayak orang lain aja. Ayo ikut!"
"Gak usah, aku ma..."
"Yang, ayo... aku laper, kalo Kinan gak mau ya udah jangan dipaksa. Kita aja berdua..."
Kalimatku terpotong oleh kalimat manja dari bibir berlipstick merah muda itu. Ia merengek sambil menggoyangkan tangan Rio. Ah, aku benci melihat adegan ini.
"Iya.. sebentar yang..." ucap Rio dengan sabarnya. Aku bingung, bagaimana bisa Rio tahan menghadapi wanita semanja ini.
"Kamu yakin gak mau ikut?"
"Nggak! Aku mau pulang. Kamu pergi aja!" intonasi bicaraku meninggi. Rupanya, aku telah lebih dulu terpancing oleh suasana semenjijikkan ini.
"Kalo gitu, aku duluan ya!"
Belum sempat aku menjawab, Rio sudah membalikkan badan. Mencoba untuk berlalu dari hadapanku. Berjalan jauh dan semakin jauh. Hanya punggung gagahnya yang terlihat dari sini. Dan tentunya, genggaman yang ia belitkan di jemari wanita itu yang masih enggan untuk ia lepaskan. Sebut saja Rena. Wanita yang kini berperan sebagai pemilik mutlak hati Rio. Wanita yang hadirnya tak pernah ku harapkan. Wanita yang ku harapkan tak pernah masuk ke dunia Rio.
***
Aku duduk di jendela kamar yang terbuka lebar itu. Angin malam mulai menusuk pengapnya ruangan kamar ini. Menggigit dingin setiap lapisan kulitku yang hanya dibalut kaos pendek tipis berwarna merah ati.
Tak lama kemudian, gemingnya malamku terpecah oleh dering ponsel mungil yang sedari tadi tertidur diatas meja belajar. Aku beranjak menghampirinya. Dan ternyata, 'Rio' terpampang di layar ponselku.
"Halo?"
"Kinan? Kamu dimana sekarang?" terdengar suara lembut yang terisak di seberang sana.
"Aku di rumah. Ada apa, Yo?"
"Aku di depan rumah kamu. Tolong keluar ya,"
Panggilan terputus seketika. Ada apa ini? Dengan hati yang dipenuhi tanya itu aku beranjak keluar kamar dan setengah berlari menuju teras rumah. Sesampainya disana, aku membuka cepat kedua pintu berwarna putih itu. Dan benar saja. Ada sosok Rio berdiri di baliknya. Ia menggigil. Matanya sembab. Hidungnya memerah seperti habis menangis. Dan tiba-tiba saja, tubuh gagahnya mendekap erat tubuhku.
"Kinan... bantu aku, aku harus gimana..."
Suara terisak di telepon tadi, kini kembali kudengar langsung dari bibirnya yang menggigil itu. Ku rasakan pundakku membasah tertetesi air yang jatuh dari pelupuk mata sembabnya. Rio menangis.
"Yo? Kamu kenapa???"
"Aku gak apa-apa. Rena yang kenapa-kenapa. Rena, Kin. Rena..."
Aku diam mendengar nama itu terucap dari lipatan bibirnya. Aku enggan bertanya lagi. Aku benci nama itu.
"Rena kecelakaan. Dia tertabrak saat hendak keluar dari mobil. Rena kecelakaan, Kin, kecelakaan..."
Kalimat yang diucapkan Rio seolah menyuruhku untuk membuka mulut. Sementara pundakku, semakin dibuat basah oleh airmata yang jatuh menderas itu.
"Rena dimana sekarang?"
"Dia di rumah. Dia udah pulang,"
"Lho? Kamu bilang ta..."
"Dia pulang ke tangan Tuhan."
Kalimatku kembali terpotong. Tapi bukan lagi terpotong oleh suara manja itu, melainkan suara lirih terisak yang berhasil mengunci mulutku. Aku benar-benar tak mempu berkata-kata. Aku tak berani bertanya lagi.
"Dia meninggal, Kin... Dokter itu payah! Dokter itu gak bisa selametin Rena!"
Tangisnya makin tersedu-sedu. Kedua lengannya makin erat memeluk tubuhku. Aku benar-benar dibuat diam olehnya.
"Aku harus gimana... Harus gimana..."
Aku masih diam. Tak kuasa rasanya untuk keluar satu patah kata sekalipun. Entahlah, nafasku seolah terhenti disini juga. Tuhan mengabil Rena? Karena apa? Harapanku?
"Kinan..."
Rio masih tersedu. Sementara aku masih menutup mulutku rapat-rapat. Ada rasa senang mendengar Rio menyebut namaku, tanpa embel-embel nama Rena. Tapi, apa pantas aku begini setelah kepergian Rena? Aku hanya memeluk tubuhnya lebih erat lagi. Aku bisa merasakan benar tangis yang juga terisak di hatinya.
Kalau begitu, apa artinya ini? Tuhan benar-benar mengambil Rena? Lalu aku? Haruskah aku jadi pengganti Rena? Berhenti mencintai Rio diam-diam, dan datang menghapus setiap tetes airmatanya. Menghapus luka yang menghujam jantungnya? Ataukah... tetap mencintai Rio dengan caraku? Mencintai Rio dalam diam? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu untuk memeluknya lebih erat dari ini. Pelukan basah bercampur airmatanya. Tetaplah menangis, Rio. Tetaplah dalam pelukku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar