Aku duduk di bangku memanjang itu. Di dalam angkot; kereta kencanaku. Aku duduk di tempat terpojok disini, dekat kaca lebar yang ada di belakang. Ini memang tempat favorite-ku. Disini, aku terbiasa membiarkan fantasiku kabur meliar sambil memandangi jalanan yang terlebih dulu dilewati angkot ini. Fantasi tentang dia, pastinya. Pemilik senyum maut yang membuatku jadi pecandu.
***
Matahari sudah cukup tinggi diatas sana. Dengan setengah berlari, aku memasuki gerbang sekolahku. Hari ini aku memang terlambat. Dan seharusnya, kelas sudah dimulai sedari tadi. Aku berlari melawati koridor kelas-kelas lain yang terlihat sudah memulai kegiatan KBM-nya. Nafasku, benar-benar terpompa sekarang. Ada sedikit mengumpat dihati; kenapa kelasku harus sejauh ini dari gerbang? Ah...
Tiba-tiba lariku terhenti. Aku jatuh dengan posisi duduk tepat di depan anak tangga menuju lantai dua. Kulihat ada sepasang sepatu bersimpul rapi berdiri di hadapanku. Ternyata, aku bertabrakan dengan seseorang! Dengan nafas yang masih terpompa, aku mencoba menenggakkan kepalaku untuk melihat siapa pemilik sepasang sapatu ini yang telah membuatku semakin tertinggal jam pelajaran.
Dan... astaga! Mataku terpekik melihat sosok lembut yang berdiri di hadapanku itu. Itu dia! Dia! Pemilik senyum maut itu!
"Kamu gak apa-apa?" suara lembut bercampur panik menyentuh gendang telingaku. Dan ini, kali pertama aku mendengarnya!
"Ah, iya, gak apa-apa, kok."
"Sini biar aku bantu," ucapnya sembari mengulurkan tangan kanannya padaku.
Degup jantungku serasa membabi buta. Aku membayangkan bagaimana nanti jika jemariku bertemu dengan jemarinya. Bukankah ini yang selalu aku angankan juga?
"Gak usah! Aku bisa sendiri," kalimat singkat bernada sinis terlontar begitu saja dari lipatan bibirku. Ah, dasar bodoh! Bagaimana bisa aku menolaknya. Membiarkan anganku tetap jadi angan.
Aku mencoba berdiri sambil merapikan seragam putih abuku. Kulihat ia tetap berusaha membantuku untuk berdiri. Mungkin ia tahu, jika persendianku memang terasa ngilu berkat insiden kecil tadi.
Tapi, aku malah berkali-kali mencoba menepis tengan gagah yang hendak menyentuhku itu. Ah, lagi-lagi aku bertindak bodoh. Bagaimana bisa aku menolaknya?
Dan rupanya, perlakuan dinginku padanya tidak membuat ia berbalik dingin padaku. Ia malah tetap menunjukkan simpatinya dan berkali-kali mengulang pertanyaan yang sama.
"Kamu beneran gak apa-apa?"
"Nggak, kok, aku gak apa-apa." jawabku tanpa sedikitpun menoleh ke arah wajah manisnya.
"Maaf, ya. Sekali lagi maaf..."
Oh tuhan! Aku serasa meleleh ketika permintaan maafnya menyentuh indera pendengaranku. Mimpi apa aku semalam, sampai bisa bercakap langsung dengan karya Tuhan yang teragung ini?
"Iya, gak apa-apa, kok." jawabku sambil melihat papan nama bertuliskan Dias Andriansyah yang terpasang di seragam putih abunya itu.
Yup! Sekarang aku tahu namanya! Aku tak perlu lagi menamainya 'dia' saat kutulis di lembaran buku harian merah mudaku.
Ia seolah ingin mencairkan suasana yang memang canggung ini. Ia bertanya, "Kamu baru dateng? Terlambat?"
Pertanyaannya ini, sedikit membuatku tertegun. Menyadari akan satu hal, bahwa aku... sial! Aku terlambat!
"Oh, iya!"
Aku berseru kencang seraya mengambil ancang-ancang untuk berlari secepat tadi. Dan aku mulai berlari, menyusuri koridor kelas yang seharusnya sudah kulewati sejak tadi. Berlari meninggalkan sosoknya tanpa berbasa-basi sedikitpun. Entahlah, mungkin, di matanya aku adalah sosok wanita yang teramat aneh. Dan mungkin, ia juga akan memasang wajah terheran-heran saat matanya mengarah padaku yang hanya terlihat punggung berlari semakin jauh darinya.
Tapi disini, aku seolah melupakan apa itu rasa malu. Mungkin, maluku sudah lebih dulu terbayar dengan aku mengetahui namanya. Ya, Dias Andriansyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar