Dia, memang begitu sederhana. Lengkung manis di bibirnya, sorot mata elang dari bola matanya; mampu membuatku jadi penikmat agungnya karya Tuhan itu. Wajahnya, bagai dipahat Tuhan langsung. Wajah yang mampu membuatku jadi perindu juga tentunya. Ya, hanya karena itu. Sederhana bukan?
***
Aku bersandar di jendela kelas yang tak sebening mata elangmu itu. Membiarkan lamunanku kabur meliar, mencari setiap inci bayang-bayangmu. Berkali-kali kuhela nafas panjang. Mulai bosan rasanya disini. Menunggu datangnya karya Tuhan itu. Menunggu sosok yang tak pernah tahu jika Ia selalu kutunggu.
Tiba-tiba mataku menangkap bias cahaya bening. Dan seketika, langsung tertuju pada satu titik fokus itu. Ada kamu di depan sana! Seketika pula, senyum mengembang di bibirku. Wajahku benar-benar sumringah. Saat tahu, bahwa yang kutunggu telah datang tunjukkan batang hidung. Walau bukan datang untukku pastinya. Ya, bukan untukku.
Sementara aku masih terpaku dalam diam. Masih belum melepaskanmu dari sorotan matakku. Rasanya, aku tidak ingin melewati setiap inci dari perpindahan gerikmu.
Sampai akhirnya, suasana berubah seketika. Tak ada lagi lengkung di bibirku. Hanya nanar terpancar jelas dari mataku. Di depan sana, ada sosok berambut sebahu yang menemanimu. Kamu dan dia asik menebar canda tawa diantara manusia-manusia yang tak memerhatikan kalian selain aku. Tapi aku, orang yang melihat kamu dan dia dari balik jendela kelas ini, seolah menciut menjadi semut. Aku sama sekali tak terlihat oleh kalian.
Tatapan hangat dari sang mata elang yang selalu ku inginkan itu, berkali-kali kamu berikan pada gadis yang berdiri disampingmu. Dengan tidak adanya batas takaran. Aku iri. Aku sangat iri. Bukankah itu yang selalu aku angan-angankan? Tapi, aku malah mendapati anganku hanya tetap jadi angan saja. Ya, angan memang selalu tinggi.
Tanpa sadar, keirianku ini menghipnotis mataku. Mataku mulai berkaca-kaca. Mengingat kamu, sosok yang selalu kutunggu tapi selalu enggan untuk melihatku. Dan mata ini, serasa ditusuk! Ketika aku, melihat kelima jemari kananmu membelitkan diri pada jemari milik gadis itu. Kamu menggenggamnya erat dan pasti. Gerikmu, mulai berpindah. Tapi perpindahan itu tidak lagi terhitung inci, melainkan jengkal, atau mungkin kaki. Seketika berlalu dari titik fokus mataku. Berjalan melalui koridor kelas dengan tak melepas genggaman si gadis itu. Gadis manis berambut sebahu, berkulit sawo matang. Gadis manis yang mungkin selau hadir mengisi setiap jengkal mimpi malammu. Gadis manis yang kau panggil dengan sebutan sayang.
Pacarmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar